
Zelina membuka matanya. Ia tersenyum melihat Faith dan Chloe ada di samping tempat tidur.
"Bagaimana perasaanmu, nak?" tanya Faith.
"Aku sudah merasa baik, bibi. Maaf merepotkan kalian."
"Tak ada yang merasa direpotkan. Sedikit lagi bibi Helena akan datang dan mengambil sampel darahmu untuk diperiksa."
"Tidak perlu, bi. Aku sudah memeriksakan diri 3 hari yang lalu di rumah sakit. Hasilnya tak ada penyakit yang serius. Aku hanya kelelahan saja karena banyaknya tugas yang harus ku kerjakan. Makanku jadi tak teratur." Zelina berusaha meyakinkan kalau dia baik-baik saja. Ia tak mau kalau mereka sampai tahu penyakitnya.
"Ya sudah, kalau kau memang sudah memeriksakan diri ke rumah sakit. Bibi akan memberitahukannya pada bibi Helena." Faith meninggalkan kamar. Zelina menatap Chloe.
"Jadi, kau akan segera menikah?"
Chloe mengangguk. " Dan juga akan segera punya baby."
"Benarkah?"
"Ya."
"Erhan Taylor itu sangat tampan. Pantas saja kau jatuh cinta padanya."
Chloe tersipu. "Ya. Dia memang tampan, penuh pesona dan selalu membuatku tergoda."
Zelina tersenyum melihat Chloe yang bahagia. Andai saja dia dan Caleb....ah, sudahlah.
"Caleb ada di Bali. Dia mungkin agak lama di sana. Namun dia berjanji akan hadir di pernikahanku."
"Baguslah!"
"Kau sudah menyerah dengan Caleb dan memilih Mark?"
"Caleb mungkin tak mencintaiku. Dia hanya mencintai Grace. Aku dan Mark sebenarnya hanya berteman." Zelina menunduk sedih. "Mencintai kan tak selamanya harus memiliki."
"Caleb pun belum menjatuhkan pilihannya pada Grace. Aku juga bingung dengan kisah diantara kalian."
Ponsel ditangan Chloe berbunyi. Ia membaca pesan WA yang masuk. "Zel, aku tinggal dulu ya? di bawa ada Erhan."
"Ya. Sana! Sambutlah kekasihmu."
Zelina menatap pergian Chloe dengan hati yang sedikit iri. Chloe mendapatkan lelaki yang di sukainya. Bagaimana dengan aku? Sangat sedih membayangkan cinta pertamaku tak berbalas. Ah, Tuhan seandainya memang usiaku tak lama lagi, tak bisakah aku bahagia walau hanya sebentar?
*********
Erhan langsung memeluk Chloe dengan penuh kerinduan yang sangat mendalam. 3 hari ia pergi ke luar kota untuk pekerjaannya, membuat rindunya begitu besar.
"Apakah anak daddy baik-baik saja di dalam sini?" Tanya Erhan setelah pelukannya berakhir. Ia membelai perut Chloe dengan lembut lalu kemudian menunduk dan mencium perut Chloe yang masih rata.
"Dia baik-baik saja, sayang. Mual dan muntahku mulai berkurang."Kata Chloe lalu mengajak Erhan duduk di atas sofa.
Erhan duduk tanpa melepaskan pegangan tangannya. " 3 hari di sana membuatku kangen berat. Tak sabar rasanya ingin ketemu"
"Daddy nya kangen dede atau mommynya?" Tanya Chloe dengan senyum menggoda.
"Kangen dua-duanya. Kangen meluk kamu sambil mengusap punggung polosmu. Kangen bangun pagi sambil mencium hidung mancungmu."
Chloe memeluk Erhan dengan hasrat yang sama. "Sabar ya. Tak lama lagi kita akan tinggal bersama. Kalau sekarang bobo di rumah masing-masing dulu. Itu aturan yang bunda Faith berikan."
Erhan tertawa. "Ya. Aku harus taat jika ingin menjadi menantu di rumah ini. Walaupun sebenarnya si dia sudah hampir nggak tahan karena terlalu lama menganggur."
Chloe mencubit pinggang Erhan dengan gemas. "Dasar mesum!" Bisiknya.
"Mesum-mesum gini kan tetap kamu cinta."
__ADS_1
Keduanya tertawa bersama. Faith yang mendengar tawa Chloe dan Erhan jadi ikut bahagia.
"Kenapa sayang?" Tanya Ezekiel sambil memeluk istrinya dari belakang.
Faith yang sedang membuat puding coklat menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk puding karena Ezekiel mulai mencium lehernya yang memang terekspos karena rambutnya yang digulung ke atas.
"Eze, aku lagi buat puding. Nanti tumpah."
Ezekiel memasukan tangannya dibawa lengan Faith lalu mematikan kompor listrik itu dengan sekali sentuhan.
"Kenapa dimatikan?" protes Faith.
"Kan sudah mendidih. Sekarang, katakan dulu kenapa kamu tersenyum?" Ezekiel membalikkan tubuh Faith.
"Aku mendengar suara Chloe yang tertawa bersama Erhan dari ruang tamu. Mereka pasti sangat bahagia. Memang sungguh membahagiakan menikah dengan orang yang kita cintai."
"Beda dengan pernikahan kita dulu ya?" Ujar Ezekiel sementara tangannya membelai wajah cantik istrinya.
"Ya beda-lah. Kita dulu menikah karena ancamanmu."
"Dan aku bersyukur karena kamu takut dengan ancamanku itu."
Faith tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di leher Ezekiel. Kakinya sedikit berjinjit lalu mengecup suaminya. "Aku bahagia menikah denganmu, Eze. Aku tak mempersoalkan bagaimana kita memulainya . Aku mengingat saat kita menjalaninya. Bagaimana kita saling jatuh cinta dan kehamilanku membuat ikatan kita semakin kuat. I love you, bule."
"I love you too...!" Ezekiel menunduk dan langsung mencium istrinya.
"Daddy...! Bunda...!" panggil Chloe. Ia dan Erhan ingin pergi keluar dan bermaksud untuk ijin. Namun justru menemukan pemandangan yang luar biasa di dapur.
Faith dan Ezekiel langsung melepaskan pelukan dan ciuman diantara mereka lalu memandang anak dan calon menantu mereka.
"Ada apa, nak?" Tanya Faith dengan wajah yang bersemua merah karena kepergok sedang bermesraan dengan suaminya.
"Kami mau ke luar Ada jadwal pemotretan untuk iklan susu dan setelah itu akan makan malam di luar." Kata Chloe.
"Kamu masih menerima pekerjaan, Chloe?" Tanya Ezekiel sambil mengerutkan dahinya.
Faith mengangguk. "Tetap berhati-hati ya, ingat kandunganmu yang baru berusia 8 minggu itu masih harus dijaga dengan hati-hati."
"Tenang saja daddy, bunda, aku akan menjaganya." Kata Erhan sambil melingkarkan tangannya di bahu Chloe.
"Hati-hati menyetirnya, Erhan." pesan Ezekiel sebelum Chloe dan Erhan pergi.
Faith segera mengambil cetakan puding dan memasukan puding yang sudah selesaidibuatnya tadi.
"Masih ada yang harus dikerjakan?" Tanya Ezekiel.
"Aku mau melihat Zelina."
"Zelina sudah tertidur. Aku tadi baru saja dari kamarnya."
"Baguslah. Berarti tinggal menunggu jam makan siang dan membangunkannya."
Ezekiel tiba-tiba menarik tangan istrinya dan membisikan sesuatu. Wajah Faith langsung bersemu merah.
"Sayang, ini masih pagi. Baru juga jam 9. Memangnya kamu tak mau ke kantor?"
"Tak banyak pekerjaan. Jadi aku sudah sms pada Joe untuk menanganinya." Ezekiel memeluk Faiith. "Kita sudah lama tidak melakukannya di pagi hari."
Faith memukul dada suaminya. Wajahnya bertambah merah.
"Ah, kau masih saja malu sayang..." Ezekiel mencium pipi istrinya dengan gemas. Saat ia menarik tangan Faith untuk menuju ke kamar tidur mereka yang ada di lantai satu itu, Faith tak menolak. Ia mengenal suaminya. Ia tahu kalau Ezekiel tak bisa dibantah untuk urusan yang satu itu. Dan dia juga ingin menikmati sentuhan suaminya yang selalu membuat ia bahagia.
(kangen sama mesranya Eze dan Faith. Sisipkan lagi di sini, nanti di episode2 berikut akan disisipkan mesranya Ed dan Leπ₯°π₯°π₯°)
__ADS_1
*********
Hari-hari.pun berlalu dengan cepat. Zelina sudah sehat dan kembali ke apartemennya. Tak ada yang tahu kalau gadis itu sakit karena efek kemoterapi yang dijalaninya.
Grace pernah datang mengunjungi Zelina. Namun ia tak berani menanyakan tentang sakitnya gadis itu karena melihat bagaimana ceriahnya Zelina saat bercerita tentang kuliahnya dan persiapan magang.
Grace memilih untuk bersabar dan menunggu Caleb pulang.
Caleb pun hampir setiap hari menelepon Grace.Ia senang karena Grace kembali seperti dulu, dekat dan selalu saling memberi kabar.
Saat mendengar kalau Zelina sudah sembuh, Celeb juga merasa lega. Namun ia merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan eh Zelina sehingga akhirnya ia meminta salah satu anak buahnya untuk mengawasi Zelina dan melaporkan apa saja yang gadis itu lakukan.
***********
Hari bahagia Chloe dan Erhan pun tinggal 2 hari lagi akan dilaksanakan. Semua persiapan sudah disiapkan dengan baik dan matang. Pernikahan itu akan dilaksanakan di salah satu hotel The Thomson. Banyak media yang sudah menyampaikan pernikahan itu yang diperkirakan sebagai salah satu pernikahan termewah tahun ini.
Chloe menatap gaun pengantinnya yang sudah disiapkan di dalam kamarnya. Rasanya tak sabar menunggu 2 hari lagi.
Ponsel Chloe berbunyi. Ada panggilan video call dari Erhan.
"Sayang..." panggil Erhan.
"Hi baby..., kangen." ucap Chloe dengan suara manjanya. Sudah hampir seminggu keduanya sepakat tak akan bertemu sampai hari pernikahan tiba.
"Apakah aku ke rumahmu saja?"
"Jangan! Tinggal dua hari lagi dan kita akan bertemu."
Erhan tersenyum manis. " Aku tak sabar menunggu hari bahagia kita."
"Aku juga sayang."
"Chloe...!"
Chloe menoleh ke arah pintu lalu melihat lagi ke layar hp. "Sepertinya daddy datang."
"Ya sudah. Nanti kita sambung lagi. Bye..."
Chloe turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. Daddy dan bundanya berdiri di sana.
"Masuk, dad. Masuk bunda!"
Ezekiel dan Faith masuk ke kamar.
"Sayang, 2 hari lagi kau akan menikah. Jadi Daddy akan memberikan 10% saham yang daddy miliki di Thomson Company kepadamu." Kata Ezekiel sambil menyerahkan sebuah map file.
"Daddy, ini sangat banyak." Kata Chloe.
"Itu janji Daddy dan bunda, jika kalian bertiga akan menikah. Masing-masing mendapatkan 10% saham." kata Ezekiel sambil mengacak rambut putrinya.
"Daddy tak pernah berpikir kalau secepat ini kau akan menikah." Lanjut Ezekiel.
"Dad...!" Chloe langsung memeluk daddynya yang menang duduk di sampingnya. Faith pun tak dapat menahan rasa harunya. Chloe sangat dekat dengan daddy nya. Wajarlah kalau Ezekiel swakan belum rela anaknya itu akan menikah.
"Rasanya baru kemarin daddy memelukmu, baru kemarin kau menarik tangan daddy dan meminta untuk dibelikan es cream. Baru kemarin daddy menghadiri acara kelulusanmu di sekolah dasar namun sekarang kau akan segera menikah. Menjadi calon istri dan mama sekaligus." Ezekiel berucap sambil membelai kepala anaknya. Jujur ia belum rela namun juga tak bisa menahan karena tahu ini kebahagiaan Chloe.
Ternyata hati seorang ayah akan merasa patah hati saat gadis kecilnya yang telah tumbuh dewasa akan meninggalkannya.
"I love you, dad. Kau akan selalu menjadi cinta pertama dalam hidupku." Kata Chloe sambil mencium pipi papanya. Ia juga memeluk Faith dan mencium pipi mamanya yang masih terlihat mulus dan cantik. "I love you, bunda. Kau adalah guru terbaik dalam hidupku."
Suasana haru terlihat di kamar itu. Ketiganya saling berpelukan dalam air mata bahagia.
Like, komen dan vote nya mana????
__ADS_1
he...he...he...
jadi baper, ingat waktu akan menikah dulu....