3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Perjuangan Untuk Caleb


__ADS_3

Mata Zelina dengan awas melihat beberapa sisi bangunan itu. Hatinya mengatakan kalau Caleb dalam bahaya jika regu penolong masih mengatur strategi bagaimana bisa masuk tanpa membuat bangunan semakin ambruk.


Di sisi sebelah barat, Zelina melihat ada celah kecil yang terbuka. Tubuh Zelina yang ramping dan tak terlalu tinggi, mungkin bisa memasuki bagian itu.


Zelina melihat bagian itu tidak dijaga. Makanya ia berlari secepat mungkin ke sana. Grace yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Zelina terkejut melihat Zelina yang masuk ke sana dengan menarik puing-puing bangunan agar ia bisa masuk dengan leluasa.


"Hei nona, apa yang kau lakukan?" Teriak seorang petugas kebakaran. Ia bermaksud akan mengejar Zelina, namun saat gadis itu berhasil masuk, lubang itu tertutup kembali karena bagian dinding di atasnya ambruk.


"Ya ampun Zelina, apa yang dipikirkan olehnya?" teriak Grace panik.


"Gadis itu bisa saja sudah jatuh tertimpah bangunan di atasnya." Joel tampak khawatir.


"Zelina, apa yang harus aku katakan pada Dina kalau terjadi sesuatu juga padanya?" Faith menjadi semakin lemas.


*******


Zelina menarik napas lega. Walaupun ia harus terbatuk-batuk karena abu yang sangat banyak naik ka bagian atas bangunan yang juga roboh namun badannya tidak apa-apa.


"Caleb.....!" panggilnya sambil mencoba mencari kesana kemari. Ia ingat kalau Caleb ada di ruang bawa tanah. Ia ada di lantai satu saat ini dan tangga menuju ke ruang bawa tanah sudah tertutup oleh reruntuhan.


"Caleb.....kamu di mana?" teriak Zelina lagi.


Tak ada jawaban.


Lalu matanya melihat sebuah lubang di lantai yang mengarah ke ruang bawa tanah. Zelina mengintip dari lubang itu. jaraknya agak tinggi kalau ia harus melompat ke bawa. Namun itu adalah satu-satunya jalan. Tanpa pikir panjang lagi, Zelina menjatuhkan tubuhnya ke bawa.


"Aow....!" Teriaknya ketika kakinya dan pantatnya sakit begitu jatuh ke bawa.


"Ze....line..."


Zelina terkejut mendengar panggilan itu. "Caleb...?"


Matanya mencari diantara ruangan yang agak gelap. Ia terbelalak melihat Caleb yang tertelungkup di atas lantai sementara kakinya terjepit diatara sebuah dinding yang roboh.


"Caleb....! Oh Tuhan...kau masih bisa mendengarkanku?" Zelina mendekat. Ia memegang kepala Caleb.


"Apakah kepalamu baik-baik saja? Oh Tuhan Caleb, bagaimana aku bisa mengeluarkanmu dari sini?"


Caleb menatap Zelina. "Kepalaku agak sakit. Tapi yang lebih sakit adalah kakiku. Tolong bantu aku sehingga kakiku bisa terbebas." kata Caleb dengan suara yang sudah sedikit parau.


Zelina melihat bagian dinding yang menjepit kaki Caleb. Ia mencoba mengangkatnya namun rasanya ia tak mampu mengangkatnya. Di saat ia hampir putus asa, matanya melihat sebuah balok yang cukup besar.


"Caleb, dengan balok ini aku akan mencoba mengangkat bagian dinding yang rubuh dan kau cobalah untuk menarik kakimu. Ok?"


"Yes...!" Jawab Caleb pelan karena memang ia sudah sangat kesakitan.


"Dalam hitungan ketiga ya. Satu.....dua....tiga....!" Zelina menggunakan seluruh kekuatannya untuk menuas bagian dinding yang rubuh itu dan ternyata berhasil. Caleb dengan cepat menarik kakinya dan ia langsung duduk dengan wajah yang lega.


"Kau berhasil Zelina..."


Zelina langsung mendekati Caleb dan memeluk cowok itu dengan penuh rasa syukur.


"Ya Tuhan. Aku sangat senang karena kau selamat." Zelina tak bisa menahan tangisnya. Pelukannya bertambah erat.


"Hei...sudahlah. Jangan menangis...!" Caleb melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Zelina dengan ibu jarinya. Wajah mereka yang begitu dekat, dan mata yang saling bertatapan membuat detak jantung berdetak semakin cepat. Perlahan, entah siapa yang memulai, bibir mereka sudah menempel. Hampir saja sebelum ******* kecil terjadi, terdengar bunyi suara hp.


Wajah keduanya saling menjauh.

__ADS_1


"Itu hp ku." Kata Caleb sambil menunjuk hp nya yang terlempar agak jauh dari tempatnya jatuh. Makanya Caleb tak bisa menjawab setiap panggilan masuk karena saat itu tangannya tak bisa meraihnya.


Zelina mengambil hp itu yang layarnya sudah agak retak sehingga tidak tahu siapa yang menelepon mereka.


"Hallo...!" Sapa Zelina. Namun suara orang yang menelepon tidaklah jelas terdengar.


"Mungkin hp nya rusak." Kata Zelina.


Caleb hanya mengangguk. Zelina mencari sesuatu yang akan menolong mereka naik ke atas melalui lubang yang dilalui oleh Zelina tadi. Matanya langsung bersinar melihat sebuah tangga lipat ganda.


"Caleb, kita akan naik ke atas melalui tangga itu. Sebentar aku mendekatkannya ke lubang." Zelina mengambil tangga lipat ganda itu dan meletakan di bawa lubang. Walaupun tangga itu tak terlalu tinggi namun ia tahu kalau Caleb bisa mencapai mulut lubang itu.


"Ayo berdiri!" Zelina membantu Caleb berdiri.


"Akhhhh....."Teriak Caleb kesakitan saat ia mencoba berdiri dengan kedua kakinya namun ia tak bisa. Tubuhnya kembali jatuh ke lantai.


"Merangkak saja sampai ke dekat tangga dan berusahalah memanjatnya." Kata Zelina memberi usul dan ternyata Caleb menyanggupinya.


Walaupun diiringi teriakan kesakitan, Caleb akhirnya mampu meraih mulut lubang dan mendorong tubuhnya melewati lubang itu dengan baik. Setelah itu giliran Zelina yang naik ke atas.


Caleb tampak pucat dengan peluh yang bercucuran karena menahan sakit.


"Itu ada lubang. Sebentar...." Zelina memasukan tangannya melalui lubang itu dan menggerakannya sambil berteriak.


"Help.....! Help.....! Help....us..."


"Itu sepertinya tangan si gadis. Ia ada di lantai satu." terdengar suara seorang laki-laki dari luar.


Tak lama kemudian...


"Nona, menjauhlah dari lubang kecil."


"Tolong kakinya terluka!" Zelina menunjuk Caleb.


"Kita harus menolongnya keluar. Gedung ini tak lama lagi akan roboh." Petugas yang memakai seragam pemadam itu memerintahkan teman-temannya untuk mengangkat tubuh Caleb.


*******


Faith langsung berlari dengan sekuat tenaga melihat anaknya yang keluar sambil dibopong oleh beberapa orang. Dari dalam gedung terdengar suara dentuman keras dan lubang itu kembali tertutup.


Zelina bernapas lega saat melihat langit kota London di sore hari. Beberapa orang petugas kesehatan langsung mendekatinya. Sedetik kemudian gadis itu pingsan.


***********


Caleb dan Zelina langsung dilarikan ke rumah sakit. Gempa hari ini yang mengguncang kota London memang kuat karena menyebabkan beberapa bangunan pencakar langitpun mengalami retak.


Di rumah sakit, Caleb dan Zelina segera ditangani. Caleb bahkan segera di operasi karena kakinya tertindis bagian dinding yang rubuh itu patah dan ada tulang yang retak dibeberapa bagian. Sedangkan Zelina hanya mengalami memar dan gangguan pernapasan karena terlalu banyak menghirup abu.


"Kau sudah sadar?"


Zelina yang baru saja membuka matanya langsung tersenyum melihat Grace.


"Hi Grace!"


"Hi juga. Ada sesuatu yang sakit?"


"Ya. kepalaku sakit. Tenggorokanku juga sakit. Bolehkah aku minta air putih?"

__ADS_1


Grace dengan gerakan cepat mengambil air putih yang memang sudah tersedia di atas nakas. Zelina duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Saat Zelina menerima gelas itu, ia langsung menghabiskan isinya.


"Mau tambah lagi?" Tanya Grace.


"Iya."


Sekali lagi Zelina menghabiskan air yang ada di dalam gelas.


"Kata dokter kau hanya perlu istirahat malam ini di sini. Aku sudah menelepon mommyku dan meminta ijin untuk menjagamu di sini." Kata Grace.


"Terima kasih, Grace. Sebenarnya aku sudah merasa baikkan. Hanya ada luka-luka goresan saja. Memang pantatku agak sakit karena jatuh saat turun ke lantai basecamp. Di apartemenku ada minyak urut yang ku bawa dari Manado. Khasiatnya sangat bagus."


"Kau mau aku mengambilkannya untukmu?"


"Tidak perlu. Besokan susah boleh pulang. Oh ya, bagaimana keadaan Caleb?"


Wajah Grace berubah sedikit sedih. "Dia sementara di operasi. Kata dokter operasinya akan memakan waktu 3-4 jam. Beberapa bagian tulang kaki Caleb retak."


"Semoga semuanya lancar."


Grace hanya bisa mengangguk. Dalam hati ia bersyukur Zelina begitu berani mencari jalan untuk menyelamatkan Caleb. Tak seperti dirinya yang pengecut dan hanya bisa berdiri sambil menangis.


Grace tahu, Zelina kini memiliki nilai lebih di mata Caleb dibandingkan dirinya.


**********


Esok pagi, ketika Zelina sudah diijinkan pulang, ia dan Grace mampir sebentar di kamar Caleb untuk melihat keberadaan cowok itu yang sudah sadar. Kaki kirinya terbungkus gips dari pergelangan kaki sampai diujung betisnya. Wajahnya pun terlihat masih pucat.


"Hi Caleb...!" Sapa Zelina dengan wajah ceriahnya sambil mendekat.


"Kau sudah sembuh?" Tanya Caleb dengan wajah khawatirnya. Posisi tubuhnya membuat ia tak bisa banyak bergerak karena lehernya juga disanggah. Ia bahkan tak melihat Grace yang berdiri tak jauh di belakang Zelina.


"Siapa bilang aku sakit? Dokternya saja yang terlalu lebay menahanku semalam untuk tidur di rumah sakit ini." Kata Zelina membuat Faith dan Ezekiel Thomson tertawa melihat gaya bicara Zelina yang terkesan lucu. Dua juga mengucapkan dalam bahasa Indonesia di campur logat Manadonya.


"Terima kasih Zelina. Kau begitu berani menyelamatkan Celeb. Paman dan bibi sungguh berhutang nyawa padamu." Kata Faith lalu memeluk Zelina dengan erat.


"Jangan begitu bibi. Itu hanya keinginan spontan saja yang tiba-tiba muncul di kepalaku." Zelina merendah.


"Ya. Kau sangat nekad. Lain kali jangan begitu ya?" Kata Caleb sambil memegang tangan Zelina.


Grace yang berdiri di belakang Zelina merasa bahwa kehadirannya tidak dibutuhkan. Perlahan ia bergerak mundur akan meninggalkan ruangan itu namun tangan Zelina yang satu tiba-tiba memegang pergelangan tangan Grace.


Faith terpana melihat pemandangan itu. Caleb yang memegang tangan kiri Zelina sementara tangan kanan Zelina memegang satu tangan Grace.


Sebagai ibu hati Faith menjerit. Ia tahu ini sesuatu yang salah. Ada 3 hati yang terjebak dalam 1 cinta yang sama.


Saat Grace akan menarik tangannya dari genggaman Zelina, gadis itu menoleh. " Grace, jangan pergi. Caleb akan sedih." bisik Zelina.


Belum sempat Grace berkata, pintu terbuka. Chloe masuk dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.


"Caleb....!" serunya sambil berlari dan memeluk saudara kembarnya itu membuat tangan Caleb yang memegang tangan Zelina terlepas.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Thomson." Sapa Erhan.


Ezekiel dan Faith saling berpandangan. Apakah putri mereka datang bersama Erhan???


Terima kasih sudah setia membaca walaupun aku jarang up.

__ADS_1


Dukung cerita ini ya dengan cara : Like, komen, vote


__ADS_2