
Wajah tampan Erland langsung terlihat saat ia membuka pintu ruangan perawatan kakaknya.
"Good morning."
"Good morning, sayang." Faith menyambut putra bungsunya.
"Bagaimama kabarmu, kak?" Tanya Erland sambil mendekati tempat tidur kakaknya.
"Baik. Hanya kakiku yang mati rasa." Kata Caleb sambil memegang kakinya.
"Aku tahu kamu pasti kuat dan akan sembuh. Aku sungguh bangga pada Zelina karena dia berani menghadapi bahaya untuk menyelamatkanmu." Kata Erland.
"Ya." Caleb mengangguk. Ia salut dengan keberanian Zelina.
Faith memandang putranya. "Erland, kamu temani kakak sebentar ya. Bunda mau pulang dan mandi. Chloe juga sebentar lagi akan datang. Dia semalam pulang sudah jam 10."
"Kak Chloe sedang memasak sup untuk kak Caleb." ujar Erland.
Faith mengangguk sambil tersenyum. Chloe sejak kemarin memang sibuk mencari resep makanan yang akan menguatkan tulang. Sepertinya ia sudah mendapatkannya.
Setelah bundanya pergi, Erland duduk di kursi dekat tempat tidur kakaknya. Ia memainkan hp nya saat dilihat Caleb yang mulai tertidur.
"Astaga...Grace..!" pekik Erland tanpa sadar yang menyebabkan Caleb langsung membuka matanya.
"Ada apa, Erland?"
"Eh...tidak...!"
"Kemarikan hp mu!" Caleb mengulurkan tangannya. Ia tahu ada yang dilihat oleh adiknya.
Erland dengan terpaksa memberikan hpnya. Ia menyesal mulutnya yang secara cepat berteriak karena kaget melihat berita itu.
Dada Caleb terasa sesak. Darahnya bagaikan mendidih melihat adegan ciuman itu. Sungguh ia tak pernah menyangka kalau Grace dan Howie akan berciuman bibir.
"Shit..!" Caleb hampir saja membanting hp itu namun Erland dengan cepat menyambarnya.
"Eh, jangan dibanting, kak. Ini hp terbaruku."
Caleb mengepalkan tangannya. Ia tanpa sadar menarik tangannya ke atas dan menyebabkan selang infusnya terlepas dan darah langsung mengalir dipergelangan tangannya.
"Astaga, kak!" Erland langsung memanggil dokter dengan menekan tombol merah yang ada di samping tempat tidur. Tak lama kemudian Seorang perawat dan seorang dokter langsung masuk ke ruangan Caleb. Mereka langsung bekerja cepat dan memperbaiki letak infus Caleb, membersihkan darahnya, dan meminta Caleb untuk tidak sembarangan menggerakan tangannya.
"Hi...!" Kalimat Zelina terhenti melihat Caleb yang sementara ditangani oleh dokter.
"Ada apa?" Tanya Zelina saat ia sudah berdiri di dekat Erland.
"Selang infus kakak terlepas."
"Kenapa?"
"Karena dia...." Erland hampir saja keceplosan bicara. "Karena kakak sembarangan bergerak."
"Oh..."
Setelah dokter dan perawat itu pergi, Zelina mendekat. "Hallo Caleb!"
__ADS_1
Caleb tersenyum. Suasana hatinya yang sempat bad mood menjadi terhibur melihat senyum manis di bibir Zelina.
"Kau tidak kuliah?" tanya Caleb.
"Jadwalku hari ini nanti jam 1 siang. Makanya pagi ini aku datang. Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik tentunya."
Zelina menyingkirkan anak rambut Caleb yang menutupi wajahnya. Ia jadi ingat saat mereka berciuman. Wajahnya terasa panas.
"Kenapa wajahmu merah?" Tanya Caleb.
"Tidak. Eh, aku..." Zelina jadi salah tingkah.
Caleb memegang tangan Zelina. "Maukah hari ini kau menemaniku di sini? Perasaanku sedang tidak enak."
Zelina mengangguk. Hatinya senang karena merasa dibutuhkan. Erland diam-diam meninggalkan kamar. Ia ingin memberi ruang bagi Kakaknya dan Zelina.
********
Di kediaman keluarga Aslon.....
"Sudah lihat berita yang sedang trending pagi ini?" Tanya Gionino saat memasuki kamar kakaknya.
Grace yang baru selesai bersiap untuk ke kampus, menatap adiknya.
"Berita apa?"
"Berita tentang kakak dan Howie yang berciuman."
"Siapa yang mengungah ini?" Tanya Grace kesal. kepalanya tiba-tiba saja sakit. Bagaimana kalau Caleb melihat video ini? Bagaimana tanggapannya?
"Kedua adik kembar Howie yang mengunggahnya. Mereka pasti senang kalau kakaknya jadian denganmu."
Grace menggeleng dengan panik. "Kami tidak pacaran. Aku sama sekali tak membalas ciumannya. Aduh...mengapa bisa seperti ini?"
"Sebaiknya kakak meminta Howie supaya menghapus postingan itu sebelum keluarga Thomson melihatnya dan menyangka kalau kakak dan Howie memang ada hubungan. Aku turun ke bawa dulu ya.." Gionino meninggalkan kamar Grace.
"Duh..., mengapa bisa seperti ini? " Grace menghubungi Howie.
"Hallo Grace...!"
"Howie, please, minta pada kedua adikmu untuk menghapus video ciuman kita semalam. Aku jadi kurang nyaman dengan video itu."
"Video? Aku belum melihatnya."
"Lihatlah! Dan aku mohon untuk dihapus. Bye" Grace meraih tasnya dan memasukan hpnya ke dalam tas lalu ia turun ke bawah.
Semua yang ada di ruang makan menatapnya sambil menahan senyum. Grace tahu kalau mereka pasti sudah melihat video ciuman itu.
"Jangan salah sangka dengan video itu. Aku dan Howie belum resmi pacaran." Kata Grace sedikit kesal. Ia meneguk susunya sampai habis. "Aku pergi dulu ya..." Pamitnya tanpa menyentuh sarapannya.
"Dia masih berharap pada Caleb!" Kata Ben sambil meletakan garpu ditangannya dengan kesal.
"Sayang, sebuah cinta yang tumbuh semenjak kecil tak akan mudah untuk dilepaskan." Kata Alicia diikuti anggukan Bryan.
__ADS_1
"Tapi kan Grace harus membuka matanya. Caleb tak bisa diharakan lagi. Ada Zelina yang bersamanya." Cicit Ben dengan wajah sedikit marah. "Howie itu laki-laki yang baik. Berasal dari kaum bangsawan."
Maura menggeleng. "Sayang, biarkan Grace yang memutuskan. Aku yakin suatu saat nanti Grace akan mampu menentukan mana pria yang terbaik untuknya."
Ben hanya diam. Sebagai papa, ia sudah tak sabar ingin melihat anaknya bahagia. Ia bukan membenci Caleb. Tapi dia ingin Grace bahagia.
*************
Zelina akhirnya tak masuk kuliah hari ini. Ia memutuskan untuk menemani Caleb. Chloe datang membawakan sup setelah itu ia pergi karena ada urusan. Zelina pun menyuapi Caleb sampai cowok itu makan dengan sangat banyak.
"Masih nyaman dengan posisi itu?" Tanya Zelina setelah Caleb selesai makan. Cowok itu memang memilih duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
"Iya. Aku duduk seperti ini rasanya lebih menyenangkan. Bosan berbaring terus."
"Eh, aku punya video lucu kiriman temanku dari Manado. Kau mau melihatnya?"
Caleb mengangguk. Di temani Zelina rasanya sangat menghibur walaupun sesekali ia masih memikirkan video ciuman Howie dan Grace.
Setelah mengambil hpnya, Zelina memilih duduk di samping Caleb sambil ikut menaikan kakinya di atas ranjang.
Keduanya tertawa bersama saat melihat beberapa video lucu dari hp Zelina.
"Ha....ha....perutku sakit. Ini benar-benar lucu." Seru Caleb sambil memegang perutnya.
"Eh...hati-hati dengan selang infusmu." Zelina mencondongkan tubuhnya saat memegang tangan Caleb membuat wajah mereka menjadi sangat dekat.
Tatapan mereka bertemu. Zelina menahan napasnya mengingat ciuman mereka beberapa hari yang lalu. Caleb menyentuh wajah Zelina dan ia tak dapat menahan dirinya untuk tidak mencium bibir merah yang sangat dekat dengannya itu. Zelina memejamkan matanya. Menikmati ciuman itu dan membalasnya dengan mesra.
Dari luar ruangan, Grace yang baru saja pulang dari kampus bermaksud untuk mengunjungi Caleb. Ia mampir ke toko kue dan membelikan kue kacang kesukaan Celeb. Ia membuka pintu ruangan itu dengan senyum diwajahnya. Namun seketika, kantong plastik yang berisi kotak kue itu jatuh ke lantai saat Grace melihat Caleb dan Zelina sedang berciuman dengan begitu mesranya.
Grace memegang dadanya, Lututnya bagaikan tak mampu menahan berat badannya. Ya Tuhan, inikah balasannya karena aku dicium oleh Howie semalam?
Grace menutup kembali pintu itu secara perlahan. Ia mencoba melangkah namun tubuhnya tiba-tiba saja terjatuh. Ia merasa lemah. Tak mampu melangkah lagi.
**********
"Ah....Erhan......!" Chloe mendesah panjang sambil meneriakan nama Erhan ketika puncak kenikmatan dicapainya bersama dengan Erhan yang juga mencapai klimaksnya. Keduanya saling berpelukan dengan tubuh yang basah dengan keringat.
Erhan melepaskan penyatuan mereka dan tidur di samping Chloe sambil meletakan kepala gadis itu di atas lengannya.
"Sayang, kita harus berterus terang pada orang tuamu mengenai hubungan kita. Aku ingin segera melamarmu. Aku tak mau terus menerus bersembunyi seperti ini." Kata Erhan sambil membelai rambut Chloe.
"Aku juga mau seperti itu. Tapi harus secara pelan menjelaskannya pada bunda. Dan aku besok pagi harus terbang ke Paris. Aku sudah 4 hari ada di sini. Bagaimana kalau menunggu kontrakku selesai dulu? Masih ada 2 bulan. Aku tidak akan memperpanjangnya lagi. Sehingga bisa cepat kembali ke London.
Erhan mencium kepala Chloe. Dia sangat mencintai gadis ini dan sangat ingin meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Erhan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Chloe.
"Baiklah sayang. Lalu bagaimana kau akan pergi besok? Naik saja pesawatku." Ujar Erhan sambil tak hentinya-hentinya mencium kepala Chloe.
"Aku sudah pesan tiket. Kerjamu kan masih banyak di sini. Biar saja aku pergi sendiri."
"Aku pasti akan merindukanmu, sayang. Rasanya tak sanggup untuk melepasmu pergi. Di Paris banyak pria tampan yang lebih muda dariku. Nanti kau akan tergoda."
Chloe mendongakkan kepalanya. Ia menatap mata grey Erhan yang juga sedang menatapnya. "Hei pria tampanku. Walaupun kau 11 tahun lebih tua dariku, aku tak akan menggantikanmu dengan cowok muda manapun. Karena kau sudah mencuri hatiku, mencuri cintaku dan juga hasratku."
Erhan menunduk dan kembali mencium bibir kekasihnya itu dengan rasa bahagia. Ia kembali merayu, mencumbu dan membawa Chloe pada puncak kenikmatan ragawi.
__ADS_1