
Grace memutuskan untuk menitipkan saja kado darinya untuk Caleb pada penjaga pintu. Lagi pula ia sudah lama tak bertemu Caleb. Pasti akan ada rasa cangkung saat bertemu dengannya. Walaupun jauh dilubuk hatinya, ada rasa rindu untuk menatap wajah tampan itu, namun selama satu bulan ini, Grace sudah berusaha untuk memantapkan hatinya agar bisa melupakan Caleb.
Saat tangannya akan menekan bel yang pintu yang ada di salah satu tiang pagar, pintu pagar tiba-tiba saja terbuka. Grace terkesiap. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Wajah yang sangat dirindukannya itu berdiri di depan pintu pagar itu. Grace harus mengakui, pesona Caleb belum hilang.
"Grace...!" Panggil Caleb lembut. Seperti biasanya suara Caleb selalu membuat Grace gagal fokus.
Caleb memandang wajah cantik Grace. Hidungnya agak merah. Gadis tomboy itu terlihat manis dengan topi beani. Topi yang memang biasa dikenakan oleh para gadis di musim dingin.
Ingin rasanya Caleb memeluk gadis itu. Ia merindukan Grace. Rindu pada sikapnya yang agak pendiam.
"Kak...!" Grace akhirnya bisa menguasai dirinya. Ia memanggil Caleb dengan suaranya yang sedikit serak karena memang sudah lama ia berdiri di depan pintu pagar ini.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Caleb.
"Aku sedang terburu-buru. Aku hanya ingin mampir untuk memberikan kado ulang tahun untuk kakak. Nih!" Grace mengulurkan kado yang memang sudah ada di tangannya.
"Terima kasih." Kata Caleb sambil menerima kado itu.
Grace mengulurkan tangannya. "Selamat ulang tahun, kak."
Caleb menerima uluran tangan Grace. Tangan gadis itu sangat dingin membuat Caleb menahannya sedikit lebih lama.
"Tanganmu dingin Grace."
Grace menarik tangannya. Wajahnya sedikit bersemu merah. Ada suatu dorongan yang membuat dirinya memeluk Caleb dan mengecup pipi cowok itu. Ya, kebiasaannya sejak dulu saat Caleb dan Chloe ulang tahun maka ia akan memberikan pelukan dan ciuman di pipi kanan dan kiri.
Wajah Caleb tersenyum bahagia saat menerima pelukan Grace. Ia bahkan merasakan hangat di pipinya menerima ciuman itu. Caleb mengeratkan pelukannya. Keduanya saling memeluk dalam diam. Mencoba menghirup wangi tubuh masing-masing yang sangat dirindukan.
Sementara itu di dalam mansion
"Bibi, kemana Caleb?"Tanya Zelina.
"Sedang memanggil paman Yogi untuk makan. Dia penjaga ruang kontrol CCTV. Caleb sangat menyayangi paman Yogi karena sejak kecil, dia yang paling suka bermain basket dengan Caleb." Ujar Faith.
"Aku mau menemuinya. Soalnya aku mau pulang."
"Mengapa tak menginap di sini saja?"
"Ada tugas kuliah yang harus ku kerjakan. Lagi pula besok aku kuliah pagi. Kalau berangkatnya dari sini, agak jauh. Takutnya terlambat."
"Oh...begitu. Ya sudah, susul Caleb saja ke sana."
Zelina mengangguk dan segera menuju ke ruang CCTV.
"Caleb....!" panggilnya saat masuk ke sana. Namun ruangan itu kosong. Zelina terkejut melihat bagaimana canggihnya ruang kontrol ini. Ia bahkan menatap satu persatu layar yang ada yang menunjukan semua sudut rumah ini, kecuali kamar tidurnya.
Itukan Caleb? Dia bersama siapa di sana? Itukan Grace? Apa yang mereka lakukan di luar sana?
Mata Zelina makin bertambah besar saat ia melihat Grace mencium pipi Caleb dan memeluknya erat. Mereka berpelukan begitu erat seperti sangat merindukan.
Zelina memegang dadanya yang tiba-tiba saja sesak. Matanya menjadi panas dan sebutir air mata jatuh tanpa bisa ditahannya. Zelina buru-buru menghapusnya. Ia keluar dari ruang kontrol CCTV itu dengan langkah yang pelan.
Mereka kelihatan begitu sangat merindukan karena sudah lama tak bertemu . Apakah Caleb kangen pada Grace? Ataukah mungkin mereka berdua saling mencintai? Apakah aku terlalu buta untuk menyadari bahwa Caleb hanya menganggapku sebagai adik?
"Zelina, ada apa?" Tanya Erland saat melihat wajah Zelina yang terlihat sedih.
"Tidak." Zelina menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menyatu dengan yang lain dan menikmati hidangan yang ada. Erland menatap Zelina bingung. Ia tahu ada yang disembunyikan gadis itu.
__ADS_1
"Zelina, kamu baik-baik saja?" Tanya Keegan.
"Ya."
"Namun matamu mengatakan kalau kau sedang bersedih."
Zelina tersenyum pada cowok tampan itu. "Aku baik-baik saja, pangeran. Maukah kau bernyanyi malam ini?"
Keegan tersenyum manis. "Untuk gadis semanis kamu, aku tentu saja mau menyanyi." Keegan segera ke tengah ruangan. Ia mengambil gitar Caleb yang ada di sana. Kemudian ia mulai memetik gitarnya. Semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya pada Keegan. Apalagi saat suara merdu Keegan terdengar, ia bagaikan menyihir semua orang untuk menatapnya. Ia memang sangat memesona.
************
Caleb melepaskan pelukannya. Ia menatap Grace yang wajahnya terlihat merona.
"Kak, bagaimana kakimu?" Tanya Grace sambil menatap kaki Caleb.
"Sudah lebih baik. 3 hari ini aku sudah mencoba lepas dari tongkat yang biasa menolongku untuk berjalan."
"Jangan terlalu dipaksakan, kak."
Caleb hanya mengangguk. Ia senang karena Grace menanyakan keadaan kakinya.
"Ayolah masuk, di sini dingin!" Ajak Caleb.
"Aku pulang saja, kak. Aku masih akan mampir ke tempat temanku untuk mengerjakan tugas bersama." Tolak Grace halus.
"Baiklah. Hati-hati membawa mobil ya? Jalannya licin karena salju." Caleb menepuk pipi Grace dengan lembut.
Grace mengangguk. Ia segera melangkah menuju ke mobilnya, melambaikan tangan ke arah Caleb dan segera pergi.
Caleb menatap kepergian Grace. Ada sesuatu yang membuat hatinya terusik saat Grace pergi. Caleb menekan perasaannya itu. Dia harus kuat dengan keputusannya. Dia tak ingin menganggu hubungan Grace dengan Howie. Caleb menatap kotak kecil yang diberikan Grace padanya. Ia memasukan kotak itu ke dalam saku jaketnya dan segera masuk ke dalam.
"Zel....!" panggil Caleb.
Zelina menoleh. "Hai, dari mana saja?"
"Dari depan. Tadi ada Grace namun dia tak bisa masuk karena harus pergi ke tempat temannya."
"Oh..."
Sekuat apapun Zelina berusaha menyembunyikan rasa cemburunya namun Caleb dapat menangkap hal itu tergambang di sinar mata Zelina.
"Caleb, aku mau pulang ya."
"Kenapa?"
"Masih ada tugas kuliah yang harus ku selesaikan." Zelina langsung berdiri.
"Zel, are you ok?"
Zelina mengangguk. "Aku sudah pesan taxi. Mungkin sebentar lagi datang."
"Biar aku saja yang mengantarmu."
"Sudahlah. Masih banyak teman-teman dan saudara-saudaramu di sini." Zelina berdiri dan mendekati Keegan. Ia mengucapkan terima kasih karena Keegan sudah menyanyikan lagu yang indah buatnya. Kemudian ia berpamitan pada orang tua Caleb.
Faith meminta pelayan untuk membungkus beberapa macam kue untuk Zelina.
__ADS_1
"Nona, taxinya sudah ada." ujar salah seorang pelayan.
"Baiklah." Zelina melangkah keluar rumah ditemani oleh Caleb.
"Telepon aku jika sudah sampai di apartemen ya?" kata Caleb sambil mengusap kepala Zelina.
"Ok." Angguk Zelina. Ia memeluk Caleb. "Sekali lagi selamat ulang tahun."
"Terima kasih."
"Ini hadiah dariku." Zelina mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya.
Caleb tersenyum. "Terima kasih ya..."
"Sama-sama"
Caleb membukakan pintu taxi untuk Zelina. Lalu menutupnya kembali saat Zelina sudah masuk.
Ada apa dengan Zelina? Mengapa ia terlihat sedih? Batin Caleb sambil menatap taxi itu sampai menghilang dari balik pagar rumahnya.
*********
Caleb memandang hadiah yang diberikan oleh semua teman dan saudaranya. Namun ada dua kotak hadiah yang sangat menarik untuknya. Satu pemberian Grace dan satu pemberian Zelina.
Kedua hadiah itu dipegangnya yang memiliki ukuran dan dan berat yang sama. Lalu hadiah dari Grace di bukanya. Sebuah jam tangan merk terkenal dengan rantai perak yang sangat indah. Grace tahu kalau Caleb sangat suka mengoleksi jam tangan.
Hadiah dari Zelina pun dibukanya. Caleb terkejut. Itu juga adalah sebuah jam tangan. Jam yang Zelina berikan sama persis dengan jam tangan yang Grace berikan. Merk dan dan sertifikat yang ada dari toko yang sama.
Tangan Caleb sampai bergetar memegang kedua jam tangan itu.
Mengapa kedua gadis itu memberikan jam tangan yang sama? Apakah tandanya ini? Di saat aku akan mengambil keputusan untuk bersama Zelina, mengapa keraguan ini selalu ada? Ya Tuhan, mengapa ini sampai terjadi pada diriku? Aku tak ingin keraguan kembali datang menghampiriku. Aku ingin bersama Zelina. Aku tak bisa merusak hubungan Howie dan Grace.
Aku harus secepatnya menyatakan perasaanku pada Zelina.
**********
Di apartemennya, Zelina baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia merasakan kalau badannya sedikit kaku karena beberapa jam duduk di depan laptopnya.
Bel pintu apartemennya berbunyi. Zelina melangkah membukakan pintu.
"Mark?"
"Hai....!"
Zelina tiba-tiba merasakan kalau kepalanya pusing. Pandangannya menjadi kabur.
"Zelina...!"
Teriak Mark panik saat tubuh gadis itu jatuh ke lantai.
*********
MAKASI SUDAH BACA PART INI....
CALEB AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN
NAMUN GRACE TIBA-TIBA MENGHUBUNGINYA...
__ADS_1
APA YANG AKAN TERJADI DI EPISODE SELANJUTNYA?