
Zia kini telah berada di hutan bersama Leon, mereka sedang bermain bersama. Zia bermain dengan Leon seakan-akan Leon seperti hewan kucing, mereka bermain sepak bola.Hal yang sangat mereka sukai adalah bermain bersama hanya berdua..
"Ayo Leon tangkap" ucap Zia berteriak.
Zia begitu gembira dan bahagia, sejenak ia melupakan permasalahan yang terjadi.
setelah mereka bermain dan merasa kelelahan mereka beristirahat, ketika Zia hendak berbaring di rerumputan Leon dengan sigap langsung merebahkan diri di bawah Zia sebelum gadis itu benar-benar terbating di tanah.
Zia tersenyum lalu mengelus kepala Leon "Kamu selalu pengertian banget sama Zia, l love you so much my life friend" Zia memeluk Leon dengan erat.
"Leon mau ketemu Bunda gak?" tanya Zia sembari menatap bola mata Leon..
"Nanti kita rencanain untuk pergi ke makam Bunda kita pergi bareng-bareng yah, kita harus amankan situasinya dulu supaya tidak jadi kehebohan karena melihat mu" ucap Zia yang duduk di sebelah Leon dan mengelus kepala Leon dengan sayang..
Asetelah di rasa puas menghabiskan waktu dengan Leon, Zia kembali ke Mansionnya bersama Leon, Zia menggunakan mobil khusus untuk mengangkut Leon dengan sebuah mobil box tertutup agar tidak ada yang melihat keberadaan Leon..
__ADS_1
Saat sampai di mansion Zia di sambut oleh Roger dengan raut wajah yang cemas..
"Ada apa kak?" tanya Zia pada Roger dan tidak ada jawaban dari Roger..
"Kak,, kakak halo,, kakak kenapa?" ucap Zia yang melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Roger..
"Kakak yakin kamu gak gitu Ze, kakak yakin kamu bukan pembunuhnya" kata Roger pada Zia dan Zia terlihat kebingungan dengan apa yang di maksud kakak angkatnya ini yang tiba-tibq bilang seperti itu..
Zia melepaskan pelukan Roger "Kak, kenapa sih" tanya Zia bingung.
"Lalu? apa yang mereka bicarakan?" tanya Zia..
Roger tak menjawab ia memberikan alat perekaman suara kepada Zia, Zia pun langsung mendengarkan rekaman suara itu..
'Deg
__ADS_1
Sekujur tubuh Zia kaku, kakinya lemas, dadanya terasa sesak, seberusaha mungkin Zia berusaha tetap tegar namun sekujur tubuhnya lemas hingga tak kuasa menopang tubuhnya, Zia jatuh terduduk dengan alat perekam yang masih ia genggam dan masih mengeluarkan suara, air mata Zia lolos begitu saja mengalir dengan sendirinya, matanya pun memerah, bibirnya gemetar begitu juga dengan tangannya, seluruh tubuhnya panas Zia terus memukul-mukuli dadanya yang terasa sesak Zia tak berkuasa menahan air mata yang terus mengalir dengan deras itu..
"Tidak, ini tidak mungkinkan kak?"
"A,,aku? P,,,pem,,bu,nuh?" ucap Zia dengan terbata-bata.
"Ze dengarkan kakak, kita selidiki ini yah, bukankah kita sedang proses bukan, percayalah kebenarannya pasti lain" Zia menangis tersedu-sedu, Zia memukul kepalanya dengan kedua tangannya..
"A,,aku manusia jahat kak, a,,aku manusia yang jahat aku anak kurang ajar yang tega membunuh ibuku sendiri kak" ucapnya dengan nada terisak dan memukul-mukuli dadanya yang terasa sesak.
Roger yang melihatnya langsung memeluk Zia dengan erat..
"Gak Ze bukan kamu, yakin lah bukan kamu yqng membunuhnya ini pasti ada sabotase" ucap Roger yang langsung memeluk Zia yang rapuh..
"Zia jahat kak, Zia jahat" ucapnya sambil terisak di pelukan Roger.
__ADS_1
"Enggak Ze enggak" Roger semakin mengeratkan pelukannya, tangisan Zia semakin menjadi membuat Roger pun ikut menangis, mereka berdua sama-sama menangis dengan saling memeluk dengan erat..