'Gadis Mafia Dingin'

'Gadis Mafia Dingin'
bab 4 Tidak Asing


__ADS_3

Zia kini telah sampai di tempat temu bersama klien nya di suatu restoran mewah, dia memarkirkan motornya di tempat paling pojok, Zia membuka helmnya dengan kepala menunduk dan langsung mengenakan topinya yang ia simpan di balik jaket kulitnya agar tidak ada yang melihat wajahnya. setelah itu dia mengambil kacamata hitam dan memakainya.


Setelah Zia beranjak menuju pintu masuk restoran itu. Saat Zia masuk kedalam restoran itu, ia bertanya atas nama kliennya dan diarahkan ke private room oleh pelayan restoran disana.


" silahkan masuk nona, nyonya Rosa Adhitama sudah menunggu di dalam" ucap pelayan restoran itu.


Zia hanya menganggu dan masuk kedalam private room itu.


Terdapat perempuan paruh baya sedang duduk dengan berkas-berkas di atas meja.


"silahkan duduk" ucap perempuan paruh baya yg hanya di jawab anggukan oleh Zia.


Zia pun duduk "Baik, apa yang bisa saya bantu?" tanya Zia tanpa basa basi.


"Ah anda langsung to the point yah, baiklah saya sedang mencari informasi seseorang gadis. Gadis ini adalah putri sari sahabat saya, saya tau mungkin saya telat mencarinya dan susah untuk mencari informasi tentang identitas gadis itu" tentang perempuan paruh baya itu


Zia mengangguk " informasi apa ajah yg anda punya saat ini?" tanya Zia datar


..."saya memiliki informasi mengenai identitas sahabat saya hanya saja saya tidak mengetahui identitas suaminya. Saya juga punya keterangan kapan dia melahirkan putrinya dan di rumah sakit mana, selain itu saya tidak punya informasi apa apa lagi" ucapnya sambil menyodorkan satu persatu....


'Deg


Dia sedikit terkejut karena nama suaminya dari sahabat paruh baya nya ini seperti tak asing bagi Zia begitu juga dengan tanggal lahir dari gadis yang di cari oleh perempuan paruh baya ini.


"Baik saya akan berusaha mencoba mencari informasi selanjutnya, dengan nama rumah sakit dimana gadis itu dilahirkan, saya akan mencoba meretas data"nya, jika saya menemukan data"nya saya akan menghubungi anda" ucap Zia


Perempuan paruh baya itu menyodorkan kartu namanya


"Ini kartu nama saya Rosa Adhitama, anda bisa menghubungi nomor saya yg ada di kartu nama itu, disitu juga ada tertera alamat rumah saya dan alamat butik saya, jika menurut anda ada situasi urgent anda bisa mengunjungi saya disitu".


Zia menerima kartu nama itu" Saya tidak yakin bisa mengunjungi anda kerumah anda ataupun ke kantor anda karena itu tidak menjamin privasi saya"


"saya akan menjamin privasi anda, saya dan keluarga ternama saya juga akan melindungi anda sebagai tanda terimakasih saya juga anda mau menerima permohonan saya karena saya sudah mencoba mengajukan kasus ini namun semua hacker yang saya temui menolak dan anda langsung menerimanya begitu saja"..ucap Rosa


Zia mengangguk kecil, sebenarnya dia tidak merasa butuh perlindungan dari kliennya ini. Zia menerima kasus ini juga bukan tanpa alasan, karena melihat data" yang ia baca, Zia merasa tidak asing sehingga apa salahnya jika dia selidiki. Meski memang sulit mengungkap kasus yang informasinya bahkan tidak mencapai separuh informasi bahkan kasus yang sudah belasan tahun.

__ADS_1


Hanya saja sesuatu yang tidak asing bagi Zia ini akan dia manfaatkan, apakah akan ada sangkut pautnya dengan yang selama ini dia cari, jadi dia akan mencobanya


"apakah ada hal lain lagi?" tanya Zia


"apakah poto dari sahabat saya bisa membantu anda untuk mendapatkan informasi selanjutnya?"balas Rosa.


"mungkin bisa saya liat terlebih dahulu?"


Rosa pun mengambil poto sahabatnya itu di dalam tasnya dan memberikannya pada Zia. Zia langsung menerimanya dan melihat fotonya. cantik, sahabat dari perempuan paruh baya ini sangat cantik, kulitnya yg putih, bola matanya yg berwarna biru serta hidungnya yg mancung dan lesung pipinya yg tercetak sempurna di senyuman poto perempuan ini.


Setelahnya Zia kembali mendongakan kepalanya menghadap Rosa " Sahabat anda ini kira kira usia berapa?"


" dia kelahiran 1979"


" lalu dimana dia sekarang?"


" dia sudah meninggal oleh sebab itu saya mencari putrinya"


Sebelah alis Zia terangkat sedikit dia tertegun, sudah meninggal? lantas mengapa perempuan perempuan paruh baya di depan nya ini mencari putri dari sahabatnya yang sudah meninggal, bukankah sudah pasti gadis itu bersama keluarganya.


" jadi begini sebelum tiga hari dia melahirkan, dia sempat meminta bantuan saya untuk menjaga putrinya setelah lahir, namun setelah itu saya tidak bertemu dengan sahabat saya lagi".


" lalu bagaimana anda tahu bahwa sahabat anda telah meninggal".


" selama 1 bulan saya tidak mendengar kabar tentang sahabat saya, dan saya semakin merasa aneh saat saya bertemu dengannya kandungannya sudah menginjak 9 bulan. Jadi saya mengerahkan orang orang saya untuk mencari data data orang yg melahirkan dari berbagai rumah sakit dan saya menemukan bahwa ternyata sahabat saya melahirkan 3 hari setelah pertemuan saya dengannya, dan saya bingung mengapa tidak ada kabar sama sekali dari sahabat saya jika dia mau melahirkan atau setidaknya setelah dia melahirkan dia menghubungi saya" jelas Rosa panjang sambil menghela nafasnya panjang.


"lalu?" tanya Zia karena ia merasa bahwa masih ada kelanjutannya.


" Ternyata dari data rumah sakit itu setelah melahirkan sahabat saya di nyatakan meninggal, namun tidak ada keterangan diagnosis penyebab kematiannya dengan jelas, keterangannya dia hanya dia melahirkan anak perempuan dan setelah melahirkan dia meninggal gitu saja dan bahkan ada berita bahwa putri dari sahabat saya ini ternyata menghilang tanpa keterangan."


"pihak rumah sakit sudah membuat laporan namun tak di tindak lanjut karena ada sesuatu hal dan juga tidak ada bukti apapun jika bayi perempuan itu menghilang dan juga identitas dari ibu yang melahirkan yang juga tidak lengkap membuat kasus ini di tutup."


" keluarga?" tanya Zia sangat singkat membuat Rosa melongo tidak mengerti maksud pertanyaan Zia .


" keluarga siapa maksud anda?" tanya Rosa balik

__ADS_1


" keluarga sahabat anda dimana saat itu?"


" tidak ada, dia tidak punya siapa siapa, orang tuanya sudah meninggal setelah dia menikah."


Zia mengangguk rupanya ini bukan hanya sulit tapi sepertinya sangat sulit, sebab tidak ada keluarga dari ibu itu yg bisa diminta keterangan pasti.


" baiklah, ada lagi?"


Rosa menggelengkan kepalanya " hanya itu saja untuk saat ini yang bisa saya sampaikan tentang informasinya".


" baik, kalau begitu saya permisi" ucap Zia pamit, namun ketika hendak bangkit Zia menghentikan pergerakannya.


"tunggu" cegah Rosa pada Zia yang hendak bangkit dari tempat duduknya .


" apa anda tidak mau makan terlebih dahulu, saya telah menyiapkan sajian makanan untuk anda" lanjut Rosa


" tidak perlu" balas Zia datar


" setidaknya cicipi menu baru dari restoran putri saya ini " ucapan dari bu Rosa membuat Zia sedikit tertegun. ternyata restoran ini milik putri dari seorang klien. Ia kira restoran ini tidak ada kaitan pribadi dengan kliennya jadi dia setuju bertemu di tempat yang menurutnya sedikit terbuka umum. Sial bagaimana dia bisa kecolongan. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlihat publik, dia sudah menutup rapat rapat dirinya dari kalangan umum.


Dan apa ini dia di tawari untuk maka bersama juga dia mengharuskan dia membuka maskernya itu, meski dia menggunakan kaca mata hitam dia tidak mau sedikitpun menunjukan wajahnya itu.


" maaf, tidak perlu saya masih ada urusan lain". ucap Zia menolak dengan sedikit berbohong agar dia tidak lagi di desak untuk menerima ajakan makan bersama dengan perempuan paruh baya itu yang dimana bu Rosa menawarkan kepadanya dengan cara yang sangat lembut terlihat dari ekspresi wajahnya dan dari nada suaranya.


' oh ayolah jangan kalut akan perilaku perempuan paruh baya ini' gerutu Zia dalam hati


Zia tidak pernah di perlakukan dengan selembut ini, apa lagi yang melakukannya ini adalah seorang ibu meski memang bukan ibunya sendiri.


Tapi bagaimana Zia tidak ada kemungkinan akan luluh bagi seorang Zia yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Bukan hanya seorang ibu tapi dari manusia manapun ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang.


" Ah baiklah jika anda sangat sibuk saya tidak bisa memaksa anda" finis keputusan Rosa Adhitama akhirnya meski dalam hatinya ia masih sedikit tidak rela jika gadis di depannya ini akan pergi begitu saja.


" Baiklah saya pamit, permisi" ucap Zia lalu beranjak dari ruangan itu.


Rosa menghela nafasnya " huuhhh, kenapa suara gadis itu tidak asing bagiku? hanya saja nada bicaranya yg selalu datar membuatku tidak terlalu yakin akan dugaanku.

__ADS_1


" aku berniat mengajaknya makan bersama karena rasa penasaranku akan dirinya setelah mendengar suaranya, aku berharap bisa melihat setitik dari wajahnya mungkin rasa penasaranku akan sedikit hilang" lanjut Rosa bermonolog.


__ADS_2