
Hotel Thomson sudah memberikan pengumuman bahwa akhir bulan depan belum bisa menerima tamu karena hotel hanya akan melayani acara pihak keluarga The Thomson. Selama 10 hari, hotel akan dipakai untuk persiapan pernikahan Keegan dan Zelina. Namun pernikahan ini tidak disampaikan pada para pelayan hotel sampai pada hari H nya nanti.
Caleb dan Erland yang masih ada di Bali, akan membantu pelaksanaan pernikahan saudara mereka.
"Sayang, mengapa kamu belum menyentuh sarapannya?" Tanya Caleb saat masuk ke kamar dan menemukan kalau sarapan yang sudah disiapkannya belum disentuh oleh Grace. Caleb memang bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan Grace setelah itu ia lari pagi menyusuri pantai yang ada di sekitar hotel.
Grace yang sedang duduk di sofa sambil berselojor kaki, menatap suaminya. "Aku nggak mau makan sarapannya. Rasanya sedikit mual mencium bau roti, nasi goreng dan telur."
Caleb mendekat lalu duduk dipinggir sofa. Di pandanginya wajah Grace yang sedikit pucat. "Kamu harus makan sayang. Kasihan dede bayinya di perut."
"Aku memang lapar tapi maunya makan bubur ayam."
"Aku akan meminta koki restoran menyiapkannya."
"Aku ingin makan bubur ayam buatan bunda Faith."
Caleb tercengang. "Kan bubur ayam sama aja di mana-mana."
"Aku maunya buatan bunda." Grace memelas.
"Ok. Aku telepon kamar bunda sekarang."
Grace manahan tangan Caleb. "Aku malu."
"Jangan malu. Bunda pasti tak akan keberatan." Caleb berdiri dan melangkah menuju ke telepon yang ada di dekat ranjang. Ia menghubungi kamar daddy dan bundanya. Kebetulan yang mengangkat telepon adalah Faith.
"Bunda, menantu bunda ingin malan bubur ayam. Tapi buburnya harus buatan bunda sendiri. Boleh nggak?"
"Boleh, nak. Bunda ke dapur hotel sekarang juga." Kata Faith lalu segera menutup telepon.
Caleb memandang istrinya. "Bunda sudah ke dapur hotel. Kamu mau sarapan di kamar atau di restoran?"
"Di dalam kamar saja, kak. Aku nggak suka dengan sinar matahari. Bawaannya ingin muntah saja."
"Ok. Kalau begitu sambil menunggu bunda selesai membuat bubur ayamnya, aku mandi dulu ya?"
Grace mengangguk. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi Zelina.
"Hallo, Grace." Terdengar suara lembut Zelina dari seberang.
"Zel, kapan datang ke Bali?"
"2 minggu lagi."
"Pada hal aku sudah kangen."
Zelina tertawa. "Aku juga kangen dengan kalian. Maaf ya jarang memberi kabar soalnya aku nggak mau menganggu bulan madu kalian. Eh, bagaimana kabar jabang bayinya?"
"Baik. Nih lagi ingin makan bubur ayam. Tapi maunya bubur ayam buatan bunda Faith."
"Bubur ayam buatan bunda Faith memang paling enak."
Keduanya asyik bercerita sampai Grace tak melihat kalau suaminya sudah selesai mandi.
"Sayang, teleponan sama siapa?" Tanya Caleb yang baru selesai ganti baju.
"Sama Zelina." Jawab Grace yang baru saja mengahiri percakapannya dengan Zelina.
"Dia bilang apa?"
"Dia kangen dengan kita."
Caleb tersenyum. "Sebentar lagi dia akan merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan. Aku senang karena Zelina bersama Keegan."
__ADS_1
"Ya. Aku juga senang. Keegan adalah pria yang baik."
Grace akan bicara lagi namun tiba-tiba ia merasa mual. Ia bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
"Grace, jangan lari, nanti jatuh." Ujar Caleb lalu menyusul istrinya ke kamar mandi. Di lihatnya Grace berlutut di depan kloset.
Caleb mendekat. Ia mengusap pundak istrinya dengan penuh kasih. "Sudah sayang?"
Grace mengangguk. Ia perlahan berdiri, lalu mengambil tisue dan membersihkan mulutnya.
"Rasanya lemas kakiku." keluh Grace.
Caleb langsung memeluk tubuh Grace ala bridal style dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih, kak." Ujar Grace saat Caleb sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ini sudah tanggungjawabku. Kau tak perlu mengucapkan terima kasih." Kata Caleb lalu membelai wajah Grace.
Bel pintu terdengar. Caleb berdiri lalu membukanya. Ternyata Faith yang masuk bersama Ezekiel. Di tangan Ezekiel ada nampan berisi bubur dan teh manis.
"Bunda...daddy!" Sapa Grace lalu bangun.
"Hallo menantu bunda yang cantik. Nih, bunda sudah bawakan bubur ayam kesukaanmu."Kata Faith lalu mengambil nampan yang ada di tangan Ezekiel dan duduk di tepi tempat tidur.
"Mau bunda suapin?" Tanya Faith.
"Biar saja, bunda. Aku bisa makan sendiri."
Faith meletakan nampan itu di pangkuan Grace lalu membuka kaki lipat nampan itu sehingga tak langsung berada di pangkuan Grace.
Perempuan muda itu langsung menikmatinya dengan lahap.
Faith tersenyum bahagia saat melihat Grace menikmati buburnya dengan nikmat.
Sementara itu, Ezekiel dan Caleb berbincang di balkon kamar.
"Dad, apakah waktu bunda hamil aku dan Chloe, bunda juga mengalami hal yang sama seperti Grace?" Tanya Caleb.
"Nggak. Waktu bunda hamil, bunda sama sekali tak merepotkan siapapun. Mungkin karena waktu itu daddy dan bunda sedang ada masalah. Bunda begitu kuat dan teguh pendiriannya. Bunda hanya pernah punya keinginan makan bubur Manado. Waktu hamil Erland, bunda sempat mual dan muntah tapi nggak setiap hari. Minta makanan yang aneh-aneh pun tidak."
"Sedih melihat Grace yang selalu mual dan muntah."
"Itulah kodrat mereka sebagai perempuan. Tugas kita adalah mendampingi dan memberikan perhatian kepada mereka."
"Ya. Apapun keinginan Grace, aku akan berusaha mewujudkannya. Untung saja, aku punya bunda yang luar biasa."
Ezekiel tersenyum. Ia melihat ke dalam kamar. Menatap istrinya yang sementara berbicara dengan Grace. "Daddy pernah menyakiti bunda kalian namun dia memaafkan daddy dan tak pernah mengungkitnya sampai sekarang. Daddy selalu bersyukur, bertemu dengan bunda kalian di Bali ini. Cal, jangan pernah menyakiti Grace. Cintailah dia sampai maut memisahkan kalian."
"Iya, dad." Caleb pun menatap wajah bunda san istrinya secara bergantian. Terima kasih Tuhan, untuk dua wanita terbaik yang telah Engkau berikan didalam kehidupanku.
********
Tawa Grace Serafina langsung pecah saat mendengar cerita Meloddy kalau dia dan Erland belum melewati malam pertama mereka karena tamu bulanan Meloddy yang datang secara tiba-tiba. Mereka baru saja selesai makan malam dan sedang duduk di teras restoran sambil menikmati minuman hangat.
"Tak dapat kubayangkan betapa kecewanya wajah Erland." Ujar Grace diantara tawanya.
Caleb, Erland dan Joel yang sedang duduk di meja yang lain, langsung menoleh ke arah mereka.
"Kenapa Grace dan Serafina tertawa sangat keras ya?" tanya Caleb heran.
"Mungkinkah ada cerita lucu yang perlu juga kita tahu?" Tanya Joel ikut penasaran.
Erland menatap mereka. Ia tahu kalau istrinya yang cerewet itu pasti sudah menceritakan segala yang terjadi.
__ADS_1
"Mereka pasti tertawa mendengar cerita Meloddy tentang malam pertama kami." Erland akhirnya bercerita.
"Memangnya ada apa dengan malam pertamamu?" Tanya Joel heran.
"Kami belum melakukan malam pertama. Meloddy mendapatkan tamu bulanannya."
Sekarang gantian Erland dan Joel yang tertawa. "Jadi, kau belum berhasil menjebol pertahanan Meloddy? Wah, sungguh malang nasibmu, dude. Apakah mungkin itu sebagai hukuman bagimu karena sudah sering tidur dengan gadis lain?" Tanya Joel.
"Mana mungkin. Kamu sendiri pasti sudah tidur dengan banyak gadis kan?" Erland menatap Joel.
"Baru dua. Dan mudah2an ini yang terakhir." Kata Joel sambil menatap Serafina yang ternyata juga sedang menatapnya. Ia sangat senang ketika Serafina menerima cintanya. Joel menyadari bahwa dulu ia dan penyiar TV itu hanyalah obsesi semata. Namun dengan Serafina, ia merasa berbeda.
Grace yang duduk tiba-tiba saja berdiri.
"Ada apa Grace?" Tanya Meloddy.
"Kamu lihat tuan yang botak itu? Mengapa aku ingin sekali mengelus kepala botaknya ya?"
"Grace...!"
Grace tak memperdulikan panggilan Meloddy. Ia langsung mendekati seorang bule yang sedang duduk bersama keluarganya.
"Selamat malam. Tuan dan nyonya, perkenalkan namaku Grace Thomson. Aku baru saja menikah sekitar satu bulan yang lalu. Kini aku sedang hamil. Aku ingin sekali mengelus kepala tuan yang botak ini. Apakah boleh?"
Kedua anak mereka yang berusia sekitar 5 dan 8 tahun itu tertawa mendengar permohonan Grace.
Namun, istrinya tersenyum. Wanita itu tersenyum. "Boleh. Silahkan. Suamiku pasti tak akan marah."
Tuan itu pun tersenyum. Ia mengangguk.
Grace hampir saja melompat karena rasa senangnya. Tangannya langsung mengelus kepala bule itu.
Caleb terpana melihat apa yang Grace lakukan. Ia langsung berlari ke arah Grace.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Caleb langsung menarik tangan istrinya.
"Kak, ini bukan mauku. Anakmu ini yang ingin agar aku membelai kepala botak tuan ini." Grace jadi cemberut. Ia kembali mengelus kepala bule itu.
"Sayang....!" Caleb menjadi cemburu.
"Biar saja tuan Thomson. Begitu kalau wanita hamil. Kemauannya kadang tak masuk akal. Istriku saat hamil bahkan mencari pria berperut buncit untuk dielusnya." Kata bule itu diikuti anggukan istrinya. Caleb menatap Grace.
"Sayang, kan sudah. Ayo kita pergi!" Ajak Caleb.
"Nggak mau. Sedikit lagi!" rengek Grace sambil terus membelai kepala sang bule.
Caleb menahan rasa kesal dalam hati. Apalagi saat dilihatnya Meloddy, Serafina, Erland dan Joel tertawa di ujung sana. Ingin rasanya Caleb mengambil kain dan menyumbat mulut mereka.
Rasanya Caleb sangat tersiksa melihat istri tersayangnya justru mengelus kepala pria lain.
********
Saat Giani bangun pagi hari, ia terkejut melihat Caleb yang sedang duduk di atas sofa dengan kepala yang sudah dicukur.
"Kak, apa yang kamu lakukan pada rambutmu?" Tanya Grace bingung.
"Semalam aku sangat tersiksa oleh rasa cemburu karena melihatmu mengelus kepala botak pria itu selama hampir 30 menit. Makanya, pagi ini aku mencukur habis rambutku supaya kamu nggak perlu lagi mengelus kepala pria lain."
Grace mendengus kesal. "Kak, kenapa dibotakin kepalanya? Aku nggak suka. Karena sekarang aku ingin mengelus kepala pria gondrong."
Caleb terbelalak. Ia menggaruk kepalanya yang kini sudah gundul. Ya Tuhan, kenapa anakku selalu meminta sesuatu yang aneh????
Nah...ada pengalaman ngidam yang aneh?
__ADS_1
Boleh tulis di kolom komentar. 🤣🤣🤣