
"Jadi gaun pengantinnya mau mommy dan oma buat model seperti apa?"
"Modelnya pengantin Indonesia. Aku mau saat pemberkatannya memakai gaun putih sederhana tanpa banyak tatanan berliannya. Dan untuk resepsinya, aku mau memakai kebaya putih." Kata Grace mantap.
Alicia dan Maura saling berpandangan. "Kamu serius mau pakai kebaya?"Tanya Alicia.
"Ya oma." Jawab Grace mantap lalu memandang Caleb. "Boleh kan, kak?"
"Boleh." Jawab Caleb diikuti anggukan kepala.
"Tapi kebayanya sesuai yang mommy mau ya? Harus terlihat mewah dan elegan." Ujar Maura.
"Kalau soal model, aku serahkan pada mommy dan oma."
Alicia mengangguk senang. "Bagaimana dengan gedung dan makanannya?"
"Itu tugas keluarga Thomson. Tugas keluarga Aslon adalah menyiapkan semua pakaian yang akan digunakan pengantin, keluarga dan pengiringnya. Kita harus membuat semua kariawan untuk lembur." Ucap Maura sambil tersenyum.
"Kalian memang gila. Mempersiapkan pernikahan sebesar ini hanya dalam waktu 1 bulam setengah." Alicia menggelengkan kepalanya.
"Dari pada ikut maunya Ben atau maunya Ezekiel, mereka nggak akan mengalah. Makanya ikut maunya aku dan Faith." imbuh Maura membuat semua tertawa. Tak terbayangkan bagaimana Ezekiel dan Ben berdebat mulai dari model undangan, dekorasi bahkan jenis makanan, siapa tamu yang harus diundang dan masih banyak lagi perdebatan mereka berdua sejak malam lamaran itu.
"Kalau sudah selesai, aku mau balik lagi ke kantor." Ujar Caleb.
"Ya. ukuran badanmu sudah diambil kan?" Tanya Maura.
"Sudah, bi." Jawab Caleb.
"Jangan panggil bibi. Sekarang harus belajar panggil mama." Alicia mengoreksi ucapan Caleb.
"Baik, oma. Mommy, aku pergi dulu ya." Caleb segera berpamitan dan meninggalkan ruang kantor butik the Aslon. Grace mengikutinya sambil menggandeng tangan Caleb.
"Baby, kamu masih akan tinggal di sini?" Tanya Caleb saat keduanya sudah sampai di dekat mobil Caleb.
"Iya. Masih ada baju yang harus kutentukan kainnya. Setelah itu baru ke studio untuk syuting program di acaranya Damian."
Caleb melingkarkan tangannya di pinggang Grace. "Rasanya sulit membiarkanmu ada di dekat Damian lagi."
Grace tersenyum. "Aku sudah terus terang pada Damian. Kalau dia masih mengejar aku lagi, maka aku akan membantalkan kontrak kerjaku. Tak peduli dengan sanksi yang harus aku bayarkan." Tangan Grace memegang wajah Caleb. "Semuanya akan baik-baik saja, kak."
Caleb berusaha tersenyum walaupun hatinya tetap tak rela jika Grace harus berada di dekat Damian. Caleb bisa saja meminta Grace meninggalkan acara itu, tapi Caleb juga tahu acara itu telah meningkatkan nama sanggar tari milil Grace dan teman-temannya. Mereka semakin dikenal dan sudah dikontrak oleh banyak penyanyi dengan nilai kontrak yang mahal. Caleb harus belajar menekan rasa posesifnya itu. Ia belajar menghargai pekerjaan Grace.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu ya?" Caleb menunduk lalu mencium bibir Grace dengan sangat lembut.
"Grace, bibirmu membuatku tak tahan untuk menyentuhmu." bisik Caleb diujung ciumannya.
"Sabar kak, supaya malam pengantin kita berkesan."
"Kau sudah membuatku menahan hasrat ini selama 3 tahun, Grace."
"Aku janji akan menebusnya di malam.pengantin kita." Kata Grace dengan senyum yang menggoda membuat Caleb memencet hidung mancung tunangannya itu.
"Aku pergi ya?"
"Hati-hati menyetir. Lain kali pakai sopir saja."
"Baik, baby!" Ujar Caleb lalu kembali mengecup bibir Grace sebelum masuk ke dalam mobilnya. Grace melambaikan tangannya setelah itu ia kembali masuk ke dalam butik.
*********
__ADS_1
Grace tiba di studio bersama dengan beberapa menari lainnya. Berita dirinya yang dilamar oleh Caleb sudah banyak dibicarakan oleh netizen. Orang-orang sudah heboh membicarakan akan semegah apa pernikahan dari dua keluarga yang sangat terkenal di London itu. Banyak juga yang berspekulasi bahwa pernikahan itu terjadi karena bisnis. Hanya orang-orang terdekat yang tahu bagaimana Caleb dan Grace sudah melalui banyak rintangan sebelum bersatunya hati mereka.
Saat Grace selesai ganti pakaian, ia keluar studio sebentar untuk menerima telepon dari Caleb. Tunangannya itu harus selalu diyakinkan bahwa Damian tidak mendekatinya.
"Baiklah sayang. Sukses selalu ya..." Kata Caleb lalu mengahiri panggilan telepon. Saat ia membalikan badannya, ia terkejut melihat siapa yang berjalan ke arahnya berdiri bersama Damian.
"Mark?" Seru Grace.
"Hai Grace!"
Grace langsung memeluk Mark dengan wajah senang.
"Apa kabarmu? Lama sekali kita tak bertemu. Terakhir kali di pernikahan Chloe kan?"
Mark mengangguk. "Aku ke Amerika. Menemani papaku yang berobat di sana. Kami ada di sana selama 4 tahun."
"Bagaimana kabar papamu?"
"Papa meninggal 3 bulan yang lalu."
"Ah, aku turut berdukacita, Mark."
Damian yang sejak tadi diam akhirnya bicara. "Kalian saling mengenal?"
"Ya. Kami satu kampus dulu namun di jurusan yang berbeda. Oh ya, aku harus cepat pergi ya. Mama sudah menunggu di mobil. Makasi untuk kontraknya, Damian. Kita akan saling berhubungan lagi." Pamit Mark lalu melangkah dengan agak tergesa.
"Kau kenal Mark dimana?" Tanya Grace.
"Aku dan Mark adalah saudara sepupu. Papa Mark adalah kakak mamaku."
"Oh....begitu ya. Apakah dia sudah menikah?"
Deg! Jantung Grace semakin berdetak cepat. Apakah itu Zelina?
"Kau masih mengingat nama gadis itu?"
"Aku sudah lupa. Namun ia berwajah Asia. Kata Mark orang Indonesia."
Hati Grace berdebar. Ia bahkan hampir menangis. "Itu pasti Zelina."
"Kau mengenal gadis itu?"
"Dia sahabatku. Boleh aku minta nomor telepon Mark? Aku ingin tahu tentang sahabatku itu."
Damian memberikan nomor telepon Mark. Setelah itu keduanya langsung masuk ke studio karena acaranya akan segera di mulai.
*********
Meloddy datang ke kantor The Thomson Company hari ini karena ia akan membicarakan konser amal yang akan di sponsori oleh perusahaan Caleb. Keegan juga sudah menunggunya di sana.
Saat memasuki kantor itu, Meloddy langsung ingat dengan Erland. Entah mengapa hatinya tak dapat berbohong kalau ia merindukan cowok itu. Ia merindukan sms, telepon dan kiriman-kiriman Erland lainnya.
Damn! Meloddy buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia berusaha fokus dengan kedatangannya ke tempat ini.
"Saya Meloddy Kim, ada janji ketemu dengan tuan Caleb Thomson sore ini." Ujar Meloddy pada resepsionis yang menyapanya.
"Silahkan nona. Anda sudah ditunggu di ruangan tuan Caleb."
Meloddy yang sudah tahu dimana ruangan Caleb segera masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai paling atas bangunan ini.
__ADS_1
Sekretaris Caleb langsung menyambutnya ketika pintu lift terbuka.
"Selamat datang nona Meloddy. Anda sudah ditunggu di dalam." Kata Monica lalu segera mengetuk pintu ruangan Caleb dan membuka pintu itu perlahan. Setelah terdengar sahutan, Monica membuka pintunya.
"Hai...!" Sapa Meloddy saat memasuki ruangan Caleb. Matanya langsung terpaku melihat foto berukuran jumbo yang ada di belakang tempat duduk Caleb. Foto keluarga Thomson. Ezekiel, Faith, Chloe dan Caleb, serta Erland yang senyumnya paling menawan menurut Meloddy.
"Ayo duduk, Mel!" Ajak Caleb mengalihkan pandangan Meloddy dari foto itu. Meloddy langsung bergabung bersama Keegan dan Caleb yang sudah duduk di sofa.
Mereka pun terlibat percakapan yang serius selama hampir 1 jam mengenai konser amal itu.
Percakapan mereka terhenti saat ponsel Caleb berbunyi.
"Ini dari Erland. Sebentar ya aku angkat dulu. Hallo Erland..."
"Hallo, kak. Semua nya berjalan lancar di sini. Apakah aku sudah boleh kembali ke London? Bunda kemarin meneleponku dan meminta aku segera pulang untuk pernikahanmu."
"Tunggulah sampai wakil dari perusahaan akan sampai di Swiss. Paling lambat 1 minggu lagi."
"Kakak sedang apa sekarang?"
"Sedang bersama Meloddy dan Keegan. Kau tidak ingin menyapa mereka? Kakak alihkan ke panghilan videocall ya?" Tanpa menunggu persetujuan Erland, Caleb sudah mengganti panggilan dengan panggilan Videocall.
Terlihat wajah Erland yang sepertinya sedang ada di kamar apartemen.
"Hallo Erland...!" Sapa Keegan saat Caleb mengarahkan layar ponsel ke arah Keegan dan Meloddy. Gadis itu hanya melambaikan tangannya dengan sedikit rasa gugup. Ternyata ia bergetar melihat wajah Erland.
Caleb dapat melihat ada sesuatu antara Erland dan Meloddy.
"Kalian saling rindu ya?" Goda Caleb.
Wajah Meloddy langsung merah namun Erland hanya tersenyum. " Kak, sudah dulu ya. Aku mau istirahat dulu. Bye..."
Meloddy terlihat kecewa. Hatinya sakit karena Erland sepertinya tak menghiraukannya.
"Eh..." Caleb akan bicara lagi namun ponselnya kembali berbunyi. Ternyata Grace yang menghubunginya.
"Hallo baby, ada apa? Syutingnya sudah selesai?"
"Kak, masih ingat Mark? Cowok yang sempat dekat dengan Zelina." Ujar Grace tanpa menjawab pertanyaan Caleb.
"Ya. Dia pria yang menabrak Zelina kan?"
Mendengar nama Zelina, Keegan langsung terkejut.
Caleb menyalahkan loudspeaker ponselnya.
"Kak, tadi aku ketemu Mark. Ternyata dia sepupuan dengan Damian. Damian cerita 2 tahun yang lalu saat ia ke Amerika, sia ketemu dengan gadis yang disukai Mark. Katanya gadis itu sangat kurus dan dalam perawatan penyakit kanker. Ia juga bilang kalau gadis itu berasal dari Indonesia. Aku sudah meminta nomor telepon Mark. Jika sudah selesai syuting, kita ajak Mark ketemuan ya. Perasaanku mengatakan kalau Mark tahu tentang Zelina."
"Ok. Kamu syuting aja dulu, baby setelah itu kuta ketemu."
"Ok."
"Aku ikut!" Kata Keegan saat Caleb sudah mematikan sambungan telepon.
"Keegan, bagaimana dengan putri Sofia seandainya Zelina masih hidup?"
Keegan terpana.
Makasi sudah baca...
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan vote ya?