3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Mengalah Itu Menyakitkan


__ADS_3

Saat mobil yang Mark memasuki kompleks apartemen Zelina, gadis itu melihat Caleb yang baru saja melangkah memasuki lobby apartemen. Cowok itu sepertinya sedang membawa sesuatu.


Zelina menekan perasaan hatinya yang tiba-tiba berdesir melihat cowok itu. Tidak! Ia tak boleh lagi memiliki perasaan seperti itu untuk Caleb. Ia tak mau menyeret Caleb dalam kesedihannya.


Mobil Mark berhenti. Saat cowok itu melepaskan sabuk pwngalamannya, Zelina menahan tangannya.


"Mark, di sana ada Caleb. Tolong aku ya?"


"Menolongmu? Maksudnya?" Mark jadi bingung.


"Let me kiss you!" Kata Zelina agak malu.


Mark terkejut. Namun ia akhirnya mengangguk juga. Ia pun turun dari mobill, kemudian berputar ke sisi pintu mobil sebelah kanan, ia membukakan pintu bagi Zelina.


Begitu Zelina turun, dari sudut matanya, ia melihat Caleb. Dengan cepat ia melkngkarkan tangannya di leher Mark, dan segera mencium bibir Mark dengan gaya sensual sehingga membangkitkan sisi romantis.


Di bawah butiran salju yang dingin, Zelina yang mencium Mark langsung disambut oleh cowok itu. Mark merasakan kalau ciuman Zelina agak kaku menunjukan bahwa Zelina bukanlah gadis yang sudah biasa berciuman. Karena itu, Mark menolongnya agak ciuman mereka terlihat sebagai ciuman dari 2 orang yang saling menyayangi. Tangan Mark yang satu ada dipinggang Zelina, dan tangan yang satu lagi memegang bagian belakang kepala gadis itu.


Siapa yang tidak senang menerima ciuman dari gadis yang disukainya? Walaupun Mark tahu ini adalah ciuman pura-pura namun dia sangat bahagia.


Saat Zelina melihat kalau Caleb sudah pergi dengan mobilnya, ia langsung melepaskan ciumannya dengan napas yang sedikit terengah-engah. Tangannya juga dilepaskan dari leher Mark.


"Terima kasih, Mark. Ayo kita masuk. Caleb sudah pergi!" Ujar Zelina sambil melangkah lebih dulu memasuki lobby apartemennya.


Zelina sempat melirik ke arah bak sampah yang ada di depan lobby, tempat Caleb melemparkan kantong plastik yang dibawahnya. Hati Zelina merasa sakit namun ia berusaha mengusir rasa itu. Ia terus melangkah, kemudian masuk ke dalam lift bersama Mark.


"Mengapa kamu melakukan itu?" Tanya Mark saat keduanya sudah duduk di depan meja makan sambil menikmati coklat panas yang disiapkan oleh Zelina untuk mereka berdua.


"Melakukan apa?"


"Menciumku di depan Caleb."


Zelina menarik napas panjang."Agar dia tak mendekatiku lagi. Aku ingin dia mengira kalau kita memang ada hubungan khusus."


"Bukankah kau mencintainya?"


Zelina mengangguk. "Justru karena aku menyayanginya sampai aku ingin dia menjauhiku."


"Kenapa?"


"Karena aku tak ingin dia mengasihaniku. Aku tak ingin dia memilihku karena sakitku ini."


"Bagaimana jika akhirnya dia memilihmu tanpa mengetahui sakitmu itu?"


"Aku merasa kalau Caleb lebih mencintai Grace dari pada aku. Dia melupakan janji makan malam denganku karena Grace meneleponnya dan meminta tolong. Kalau memang dia lebih menyukaiku, dia akan meneleponku lebih dulu sebelum pergi untuk menolong Grace." Zelina tersenyum miris. "Aku lebih baik mengalah. Agar Caleb tak bingung lagi."


Mark hanya mengangguk. Ia juga tak tahu harus bilang apa.


**********


Setelah pulang ke rumah dan mandi, Chloe memilih untuk pergi ke butik nyonya Alicia Aslon. Ia hendak mengabarkan tentang kontraknya yang sudah selesai.


Dengan kecepatan sedang, Chloe mengendarai mobilnya. Ia berusaha membuang semua bayangan Erhan yang selalu memenuhi kepalanya.


Saat mobil Chloe melewati perkebunan apel yang sunyi, sebuah mobil tiba-tiba saja menyalib di depannya dan membuat Chloe harus menginjak rem mobilnya secara mendadak.


Belum habis rasa kagetnya, tiba-tiba ia melihat seorang lelaki sudah turun dari mobil itu dan melangkah ke arahnya.Wajah lelaki itu kurang jelas terlihat karena ia memakai mantel dan topi. Chloe pun bersiap akan turun dan melawannya. Mungkin pria itu tak tahu kalau Chloe, sekalipun terlihat lembut saat berjalan di atas catwalk namun menguasai beberapa jenis bela diri.


Saat Chloe sudah di luar mobil, dan pria itu mendekat, Chloe langsung terkejut. Ia hendak masuk lagi ke dalam mobil namun pria itu berhasil memegang lengannya.

__ADS_1


"Sayang....!"


Chloe berusaha melepaskan dirinya namun cengkraman tangan Erhan dilengannya sangat kuat.


"Lepaskan aku, paman!"


"Tidak sayang. Aku akan melepaskanmu asalkan kau berjanji untuk tidak lari dariku."


"Baiklah. Katakan apa yang harus kau katakan!" Chloe mendengus kesal. Ia menarik tangannya dan bersandar di pintu mobilnya sambil bersedekap.


"Ayo kita bicara di dalam mobil. Udaranya sangat dingin." Erhan membuka pintu belakang mobil Chloe, mempersilahkan gadis itu untuk masuk lebih dulu baru dia menyusul.


" Sayang, jangan dulu percaya apa yang kau dengar. Hari ini aku akan ke Turki dan mencari kebenarannya.


Aku tahu kalau mamaku sangat menyayangi Amora. Dan dia akan percaya apa saja yang Amora katakan padanya. Aku mohon, Chloe. Beri aku kesempatan untuk memperjuangkan cinta kita. Aku sungguh mencintaimu." Erhan menyentuh tangan Chloe namun gadis itu menepiskannya.


"Sayang....!" Panggil Erhan lagi. Ia terlihat sangat frustasi. "Jangan tinggalkan aku."


"Bagaimana kalau Amora benar-benar hamil anakmu? Kau kan tak tahu apa yang terjadi malam itu." Chloe menatap Erhan.


"Kalau memang itu adalah anakku, maka aku akan bertanggungjawab. Namun untuk kembali bersama Amora, itu sesuatu yang tak mungkin. Hanya kamu yang ku inginkan!"


Chloe menggeleng. Kembali menepis tangan Erhan yang berusaha merangkulnya.


"Aku akan melepaskanmu, paman. Aku tak mau memisahkanmu dengan anakmu dan ibunya."


"Bagaimana kalau memang Amora tidak hamil?"


Chloe menarik napas panjang. "Aku akan tetap melepaskanmu. Aku tidak mau dicap sebagai perempuan perebut suami orang. Aku harus menjaga kehormatan keluarga Thomson. Maafkan aku."


"Memangnya kau tak mencintaiku lagi?" Tanya Erhan sambil menatap Chloe secara dekat.


Erhan tiba-tiba meletakan tangannya ditengkuk Chloe dan menekan kepala gadis itu ke arahnya lalu kemudian ia segera mencium bibir Chloe dengan rakus. Chloe berusaha melepaskannya namun Erhan menahannya dengan kuat.


Darah Chloe berdesir. Ia sungguh tak bisa lama-lama membohongi dirinya kalau dia begitu menginginkan ciuman itu. Ia yang awalnya menolak kini membalas ciuman Erhan.


"Kau masih milikku. Selamanya akan menjadi milikku. Aku janji Chloe, akan membereskan semuanya dan kembali padamu." Kata Erhan setelah ciuman itu berhenti. Ia mengecup dahi Chloe lalu segera keluar dari mobil Chloe dan segera.pergi dengan mobilnya.


Air mata Chloe jatuh lagi. Ia memegang bibirnya yang masih terasa bengkak karena ciuman panas mereka tadi. Ia pun berpindah ke depan. Lalu menjalankan mobilnya dengan pikiran yang kacau.


Ia membatalkan tujuannya ke butik Alucia Aslon. Ia justru melajukan mobilnya ke salah satu Pub. Walaupun ia tahu kalau tempat itu masih 1 jam lagi baru dibuka, namun ia yakin kalau dia akan diijinkan masuk.


Saat ia memarkir mobilnya, ia melihat kalau mobil Caleb juga ada di sana.


Benar saja, Caleb sedang duduk di depan meja bartender dan sedang menikmati minumannya.


"Aku juga pesan satu yang sama dengan dirinya." Kata Chloe pada bartender.


Caleb menatap saudara kembarnya itu. "Jangan minum, Chloe. Nanti bunda marah."


"Kau juga minum. Biarlah kalau bunda marah, setidaknya bukan hanya padamu, tapi padaku juga." Kata Chloe lalu meneguk habis minuman yang ada di gelasnya. "Tambah...!" Ia menyodorkan gelasnya di depan bartender itu.


Kedua saudara kembar itu pun menikmati kesenangan mereka.. Joel, sang pemilik pub langsung menarik kedua saudara sepupunya itu dan membawa mereka pulang.


***********


Faith membuka baju Chloe. "Ayo bersihkan dirimu, Chloe. Kau sangat bau alkohol!" ujar Faith sambil membantu putrinya berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Sementara di kamar atas, ada Ezekiel yang sementara melakukan hal yang sama pada Caleb. Sedangkan Erland, membuat teh jahe di dapur agar kedua kakaknya itu cepat pulih.


Saat Chloe tiba di kamar mandi, ia tiba-tiba saja muntah. Faith dengan penuh rasa sayang memijat tengkuk putrinya agar lebih cepat mengeluarkan isi perutnya.

__ADS_1


Setelah selesai, Faith membantu Chloe untuk membersihkan dirinya. Lalu memapah putrinya itu untuk kembali ke dalam kamar. Ia kemudian mengambil mantel dan celana panjang untuk dipakaikan pada Chloe.


"Bunda, ini teh jahenya." Kata Erland sambi masuk ke dalam kamar Chloe.


"Terima kasih sayang. Bagaimana keadaan Caleb.?"


"Masih muntah. Makanya daddy memasukannya ke dalam bak mandi agar efek mabuknya berkurang."


Faith hanya bisa menggelengkan kepalanya. 23 tahun usia anak kembarnya ini. Ia bahkan tak pernah melihat mereka minun. Dan hari ini, mereka pulang dalam keadaan mabuk berat.


"Chloe, ayo bangun dan minum teh jahe ini." Faith menggoyangkan bahu Chloe.


Agak malas Chloe bangun dan meminum teh jahe itu. Namun belum habis ia meneguknya, gadis itu segera berlari ke kamar mandi dan muntah kembali.


"Bunda, sebaiknya siapkan saja cambuk untuk memukul kedua kakakku ini besok pagi." Ujar Erland sebelum menyusul Chloe ke kamar mandi.


**********


Hari sudah siang. Namun Chloe tak mau beranjak dari tempat tidurnya. Kepalanya sakit dan ia sudah beberapa kali ke kamar mandi untuk muntah.


Faith terpaksa menelepon adiknya Helena, yang adalah juga seorang dokter. Helena sudah menikah dengan orang Inggris dan tinggal di London. Tentu saja Faith sangat senang karena ia kini berdekatan dengan adiknya.


Helena datang 1 jam kemudian. Ia melihat wajah cemas kakaknya.


"Mungkin karena Chloe baru kali ini mabuk sampai dia muntah terus." Kata Helena lalu segera menaiki tangga menuju ke kamar ponakannya.


"Bagaimana keadaan Caleb?" tanya Helena lagi.


"Caleb sudah sarapan dan sudah tidur kembali."


Saat mereka sudah memasuki kamar Chloe, nampak gadis itu sedang tidur dengan wajah yang sedikit pucat. Helena pun mengeluarkan peralatannya.


"Chloe...!" panggil Helena.


"Bibi Helena.." Chloe tersenyum tipis mendengar suara Helena. Adik ibunya yang hanya berbeda usia 9 tahun dengan dirinya.


"Bibi mau memeriksa kamu ya..., Sebentar bibi angkat mantelmu..."


Helena mengerutkan dahinya saat ia selesai memeriksa ponakannya itu.


"Chloe, apakah kau sudah turun haid bulan ini?" Tanya Helena.


Chloe yang masih memejamkan matanya menggeleng. "Sepertinya sudah. Ah, aku sudah lupa."


"Tidurlah lagi. Nanti kalau obat anti muntahnya sudah datang segera diminum ya? Tekanan darahmu rendah dan kamu agak demam." Helena berdiri dan membereskan peralatannya. Dengan isyarat matanya ia meminta kakaknya untuk ikut keluar bersamanya.


"Ada apa? Kenapa kamu menanyakan kalau Chloe sudah datang bulan atau belum?" Tanya Faith penasaran.


"Kak, ini hanya analisa awalku saja. Sepertinya Chloe hamil."


"Apa? Hamil? Chloe kan tidak punya pacar." Faith terkejut. Ia tahu kalau putrinya tinggal dan bergaul di budaya yang sangat berbeda dengannya dibesarkan.


"Mungkin waktu dia di Paris, ada pria yang dekat dengannya."


Faith hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah menyangkah akan menjadi seorang nenek di usianya yang masih muda ini.


Apa yang terjadi saat Chloe tahu dia hamil??


Dukung aku utk terus semangat menulisnya dengan cara LIKE, KOMEN DAN VOTE

__ADS_1


__ADS_2