
Sudah hampir empat bulan Zia tidak tinggal bersama papa dan kakaknya, dan sudah hampir empat bulan juga Abraham tidak melihat Zia pulang..
Abraham ingin mengunjungi sekolah Zia hanya saja sikap keras kepala dan gengsinya terlalu tinggi. Abraham selalu menatap foto keluarganya yang begitu bahagia, foto dirinya bersama istri dan kedua anaknya. Ezra yang masih berusia sekitar enam tahun dan Zia yang berusia sekitar enam bulan..
"Rhea seandainya kau masih ada bersama dengan kami, mungkin kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia karena di karuniai anak sepasang.."
"Kalau kau masih di sini mungkin Zia tidak akan pergi dari rumah"
"Rhea sayang, anak-anak butuh kamu begitu pun juga aku, keluarga kita hancur Rhea, karena kehilangan kamu aku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab, aku kepala rumah tangga yang tidak becus menjadi seorang Ayah bagi anak-anak.."
"Aku terlalu kalut akan masalalu, aku sampai saat ini bahkan belum bisa berdamai dengan keadaan.."
"Mungkin aku adalah kepala keluarga yang sangat bodoh, aku tidak pantas menyandang gelar sebagai kepala keluarga.."
"Rhea, apakah kamu marah denganku melihat bagaimana keluarga kita hancur dan Zia yang telah pergi dari rumah yang sudah hampir empat bulan ini"
"Kamu pasti sangat marah sama Mas kan, marah saja Rhea Mas memang pantas tuk di marahi tapi Mas mohon jangan benci Mas,,hiks"
Sedangkan di tempat lain, Zia kini tengah duduk di jendela kamarnya yang memang di desain untuk bersantai di sana, di dekat jendela terdapat tempat duduk lesehan yang juga di sediakan bantal, Zia menatap kearah luar jendela, dan gadis itu kini telah merenung..
__ADS_1
"Gue rindu papa, papa apa kabar yah"ucap Zia terkekeh kecil karena tidak mungkin Papanya akan merindukan dia..
"Sudah tahu kabar papa baik-baik aja, huftt.."
"Aku tidak pernah melihat Papa tersenyum, di publik juga hanya tersenyum formalitas saja"
"Aku ingin melihat senyuman Papa walau pun hanya satu kali, walau pun hanya sebentar juga tidak pa pa"
"Tapi,, apa bisa?"
"Bang Eza juga"
"Aku juga rindu bang Eza, aku bahkan gak punya nomor hpnya, hahaha,, sungguh menyedihkan sekali hidupku ini.."
"Bunda, Zia sendirian, gak ada orang yang bisa aku ajak bicara atau pun bertukar cerita"
"Zia hanya bisa bicara sama Leon tapi Leon tidak bisa kasih tanggapan.."
"Bunda, apa Bunda bisa liat Zia dari atas sana?"...
__ADS_1
Begitu juga dengan Ezra dia juga telah merenung di ruang kerjanya sembari menatap foto keluarga mereka..
"Bunda, Eza kangen Bunda"
"Bunda disana pasti kecewa sama Eza'kan?"
"Tangisan Zia masih terdengar jelas di telinga Eza, Eza sakit dengernya,, Eza kakak yang sangat jahat, Eza sangat tidak berguna Bunda..hiks.."
"Maafin Eza, maaf Bunda, Zia" lirih Ezra sambil terisak..
"Seandainya waktu kejadian Eza itu ada di rumah mungkin Bunda masih ada bersama sama kita di sini, jadi keluarga kita gak akan hancur.."
"Seandainya Eza hari itu gak di ajak nongkrong sama teman-teman mungkin Eza bisa tahu siapa yang telah menusuk Bunda, seharusnya Eza hiks..." Ezra menangis tersedu-sedu..
Siapa yang salah disini? mereka bertiga hancur, mereka sama-sama hancur, mereka sama-sama kehilangan, memiliki traumanya masing-masing sehingga membuat mereka hilang akal, gelap mata mereka bertiga adalah korban, mereka satu keluarga yang di hancurkan oleh orang yang tidak memiliki hati nurani...
***
sampai sini dulu ceritanya yah nanti di lanjut lagi🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
jangan lupa like,komen,favoritkan,rate bintangnya dan votenya juga yah terimakasih..
mohon maaf bagi yang komen othor gak bisa balas semuanya, terimakasih sudah menunggu cerita othor, sampai bertemu di bab berikutnya👋