
" Suster, dokter tolong saya" teriak Zia menggelegar di rumah sakit itu setelah memasukinya, ia terlihat khawatir..
" Iya ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu suster disana yang telah menghampiri Zia..
" Tolong periksa bayi ini, dia habis di culik dan sejak tadi saya mencoba membangunkan dia tapi tidak bangun, saya khawatir dia di bius atau di berikan sembarang obat-obatan" jelas Zia dengan raut wajah panik..
" Baik mari ikut saya" ucap suster itu dan Zia pun mengikuti suster itu..
Cucu Adhitama itu pun kini telah di periksa, Zia menunggu dengan perasaan cemas, di sisi lain Zia takut terjadi apa-apa dengan bayi itu, dan di sisi lain dia bingung bagaimana caranya menyerahkan bayi itu kembali kepada keluarganya. Saat dia mengembalikan bayi itu dia harus menggunakan identitas yang mana? Zia atau Ze? "Akhh" Zia menghela napasnya berat..
lima menit berlalu dokter keluar dari ruangan pemeriksaan itu..
" Keluarga pasien?" tanya dokter itu setelah membukakan pintunya..
" Iya saya dok, bagaimana keadaannya?" tanya Zia khawatir..
" Putra anda sepertinya di bius dengan obat bius berbentuk cairan, dengan menghitup aroma cairan itu seseorang bisa langsung tidak sadarkan diri dalam beberapa jam, cairan ini memiliki warna bening dan tidak berbau menjadikannya sebagai obat bius yang cukup kuat karena mampu bereaksi sangat cepat meski tidak memiliki bau, dan putra anda tidak tahan dengan obat bius ini yang cukup kuat hingga membuat ia susah bernafas hingga mengeluarkan keringat dingin, tapi suukurlah sepertinya obat biusnya baru di berikan satu jam yang lalu sehingga masih bisa kita atasi dengan cepat" kata dokter itu panjang lebar..
" Jadi intinya dok?"
" Putra anda tadinya sedang berada di ambang bahaya, namun sekarang sudah tidak terlalu berbahaya, dia sedang di infus oksigen, antibiotik dan juga infus untuk menghilangkan obat bius itu..
Setelah infusnya habis dan perkembangannya baik maka dia sudah di perbolehkan untuk pulang.." ucapnya lagi..
Mendengar penjelasan dokter membuat Zia bernafas lega, setidaknya bayi itu tidak memiliki cedera yang serius, saking paniknya Zia dia tidak menyadari dengan perkataan dokter di depannya yang menyangka kalau Zia adalah ibu sang bayi bahkan Zia sama sekali tidak sadar akan hal itu..
__ADS_1
" Baik dok terimakasih, apa saya boleh menjenguknya.." ucap Zia berharap..
" Tentu boleh, seorang bayi yang tengah sakit akan cepat sekali sembuh dengan sentuhan kasih sayang dari ibunya, silahkan bu.." ucap dokter itu yang menyangka kalau Zia adalah ibu dari bayi itu..
Zia yang sejak tadi tak sadar dengan perkataan dokter itu kini tersadar, ia mengerutkan dahinya. Apa, sentuhan kasih sayang dari ibunya, tapi dia bukan ibu dari bayi ini dan dokter tadi apa memanggilnya Bu? apa dokter itu mengira dia seorang ibu-ibu..
Zia pun masuk ke dalam ruangan dimana terdapat cucu Adhitama di rawat dengan fikiran yang berkecamuk..
" Tunggu, jangan bilang dokter itu mengira dia adalah ibu dari bayi ini? astaga" batin Zia lalu menghela nafasnya berat..
Zia mengamati bayi itu yang telah terlelap tidur damai sekali menatap wajah bayi itu Zia pun tersenyum tipis tanpa sadar seandainya ada orang lain di ruangan rawat inap itu sungguh mereka akan terpesona dengan senyuman gadis itu, meski hanya dengan tersenyum tipis, Zia mengelus kepala bayi itu dengan sayang..
Tak berselang lama ponsel Ziq berdering, ternyata nama Roger yang tertera di layar ponselnya, Zia pun lqngsung mengangkat panggilan itu dengan segera..
" Halo kak ada apa?" tanya Zia di balik telepon..
" Gara-gara mereka bayi itu hampir meregang nyawa jika kita terlambat menyelamatkannya, tunggu sebentar lagi aku akan kesana, aku yang akan memberikan pelajaran pada mereka dan aku akan mematahkan tulang-tulang mereka.." ucap Zia tersulut emosi, Zia mematikan ponselnya secara sepihak dan langsung pergi menuju ke markas bawah tanah...
35 menit di perjalanan Zia mengendarai mobilnya sendiri dan ia menyuruh Rendi untuk berjaga di rumah sakit untuk menjaga cucu Adhitama itu..
Zia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat seperti sedang berbalapan..
yang seharusnya jarak dari rumah sakit itu menuju markas bawah tanah memerlukan waktu 1 setengah jam lebih , namun Zia bisa mengendarai mobilnya dengan waktu 35 menit saja..
Saking emosinya Zia kepada setan dedit itu..
__ADS_1
Setelah sampai Zia bergegas masuk ke ruangan bawah tanah itu, Zia menatap nyalang para dedemit itu, ia menatap satu persatu penculik yang di tawan di hadapannya..
" Siapa yang kasih obat bius ke cucu Adhitama?" tanya Zia dengan berteriak, Zia sangat ini sangat marah .. hening, tidak ada jawaban yang membuat Zia semakin geram..
" Cepat katakan berengsek, siapa yang memberikannya obat bius atau anak-anak kalian akan saya habisi saat ini juga.." ancam Zia .. Namun tentu saja Zia tidak akan melakukan hal itu mana mungkin Zia akan membunuh anak-anaknya hanya karena kesalahan ayahnya.
Mana tega Zia berbuat seperti itu..
Zia hanya menggertak saja lagi pula jika ancamannya tidak berlaku Zia hanya akan mengambil anak-anak mereka dan menaruhnya di panti asuhan yang ia dirikan agar anak-anak itu tumbuh menjadi orang yang baik bukan berandalan seperti Ayahnya..
Seketika para pencilik itu kompak menunjuk ke arah salah satu dari mereka, Zia pun lqngsung mengepalkan tangannya dan menghampiri orang yang di tunjuk oleh teman-temannya ..
" Berengsek kau, keterlaluan" bentak Zia.
" Apa kau tidak berfikir dengan apa yang kau lakukan pada bayi itu? gimana kalau kejadian ini terjadi pada anak kalian, kalau anak kalian di bius seperti itu dan tidak ada yang menolong anak-anak kalian, anak-anak itu bisa meregang nyawanya jika tidak di selamatkan secepatnya.." ucap Zia emosi dan menunjuk satu persatu dari para bandit itu..
Zia pun menghajar pria itu dengan membabi buta tanpa ampun, Zia benar-benar tersulut emosi..
" Apa kau tidak berfikir apa efek dengan memberikan obat bius itu sembarangan pada bayi, hahh?" bentaknya ..
" Dasar keparat, kurang ajar bahkan kau lebih biadab dari pada hewan buas sekalipun,," Zia terus membentak dan menghajar pria itu hingga pria itu terkapar lemas tak berdaya..
Setelah melihat orang itu tak berdaya dan tak sadarkan diri Zia berhenti, ia mengusap keringat di dahinya, Roger pun tercengang melihat kebrutalan Zia untuk pertama kalinya Zia begitu marah hanya karena orang lain atau mungkin kah epek gadis itu tengah pms?..
***
__ADS_1
haii readers, terimakasih atas dukungan kalian dan Author minta maaf jika masih ada kesalahan dan jangan lupa favoritkan ya dan beri hadiahnya juga atau bintang lima jika kalian puas dengan novelku ini..
sampai jumpa di bab berikutnya..