3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Lamaran Yang Benar


__ADS_3

Caleb sedikit tak berkonsentrasi dengan rapat pemegang saham hari ini. Ia kelelahan karena baru saja tiba dari Swiss pagi ini dan Grace yang sepertinya tak percaya dengan penjelasannya.


Selama rapat berjalan, Caleb bahkan beberapa kali memijat kepalanya.


"Bagaimana tanggapan anda dengan laporan perolehan saham dan keuntungan di bulan yang lalu, pak?" Tanya Joel. Dalam situasi resmi seperti ini, Joel memanggil Caleb dengan panggilan resmi.


"Apa?" Tanya Caleb.


Joel dapat melihat kalau sepupunya itu seperti kehilangan konsentrasi. Ezekiel yang juga hadir sebagai pemegang saham tertinggi menatap putranya dengan heran.


"Ada apa dengan saudaramu, Chloe?" bisik Ezekiel pada Chloe.


Chloe menatap saudara kembarnya itu dengan seksama. "Sepertinya ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya, dad."


Pintu ruang rapat terbuka. Semua mata langsung menoleh ke arah pintu. Biasanya, tak ada yang berani menganggu jika sedang rapat penting seperti ini.


Seorang gadis cantik, berdiri di depan pintu dengan mata yang langsung tertuju pada si pemimpin rapat.


"Grace?" Posisi duduk Caleb yang memang berhadapan dengan pintu masuk membuat keduanya langsung berhadapan.


Wajah Grace tersenyum. Ia seakan tak peduli dengan banyak orang yang ada di sana. Pandangannya hanya tertuju pada lelaki yang sudah dicintainya semenjak ia masih kecil. Lelaki yang telah mencuri ciuman pertamanya sejak ia berusia 3 hari.


"Aku menerima lamaranmu, kak." Katanya dengan suara lantang. Sangat jelas terdengar. Tanpa ada keraguan atau ketakutan saat mengucapkannya.


Caleb berdiri dari tempat duduknya. Iangsung mendekati Grace dan berdiri tepat di depan gadis itu.


"Benarkah?"


Grace mengangguk. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. "Aku mau menjadi istrimu." Kata Grace masih dengan suara yang keras. Sebutir air mata jatuh membasahi pipinya.


"Grace, i love you!" Kata Caleb lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat.


"I love you too" Ujar Grace dalam pelukan Caleb. Keduanya larut dalam rasa bahagia yang dalam. Keduanya lupa dengan keadaan sekitar. Saat pelukan mereka terurai, bibir mereka menyatu dalam ciuman panjang.


plok.....plok....plok....


Tepuk tangan tiba-tiba saja terdengar.


"Selamat pak Caleb!" teriak para pegawai baik yang ada di dalam ruangan rapat maupun yang sudah berdiri di luar ruangan rapat.


Grace mendorong tubuh Caleb perlahan. Ia baru menyadari bahwa puluhan pasang mata sedang menatapnya. Rasa malu langsung membuat pipi gadis itu merah merona.


"Ya Tuhan kak....!" Grace menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa?"


"Aku malu sekali!" Grace langsung membalikan badannya dan pergi dari situ.


"Grace....!" panggil Caleb namun gadis itu tak mau menoleh lagi.


Caleb bingung. Ia menatap papanya lalu kembali menatap Grace yang sudah menuruni tangga.


Ezekiel tersenyum. "Kejar cinta sejatimu, nak. Biar daddy yang lanjutkan di sini!"


"Thank you, dad."


Caleb langsung berlari mengerjar Grace. Ia menemukan Grace sudah berada di halaman parkir.


"Grace.....!" Panggil Caleb sambil menarik tangan Grace.

__ADS_1


"Kakak."


Caleb tesenyum. Ia kembali memeluk Grace. "Aku bahagia, Grace. Bagaimana kau bisa berubah pikiran secepat ini?"


Grace melepaskan pelukannya. "Erland mengirim foto. Kakak tidur di karpet dan Dania yang tidur di sofa. Maafkan aku yang meragukanmu, kak."


"Aku senang. Kau cemburu. Itu tandanya kau mencintaiku." Caleb membelai wajah Grace.


Grace tersenyum. Ia mengambil kotak cincin itu dari dalam tasnya. "Kak, lamar aku secara benar."


"Maksudnya?"


"kita pakai cara orang Indonesia.Kakak harus datang ke rumahku malam ini. Ajak orang tua kakak. Berani bicara di depan papa dan mamaku. Aku ingin lihat seberapa berani kakak memintanya dari papa Benku."


Caleb mengangguk. Ia menerima kembali kotak cincin itu. "Jam 8 malam ini, kami akan ke sana. Aku, daddy dan bunda."


Grace mencium pipi Caleb."Tak sabar menunggu kedatanganmu, kak."


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Jangan, kak. Aku sudah pesan taxi. Kita ketemu malam nanti."


"Baiklah sayang."


Taxi yang dipesan Grace datang. Sebelum ia naik ke dalam taxi, Caleb kembali mencium bibirnya.


"Hati-hati ya sayang...."


"Ok baby!"


Caleb menatap kepergian Grace dengan rasa bahagia. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menelepon bundanya.


*********


"Sebenarnya ada apa kak?" Tanya Gabrian bingung.


"Duduk saja. Sebentar lagi kalian akan tahu."


Maura dan Ben saling berpandangan.


"Siapa yang akan datang, nak? Mengapa daddy dan monmy harus memakai baju rapih?" Tanya Maura penasaran. Penampilan Grace juga malam ini sangat cantik dengan gaun pink yang membungkus tubuh indahnya.


"Dia memakai lagi anting-anting yang Caleb berikan saat di bayi." bisik Ben.


Tak lama kemudian bel pintu berbunyi. Seorang pelayan membukakan pintu.


Maura dan Ben terkejut melihat siapa yang datang. Ezekiel, Faith dan Caleb. Di belakang mereka ada beberapa pelayan yang memegang baki berisi berbagai macam keperluan wanita. Ada sepatu, baju, perhiasan tas dan yang paling terakhir kue berbentuk hati.


Bawaan yang terdiri dari 7 baki itu diletakan di atas meja lalu para pelayan itu pergi.


"Faith, kau mau melamar anakku?" Maura langsung bisa menebak tujuan keluarga Thomson datang ke rumah mereka. Seserahan seperti lamaran yang sering terjadi di Indonesia. Gionino dan Gabrian pun terpana. Tak seperti lamaran orang London pada umumnya yang serba praktis dan modern tanpa ada seserahan. Paling yang disiapkan hanya cincin.


"Ya. Caleb datang melamar Grace. Dan Grace mau lamaran ala Indonesia." Ujar Faith.


"Aku sebenarnya bingung. Tapi menurut saja." Kata Ezekiel.disambut tawa Ben. Mereka berempat tak pernah menyangkah akan ada di situasi ini. Persahabatan yang terjalin sejak lama, akan semakin erat dengan hubungan Caleb dan Grace.


"Paman, bibi. Aku meminta ijin untuk menikahi Grace. Kalian tahu kalau aku sudah menyukainya semenjak ia kecil. Hari ini aku datang bersama daddy dan bundaku, aku ingin melamar Grace." Kata Caleb sambil berdiri. Ia mengucapkanny dalam bahasa Indonesia.


"Tidak..!" Ujar Ben lantang membuat semua terkejut.

__ADS_1


"Dad?" Grace menatap papanya dengan mata yang berkaca-kaca.Ia tak mengira kalau papanya akan menolak lamaran Caleb.


"Sayang...!" Maura menyentuh tangan Ben. Ia heran kata itu akan keluar dari mulut Ben.


"Maksudku, tidak bisa Grace menikah kalau tidak dengan Caleb."


"Daddy...!" Grace langsung memeluk papanya sambil menangis. Ia merasa kesal dipermainkan oleh papanya.


"Kau lihat Caleb, anakku ini masih sangat manja padaku. Jadi aku harap agar kau jangan pernah menyakitinya. Karena jika dia menangis lagi karenamu, aku tak akan segan-segan menjewer telingamu." Kata Ben dengan wajah tersenyum namun dengan suara yang tak main-main.


"Aku berjanji padamu, paman. Seumur hidupku, aku akan membuat Grace bahagia." Kata Caleb membuat Faith dan Ezekiel mengangguk bahagia. Mereka yakin kalau Caleb sangat mencintai Grace.


"Ya sudah. Pakaikan cincinnya. Dan tolong minta Grace untuk mengganti anting-anting bayi ini dengan yang baru. Uangmu cukup untuk membelikan dia anting yang baru kan Thomson?" Sindir Ben pada Ezekiel.


"Hei..., jangan kau lupa kekayaan keluarga Thomson berada satu level di atas keluarga Aslon." Kata Ezekiel dengan gaya arogannya membuat ruang tamu ramai dengan suara tawa mereka.


Grace dan Caleb akhirnya berdiri saling berhadapan. Caleb membuka anting yang dipakai Grace dan menggantinya dengan anting baru yang lebih besar dan cocok untuk perempuan dewasa. Hanya saja modelnya masih sama, yaitu bintang.


Caleb kemudian mengambil cincin yang sudah disiapkannya.


"Dengan cincin ini, aku melamarmu Grace. Maukah kau menjadi istriku dan menjadi tua bersamaku?" Kata Caleb lalu memasukan cincin itu di jari manis Grace.


"Aku mau, kak." Jawab Grace dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Keduanya lalu berpelukan. Tepuk tangan terdengar. Faith dan Maura saling berpandangan. Kedua ibu itu pun tampak haru dengan mata yang berair.


***********


Selesai makan malam, mereka kembali duduk si ruang tamu untuk membicarakan tanggal pernikahan.


"Aku mau 3 bulan lagi untuk pernikahan anakku." Kata Ben.


"Terlalu lama, Ben. 2 bulan rasanya cukup." Ujar Ezekiel.


"Hei, aku mau pernikahan anakku yang paling spektakuler.Ini pernikahan pertama di keluarga Aslon." Kata Ben sedikit meninggi.


"Tapi aku tak mau kalau terlalu lama dan justru akan membuat Caleb dan Grace terpisah lagi. Aku juga ingin Grace segera hamil dan memberikan penerus Thomson." Ujar Ezekiel kesal.


Melihat Ezekiel dan Ben yang teris bertengkar, Maura membisikan sesuatu pada Faith. Perempuan itu pun mengangguk.


"Kalian bapak-bapak tahu apa mengurus pernikahan? Biarkan aku dan Maura yang mengurusnya. Dengan nama besar keluarga Thomson dan nama besar keluarga Aslon, kami berdua berpikir kalau pernikahan ini akan dilaksanakan satu bulan setengah dari sekarang." Kata Faith disambut anggukan kepala Maura.


"Apa?" kali ini Caleb dan Grace yang terkejut.


"Tapi sayang...." Ben ingin protes namun Maura sudah menatapnya tajam. Ben langsung diam. Ia tahu apa arti tatapan itu. Maura bisa menyuruhnya tidur selama sebulan di sofa.


"Sayang, apakah satu...." Kalimat Ezekiel pun terhenti saat Faith menatapnya tajam. Tatapan mata itu juga dapat dimengerti oleh Ezekiel. Kamar tamu siap menjadi tempat tidurnya malam ini.


Gionino dan Gabrian saling berpandangan sambil menahan tawa. "Ternyata daddy sama paman Eze adalah kumpulan laki-laki yang takut istri!" bisik Gionino.


"Gio, kau juga diam!" sentak Maura membuat Gionino pura-pura menatap ke arah lain.


"Mommy Maura dan Bunda Faith, aku dan Caleb setuju dengan tanggal 1 bulan setengah dari sekarang." Kata Grace membuat Faith dan Maura langsung mengambil gelas anggur ditangan mereka dan saling tos.


"Yes....!" ujar keduanya kompak. Dua orang ibu yang bahagia itu sepertinya tidak ingin dibantah.


Bagaimana pernikahan mereka?


Bagaimana kabar Zelina?

__ADS_1


Tunggu di episode berikut ya?


__ADS_2