
"Aku dibuatkan gaun juga ya?" Tanya Meloddy saat Grace memintanya untuk datang ke butik hari ini.
"Tentulah. Kamu kan salah satu pengiring pengantin wanitanya."
Mata Meloddy berbinar. "Waw, seumur hidup, baru kali ini aku menjadi pengiring pengantin wanita."
"Makanya cepat menikah. Usia kita kan hampir sama."
Wajah cantik Meloddy langsung berubah menjadi sedih. "Mau menikah dengan siapa?"
"Pacar kamu yang kemarin dimana?"
Meloddy tersenyum getir. "Dia pria cuek. Nggak perhatian seperti Erland."
Grace tersenyum. "Kau suka dengan Erland?"
"Tidak....!" Meloddy buru-buru menggeleng.
"Mel, kalau memang kita mencintai seseorang jangan ditahan. Usia, status sosial bahkan perbedaan lainnya tak menjadi alasan untuk menolak seseorang. Yang terpenting adalah bagaimana kita merasa nyaman dengan orang itu."
Meloddy tersenyum getir. "Aku tak mungkin jatuh cinta dengan seorang play boy macam Erland. Dia mana tahan dengan satu wanita? Aku nggak mau sakit hati saat bersamanya. Oh ya, siapa-siapa saja pengiring wanitanya?" Meloddy mengalihkan pembicaraan. Grace langsung menjawab pertanyaan Meloddy namun jari-jarinya dengan lincah mengetik pesan pada tunangannya.
Sayang, Meloddy memang mencintai Erland
Mari kita jalankan rencana kita untuk mempersatukan mereka.
"Mel, besok kamu nggak ada jadwal kan?"
Meloddy yang baru saja selesai diambil ukuran badannya oleh salah satu kariawan butik menatap sepupunya itu.
"Kita ke rumah pantai, yuk! Santai sejenak sebelum hari pernikahan."
Meloddy tersenyum. "Mau berduaan dengan Caleb ya? Kenapa tak di apartemen Caleb saja?"
"Kalau itu, nantilah jika kami sudah menikah. Aku hanya ingin liburan saja. Beberapa teman kita ikut juga."
"Baiklah."
**********
Erland yang baru bangun mendapat pesan dari kakaknya.
Ke rumah pantai. Sekarang ya...
Ada hal penting yang harus kita kerjakan
di sana. Jangan ajak teman-temanmu
Erland pun membalas pesan Caleb :
Ok kak. Aku mandi dulu.
Caleb yang ada di apartemennya tersenyum membaca pesan itu. "Dia akan datang. Kita jemput Meloddy sekarang?"
Grace mengangguk. Ia berharap rencana mereka untuk menyatukan Meloddy dan Erland akan berhasil.
**********
Meloddy tersenyum senang melihat suasana pantai. Walaupun sebenarnya semalam ia sangat lelah karena konser Keegan selesai sampai jam 2 dini hari, namun ia tak mau membuat Grace kecewa.
Meloddy menggunakan gaun pantai yang sangat cantik membungkus tubuh indahnya. Rambutnya yang panjang dibuatnya tergerai begitu saja.
"Teman-teman yang lain belum datang?" Tanya Meloddy.
"Belum. Kayaknya mereka masih dalam perjalanan." Jawab Grace sambil mengeluarkan bekal makanan yang di bawah olehnya.
Rumah pantai milik keluarga Thomson ini memang agak tersendiri letaknya dari rumah pantai yang lain. Ada pagar yang mengelilingi rumah ini. Para penjaga rumah ini sudah sudah diperintahkan oleh Caleb untuk pergi dan nanti akan dipanggil kembali.
"Mel, sambil menunggu yang lain, kamu istirahat saja." Kata Grace melihat wajah lelah Meloddy.
"Aku mau tiduran di teras saja. Anginnya enak. Aku jadi mengantuk." Meloddy segera menuju ke teras dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kursi lipat yang bisa dijadikan tempat tidur.
"Mana Erland?" Tanya Grace sedikit berbisik.
"Sebentar lagi Erland tiba."
"Kita pergi sekarang?"
__ADS_1
"Ya. Nanti kalau mobil Erland sudah tiba, salah satu anak buahku akan membuat ban mobilnya kempes."
Grace tersenyum senang. Ia dan Caleb meninggalkan rumah pantai itu. Mereka akan memantau dari tempat yang aman.
Tak lama kemudian, mobil Erland terlihat memasuki area pantai. Ia heran tak menemukan mobil Caleb. Namun melihat pintu depan yang terbuka, Erland pun langsung masuk ke dalam.
"Kak Caleb...., kakak ipar....!" Panggil Erland. Semenjak Grace menerima lamaran Caleb, Erland memang sudah memanggil Grace dengan sebutan kakak ipar.
Di ruang tamu tak ada orang. Di kamarpun semuanya kosong. Erland berjalan ke arah teras samping. Langkahnya terhenti. Matanya terpesona menatap sosok cantik yang sedang berbaring mengenakan kacamata hitam.
Moloddy?
Jantung Erland berdetak dengan sangat kencang. Gadis yang selalu membuat dirinya merasa tak tenang karena cintanya tak pernah diterima, gadis yang membuat Erland terpaksa melampiaskan rasa cintanya pada orang lain.
Penampilan Meoddy yang mengenakan gaun pantai membuat beberapa bagian tubuhnya terekspos. Bahu, dada, dan paha mulusnya yang sedikit terlihat karena gaunnya yang tersingkap.
Erland memalingkan wajahnya. Ia tahu jika dia terus memandang gadis blesteran Korea, Inggris dan Indonesia itu, maka pertahanannya pasti akan runtuh. Ia akan kembali mengejar gadis itu. Karena sesungguhnya, hanya Meloddy, gadis yang benar-benar mampu membuat hati Erland bergetar.
Dengan menahan gejolak yang ada di hatinya, Erland memilih untuk pergi dengan cara ia berjalan mundur secara perlahan. Akhirnya, Erland membuat vas bunga yang ada di belakangnya jatuh dan menimbulkan suara yang keras. Meloddy terbangun dari tidur siangnya.
"Erland?"Meloddy langsung bangun sambil membuka kaca mata hitamnya. Hatinya bergetar. Meloddy tak dapat membohongi hatinya. Ia rindu dengan sosok ganteng yang ada di depannya.
"Maaf aku membangunkanmu." Erland berusaha menetralkan suasana hatinya yang begitu ingin memeluk dan mencium Meloddy.
Meloddy tersenyum. "Tidak apa-apa."
"Kakakku dan Grace kemana?"
"Tadi mereka ada di sini saat aku tertidur. Apa mungkin mereka keluar untuk belanja?"
"Mungkin."
Keduanya saling diam. Jelas terlihat ada rasa kaku yang tercipta diantara mereka.
Meloddy dan Erland berdiri saling berhadapan. Sesekali keduanya saling mencuri pandang sambil tersenyum.
"Eh, aku ke mobil dulu ya, mau menurunkan minuman yang dipesan oleh Caleb." Erland akhirnya memutuskan kebisuan diantara mereka dan langsung pergi. Erland sebenarnya ingin menggoda Meloddy seperti biasanya namun dia menahan diri karena ia tahu Meloddy tak suka dengan kata-kata godaannya.
Meloddy yang menatap kepergian Erland merasa ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Ia rindu dengan kalimat-kalimat rayuan Erland yang sebenarnya selalu membuat Meloddy merasa tersanjung namun, selama ini selalu dibantah oleh dirinya.
Meloddy sudah merasa lapar. Ia memutuskan untuk menghubungi Grace.
"Hallo Meloddy....!" sapa Grace dari seberang.
"Grace, kamu dan Caleb dimana? Anak-anak yang lain juga belum datang. Aku lapar nih!"
"Makan saja duluan. Aku dan Caleb masih ada urusan. Mungkin 2 jam lagi baru tiba. Eh, kamu sendiri ya di sana?"
"Ada Erland. Sepertinya ia juga sudah lapar. Aku melihat dia sudah 2 kali mengambil roti."
"Ajak saja dia makan sekalian. Bye..."
Meloddy kesal karena Grace sudah mengahiri percakapan mereka. Ia segera menuju ke meja makan. Satu persatu Meloddy membuka bekal makanan yang di oleh Grace. Matanya langsung berbinar melihat semua masakan yang ada merupakan menu Indonesia. Ada ayam kecap, ayam bakar dengan sambal yang menggoda dan ada abon ikan, ada ketimun yang sudah di potong-potong, ada tahu dan tempe goreng dan tentu saja menu utamanya, nasi.
Tiba-tiba Meloddy merasa terharu. Ia ingat dengan Ibunya, Lerina. Sekalipun ibunya sudah menetap di Korea namun setiap hari, ada saja makanan Indonesia yang dibuatnya.
"Erland, ayo makan!" Meloddy memanggil Erland yang sedang duduk di ruang tamu sambil menonton siaran bola.
Erland yang memang tak sempat sarapan segera menuju ke meja makan. Perutnya sejak tadi sudah keroncongan.
Keduanya pun makan dalam kebisuan. Meloddy ingin sekali bercakap-cakap dengan Erland. Sambil mengunyah makanannya, otak Meloddy berpikir keras untuk mencari pokok pembicaraan.
"Kamu juga suka dengan makanan Indonesia?" Tanya Meloddy.
"Ya. Kami semua terbiasa dengan makanan Indonesia. Bundaku bahkan tak bisa makan kalau tak ada nasi."
"Kita punya ibu yang sama. Orang Indonesia. Ibuku juga suka memasak makanan Indonesia. kalau aku paling suka sayur kangkung dan opor ayam. Kalau kamu?"
Erland tersenyum. Sudah sekian lama ia mencoba akrab dengan Meloddy namun gadis itu selalu menjauhinya. Namun kali ini, Meloddy yang berinisiatif untuk berbicara dengannya.
"Aku suka ayam saos padang, bubur ayam dan ikan woku, itu makanan khas Manado."
"Kita punya kesamaan dalam hal makanan, seharusnya itu akan mempermudah jika kita dekat sebagai teman spesial."
Deg!
Jantung Meloddy seakan berdetak cepat mendengar perkataan itu. Wajahnya menjadi merah. Biasanya ia akan bersikap jutek dan membalas kata-kata Erland dengan pedas. Namun entah mengapa kali ini dia hanya tersenyum.
__ADS_1
"Aku sudah selesai." Meloddy berdiri.
"Aku juga sudah selesai."
"Kemarikan piringnya biar ku cuci."
Erland menyerahkan piringnya. Setelah itu Meloddy langsung mencucinya.
Langit yang mendung akhirnya membuahkan hujan yang deras. Meloddy yang sedang membaca di teras samping, terpaksa masuk karena udara yang dingin.
Erland masih di ruang tamu. Ia sibuk dengan ponselnya. Namun saat melihat Meloddy masuk sambil memeluk dirinya sendiri, Erland tak tahan untuk menyapanya.
"Dingin?" tanya Erland. Angin memang bertiup cukup kencang.
Meloddy mengangguk. "Tas bajuku masih ada di mobil Caleb."
"Jaketku juga di mobil. Di sini sepertinya tidak ada payung. Mobilku di parkir agak jauh."
Meloddy duduk di sofa sambil terus memeluk tubuhnya. Erland segera menutup pintu dan jendela. Ia kemudian ke dapur dan membuatkan dua cangkir teh hangat untuk mereka.
"Nih minum!" Kata Erland lalu duduk di sebelah Meloddy.
"Terima kasih."
Keduanya kembali minum dalam kebisuan.
Hujan semakin deras dengan angin yang semakin kencan. Meloddy yang memakai gaun bertali spageti dengan bagian punggung dan dada yang agak terbuka terlihat kurang nyaman. Ia bahkan sedikit mengigil.
"Boleh.....?" Tanya Erland yang ternyata sudah membuka kemejanya dan menyisahkan singlet putih yang membungkus tubuh atletisnya.
"Nanti kamu kedinginan."
"Suhu tubuh cowok kan lebih hangat." Erland langsung memakaikan kemejanya pada Meloddy. Ia bahkan membantu mengaikatkan kancing kemejanya. Wajah mereka yang begitu dekat, menciptakan getar-getar aneh di hati masing-masing. Erland setengah mati menahan dirinya untuk tidak menyentuh bibir Meloddy yang sangat dekat di wajahnya. Dan tanpa Erland ketahui, Meloddy begitu ingin dipeluk oleh Erland.
"Sudah selesai." Kata Erland saat semua kancing kemejanya sudah terpasang.
Meloddy mengangkat wajahnya. Pandangan mereka bertemu. Erland menelan salivanya kasar. Terserah Meloddy akan marah atau tidak, namun Erland tak bisa menahan gejolak yang ada di hatinya.
Tangan Erland memegang tengkuk Meloddy dan langsung mencium bibir gadis itu dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Meloddy terkejut. Namun ia tak mau menolak ciuman Erland. Ia menutup matanya dan membalas ciuman Erland. Tangannya bahkan ia lingkarkan di leher Erland.
***********
"Kak, mereka berciuman!" teriak Grace. Ia dan Caleb ada di sebuah kamar hotel yang tak jauh dari pantai. Keduanya mengawasi pergerakan Erland dan Meloddy melalui CCTV yang ada di rumah pantai itu.
Caleb yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendekat. "Akhirnya, Erland bisa mendapatkan Meloddy."
"Kak, ciuman mereka sepertinya tambah panas. Dan kak....mengapa CCTV nya mati? Jaringannya kurang bagus ya? Kak, ayo kita ke sana....!" Grace langsung berdiri.
"Mau kemana?" Caleb menghadang langkah Grace.
"Ke rumah pantai."
"Mau ngapain?"
"Kak, Meloddy itu masih gadis tulen. Walaupun ia sudah pernah pacaran namun belum pernah dijamah oleh laki-laki. Erland kan seorang play boy. Aku takut nanti dia dan Meloddy....."
Caleb melingkarkan tangannya dipinggang Grace. "Biarkan mereka bersama, Grace. Sejak Erland berusia 14 tahun, ia sudah menyukai Meloddy. Ini adalah momen yang sangat dia inginkan." Caleb tahu kalau Erland pasti sudah menekan tombol remote untuk mematikan CCTV. Tombol itu letaknya ada di dekat dinding tempat sofa itu berada.
"Tapi....Meloddy..."
"Mereka sudah dewasa, Grace. Seperti kita juga yang sudah pernah melaluinya. Apakah kamu takut kalau Erland tak akan serius dengan Meloddy dan membuat sepupumu itu patah hati? Aku berano jamin, Erland serius kali ini."
Grace hanya tersenyum.
"Kita di sini dulu. Lagian sekarang sedang hujan. Saling menghangatkan, yuk!"
"Kak, kita kan sudah janji nanti akan berhubungan di malam pernikahan kita?"
Caleb menyentil dahi Grace. "Kamu pikir aku maunya yang kayak gitu? Aku kan hanya ingin peluk kamu sambil bobo sore saja. Nanti malam baru kita ke rumah pantai."
Grace tersenyum. Ia langsung memeluk Caleb dengan sangat erat walaupun pikirannya ada pada Meloddy dan Erland.
Apa yang terjadi antara Meloddy dan Erland?
Komen ya...
siapa tahu salah satu komen kalian akan kumasukan dalam kejadiannya Erland dan Meloddy
__ADS_1