3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Permintaan Zelina


__ADS_3

Cinta itu tak selamanya menerima. Ada saatnya cinta harus memberi. Walaupun kadang dalam memberi, cinta harus mengorbankan banyak hal, harus membuang rasa diri sendiri bahkan terluka. Bukankah ada yang mengatakan kalau kita akab bahagia saat melihat orang yang kita cintai berbahagia, walaupun kebahagiaannya bukan bersama dengan kita?


Keegan tersenyum sambil meladeni permintaan foto bersama para mahasiswa yang ikut bersama dalam acara lamaran Caleb kepada Zelina. Ekor mata Keegan masih menatap Zelina yang ada dalam pelukan Caleb. Sakit? Ya, tentu saja sakit. Caleb merasakan hatinya bagaikan tertusuk ribuan pisau yang sangat tajam. Namun dibalik rasa sakit yang dirasakannya, Keegan ikut bahagia melihat senyum bahagia Zelina. Sebentar lagi Zelina akan bersama dengan pria yang paling dicintainya. Makanya setelah acara foto bersama selesai, diam-diam Caleb meninggalkan kantin kampus sambil mengirim pesan pada Caleb.


Aku pulang, tugasku sudah selesaikan?


Bahagiakan dia ya..


*************


Sebuah cincin permata berwarna biru sudah melingkar di jari manis Zelina. Gadis itu tersenyum manis walaupun ada sesuatu yang mengiris hatinya.


"Kau sudah menghabiskan makananmu?" Tanya Caleb yang baru kembali dari toilet.


Zelina mengangguk sambil menunjukan piringnya yang sudah kosong.


"Baguslah. Kita pergi sekarang?" Caleb berdiri namun Zelina menahan tangannya.


"Aku masih ingin bicara."


Caleb duduk lagi. Keduanya masih berada di kantin kampus. Suasana kantin mulai sepi sejak Keegan pamit pulang. Hanya beberapa mahasiswa yang masih duduk di sudut ruangan.


"Bicaralah!" Kata Caleb.


"Mengapa melamarku?"


"Karena aku ingin bersamamu."


"Apakah kau tahu kalau aku sakit dan kasihan padaku?"


"Sakit? Memangnya kamu sakit apa?" Caleb pura-pura kaget. Ia memegang tangan Zelina.


Zelina buru-buru menggeleng. "Apakah Keegan mengatakan sesuatu padamu?"


Caleb menggeleng.


"Mark, mungkin?"


"Kenapa Mark? Zelina sebenarnya ada apa? Kau membuatku takut."


Zelina kembali menggeleng sambil tersenyum. "Cal, kapan kita akan menikah?"


"Secepat yang kau mau."


"Tapi aku mau diwisuda dulu."


"Kapan wisudanya?"


"2 minggu lagi."


"Berarti kita menikah sehari setelah kau wisuda."


Zelina mengangguk. "Aku punya permintaan, Cal."


"Apa pun yang kau minta akan kupenuhi."


Zelina menarik napas panjang. "Aku ingin menikah disebuah gereja kecil dipinggiran kota. Aku tak ingin ada orang lain yang datang ke pernikahan kita selain orang tua dan kakak beradik kita. Aku juga ingin Keegan dan Grace menjadi pendamping pengantin. Bolehkan? Oh ya, satu lagi, aku tak mau ada wartawan. Aku tahu keluarga Thomson adalah salah satu keluarga terkenal di London ini namun aku ingin ini hanya menjadi hari kita saja."


Caleb mengangguk walaupun hatinya sakit saat Zelina menyebutkan nama Grace.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita temui Grace. Ada sesuatu yang akan kutanyakan padanya." Zelina berdiri sambil meraih tasnya. Keduanya melangkah meninggalkan kantin. Zelina langsung menghubungi Grace dan gadis itu mengatakan kalau ia ada di apartemen Howie. Mereka pun janjian ketemu di sana."


Grace yang membukakan pintu saat mereka sudah tiba di apartemen Howie. Caleb menekan rasa cemburunya saat melihat kalau Grace ada di apartemen Howie. Berdua saja. Entah apa yang mereka lakukan.


"Howie, bolehkah aku bicara berdua dengan Grace?" Pinta Zelina.


Howie mengangguk.Ia meninggalkan ruang tamu. "Kau juga harus pergi, Cal." Ujar Zelina.


"Aku tunggu di mobil saja." Kata Caleb lalu segera meninggalkan apartemen Howie.


"Ada apa?" Tanya Grace saat Caleb sudah pergi.


"Apakah kau sudah tidak mencintai Caleb lagi?" Tanya Zelina sambil menatap Grace dengan wajah serius.


"Aku sudah bersama, Howie. Aku tak mungkin bisa bersama Caleb. Aku bahagia bersama Howie."


"Secepat itu kau melupakan Caleb setelah aku melihat kalian berdua berciuman di pesta pernikahan Chloe? Itu baru 2 bulan yang lalu."


Grace tersenyum. "Zelina, bukankah dulu kita berdua pernah saling berjanji, jika Caleb sudah bisa memilih antara aku atau kamu, kita harus saling jujur dan berlapang hati untuk menerimanya. Kini, Caleb sudah memilih kamu, dan aku sudah bersama Howie. Apa lagi yang membuatmu bingung?"


"Karena aku tahu kalau Caleb sebenarnya mencintai kamu. Aku dapat merasakannya." Kata Zelina ragu. "Atau, apakah kalian sudah tahu tentang sakitku?"


"Sakitmu? Memangnya kamu sakit apa?"


Zelina menggeleng. "Tidak. Aku hanya bingung saja karena Caleb tiba-tiba datang dan melamarku."


"Jangan bingung. Jalani saja. Kau pantas berbahagia."


Zelina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau sungguh baik, Grace. Aku berhutang budi padamu karena membiarkan Caleb memilihku."


"Kau tidak berhutang budi apa-apa. Kau memang pantas bersama Caleb. Oh ya, sudah punya gaun pengantin?"


"Serahkan padaku. Kau ingin gaun yang seperti apa?"


"Gaun yang sederhana. Bukan seperti gaun pengantin pada umumnya. Tepatnya aku ingin pakai kebaya, karena aku wanita Indonesia."


"Mommy ku pasti bisa membuatnya. Bagaimana kalau kita ke butik sekarang?"


Zelina mengangguk. Ia menatap Grace. "Grace, maukah kau juga mengenakan kebaya saat menjadi pendamping pengantinku?"


"Sebenarnya aku tak suka pakai kebaya. Namun akan kuusahakan."


Zelina tiba-tiba memeluk Grace dengan deraian air matanya. "Terima kasih, Grace."


"Hei, jangan menangis." Grace menghapus air mata Zelina. "Ayo kita ke butik."


Setelah mengajak Howie, mereka pun berangkat menuju ke butik The Aslon. Howie dan Grace di mobil Howie dan Zelina bersama Caleb di mobil Caleb.


Maura yang melihat kedatangan mereka terkejut saat mendengar tentang maksud kedatangan mereka. Ia melihat Grace dengan begitu bersemangat menjelaskan tentang detail gaun pengantin yang diinginkan Zelina.


"Grace, kau baik-baik saja?" Tanya Maura saat mereka sudah pergi dan Grace memilih tinggal di butik.


"Aku baik-baik saja, mom."


Maura menyentuh bahu putrinya yang sedang berdiri membelakanginya. "Menangislah jika kau memang ingin menangis."


Grace berbalik. Menatap wajah mommy nya yang selalu membuat ia tak bisa berbohong. "Aku hanya ingin Zelina bahagia. Dia sakit, mom."


Dengan lembut Maura mendekap putrinya. Sampai akhirnya isak tangis Grace terdengar. "Mommy, hatiku sakit. Aku kehilangan Caleb. Aku yang mendorong Caleb untuk menikahi Zelina."

__ADS_1


"Menangislah, sayang. Jika itu bisa membuatmu sedikit merasa lega." Maura ikut merasakan apa yang Grace rasakan. Ia tahu kalau cinta Grace besar untuk Caleb. Ia tahu Grace pasti sangat terluka. Namun ia yakin, Grace akan mampu menghadapinya.


*********


Caleb memandang dirinya di depan cermin. Ia sudah rapih dengan tuxedonya. Penampilannya sebagai seorang mempelai pria sudah kelihatan sangat siap. Namun hatinya gelisah. Ia bahkan tak bisa tidur nyenyak sejak ia melamar Zelina.


Tinggal beberapa jam lagi ia akan resmi menjadi suami Zelina. Semua Caleb lakukan untuk kebahagiaan Zelina. Setelah pernikahan, keduanya akan bulan madu ke Bali. Caleb memilih tempat itu sebagai kesempatan baginya untuk menjauh sejenak dari kota London yang menyimpan banyak luka baginya. Setelah bulan madu, barulah Caleb akan membicarakan mengenai pengobatan Zelina. Sebab jika membicarakannya sekarang, Zelina akan tahu kalau Caleb menikahinya karena ingin membuatnya bahagia karena Zelina sakit.


"Caleb!" Panggil Faith yang sejak tadi memperhatikan putranya yang termenung.


Caleb membalikan badannya. "Bunda!"


"Mobilnya sudah siap."


Caleb mengangguk. Ia segera melangkah namun Faith menahan lengannya. "Kamu baik-baik saja?"


"Ya, bunda. Aku baik-baik saja. Apakah mobil yang menjemput Zelina dan keluarganya sudah menjemput mereka?"


"Ya. Sopirnya baru saja pergi. Sebagai pengantin prianya, kau harus lebih dulu sampai di sana. Daddy dan Erland sudah menunggu di bawah."


Caleb menggandeng tangan bundanya. "Ayo, kita pergi!"


"Sayang, kau bahagiakan?"


"Bunda, aku menyayangi Zelina semenjak ia kecil. Bagaimana mungkin aku tak bahagia saat akan menikah dengannya?"


Faith tersenyum walaupun ia ragu dengan perkataan anaknya. Semuanya terkesan mendadak dilaksanakan. Faith dan Ezekiel bahkan harus buru-buru pulang dari bulan madu kedua mereka. Demikian juga dengan Chloe dan Erhan.


Mobil the Thomson pun meninggalkan halaman mansion, menuju ke sebuah gereja yang letaknya dipinggiran kota London. Sebuah gereja kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota London yang padat.


Saat turun dari mobil, mata Caleb memandang Grace yang sudah ada di sana bersama Keegan dan Howie. Caleb tersenyum ke arah mereka walaupun hatinya begitu sakit melihat Grace yang tampak bahagia menggandeng lengan Howie. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan dengan balutan kebaya berwarna pink yang membungkus tubuh rampingnya.


"Tunggulah di depan altar, Cal. Mobil yang membawa Zelina bersama seluruh keluarganya sudah hampir sampai." Kata Ezekiel setelah ia menerima telepon dari sopir yang menjemput keluarga Zelina.


Caleb langsung masuk ke dalam. Ia berdiri di depan mimbar dengan perasaan yang semakin tegang. Apalagi saat melihat mama Zelina yang memasuki ruangan gereja bersama bundanya, diikuti Zack kakaknya Zelina, kemudian Grace, Howie, Keegan, Chloe dan Erhan, juga adiknya Erland.


Keegan langsung berdiri di samping pemain piano. Mengalunlah lagu Ave Maria dari mulut Keegan dan terlihatlah Zelina memasuki gereja sambil menggandeng ayahnya, Daniel Alexander.


Wajah Zelina terlihat sangat cantik, rambutnya disanggul dan menggunakan bunga melati sebagai hiasannya. Kebaya putih membungkus tubuhnya yang agak kurus itu, dengan bawahan batik berwarna gold.


"Caleb, kuberikan putriku yang sangat kusayangi. Bahagiakan dia seumur hidupmu!" Kata Daniel.


"Pasti paman." Kata Caleb lalu mengambil tangan Zelina dan digenggamnya erat.


Keduanya kini saling berhadapan sambil berpegangan tangan. Pendeta pun bertanya kepada Caleb.


"Caleb Ethan Alex Thomson, apakah engkau menerima Zelina Gita Alexander sebagai istrimu yang sah, apakah engkau mau hidup kudus bersamanya, baik disaat suka maupun duka, saat sehat maupun sakit, saat berkelimpahan maupun berkekurangan sampai maut memisahkan kalian?"


Caleb tersenyum. Ia menatap mata Zelina. "Yes i do"


Grace mengigit bibirnya menahan rasa sakit di dadanya. Ia berusaha tenang.Tangannya sampai bergetar memegang piring kecil yang dihiasi bunga, ditengahnya ada cincin pernikahan Zelina dan Caleb.


Pendeta pun ikut tersenyum. Ia menatap Zelina. "Zelina Gita Alexander, apakah engkau menerima Caleb Ethan Alex Thomson sebagai suamimu yang sah, apakah engkau mau hidup kudus bersamanya, baik disaat suka maupun duka, saat sehat maupun sakit, saat berkelimpahan maupun berkekurangan sampai maut memisahkan kalian?"


Air mata Zelina jatuh. Isak tangisnya perlahan terdengar. "No" Jawabnya dengan suara yang bergetar.


So, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Bagi yang suka cerita ini, silahkan di like, komen dan vote.

__ADS_1


Bagi yang nggak suka, aku tetap berterima kasih karena terus membaca novel tulisan author oon ini.


__ADS_2