
Grace memalingkan wajahnya yang terasa panas saat mendengar pertanyaan Caleb. Jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat.
"Kak, kalau aku sakit, kamu juga kan sering mengkhawatirkan aku. Kamu bahkan merawat dan menemani aku. Jadi wajarlah kalau aku juga peduli dengan kesehatanmu." Kata Grace setelah berhasil menguasai rasa gugupnya. Ia memberanikan diri untuk menoleh ke arah Caleb. Sekalipun penerangan didalam mobil hanya terbatas dari lampu jalan yang ada di dekat mereka, namun tatapan mata Caleb jelas terlihat oleh Grace. Ia memang tak tahu apa maksud tatapan mata itu. Namun ia merasa damai melihatnya.
Caleb tiba-tiba membelai pipi Grace dengan lembut. Ia memang bukan hal pertama yang dilakukan Caleb. Ia sudah biasa membelai wajah Grace. Namun kali ini suasananya berbeda. Grace menikmati sentuhan itu. Apalagi saat Caleb perlahan mencondongkan tubuhnya dan memangkas jarak diantara mereka, Grace semakin panas dingin dibuatnya.
"Terima kasih sudah peduli dengan kesehatanku." Kata Caleb pelan. Ia bahagia saat melihat Grace sudah memakai anting-antingnya kembali. Dan tak tahu dorongan apa yang dimilikinya, Caleb tiba-tiba saja ingin mencium bibir Grace yang begitu menggoda itu. Tangan Caleb memegang tengkuk Grace, menekannya agar mendekat ke arahnya, lalu mencium gadis itu dengan sangat lembut.
Grace tak menolak. Ia sudah lama mendambahkan ciuman ini. Dia sudah lama ingin merasakan bagaimana berciuman dengan orang yang dicintai. Grace memejamkan matanya. Secara naluri, sekalipun agak kaku, bibir Grace bergerak perlahan mengikuti gerakan bibir Caleb.
Di dalam mobil itu, keduanya larut dalam ciuman yang hangat dan seolah tak mau dihentikan. Grace mengikuti semua gerakan bibir dan lidah Caleb. Ia merasakan kulit tubuhnya menjadi panas. Ia sendiri tak ingin mengahiri ciuman itu sampai akhirnya.....
Hp Caleb berbunyi. Secara cepat Caleb menarik tubuhnya dan mengahiri ciuman itu. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena membiarkan dirinya mencium Grace sedalam ini. Dan yang semakin membuat Caleb menjadi semakin merasa bersalah, saat menyadari bahwa panggilan itu berasal dari Zelina.
"Hallo....!" Sapa Caleb dengan tatapan mata yang tertuju pada Grace. Gadis itu terlihat merona. Ia memilih memandang ke luar jendela.
"Caleb, maaf menganggumu. Mungkin kamu lupa kalau aku meminta tolong padamu untuk membuat gambar desain untuk tugasku."
"Zelina, gambarnya sudah kubuat. Memang belum selesai. Tapi akan kuselesaikan malam ini. Aku janji."
Grace merasakan sesuatu menusuk hatinya saat mendengar nama Zelina. Mengapa setiap kali ia dan Caleb akan menjadi dekat, selalu telepon Zelina menganggu mereka? Apakah ini pertanda bahwa Caleb bukan untuknya?
"Aku ada di rumahmu sekarang. Mengantarkan kiriman kue dari mamiku untuk bundamu."
"Aku dalam perjalanan pulang."
"Aku tunggu ya. Soalnya tugas itu akan dikumpul besok jam 9 pagi."
"Ok." Caleb meletakan hp nya kembali ke tempat hp yang ada di mobilnya. Suasana hening terciota diantara mereka.
"Kak, kita pulang sekarang? Kau mau aku yang menyetir mobilnya?" Tanya Grace.
"Tidak. Aku bisa." Caleb menjalankan kembali mobilnya. Keduanya kembali diam tanpa mengucapkan kata apapun sampai di depan mansion keluarga Aslon.
"Terima kasih sudah mengantarku, kak." Kata Grace sambil membuka sabuk pengamannya.
"Grace...!" Caleb menahan tangan Grace saat gadis itu sudah membuka pintu mobil.
"Ada apa, kak?"
"Maafkan aku yang sudah bersikap tak sopan saat menciummu seperti tadi. Sungguh, aku tak tahu mengapa tiba-tiba menciummu seperti itu."
"Tak apa-apa, kak. Selamat malam." Grace menarik tangannya dari genggaman Caleb. Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke arah Caleb.
Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu yang baru saja ditutupnya. Menyesalkah Caleb menciumnya karena Zelina yang tiba-tiba menelepon mereka?
Grace memegang bibirnya yang masih meninggalkan kehangatan ciuman Caleb. Tiba-tiba gadis itu menangis. Ia merasa sesak karena perasaan cinta yang tak bisa diungkapkan.
"Grace? Baby? Kenapa kau menangis?" Tanya Ben sambil mendekat.
Grace menatap lelaki di depannya. Yang tetap terlihat tampan dan gagah di usianya yang sudah memasuki 50 tahun.
__ADS_1
"Daddy...!" Grace langsung memeluk papanya dengan tangis yang semakin dalam. Ia mungkin tak dapat menceritakan tentang isi hatinya. Ia juga tahu papanya tak akan memaksa untuk bertanya kalau ia tak mau menjelaskannya.
"Ada apa?" tanya Ben sambil membelai rambut anaknya.
"Hanya ingin dipeluk oleh daddy saja."
Ben mencium kepala anaknya dengan lembut. Ia tahu Grace pasti terluka. Grace adalah gadis yang tegar. Ia tak pernah menangis bahkan disaat jatuh
*********
Saat Caleb memasuki kamarnya, terlihat Zelina yang sudah tertidur di atas sofa.
Caleb mengambil selimut dan menutupi tubuh Zelina namun hal itu justru membuat Zelina terbangun.
"Maaf kalau aku membangunkanmu." Kata Celeb.
Zelina tersenyum. Ia duduk sambil merapihkan rambutnya. "Aku memang harus segera bangun karena tugasku menanti. Tadi aku tertidur karena kekenyangan. Masakan bibi Faith membuatku ingat rumah makanya makannya banyak."
"Mengapa kau tak tinggal saja di sini supaya tiap hari makan yang banyak? Badanmu ini terlihat kurus semenjak kematian omamu." Kata Caleb lalu duduk di samping Zelina.
"Oma sejak kecil selalu menjagaku. Ia mencurahkan seluruh waktunya untuk menjaga aku dan kakakku saat orang tua kami sibuk bekerja. Kepergian oma sangat melukai hatiku." Mata Zelina terlihat berkaca-kaca membuat Caleb langsung memeluknya.
"Sudahlah. Jangan menangis. Oma sudah bahagia di sorga bersama opa. Sekarang kita kerjakan tugasmu, ya?" Ujar Caleb lembut. Zelina mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Aku mau cuci muka dulu." Kata Zelina lalu berdiri dan menuju ke kamar mandi.
Tak lama kemudian keduanya sudah duduk bersama untuk mengerjakan tugas Zelina. Teekadang ada tawa dari bibir Zelina karena cerita lucu yang Caleb sampaikan. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang berbahagia.
"Sayang, tumben baru jam 9 sudah pulang."
"Aku kan sudah bilang akan pulang cepat supaya bunda tak kesepian. Daddy belum pulang?"
"Ya. Daddy dan paman Joe ada pekerjaan di luar kota. kakakmu sedang mengerjakan tugas bersama Zelina di kamarnya."
Erland hanya mengangguk. Ia duduk di samping bundanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Faith.
"Bunda, kalau aku menyukai gadis yang usianya lebih tua dariku, itu bukan sesuatu yang salah kan?" Tanya Erland.
"Cinta itu tak memandang usia. Asalkan jangan mencintai apa yang menjadi milik orang lain. Mau si cowok yang lebih muda atau si cewek, menurut bunda nggak masalah. Asalkan mereka saling menyayangi."
Erland memejamkan matanya. "Bunda, bagaimana jika cinta kita bertepuk sebelah tangan?"
"Tinggalkan saja. Masih banyak cinta yang menunggu."
Erland hanya tersenyum. "Kalau aku patah hati, apakah bunda akan mrnghiburku?"
Faith membelai kepala anaknya. "Setahu bunda Erland Thomson itu terkenal play boy. Apakah ada play boy yang patah hati?"
Erland tertawa. "Play boy juga punya hati bunda."
***********
__ADS_1
Malam telah larut. Tugas Zelina sudah selesai dibuat. Namun Faith tak mengijinkan Zelina pulang ke apartemennya karena jarak dari mansion ke apartemen Zelina cukup jauh. Zelina pun beristirahat di kamar tamu.
Caleb sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Kegilaannya mencium Grace tadi sungguh membuat perasaan Caleb jadi gelisah. Ini juga adalah ciuman pertama Caleb dengan seorang gadis. Caleb belum pernah pacaran dengan siapapun. Grace dan Zelina adalah gadis yang selama ini mengisi hatinya.
Apakah dia mencintai Grace melebihi cintanya pada Zelina? Ataukah ciuman itu hanya sebatas gelora jiwa mudanya yang begitu tertarik ingin merasakan bibir Grace yang memang sangat menggoda itu? Apakah Caleb akan menjadi pria pemberi harapan palsu pada kedua gadis yang jelas-jelas menyukainya?
Caleb menepuk jidatnya sendiri. Ia sungguh tak berdaya dengan perasaannya ini.
*********
Di salah satu restoran mewah di jantung kota Paris, Chloe sedang duduk berhadapan dengan salah satu pria paling diincar di Paris ini. Leonard Bergeron. Pria berusia 27 tahun. Keturunan bangsawan yang menjadi orang terkaya di Perancis saat ini duduk di hadapannya.
Sudah seminggu ini Leonard mendekati Chloe. Dan baru hari ini Chloe menerima ajakannya untuk makan malam. Bukan karena gadis itu jual mahal. Namun Chloe memang tak tertarik dengan para pria kaya yang hanya ingin untuk mengajak Chloe ke ranjang mereka. Namun saat pemilik agensi yang mengontraknya mengatakan kalau Leonard bukanlah pria perayu seperti cowok lainnya di Paris ini, Chloe pun mencoba membuka hatinya. Dan ternyata Leonard adalah cowok yang asyik diajak bicara. Ia bahkan sangat sopan dan tak bersikap sebagai cowok genit yang berusaha menggodanya.
Sebagai model terkenal yang memiliki tubuh sempurna, Chloe tahu banyak pria yang mengincarnya. Namun dia bukan gadis yang mudah ditaklukan. Namun semua itu berbeda saat ia bersama Erhan. Jiwa dan raganya begitu mendamba sentuhan lelaki itu. Chloe sendiri tak mengerti dengan apa yang ada dalam dirinya saat berhadapan dengan Erhan.
"Chloe, makanannya tidak enak? Kamu makannya hanya sedikit.
Chloe tersadar dalam lamunannya. "Eh...maaf. Aku sebenarnya belum terlalu lapar karena tadi sore sempat minum kopi dan makan roti dengan beberapa temanku. Kamu tidak marahkan kalau makanannya tidak aku habiskan?"
Leonard tersenyum. "Tidak apa-apa. Lain kali kita akan makan malam disaat kau benar-benar lapar."
Chloe tersenyum agak malu. Ia mengambil gelasnya yang berisi anggur dan menghabiskan minumannya itu.
Saat Leonard akan bicara tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang lelaki tinggi dan terlihat elegan dengan pakaian yang dikenakannya.
"Selamat malam, maaf jika menganggu kalian."
Chloe menoleh dengan kaget. "Kau...!"
"Kau megenal pria ini, Chloe?" Tanya Leonard.
Chloe hanya bisa mengangguk tak bisa bicara. Ia rindu, sangat rindu dengan pria tampan ini.
"Siapa dia?" Leonard jadi penasaran.
"Aku adalah pacarnya, Chloe. Ayo sayang kita pulang!" Erhan langsung memegang tangan Chloe. Chloe tak bisa menolaknya.
"Aku permisi Leonard." pamitnya lalu segera mengikuti langkah Erhan.
Saat keduanya sudah berada di dalam mobil, Chloe menatap Erhan dengan bingung. "Paman, apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu menemukan aku?"
Erhan menatap Chloe. "Aku hampir gila kehilanganmu. Aku mencarimu dengan segala cara karena aku sadar bahwa aku mencintaimu. Aku sudah melepaskan Amora. Aku tak peduli lagi dengan kehormatan keluargaku atau keluarganya. Aku ingin bahagia denganmu, sayang."
Air mata Chloe jatuh. "Paman, aku mencintaimu."
Erhan mendekat. Menyatukan bibirnya dengan bibir Chloe. Ciuman penuh kerinduan dan juga hasrat yang membara. Saat ciuman itu berhenti, Erhan berbisik dengan penuh sensual," Chloe, ayo kita ke hotel."
WHAT NEXT???
Jangan lupa like, komen, vote ....
__ADS_1