
"May i kiss you?" Tanya Caleb.
Perlahan kepala Grace terangkat. Ia menatap Caleb dengan dada yang berdetak cepat. Hampir 3 tahun mereka tak pernah dekat lagi. Membiarkan Caleb menyentuh tangannya saja membuat Grace menjadi panas dingin.
"Boleh?" Tanya Caleb penuh harap.
Grace mendekat. Ia mencium pipi Caleb dengan sangat lembut dan lama. "Selamat malam, kak." Ujarnya sebelum turun dari mobil.
Caleb memegang pipinya. Dulu, sebelum mereka intim sebagai pasangan kekasih, ciuman di pipi dianggap biasa. Namun kali ini, Caleb merasa hatinya sangat senang. walaupun yang ia harapkan adalah ciuman di bibir, namun apa yang Grace lakukan tadi sudah cukup membuat hatinya bahagia. Ia pun pulang dengan perasaan senang.
Dalam perjalanan, ponsel Caleb berbunyi. Ternyata Joel yang menghubunginya.
"Hallo Cal, kamu dimana?" Tanya Joel.
"Dalam perjalanan pulang. Memangnya kenapa?"
"Tentang proyek dengan perusahaan Briliant, ada sedikit masalah. Sebaiknya kamu saja yang pergi untuk mengurus proyeknya."
"Kamu siapkan saja tiketnya. Aku akan datang bersama Erland."
"Nggak pakai pesawat pribadi?"
"No. Aku harus mengajarkan adikku itu cara berhemat. Erland sedikit royal."
"Baiklah. Aku kirim nanti bukti pesanan tiketnya."
Caleb memacu mobilnya sampai ke rumah. Kebetulan Erland sedqng ada di rumah. Ia sedang main game di kamarnya.
"Tumben nggak keluar."
Erland menatap kakaknya. "Lagi malas!"
"Kenapa?"
"Malas aja."
Caleb duduk di tempat tidur Erland. "Besok kita ke Swiss ya?"
"Ada urusan apa?" tanya Erland tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.
"Pekerjaanlah. Aku ingin mengajak kamu supaya nanti kamu yang akan mengerjakan proyek itu di sana."
"Artinya aku harus tinggal di Swiss?"
"Ya. Siapa lagi? Aku nggak boleh terlalu lama ada di luar negeri. Joel akan mengurus cabang kita yang ada di Asia sedangkan Jonatan masih harus menyelesaikan studi S2 nya."
Erland mematikan komputernya lalu menatap kakaknya dengan wajah serius. "Kakak percaya kalau aku bisa mengerjakannya?"
"Tentu saja. Kau lulusan terbaik diangkatanmu. Hanya saja otakmu itu lebih banyak kau pakai untuk merayu wanita."
Erland menganggaruk kepalanya. "Aku bisa merayu wanita manapun di London ini. Namun tidak dengan Meloddy. Perempuan itu selalu menganggap aku anak kecil."
__ADS_1
"Cinta tak boleh dipaksakan, Er. Kalau memang Meloddy tak mencintaimu, carilah wanita lain."
Erland mendengus. "Bibirnya saja yang mengatakan kalau dia tak mencintaiku. Namun tubuhnya berkata lain saat aku menciumnya?"
Caleb terpana. "Kau sudah pernah mencium Meloddy?"
"Ya. Bulan yang lalu. Awalnya dia menolak ciumanku. Namun saat aku terus merayunya, Meloddy akhirnya mau membalas ciumanku. Aku dapat merasakan kalau tubuhnya bergetar saat aku menyentuhnya. Sayangnya...."
"Sayangnya apa?" Caleb begitu penasaran.
"Saat aku hampir membuka reslating bajunya, paman Edward tiba-tiba saja datang bersama bibi Lerina."
Caleb langsung tertawa mendengar pengakuan adiknya. Ia jadi ingat bagaimana papanya memergoki dia dan Grace di ruangannya.
"Paman Ed bilang apa?"
"Bocah, pulanglah. Kau tak cocok dengan Meloddy. Bayangkan, aku dipanggil bocah. Pada hal usiaku sudah 23 tahun."
Tawa Caleb kembali terdengar. "Kau memang masih bocah. Meloddy kan sudah berusia hampir 25 tahun. Kamu memang tak cocok dengannya, Erland. Sebaiknya carilah gadis seusiamu. Sekarang, aku mau mandi dan istirahat dulu. Jangan lupa pesawatnya berangkat jam 10 pagi." Caleb menepuk pundak adiknya sebelum keluar kamar.
Erland menarik napas panjang. Mungkin dengan menjauh dari Meloddy, aku bisa melupakannya dengan cepat. Semoga Swiss dapat membuat menemukan seseorang yang aku cintai dan menggantikan Meloddy dalam hatiku.
Erlandpun memejamkan matanya. Selama ini ia dikenal sebagai cowok playboy karena ia tak bisa mendapatkan Meloddy. Erland melampiaskan semua hasratnya untuk memiliki Meloddy pada semua gadis yang ia dekati. Namun perkataan bundanya minggu yang lalu membuat Erland banyak berdiam diri di rumah.
"Nak, mungkin Meloddy tak mau denganmu karena melihatmu yang dekat dengan banyak wanita. Cobalah tunjukan keseriusanmu untuk memperjuangkan cinta Meloddy."
Kata-kata Bundanya itu membuat Erland memilih untuk menjauhi semua gadis terutama Meloddy. Biarlah sekarang ia berhenti dulu mengejar para gadis dan fokus pada pekerjaannya.
********
Pasti akan sangat merindukanmu.
Grace tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Caleb padanya pagi ini.
"Dari siapa?" Tanya Meloddy penasaran.
"Kak Caleb."
"Sudah jadian lagi?"
Grace menggeleng. "Aku masih menunggu. Menata kembali perasaan kami berdua tanpa ada bayang-bayang Zelina. Aku juga senang karena kak Caleb sudah banyak berubah. Dari yang cuek, kini lebih romantis."
"Caleb memang beda dengan Erland. Kalau Erland sangat romantis, mulutnya pandai merayu, ia juga tahu bagaimana menaklukan perempuan dengan sangat baik. Tak heran kalau dia dijuluki play boy romantis. Semua gadis yang pernah bersamanya selalu tak bisa melupakan Erland begitu saja."
"Termasuk kamu?" Tanya Grace dengan tatapan menggoda.
"Aku?" Meloddy menunjuk dadanya. "Nggak mungkilah. Dia itu hanyalah anak kecil di mataku."
"Namun yang kudengar dari adikmu, kalian pernah berciuman sangat intim sampai akhirnya dipergoki oleh paman dan bibi di apartemenmu."
Meloddy tertawa. "Waktu itu Erland mengantar aku pulang. Sesampai di apartemen, entah bagaimana kami sudah saling berciuman."
__ADS_1
"Memangnya kau tak ada perasaan apapun pada Erland. Dia ganteng dan sangat manis. Nggak menyesal kalau akhirnya Erland berhenti mengejarmu dan serius dengan gadis lain?"
Meloddy menggeleng. "Aku suka dengan pria seperti Joel."
"Namun Joel sudah punya pacar."
"Tahu dari mana?"
"Beberapa waktu yang lalu, aku melihat ada tanda merah di leher Joel. Dan saat aku sedang berada di basemant apartemen, aku melihat Joel sedang berciuman dengan seseorang."
"Siapa?" Tanya Meloddy penasaran.
"Valuna Hens."
"Penyiar TV yang terkenal itu? Tapi dia kan seorang janda. Usianya juga lebih tua dari Joel."
"Ya. Usianya 5 tahun lebih tua dari Joel. Sepertinya Joel memang suka wanita yang lebih tua. Menurut Gionino, ia sudah beberapa kali memergoki mereka. Sepertinya Joel adalah orang ketiga dibalik perceraian Valuna dengan suaminya."
"Astaga!" Meloddy menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya kalau Joel yang pendiam dan cool itu punya kisah cinta yang sedikit berbeda.
"Aku mengatakan ini supaya kamu berpikir dua kali sebelum menjatuhkan pilihanmu padanya."
Meloddy tersenyum. "Aku hanya kagum saja padanya."
"Dan Erland?"
"Sudah kukatakan kalau dia itu bocah."
"Namun dia selalu ada bagimu."
"Sekarang tak lagi. Sudah seminggu ini dia tak lagi menelepon, mengirim sms, mengirim bunga bahkan muncul secara tiba-tiba di hadapanku."
"Kau merasa kehilangan?"
Meloddy menggeleng sambil tertawa. Namun ada sesuatu yang mengiris hatinya. Benarkah ia tak merasa kehilangan?
***********
5 jam yang sangat menegangkan itu akhirnya selesai. Pabrik pembuatan pesawat terbang itu akhirnya bisa dilaksanakan.
Caleb begitu kagum dengan kepintaran Dania dalam menyampaikan argumennya dengan pihak lawan. Caleb juga ikut membantu Dania dalam mempertahankan kontrak kerja yang sudah dibuat.
"Terima kasih, Caleb. Kamu sangat luar biasa!" Puji Dania saat mereka sudah berada di sebuah restoran untuk menikmati makan siang yang sudah agak terlambat karena jam sudah menunjukan pukul 2 siang.
"Kamu juga sangat hebat, Dania. Aku sudah banyak berhadapan dengan pengusaha muda, namun kamu berbeda karena sangat pintar." Kata Caleb membuat Dania sedikit tersipu. Wajah Dania yang memerah membuat hati Caleb sedikit bergetar. Ia jadi ingat dengan Grace yang tersipu saat ia menggoda gadis itu.
Erland yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya berdehem.
"Kalian berdua saling memuji sampai melupakan aku di sini."
Caleb dan Dania sama-sama tertawa. Tawa Dania membuat hati Caleb bergetar. Dan Erland melihat ada sesuatu yang membahayakan akan terjadi jika mereka lebih lama tinggal di Swiss.
__ADS_1
Makasi sudah baca ya....
sampai jumpa di part berikut