3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Rahasia Hati Caleb


__ADS_3

"Grace? Kau belum pulang?" Tanya Gracia yang sudah kembali dari ruang ICCU.


"Belum, bi. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada bibi."


Gracia membuka sarung tangannya, mencuci tangannya di wastafel lalu membuang masker yang dikenakannya di tempat sampah. Ia kemudian duduk di depan meja kerjanya sambil menatap ponakan cantiknya.


"Kau ingin bertanya apa, nak?"


Grace menarik napas panjang. Lalu," Bibi, tadi saat aku selesai memperbaiki program komputermu, meain printnya mengeluarkan beberapa kertas."


"Bibi memang tadi mau mencentak hasil pemeriksaan pasien untuk dikirimkan ke dokter ahli kanker otak. Ada apa?"


Grace membuka hp nya dan menunjukan Foto Zelina " Dia ini kan yang bernama Zelina Gita Alexander? Maaf bi, aku tak sengaja membacanya. Dia ini sahabatku."


Gracia mengangguk. "Ya. Dia memang Zelina..Dia di diagnosa menderita penyakit kanker otak stadium 2c."


"Dia akan sembuh kan?"


"Pengobatan di dunia kanker semakin canggih. Bibi yakin dia pasti sembuh jika memiliki semangat dan kemauan untuk sembuh."


"Terima kasih, bi."


"Sayang, ini adalah rahasia pasien. Kau tak boleh mengatakan pada Zelina jika kau sudah tahu. Zelina meminta bibi untuk merahasiakan ini pada siapapun termasuk pria yang selalu bersamanya."


"Caleb?"


"Bukan. Kalau tidak salah namanya Mark."


"Mark? ya, aku tahu." Grace mengambil tasnya lalu mencium.bibinya. "Aku pergi dulu, bi." Pamitnya.


Kasihan Zelina,. Dia menderita penyakit yang parah. Apakah sebaiknya aku memberitahukan Caleb? Hanya Caleb yang bisa membuat Zelina bahagia dan semangat hidupnya akan semakin bertambah. Tapi, apakah wajar aku membeberkan rahasia ini pada Caleb? Bukankah aku harus menghormati kepitisan Zelina untuk merahasiakan penyakitnya?


Grace bergumul dengan batinnya. Ia bingung apa yang harus dilakukannya. Namun ia memutuskan untuk membicarakan ini dengan Caleb. Makanya ia segera memacu mobilnya menuju ke kantor Caleb.


Saat ia sampai di kantor Caleb, ia segera menuju lantai 11 tempat ruangan Caleb dan Joel berada. Grace melihat sekretaris Caleb si Monika tak ada. Makanya ia segera menuju ke ruangan Caleb yang pintunya memang tak terbuka. Ia hampir saja mengetuk pintunya saat ia mendengar suara Caleb dan Joel yang sedang berbicara dan menyebutkan namanya.


"Aku merindukan Grace. Rasa rinduku padanya lebih besar dari apa yang kurasakan pada Zelina. Aku ingin sekali menelepon dan mengirim pesan padanya namun aku tak mau menganggu hubungannya dengan Howie." Kata Caleb dengan suara yang terdengar frustasi.


"Dan Zelina? Bukankah beberapa waktu yang lalu kau ingin menyatakan cintamu padanya?" Tanya Joel.


"Ya. Namun entah kenapa selalu saja ada yang menghalangi aku untuk bersamanya. Lagi pula aku melihat Zelina sudah berciuman dengan Mark. Mereka pasti sudah jadian."


"Dan Grace sekarang sudah bersama Howie."


"Ya. Ingin rasanya aku merebut dia dari tangan Howie. Dia gadis yang kuinginkan semenjak aku kecil. Aku bahkan menjaganya lebih dari pada aku menjaga Chloe. Saat Grace sudah jauh dariku, baru aku sadar betapa sakitnya melihat dia dimiliki orang lain."


Grace memejamkan matanya mendengar perkataan Caleb. Hatinya sungguh bergetar. Bukankah ini yang selalu ia rindukan? Mendengar pengakuan Caleb tentang perasaannya terhadap Grace. Caleb mencintainya. Lebih dari pada Zelina.


"Hai...Grace, kenapa kamu tidak masuk?" terdengar suara lantang Monica. Mengagetkan Grace yang sedang bersandar di dinding dekat pintu.


Caleb dan Joel yang ada di dalampun terkejut dan segera keluar.

__ADS_1


Grace menjadi gugup menerima tatapan dati 3 pasang mata.


"Eh, aku....!" Grace kehilangan kata-kata.


Joel tersenyum. Ia mengerti kalau Grace sudah mendengar percakapan mereka.


" Monica, aku membutuhkan bantuanmu di ruanganku. Ayo!" Joel langsung menarik tangan Monica agar bisa mendengarkan mereka berdua.


"Ayo masuk, Grace!" Ajak Caleb.


Grace melangkah masuk. Ia kemudian berdiri ditengah-tengah ruangan. Caleb menutup pintu dan segera melangkah mendekati Grace.


"Kenapa tidak duduk?" Tanya Caleb yang sudah berdiri di hadapan Grace.


Grace menatap Caleb. Tinggi badan mereka yang hampir sama membuat mata mereka langsung bertemu. Pancaran mata mereka sama-sama menunjukan kerinduan yang sangat dalam. Grace rindu pada Caleb dan Caleb rindu pada Grace.


"Aku kangen, kak." Kata Grace. Caleb terkejut mendengar perkataan Grace yang sama sekali tak diduganya. Grace juga terkejut karena ia bisa mengucapkan kata-kata itu.


"Aku...., maksudku adalah...., eh...kak..." Grace jadi gugup.


Caleb langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Kakak juga kangen."


Grace memejamkan matanya. Tangannya melingkar erat dipinggang Caleb. Ia sungguh menyukai dekapan itu. Menyukai saat tubuh mereka menjadi begitu dekat.


Caleb pun menundukan kepalanya. Mencium harum rambut coklat Grace. Wanginya membuat Caleb merasa tenang. Hatinya berdebar saat mendekap Grace.


Agak lama keduanya saling berpelukan. Seolah tak mau untuk saling melepaskan. Caleb berulang kali mencium puncak kepala Grace dan genggaman tangam Grace semakin erat dipinggang Caleb.


Begitu dalamnya mereka berciuman. Terkadang hanya berhenti sejenak untuk menarik napas lalu kembali berciuman semakin dalam, semakin panas dan menyulut gairah sebagai sesama anak muda. Keduanya seolah sudah berpisah sangat lama dan memendam rindu yang sangat mendalam.


"Ehm...." satu erangan lolos dari mulut Grace membuat Caleb makin tak bisa mengontrol hasratnya. Ia mendorong Grace sampai gadis itu tertidur di atas sofa panjang yang ada di dalam ruangannya.


"Kak....!" desis Grace sambil memejamkan matanya saat ciuman Caleb sudah turun ke leher jenjangnya.


Grace kembali merasakan sensasi seperti yang terjadi di kamar hotel itu. Tubuhnya terasa panas. Ia tak bisa menolak sentuhan Caleb yang kini sudah mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Tangan Grace justru membelai kepala Caleb dengan lembut. Tubuhnya menginginkan Caleb menyentuhnya semakin dalam. Entakah ia akan menyesal setelah itu Grace seakan tak peduli. Dia ingin Caleb menyentuhnya saat ini.


"Caleb....daddy akan ....oh My God!" Ezekiel membalikan badannya saat melihat putranya sedang bercumbu dengan seorang gadis.


"Kak..!" Grace langsung mendorong tubuh Caleb.


Ezekiel terkejut mendengar kalau itu adalah suara Grace. "Daddy tunggu di ruangan daddy jika kalian sudah selesai." Ujar Ezekiel tanpa membalikan badannya ia meninggalkan ruang kerja Caleb.


Wajah Grace langsung merona merah saat menyadari bahwa kemeja sudah terbuka semua. Ia langsung berdiri, membelakangi Caleb dan mengaitkan kembali kancing kemejanya.


"Aku pulang, kak!" Kata Grace bersiap akan pergi. Ia tal mau menatap wajah Celeb.


"Hei...mau kemana?" Caleb menahan tangan Grace.


"Nanti ku telepon, kak. Bye..!" Grace melepaskan tangan Caleb. Ia setengah berlari meningalkan ruangan Caleb. Tak peduli sekeras apa Caleb memanggilnya, Grace berlari sampai ia bisa masuk ke dalam lift.


Joel dan Monica keluar dari ruangannya mendengar teriakan Caleb yang memanggil nama Grace.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Joel heran.


"Tidak. Aku mau ke ruangan daddy dulu." Caleb berjalan ke arah lift khusus yang akan membawanya ke lantai 12 tempat ruangan presiden direktur berada.


"Daddy!" Sapa Caleb sambil mengetuk pintu.


"Masuk!"


Caleb masuk. Ia melihat daddynya sedang membaca sesuatu di laptopnya.


"Sudah selesai?" Tanya Ezekiel dengan tatapan menggoda.


"Dad...!" Caleb menjadi malu.


"Lain kali kunci pintunya." Kata Ezekiel sambil menahan senyumnya.


"Lain kali ketuk dulu pintunya sebelum masuk."


Ezekiel tertawa. "Jadi Grace bukan Zelina?"


"Dad...!" Caleb kelihatan enggan membicarakannya.


"Atau dua-duanya?"


"Daddy mau apa tadi masuk ke ruanganku?" Caleb langsung mengalihkan pembicaraan.


Ezekiel mengerti kalau Caleb tak ingin membicarakannya. Ia pun mengambil sebuah file dan memberikannya pada Caleb. "Kamu ke Bali bersama Joel. Ada beberapa masalah dengan hotel kita di sana."


"Tapi dad, aku kan tak mau melewati pernikahan Chloe."


"Pernikahan Chloe masih 6 minggu lagi. Jika masalahnya belum selesai maka kamu bisa pulang sebelum pernikahan Chloe dan kembali setelah pernikahan Chloe selesai. Daddy yakin kalau kau dan Joel mampu menyelesaikan masalah di sana."


"Ok. Kapan berangkatnya?"


"Besok pagi."


"Apa? Kenapa secepat itu?"


Ezekiel tersenyum. "Kau masih punya waktu untuk menyelesaikan yang tadi sebentar malam. Daddy pulang dulu ya. Ada janji makan siang dengan bunda. Kau tak mau ikut?"


"Nggak mau menganggu kemesraan Daddy sama bunda."


"Baguslah kalau kamu mengerti." Tawa Ezekiel sebelum meninggalkan ruangannya.


Caleb menatap file itu dan membukanya. Namun ia meletakannya kembali. Ia tak fokus. Pikirannya tertuju pada Grace. Ia meraih hp nya untuk menelepon Grace. Namun ponsel Grace tidak aktif. Caleb mengusap wajahnya kasar. Ia merasa malas untuk pergi ke Bali.


What next???


Apakah Caleb pergi tanpa ketemu Grace? Atau para pembaca mau Caleb ketemu Grace sebelum pergi? Jangan lupa isi di kolom komentarnya ya???


Dukung aku dengan cara : Like, komen dan Vote

__ADS_1


__ADS_2