
Mata Caleb terbelalak mendengar perkataan Grace. "Putus?"
"Ya." jawab Grace tanpa ada keraguan.
"Grace, kamu kalau bicara jangan sembarangan. Kamu tahu apa yang sudah terjadi diantara kita bukan sebuah permainan. Bukan sekedar pelampiasan napsu tapi rasa yang melibatkan perasaan cinta yang mendalam." Caleb memegang tangan Grace namun gadis itu menarik tangannya perlahan.
"Aku nggak bisa, kak. Aku nggak bisa bersamamu yang sifatnya sedikit egois dan posesif. Aku masih ingin bebas mengejar karir menariku. Dan aku juga tak bisa bahagia, jika Zelina tak bahagia." Kata Grace memberi tekanan diakhir kalimatnya.
"Jadi intinya semua tentang Zelina kan? Aku juga sedih melihat dia sakit. Aku ingin menghibur, menguatkan dan menemaninya. Namun bukan sebagai kekasihnya tetapi sebagai sahabatnya."
"Bibi Gracia mengatakan kalau pengobatan Zelina akan berjalan lancar kalau suasana hatinya juga baik. Apakah kakak setega itu pada Zelina? Buatlah dia bahagia, kak. Mungkin waktunya tak banyak."
Caleb mengusap wajahnya kasar. Ia menatap Grace dengan pandangan yang tajam. "Jadi, kau ingin aku membahagiakan Zelina? Bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana juga dengan perasaanmu? Apakah tidak kau pikirkan sama sekali?" Pekik Caleb sedikit jengkel dengan buah pikiran Grace.
"Dulu, kakak sempat akan memilih Zelina kan? Mengapa sekarang tak mencoba lagi? Aku yakin perasaan kakak pada Zelina akan kembali seperti dulu." Grace memperbaiki letak tali tas punggungnya yang melorot. Ia memberanikan diri menatap Caleb. "Aku mungkin egois, kak. Karena tak memikirkan perasaan kita berdua. Tapi apakah mewujudkan impian Zelina untuk menjadi pengantinmu adalah sesuatu yang sulit?"
Caleb akan bicara namun matanya dengan tajam mengawasi mobil Howie yang bergerak mendekati tempat di mana Grace dan dirinya berdiri.
Setelah mobil berhenti, Howie turun. "Hi baby!" Sapa Howie sambil mencium pipi Grace membuat Caleb langsung terbakar api cemburu. Ia mengepal kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.
"Kami pergi dulu, kak." pamit Grace.
"Pembicaraan kita belum selesai, Grace!" Kata Caleb pelan namun penuh penekanan.
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Semuanya sudah sangat jelas. Maafkan aku, kak." Grace langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya memang sudah dibukakan oleh Howie.
"Permisi!" Kata Howie lalu segera masuk juga ke dalam mobilnya.
Caleb memandang mobil Howie yang menjauh. Tangannya segera memukul kap mobilnya dengan rasa marah yang sangat kuat menekan dadanya. Caleb merasa kalau Grace sudah keterlaluan. Dengan rasa marah yang memuncak, masuk ke dalam mobilnya. Tangannya memukul stir mobil yang dipegangnya. Ia tak percaya kalau Grace mau mengahiri hubungan mereka.
**********
"Keegan?"
"Boleh aku masuk?"
Zelina tersenyum. "Tentu saja. Ayo!"
Keegan melangkah masuk sambil membawakan sekotak coklat dan sebuah bungkusan berwarna putih.
"Ini untukmu!" Keegan menyerahkan kotak yang berisi coklat di pangkuan Zelina saat mereka sudah duduk sambil bersisian.
__ADS_1
"Coklat dari Swiss? Bagaimana kamu bisa tahu kalau coklat ini kesukaanku?" Tanya Zelina lalu segera membuka kotak coklat itu dan menikmatinya satu buah. "Ehm.....enak sekali."
"Aku pernah melihat Caleb membawakan ini padamu waktu kita liburan ke Manado beberapa tahun lalu. Dan kamu langsung memakannya sampai habis hanya dalam hitungan satu jam."
Zelina tertawa. "Ah, itu waktu aku masih SMA. Coklat Swiss ini adalah kesukaanku. Rasanya enak. Nggak akan bosan aku memakannya. Terima kasih Keegan."
Keegab hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia senang karena Zelina kelihatan sangat menikmati coklatnya.
"Ini untukmu juga!"
Zelina membersihkan tangannya dengan tisue yang ada untuk membersihkan sisa coklat. Ia kemudian membuka kertas yang membungkus benda berbentuk segi empat itu.
"Oh...Keegan. Ini cantik sekali!" Pekik Zelina saat melihat lukisan dirinya. "Kau yang melukisnya?"
Keegan mengangguk.
"Aku tak percaya kalau bisa kelihatan cantik di lukisan ini." Guman Zelina sambil terus memandangi fotonya.
"Kamu lebih cantik dari lukisan itu." Kata Keegan lembut membuat Zelina menatapnya dengan senyum kesedihan.
" Lukisan ini terlihat cantik dari diriku sekarang. Wajah ini tersenyum dengan pipi sedikit gembul sementara aku yang sekarang, sudah kurus tak lagi bersinar." Zelina menunduk.
"Kau bisa kembali menjadi seperti yang ada di lukisan ini. Milikilah semangat untuk terus hidup dalam pengharapan, Zel. Aku yakin penyakitmu akan sembuh. Bukankah pengobatan di zaman sekarang sudah sangat canggih?" Keegan menyentuh tangan Zelina, membuat gadis itu meneteskan air matanya.
"Boleh aku memelukmu?" Tanya Zelina. Keegan mengangguk. Zelina langsung memeluk Keegan sambil menumpahkan air matanya.
"Maafkan aku, Keegan. Entah kenapa aku selalu jadi cengeng di hadapanmu." Kata Zelina setelah puas menangis. Ia menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya.
"Kau hanya butuh teman untuk menceritakan seluruh isi hatimu. Aku siap menjadi temanmu. Aku siap menjadi seseorang yang selalu kau butuhkan." Kata Keegan sambil menatap Zelina dengan seluruh rasa cinta yang dirasakannya. Zelina dapat memahami apa arti tatapan itu. Ia pernah melihatnya diberikan oleh Mark.
"Jangan Keegan!" Zelina menyentuh pipi Keegan. "Aku tak pantas kau cintai. Kita tak bisa bersama. Kau pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dariku."
Keegan memegang tangan Zelina yang masih memegang pipinya. "Aku mencintaimu tanpa melihat siapa dirimu. Cinta adalah cinta. Aku juga tak memintamu untuk membalas cintaku. Aku hanya meminta padamu, biarkan aku menyayangimu sampai dimana batas waktumu untuk ada bersamaku."
"Aku egois jika membiarkanmu menyayangiku. Cinta itu harus berbalas, Keegan. Kau tahu kalau hatiku sejak dulu hanya ada Caleb."
"Aku tahu. Dan aku tak akan cemburu saat kau bersamanya."
Zelina tersenyum haru. "Terima kasih. Biarkan aku menjadi teman terbaik untukmu."
"Baiklah." Keegan mendekat dan memberikan ciuman hangat di pipi Zelina. "Kau mau makan malam denganku?"
__ADS_1
"Bolehkah kita memasaknya saja? Aku pintar masak. Kebetulan tadi aku belanja ke supermarket."
Keegan mengangguk. Ia dan Zelina pun memasak bersama sambil bercanda bersama. Keegan bahagia. Walaupun ia tahu cinta Zelina tak ada untuknya namun dengan menjadi temannya saja, Keegan sudah sangat bahagia.
*********
Dengan kesal Caleb membanting pulpen yang ada di tangannya. Salah satu pengawalnya baru saja mengabarkan kalau Grace baru saja berangkat ke Jerman untuk mengikuti festifal dance. Grace sama sekali tak berpamitan padanya dan Grace berangkat bersama Howie.
"Ada apa, Caleb?" Tanya Joel yang sedang duduk dihadapannya. Keduanya sedang memeriksa beberapa laporan perkembangan mall dan hotel The Thomson.
"Kepalaku pusing."
"Mengenai Grace atau Zelina?"
"Aku sedih karena Zelina sakit. Namun hatiku sakit membayangkan Grace pergi ke Jerman bersama Howie."
Joel tersenyum. "Kau mencintai Grace dan mengasihi Zelina?"
"Grace meminta aku bersama Zelina karena gadis itu sakit. Namun aku tak bisa. Apalagi aku dan Grace sudah tidur bersama."
"Aow....jadi kau sudah tidak perjaka lagi?"
Caleb hanya tersenyum miris. "Aku hanya ingin bersama satu wanita saja seumur hidupku namun Grace membuatku galau. Dia minta putus."
"Ya kalau begitu penuhi saja maunya Grace."
"Aku tak bisa. Aku mencintai Grace."
Pintu ruangan Caleb diketuk. Monica masuk sambil membawa kopi untuk Caleb dan Joel.
"Caleb, di luar ada Keegan." Ujar Monica.
"Biarkan saja dia masuk."Imbuh Caleb.
Keegan masuk setelah Monica mempersilahkannya.
"Hai, Cal ! Hai Joel!" Sapa Keegan.
"Kalian berbincanglah." Ujar Joel lalu keluar meninggalkan Caleb dan Keegan berdua.
"Ada apa, Kee?" Tanya Caleb setelah meletakan berkas-berkas yang tadi dipegangnya.
__ADS_1
"Cal, aku mohon padamu, menikalah dengan Zelina. Penuhilah keinginan terakhirnya." Kata Keegan membuat Caleb sangat terkejut.
Akankah Caleb memenuhi keinginan Keegan??