
Jam kuliah baru saja berakhir. Grace melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Ia sangat lapar karena tadi pagi tak sempat sarapan.
Sudah seminggu semenjak Zelina dan Caleb pergi ke Indonesia. Grace tak mendengar kabar apa-apa lagi dari mereka. Mungkin sebaiknya demikian. Walaupun jauh di lubuk hati Grace, ia sangat merindukan mendwngar kabar Caleb.
"Grace....!"
Grace menoleh dengan kaget. Ia tak menyangka bertemu dengan Zelina di kampusnya.
"Zelina? Kau sudah kembali?"
Zelina tersenyum. Wajah gadis ini memang jarang terlihat sedih walaupun ia sedang ada masalah.
"Hallo, Grace. Aku senang bertemu denganmu di sini." Tanpa meminta ijin, Zelina langsung menarik kursi dan dan duduk di depan Grace. Di tanhannya sudah ada nampan yang berisi makanan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Grace heran. Walaupun dia dan Zelina ada di universitas yang sama, namun mereka berbeda jurusan. Gedung tempat Zelina belajar, jaraknya agak jauh dari kantin ini. Biasanya juga yang makan di sini, satu jurusan dengan Grace.
"Makan. Katanya di sini makanannya enak. Makanya aku datang untuk mencobanya." Kata Zelina lalu mulai menikmati makanannya. "Benar, enak juga. Eh,kenapa kamu nggak makan?" Tanya Zelina melihat Grace hanya menatapnya tanpa menyentuh makanannya.
"Ya. Aku akan makan." Grace mulai memasukan makanannya ke dalam mulut.
"Kapan kembali dari Manado?" Tanya Grace.
"Kemarin. Kami tiba jam 10 pagi. Memangnya Celeb tak menghubungimu?"
Grace menggeleng.
"Mungkin dia langsung disibukan dengan pekerjaannya. Dari kemarin, sejak mengantar aku ke apartemen, Caleb belum juga menghubungiku. Oh, ya. Makasi atas ucapan turut berdukacita darimu. Hp ku waktu itu ketinggalan. Tapi salammu sudah diteruskan oleh sepupuku. Dia sedikit aneh memang. Dia bilang ke kamu kalau aku ke dokter bersama pacarku kan?" Zelina tertawa. " Jangan percaya dengan apa yang dikatakannya. Aku dan Caleb tak ada ikatan apa-apa."
Grace hanya tersenyum. Hatinya sedikit lega mendengarkan pengakuan Zelina. Namun bagaimana sikap Caleb? Apakah cowok itu hanya menganganggap Zelina hanyalah temannya, ataukah sekalipun tak mengatakannya namun apa yang dilakukan Caleb pada Zelina justru menunjukan kalau cowok itu menyukainya?
"Caleb tak mengatakan apapun yang meminta aku menjadi pacarnya. Kalaupun dia mengatakannya, maka aku akan memberitahukannya padamu."
Grace tersedak mendengar perkataan Zelina yang begitu terus terang.
"Hei..., kamu kenapa? Ayo minum airnya." Zelina mengambil segelas air dan memberikannya pada Grace.
"Kamu jangan terkejut seperti itu, Grace. Sudah ku katakan kalau aku memang menyukai Caleb. Namun, jika akhirnya Caleb akan memilihmu, aku rela. Cinta kan tak selamanya harus memiliki. Selama aku ada di London ini, aku memang berharap pada cintaku ini. Namun jika kuliahku sudah selesai, aku akan kembali ke Manado. Dan aku akan berhenti mengharapkan Caleb."
"Aku pikir, Caleb menyukaimu." Kata Grace walaupun hatinya sakit saat mengucapkan itu.
"Aku pun berpikir kalau Caleb menyukaimu juga."
Grace tersentak mendengar perkataan Zelina. Hatinya begitu tersentuh dengan sikap Zelina yang begitu berterus terang. Grace memang merasa kalau Caleb menyukainya. Tapi apakah Caleb mencintainya? Itu yang Grace tak tahu.
"Menyukaikan bukan berarti mencintai." Ujar Grace.
"Tapi menyukai bisa menjadi awal untuk mencintai." Zelina menghabiskan makanannya. Kemudian ia meneguk minumannya sampai habis. Lalu menatap Grace dengan tatapan yang lembut. "Grace, apapun nanti keputusan Caleb, maukah kau tetap bersahabat denganku?"
"Tentu saja, Zelina. Aku senang bersahabat denganmu."
Zelina berdiri. "Aku pergi dulu, ya. Makanan di sini memang enak. Namun kalau mau jujur, aku ke sini bukan untuk makan. Aku sengaja ingin bertemu denganmu. Untuk meluruskan apa yang diucapkan oleh sepupuku. Bye..." Zelina langsung melangkah meninggalkan Grace.
Grace menatap kepergian Zelina dengan hati yang tak menentu. Ia menyukai sikap Zelina yang tak munafik. Lalu, sampai kapan mereka akan seperti ini? Sampai kapan Caleb akan dibuat bingung untuk memilih diantara dirinya dan Zelina. Haruskah Grace yang mengalah?
**********
__ADS_1
Erland menatap gadis manis bermata sipit yang sedang memainkan pianonya. Tangannya terlihat lincah menekan tuts piano.
Di samping Erland, duduk Felicia. Pacar baru Erland yang baru saja 3 hari hari jadian dengannya. Felicia sangat menyukai musik klasik. Makanya dia mengajak Erland untuk menonton konser musik klasik ini. Sebenarnya Erland ingin menolaknya, namun saat tahu kalau ada Meloddy Kim yang jadi pemain pianonya, Erland jadi semangat untuk hadir. Tak apalah mengeluarkan uang janjannya untuk membeli tiket masuk yang lumayan mahal.
Lagu ketiga selesai, tepuk tangan mengiringi berakhirnya lagu itu.
"Meloddy Kim sangat berbakat. Dia masih muda namun sudah memiliki talenta yang luar biasa. Aku jadi suka padanya." Kata Felicia.
Aku juga suka padanya. Sayangnya dia hanya menganggap aku sebagai anak kecil, guman Erland dalam hatinya.
Saat lagu keempat kembali dimulai, Erland melihat bahwa Meloddy seperti sedang menatap seseorang sambil tersenyum. Erland mengikuti arah pandang Meloddy. Matanya langsung tertuju pada sosok pria tampan yang selalu tampil cool bak seorang pangeran. Itukan Joel? Ngapain dia ke sini? Dia kan nggak suka musik? Atau jangan-jangan Meloddy yang mengundangnya?
Duh, mengapa hatiku sakit saat membayangkan Meloddy yang mengundang Joel? Cih, apakah aku cemburu? Mana mungkin? Cemburu tidak pernah ada dalam kamus Erland Thomson.
"Sayang, kamu nggak menikmati musiknya ya?" Tanya Felicia.
Erland mengarahkan kembali pandangannya pada Felicia. Ia memberikan senyum termanisnya. "Tidak sayang. Aku menikmatinya. Hanya saja aku merasa kesepian karena kau terlalu memperhatikan panggung dan melupakan aku yang duduk si sampingmu."
"Nggaklah. Aku tetap fokus dengan kamu juga. Duh, yang lagi merajuk." Felicia mencium pipi Erland membuat cowok itu kembali tersenyum.
Erland membiarkan Felicia menyandarkan kepalanya di bahu Erland. Hatinya galau. Keberadaan Joel di konser musik klasik ini sungguh membuatnya bertanya-tanya ada apa antara Meloddy dan Joel.
Saat konser berakhir, Felicia merengek untuk bisa ketemu dengan Meloddy walaupun hanya sebentar saja. Karena tiket masuk mereka adalah tiket VVIP makanya mereka bisa mengikuti jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh pihak panitia.
Felicia langsung mencari Meloddy sedangkan Erland berhasil menemukan Joel yang sedang berdiri di sudut ruangan sambil menikmati segelas sampanye.
"Joel, tumben kau ada di sini? Setahuku kalau kau tidak suka musik." Sapa Erland.
"Hai, dude. Apa juga yang kau lakukan di sini?" Joel memilih bertanya dari pada menjawab pertanyaan Erland.
"Oh...."
"Dan kamu? Apa yang membawamu ke sini?"
"Meloddy mengundangku. Ia mengirim sebuah undangan VVIP ke kantorku. Aku datang untuk menghargai undangannya." jawab Joel santai.
"Sejak kapan kalian menjadi dekat?"
Joel menatap Erland dengan dahi berkerut. "Sejak kapan kau ingin tahu kehidupanku dengan Meloddy? Atau jangan-jangan kamu suka dengan Meloddy ya?"
"Sembarangan. Kalau aku suka dengan Meloddy, aku tak mungkin datang ke sini dengan pacarku." Erland langsung membantah tudingan sepupunya itu. Walaupun dalam hatinya ia hampir mengakui tentang perasaannya.
"Baguslah. Jadi aku tak perlu sungkan padamu."
"Memangnya kamu suka pada Meloddy? Setahuku kamu lebih senang dengan gadis yang kalem dan pendiam seperti Grace."
Joel menatap Erland dengan wajah khawatir. "Kamu mau Caleb membunuhku karena menyangka kalau aku naksir dengan Grace?"
"Meloddy terlalu cerewet dan sedikit genit menurutku. Tak cocoklah denganmu yang pendiam ini. Eh, aku mau menemui pacarku dulu, ya." Erland langsung melangka meninggalkan Joel. Cowok itu tersenyum penuh arti. Dasar bocah. Dari pancaran matanya saja sudah ketahuan kalau dia naksir Meloddy.
**********
Hujan yang deras membuat Grace menepikan motornya di salah satu halte bis. Ia segera berteduh di halte sambil memeluk tubuhnya yang sudah basah tertiup angin di musim gugur.
Grace menyesal. Seharusnya ia mendengar nasehat mamanya untuk keluar dengan mobil saja. Tapi tadi pagi cuaca begitu cerah sehingga Grace memutuskan untuk naik motor saja.
__ADS_1
Grace menggerakan tubuhnya, berusaha menepis dingin yang membuat tubuhnya menggigil.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekat halte. Lalu pintu terbuka. Seseorang turun dengan sebuah payung dan menghampiri Grace.
"Kak Caleb?" Grace terkejut. Hampir 2 minggu tak bertemu memvuat Grace kangen. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk pria itu. Namun Grace menahan dirinya.
"Aku kan sudah bilang. Jangan bawa motor. Apalagi ini sudah malam. Ayo ikut denganku !" Caleb langsung menarik tangan Grace.
"Tapi kak, motorku tak mungkin ku tinggalkan di sini." Kata Grace menahan tangan Celeb.
"Biar sopirku yang membawanya. Paman Lerry, kalau hujan sudah berhenti, tolong bawa motor ini ke kediaman Aslon ya?" Ujar Caleb pada sopirnya.
Lerry langsung turun dari mobil dan menerima helm serta kunci motor dari Grace.
"Ayo....!" Ajak Caleb lalu membukakan pintu mobil bagi Grace.
Grace pun masuk. "Buka bajumu dan ganti dengan kaos milikku." Kata Caleb lalu mengambil kaosnya di jok belakang.
"Kak, masa aku buka baju di dalam sini."
Caleb menjalankan mobilnya dan berhenti di jalan yang agak sepi. Ia memalingkan wajahnya sambil menutup matanya.
"Bukalah dan ganti bajumu. Aku tidak akan mengintipnya."
Grace membuka jaket dan kemejanya lalu segera memakai kaos Caleb secara cepat.
"Aku sudah selesai, kak." Kata Grace dengan wajah yang sedikit panas karena ada rasa malu harus membuka baju di dekat Caleb.
Caleb membuka jaket yang dipakainya. "Pakailah jaket ini supaya kau tak kedinginan."
"Kakak sendiri bagaimana?" Agak ragu Grace memegang jaket itu.
"Aku cowok. Suhu tubuhku lebih panas. Jadi kamu yang lebih memerlukannya."
Grace pun memakai jaket itu karena ia memang sangat kedinginan.
"Celanamu juga basah?"
"Tak terlalu basah." Kata Grace sambil menepuk pahanya. Ia memandang Caleb yang kembali menjalankan mobilnya.
"Kak, tumben bawa sopir. Biasanya menyetir sendiri kan?"
"Tanganku agak terkilir. Jatuh saat main tenes dengan daddy. Makanya bawa sopir."
"Kak, biar aku saja yang bawa mobilnya kalau begitu." Grace tanpa sadar memegang lengan Caleb.
Caleb menoleh, memandang tangan Grace yang memegang lengannya.
"Kau mengkhawatirkan aku?" Tanya Caleb membuat Grace salah tingkah dan menarik tangannya dari lengan Caleb.
Something happen in the car???
Tunggulah episode berikut
jangan lupa like, komen dan kasih bintang 5 ya...
__ADS_1