3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Pergi Tuk Menghindar


__ADS_3

Pagi ini, Chloe terbangun dalam pelukan hangat suami tampannya.


"Good morning my husband." Kata Chloe sambil memberikan ciuman hangat di bibir Erhan.


Pria berdarah Inggris-Turki itu tersenyum bahagia.


"Kita akan pergi bulan madu hari ini." kata Erhan.


"Ya. Papamu memberikan tiket jalan-jalan keliling dunia. Aku tak sabar memulai perjalanan ini."


Erhan membelai perut Chloe. "Dia baik-baik saja didalam sana kan? Apakah semalam aku nggak menyakiti dia?"


Chloe menggeleng. "Tidak, sayang. Semalam kamu sangat lembut."


Erhan mencium perut Chloe yang masih rata itu. "Good morning my baby."


Chloe bahagia. Ia membelai kepala Erhan. "Kalau dia nggak ada, daddy pasti tak akan merestui pernikahan kita."


"Karena itulah aku bersyukur dengan tumbuhnya anak kita dirahimmu. Aku janji Chloe akan menjadi suami dan papa terbaik bagi anak-anak kita."


"Anak-anak?"


Erhan mendongakkan kepalanya. "Memangnya kamu hanya ingin punya satu? Aku mau 3 atau 4. Supaya rumah kita menjadi ramai."


"Aku terserah kamu saja."


Keduanya tertawa bersama. "Ayo kita mandi dan sarapan." kata Chloe. Erhan mengangguk. Keduanya menuju ke kamar mandi untuk mandi bersama.


Di meja makan ada Ezekiel, Faith dan Erland.


"Nah, lihatlah pengantin baru di rumah ini." Kata Erland dengan senyumnya yang menggoda.


"Good morning, dad. Good morning bunda!" Sapa Erhan dan Chloe secara bersamaan.


Ezekiel tersenyum sedikit merasa canggung. Teman bisnisnya kini menjadi menantunya.


"Selamat pagi Erhan, selamat pagi Chloe. Ayolah sarapan." Faith menatap anak dan menantunya dengan senyum bahagia. Ia tak menyangka kalau Chloe akan punya suami diusianya yang hampir menginjak 24 tahun.


"Caleb mana, Bun?" Tanya Chloe di sela-sela sarapannya.


"Nggak tahu. Kata pelayan ia sudah pergi sejak jam 7 pagi. Mungkin ada urusan mendadak." Jawab Faith.


"Mungkin menemui Grace. Kalau nggak Grace pasti menemui Zelina. Kakakku hanya berputar-putar diantara 2 gadis itu." Tawa Erland membuat Faith melotot ke arah Erland.


"Nak, nggak baik membicarakan kakakmu dibelakangnya." Kata Ezekiel.


"Kenyataannya, dad. Aku kasihan sama Zelina dan Grace, selalu digantung perasaannya. Kalau aku maunya kakak pilih Zelina, kan sama kayak Bunda orang Manado." Ujar Erland.


"Kalau aku ingin Caleb bersama Grace. Sejak kecil Caleb sudah menjaga Grace. Tapi terserah sama mereka aja, deh. Cinta akan menemukan jalannya sendiri." Kata Chloe sambil melirik Erhan.


"Ya. Cinta akan menemukan jalannya sendiri." Sambung Erhan.


"Sama kayak daddy dan bunda. Satunya dari London, satunya lagi dari Manado. Ketemunya di Bali. Bunda, dulu katanya pacaran sama daddy hanya 3 hari ya? Kok mau langsung diajak menikah?" Tanya Erland.


Faith menatap Ezekiel. "Karena daddy nggak mau melepaskan bunda sejak pertama bertemu. Daddy bahkan sedikit memaksa. Namun bunda bersyukur karena sifat daddy yang pemaksa itu, bunda punya 3 buah hati yang membuat hidup bunda menjadi sempurna."

__ADS_1


"Dad, mengapa daddy dulu ngotot untuk mendapatkan bunda?" Erland semakin penasaran.


Ezekiel tersenyum. Ia meraih tangan Faith dan menautkan jari mereka. "Karena bunda kalian adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membuat hidup daddy sempurna. Mungkin kalau daddy tak bertemu bunda, daddy tak akan pernah menikah."


"Erhan, kisah kita harus semanis kisah daddy dan bunda." Kata Chloe sambil menatap Erhan dengan penuh cinta.


"Pasti sayang!"


Faith tersenyum. Ia dan Ezekiel sepakat untuk mengubur kisah kelam yang pernah mereka alami. Biarlah anak-anak mereka hanya tahu kalau mereka bersama karena saling mencintai.


************


Zelina membuka pintu apartemennya dan agak terkejut melihat Caleb sepagi ini sudah berada di apartemennya.


"Katamu jam 8 baru akan datang." Zelina melangkah meninggalkan Caleb. Ia sudah siap dengan satu koper kecil dan tas punggungnya.


"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."


"Mengenai apa?" Tanya Zelina sambil menyiapkan secangkir kopi untuk Caleb.


"Kamu mau sarapan? Aku hanya punya roti.


"Aku nggak lapar."


Zelina duduk di meja makan. Ia menikmati roti bakar dan segelas susu.


"Zel, sakit apa yang kau derita? Mengapa setiap minggu kau harus hadir di rumah sakit untuk cek up rutin. Apakah kau mengidap penyakit yang serius?"


Tanya Caleb sambil menatap Zelina dengan intens.


"Jangan bohong, Zel."


"Kenapa juga aku harus bohong?"


"Zel, aku peduli denganmu. Aku ingin kau bisa berbagi tentang kehidupanmu padaku. Seperti dulu. Aku merasa kalau kau semakin jauh denganku."


"Aku tak ingin membuat kau bimbang, Caleb. Aku menjauh supaya kau semakin mengerti tentang perasaanmu pada Grace." Zelina menyelesaikan sarapannya. Ia mencuci peralatan makan yang baru digunakannya. Setelah mengeringkan tangannya, ia duduk lagi di depan Caleb.


"Kita sudah lama ada diantara situasi ini. Aku mengerti kalau kau akhirnya memilih Grace. Kau jangan takut aku akan sedih atau terluka. Aku baik-baik saja."


"Zel, kita sedang membicarakan tentang sakitmu. Bukan tentang situasi antara aku, kamu dan Grace. Kamu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Berat badanmu turun dengan sangat cepat. Ada apa, Zel?"


Zelina tersenyum. "Tenang saja. Aku baik-baik saja."


"Tapi...!"


"Kita berangkat sekarang? Bandaranya cukup jauh kan?" Zelina segera meraih tas dan kopernya. Caleb tak bisa bicara lagi. Ia hanya merasa kalau Zelina sedang menutupi sesuatu tentang dirinya.


Sesampai di bandara....


"Berapa lama kamu akan berlibur di Indonesia?" Tanya Caleb.


"Mungkin sekitar 3 minggu."


"Aku pasti akan merindukanmu."

__ADS_1


Zelina hanya terkekeh mendengar perkataan Caleb. "Jangan merindukan aku. Aku kan sudah punya kekasih. Kau harus lebih fokus ke Grace. Karena aku tahu ia tak mencintai pangeran Howie." Zelina sedikit berjinjit lalu ia mencium pipi Caleb.


"See you again!" Kata Zelina lalu segera masuk sambil melambaikan tangannya. Ia memilih untuk ada di dalam ruang tunggu dari pada harus bersama Caleb dan meruntuhkan semua dinding pemisah yang coba dibangunkannya selama ini


Saat ia sudah duduk di ruang tunggu, ponselnya berbunyi ternyata Keegan yang menghubunginya.


"Hallo Keegan."


"Apakah kau sudah ada di bandara?"


"Ya."


"Pantas saja aku mengetuk apartemenmu namun tak dibukakan."


"Kau ke apartemenku?"


"Ya. Aku takut jika kamu menangis lagi, matamu jadi bengkak dan pandanganmu jadi buram sehingga salah naik pesawat."


Zelina tertawa. "Nggak lucu."


"Tapi kamu tertawa."


Zelina tertawa lagi."Terima kasih karena membuatku tertawa."


"Karena kamu lebih cantik kalau tak menangs."


"Kamu bisa saja."


"Berapa lama di sana?"


"3 minggu."


"Wah, kebetulan aku mau mengisi acara di Bali. Aku boleh bermain ke sana nggak?"


"Boleh."


"Baiklah. Have a save fight." Zelina memasukan ponselnya lagi ke dalam tas. Ia senang Keegan menghubunginya.


********


Caleb memutuskan pergi ke rumah Grace saat ponsel gadis itu tak bisa dihubungi. Kepala pelayannya yang membukakan pintu.


"Selamat siang. Apakah Grace ada di rumah?"


"Tuan Ben, nyonya Maura, Nona Grace bersama tuan Gianoni ssdang berlibur ke Medan."


Grace liburan dan tak mengatakan apa-apa kepadaku? Ada apa sebenarnya? Apakah Grace juga menghindariku?


Caleb mengambil hp nya. Ia menelepon Joel. "Tolong siapkan tiket. Aku mau ke Medan."


Berhasilkah Caleb menyusul Grace ke medan?


Jangan lupa like, komen, vote.


Sorry nggak terlalu panjang. Aku susah ngantuk nih.....

__ADS_1


__ADS_2