
Ezra kini tengah mencari bukti tentang kasus kematian Bundanya, meski dia selalu gagal mencari bukti yang tidak ada itu dia berusaha tetap mencarinya karena Ezra tidak mau menyalahkan adiknya lagi tentang masalah ini..
"Bun, kasih Eza petunjuk, siapa pelaku sebenarnya Eza yakin ada yang menyabotase kasus pembunuhan Bunda"
"Bun, jika bukan Zia pembunuhnya Eza minta maaf karena selalu menyakiti Zia maaf Bun, maaf karena tidak bisa jadi kakak yang baik buat Zia" ucap Ezra lirih..
Ketika Ezra tidak menemukan jawaban maka Ezra akan datang kepada makam Bundanya, hanya tempat inilah yang membuat Ezra tenang.
Setelah beberapa lama berada di makam Bundanya Ezra memutuskan untuk pulang, setelahnya Ezra pun bangkit dari jongkoknya dan sampai di depan pintu TPU Ezra di hadang oleh beberapa pria bertubuh besar.
"Siapa kalian?" tanya Ezra kaget..
Tanpa aba-aba para pria bertubuh besar itu hendak menangkap Ezra, Ezra pun melawan memberontak. Namun Ezra kalah para pria itu mengeroyok Ezra. saat salah satu pria bertubuh besar itu ingin menghantam kepada Ezra di hadang oleh seseorang.
Ezra yang tidak merasa ada pukulan yang mendarat melihat situasi di depannya.
"Z,,,zia?" ucap Ezra terkejut.
__ADS_1
Zia memegang tangan pria yang hendak memukul kakaknya lalu ia memiting tangan pria itu,..
Zia pun menghajar pria itu dengan begitu handal dan Ezra melihatnya dengan raut wajah yang terkejut..
Ia tak menyangka adiknya itu pandai bela diri. tak berapa lama pria-pria yang menghadang Ezra itu pun terkapar tak berdaya, Zia yang awalnya ingin menjenguk Bundanya dia tidak jadi ketika melihat kakaknya juga ada disini. ia tidak ingin kakaknya tahu jika dia suruh mengetahui makam Bundanya..
Setelah para pria brandalan itu pergi Zia pun hendak pergi, ia ingin menanyakan keadaan kakaknya hanya saja ia gengsi sehingga ia memutuskan untuk pergi tanpa sepatah kata pun.
"Zii" panggil Ezra ..
Ziq yang hendak beranjak kembali ke motornya seketika menghentikan langkahnya..
Zia pun pergi dari pekarangan TPU itu meninggalkan Ezra sendirian yang masih sibuk akan pikirannya sendiri, banyak pertanyaan dalam benak Ezra..
"Gadis itu bisa bela diri, bahkan bisa mengalahkan pria-pria yang bertubuh besar itu dengan sendirian?"
"Bunda, kakak macam apa aku yang tidak mengetahui apapun tentang adiknya sendiri, maap kan Eza Bunda"
__ADS_1
"Dia bahkan rela menolong Eza meski Eza sering menyakitinya? jika dia bisa bela diri begitu handal, lalu mengapa dia tidak pernah membalas setiap pukulan ku? kenapa kamu diam saja Zia?"
"Apa kamu sengaja menerima pukulan ku tanpa membalas, apakah hatimu selembut itu Zi?" lirih Ezra..
Ezra merutuki dirinya sendiri, adik yang selama ini selalu ia anggap pembunuh Bundanya yang selalu ia sakiti nyatanya telah menolong dirinya tanpa melihat bagaimana perlakuannya terhadap gadis itu selama ini. Bahkan meski memiliki ilmu bela diri gadis itu hanya diam saja saat dia menyiksa gadis itu, Ezra merasa dirinya lah yqng lebih jahat ketimbang pembuhuh..
"Jikq kamu memperlakukan kakak dan papamu dengan diam tak membalas perbuatan kita terhadapmu yang menyakitimu bagaimana bisa kau menjadi pembunuh Bundamu sendiri"
"Kakak akan berusaha mencari bukti Zii, kakak akan membuktikan bahwa kamu tidak bersalah, kamu bersabarlah dan maapkan kakak selama ini" gumam Ezra lirih sambil mengelap matanya yang berair..
Setelah Ezra pergi dari pekarangan TPU itu dengan mobilnya, tanpa Ezra maupun Zia sadari sejak tadi ada seseorang yang tak sengaja melihat semua adegan itu..
"Bukannya itu Ezra Zafeer Emmerson putra dari Abraham Ardana Emmerson?" gumam pria itu..
"Dan apa katanya tadi Adik? Zia itu adiknya Ezrw? berarti jika Zia adiknya Ezra maka Zia adalah putrinya Abraham Ardana Emmerson yang di rahasiakan?"
"Dan itu artinya nama Zia adalah Zia Aliana Emmerson? oh astaga.." ucap pria itu terkejut..
__ADS_1
***🖤