
Wajah cantiknya sesekali tersenyum membayangkan makan malam yang akan mereka lalui. Zelina sekali lagi berdiri di hadapan cermin. Gaun berwarna biru muda dengan lengan panjang, sepatu high hells setinggi 5 cm dan rambut yang digulung ke atas. Penampilan Zelina semakin dewasa.
Ia segera keluar kamar dan menunggu di ruang tamu apartemennya. Waktu sudah menunjukan tepat jam 8 malam. Kemana Caleb ya? Bukankah dia orang yang sangat tepat waktu? Apakah dia masih ada pekerjaan?
Zelina memeriksa hp nya. Tidak ada panggilan atau pesan dari Caleb. Jadi ia merasa bahwa semuanya aman.
Jam 9 malam.....
Zelina mulai gelisah. Caleb tak pernah terlambat. Mengapa ini sudah molor 1 jam? Ia segera menelepon Caleb. Ada nada sambung namun tidak diangkat.
Mengapa dia lama ya? Apakah terjadi sesuatu? Apakah sebaiknya aku menelepon Joel?
Jam 9.10.malam.....
"Hallo Joel, apakah Caleb sedang bersamamu?"
"Bukankah Caleb sedang makan malam denganmu?"
"Masalahnya dia belum datang."
"Apa? Mana mungkin? Tadi kami bersama saat keluar dari kantor. Caleb katakan akan segera menjemputmu."
"Apakah terjadi sesuatu padanya? Joel, maukah kau mengeceknya? Aku takut terjadi sesuatu padanya."
"Baiklah Zelina. Aku akan melacak gps mobil atau ponselnya. Nanti aku kabari nanti."
"Terima kasih, Joel."
Di apartemennya, Joel segera menyalahkan laptopnya untuk mencari keberadaan Caleb. Semua mobil mereka memang dipasangkan alat pelacak. Alat itu akan berbunyi jika mobil kecelakaan.
10 menit kemudian, Joel mendapatkan keberadaan mobil Caleb. Ia terkejut melihat lokasi mobil itu berada. Di halaman sebuah hotel. Ada apa Caleb di sana? Apakah dia kencan dengan seseorang di sana? Kenapa juga kencan di hotel murahan?
Setelah melihat nama hotel dan lokasinya, Joel mencoba meretas sistem keamanan hotel itu yang Joel yakini sangat mudah ditembus. Benar saja. Tak sampai 5 menit, ia sudah masuk ke sistem keamanan hotel. Joel bisa melihat CCTV, melihat data yang disimpan bahkan siapa-siapa tamu yang menginap di sana.
Dapat! CCTV menunjukan kalau Caleb masuk ke hotel itu hampir satu jam yang lalu. Apa? Itukan Grace? Apa yang mereka lakukan di sana?
*********
Saat gairah menguasai tubuh, otak bagaikan berhenti bekerja. Yang diperintahkannya adalah menikmati sesuatu yang diciptakan oleh gairah itu.
Grace dan Caleb semakin menempel satu dengan yang lain. Ini adalah pengalaman pertama bagi Caleb dan juga bagi Grace.
Namun saat ciuman itu harus berhenti, karena keduanya membutuhkan oksigen yang banyak, Caleb tiba-tiba mengangkat tubuhnya yang sudah berada di atas Grace.
Grace pun seakan menemukan kesadarannya. Ia langsung beranjak bangun dan memalingkan wajahnya dengan jengah.
"Grace, maafkan aku...!" Caleb mengusap wajahnya kasar. Ia langsung membelakangi Grace.Ia tak menyangka akan sejauh ini dengan Grace. Untunglah keduanya cepat sadar sehingga tak sampai terjadi hubungan intim.
Agak lama keduanya saling diam. Sampai akhirnya Caleb menoleh dan menatap Grace yang sedang tidur memunggunginya.
"Grace, apakah kamu tidur?" Tanya Caleb pelan.
Grace menggeleng.
"Apakah kamu marah padaku?"
"Tidak, kak. Kita hanya sama-sama terbuai dengan situasi di kamar ini." Grace berbalik dan menatap Caleb. "Ayo kita lupakan apa yang terjadi tadi. Aku sudah memberikan harapan pada Howie. Tak seharusnya aku terbuai dengan ciuman lelaki lain. Aku juga minta maaf karena sudah memberi kesempatan pada kakak untuk melakukan ini. Selamat malam, kak. Bangunkan aku jika badainya sudah redah." Kata Grace lalu kembali membalikan badannya.
Aku sudah memberikan harapan pada Howie. Tak seharusnya aku terbuai dengan ciuman lelaki lain.
Hati Caleb bagaikan tercabik-cabik mendengar perkataan Grace. Lelaki lain? Apakah Grace kini menganggapnya lelaki lain? Howie kah telah menjadi lelaki utama dalam dirinya? Mengapa kenyataan ini seakan merobek seluruh hati Caleb? Gadis yang selalu ingin dijaganya semenjak kecil, kini telah dimiliki oleh pria lain.
Telepon yang ada di kamar itu berbunyi.
"Hallo.." Sapa Caleb sedikit malas.
__ADS_1
"You're in trouble, dude."
"Joel?" Caleb terkejut mendengar suara sepupunya itu.
"Kamu lupa ada kencan dengan Zelina? Gadis itu meneleponku menanyakan keberadaanmu. Kau justru lagi nginap di hotel bersama Grace."
Caleb terkejut. Bagaimana ia bisa lupa?
"Mobil Grace mengalami kecelakaan. Aku datang menolongnya. Lalu kami terjebak badai salju di sini."
"Cepat telepon Zelina. Jangan buat gadis itu menangis. Kalau kau memang akan memilihnya, selesaikan urusanmu dengan Grace. Bye.."
Damm...! maki Caleb dalam hati. Ia merabah saku celananya,. Hp nya tak ada. Pasti ketinggalan di mobil. Caleb bergegas berdiri dan segera keluar kamar. Ia mencari hp nya dalam mobil. Badannya sedikit mengigil karena tak lagi menggunakan jaket. Caleb membuka layar hp nya dan terlihatlah 34 kali panggilan tak terjawab dari Zelina dan 3 pesan.
Cal, ada di mana? Aku sudah siap nih
Hallo, ini sudah hampir jam 9, kamu di mana?
Makan malamnya nggak jadi ya? Aku lapar banget nih
Caleb memukul stir mobilnya dengan kesal. Mengapa ia sampai lupa ada janji dengan Zelina? Mengapa ia begitu panik saat Grace berteriak ketakutan?
Apakah ini artinya Grace lebih berarti dari Zelina?
"Ah......!" Caleb benar-benar pusing. Bukankah ia sudah mengambil keputusan untuk bersama Zelina? Namun mengapa ia tak bisa membiarkan Grace dalam bahaya? Mengapa ia juga masih sangat peduli dengan Grace?
Caleb mencoba menghubungi Zelina.
"Hallo.....!" terdengar suara Zelina dari seberang.
"Maafkan aku, Zelina." Caleb memilih untuk jujur. Ia menceritakan tentang Grace yang meneleponnya meminta tolong dan bagaimana akhirnya mereka terjebak dalam badai salju.
"It's ok, Cal. Hati-hati ya jika akan pulang. Jalanan pasti licin. Bye..."
Caleb masih ingin bicara namun Zelina sudah memutuskan sambungan teleponnya. Caleb pun masuk kembali ke dalam hotel. Saat ia membuka pintu, dilihatnya Grace sedang menerima telepon.
Caleb menekan rasa sakit di hatinya. Ternyata itu adalah telepon dari Howie.
"Kamu belum tidur?" Tanya Caleb.
"Akan tidur lagi, kak. Tadi bangun karena ada telepon dari Howie. Apakah badainya sudah redah?"
Caleb menggeleng.
"Ya sudah. Aku bobo lagi ya?" ujar Grace lalu kembali memunggungi Caleb.
Caleb memilih tidur di sofa. Pikirannya menjadi kacau.
**********
Di apartemennya, Zelina masih duduk sambil mengangkat kedua kakinya. Tangisnya sudah mulai redah.
"Minumlah!" Mark mengulurkan segelas coklat hangat padanya. Setengah jam yang lalu Zelina menelepon Mark supaya datang ke apartemennya.
"Terima kasih, Mark."
Mark duduk di depan Zelina sambil bersedekap. Ia menatap gadis cantik itu yang hidungnya sudah menjadi merah karena kebanyakan menangis.
"Zel, cinta itu seharusnya membuat bahagia. Bukannya air mata."
"Aku sudah jatuh cinta padanya semenjak aku kecil. Aku bahkan kuliah di sini karena ingin dekat dengannya. Aku pikir semenjak Grace dekat dengan Howie, aku akan punya kesempatan bersama Caleb. Tapi ternyata tidak. Aku..." Tangis Zelina terdengar lagi. Mark hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sedih melihat gadis yang disukainya terluka. Ia pun berpindah tempat duduk di samping Zelina. Mengambil gelas yang ada di tangan Zelina lalu meletakkannya di meja. Kemudian ia memeluk Zelina dengan erat.
"Menangislah." Katanya sambil menepuk punggung Zelina secara lembut.
hiks....hiks...hiks....
__ADS_1
Zelina menumpahkan tangisnya dalam pelukan Mark. Tiba-tiba gadis itu memegang kepalanya.
"Mark, kepalaku sakit."
"Zelina, kamu belum menemui dokter kan?"
"Maaf, Mark."
"Di mana obat pereda rasa sakitnya?"
"Di kamarku."
Mark segera mengambilnya dan memberikan pada Zelina. "Besok kita harus pergi ke rumah sakit."
Zelina hanya mengangguk. Ia kembali memeluk Mark dan memejamkan matanya.
Mark membelai rambut Zelina. Zel, bagaimana aku bisa membuatmu melupakan Caleb dan mencintai aku? Aku sungguh mencintaimu.
*********
Saat pintu apartemennya terbuka, Chloe terkejut melihat wanita paru baya yang berdiri di depannya. Dari dandanannya, Chloe tahu kalau wanita ini adalah wanita berkelas.
"Maaf, nyonya cari siapa ya?"
"Erhan Taylor."
"Oh, Erhan sedang keluar kota. Dia ada bisnis yang harus diselesaikannya. Pulangnya nanti besok. Mari masuk!"
Wanita itu masuk dengan gaya sombongnya, menatap seisi apartemen Chloe dan duduk di sofa dengan tatapan kurang bersahabat.
"Kamu Chloe Thomson kan? Aku minta tinggalkan anakku Erhan."
"A-anak?"
"Ya.Saya Nolita Taylor, ibu dari Erhan Taylor. Kamu telah menyebabkan anak saya menceraikan istrinya dalam keadaan hamil. Saya pikir kamu dari keluarga baik-baik."
"Ha-mil? Bukankah Amora itu seorang les..."
"Itu hanya karangan Erhan saja. Karena dia sudah tergila-gila padamu! Sebagai wanita dari keluarga baik-baik, aku pikir kalau kamu bisa memahami penderitaan Amora." Nolita menatap Chloe dengan tatapan sinis.
"Aku akui, kamu sangat cantik dan seksi. Namun sayangnya kamu itu tak lebih dari seorang pelakor. Dasar murahan! Tinggalkan anakku Erhan atau aku akan beberkan ke media mengenai hubungan kalian." Nolita segera pergi meninggalkan Chloe sendiri. Chloe tiba-tiba merasa pusing. Ia segera mencari ponselnya dan menelepon Erhan.
"Hallo, sayang. Baru saja 1 jam yang lalu kita saling videocall, kamu sudah rindu padaku."
"Erhan, apakah kamu pernah berhubungan dengam Amora sebelum perceraian?"
"Sayang, kenapa tiba-tiba saja menanyakan itu?"
"Jawab saja!" Chloe mulai emosi.
"Aku tak tahu, Chloe, malam itu Amora masuk ke kamarku dan meminta supaya kami minum bersama untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya minum satu gelas setelah itu aku langsung tidur. Memang besok paginya aku bangun dalam keadaan telanjang. Namun aku yakin kalau aku tak melakukan apapun padanya."
"Amora hamil. Dan mamamu baru saja datang ke sini. Menghina aku sebagai perempuan murahan. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan kita, Erhan. Bye...!" Chloe membanting hp nya ke atas sofa dengan kesal. Ia tak peduli walaupun Erhan meneleponnya terus. Chloe segera ke kamarnya, membereskan pakaiannya dan memasukannya ke koper. Ia kemudian menghubungi pihak agensi yang memberikannya pekerjaan.
"Selamat malam. Saya mau membatalkan sisa kontrak yang masih ada satu bulan. Saya akan membayar ganti ruginya.Terima kasih."
Chloe melihat penerbangan ke London yang tercepat malam ini. Ternyata semuanya sudah full. Yang ada nanti besok pagi. Chloe segera memesannya.
Ia juga mengeluarkan baju-baju Erhan dari dalam lemari dan memasukannya ke koper yang lain.
Air mata Chloe jatuh. Erhan, aku akan berhenti mengharapkanmu. Chloe membuka cincin yang diberikan Erhan padanya. Ia meletakan cincin itu di atas koper.
Tiba-tiba, Chloe merasa perutnya sakit. Ia bahkan merasa mual. Ada apa ini?
Makasi sudah baca Part ini
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote ya*???