
Saat tangan Erland perlahan menarik tali gaun pantai Meloddy, kesadaran gadis itu tiba-tiba kembali. Ia mendorong tubuh Erland perlahan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Erland parau. Ia sudah terbakar gairah karena pesona yang dimiliki Meloddy. Gadis yang sudah dikerjarnya sejak ia berusia remaja. Erland sudah mematikan CCTV melalui tombol yang ada di dekat sofa. Ia tahu CCTV di rumah ini terhubung di ponsel kepala keamanan keluarga Thomson dan juga di ponselnya Caleb.
"Aku belum pernah melakukannya. Lagi pula, status kita apa sampai harus melakukan ini?"
"Maaf!" Erland menjauhkan tubuhnya yang masih berada di atas Meloddy. Ia duduk sambil mengusap wajahnya perlahan. Ada rasa terkejut saat mendengar pengakuan Meloddy. Gadis berusia 25 tahun itu masih perawan? Bukankah selama ini Meloddy punya beberapa pacar yang membuat Erland harus menahan rasa cemburu di hatinya saat melihat mereka berciuman? Apakah Meloddy memegang prinsip hanya akan tidur dengan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya?
Meloddy pun duduk sambil memperbaiki letak gaunnya yang sedikit berantakan. Ia memang sangat terbuai dengan sentuhan Erland. Ia juga menginginkan sentuhan itu. Namun, bagaimana mungkin dia akan menyerahkan dirinya pada seseorang yang bukan siapa-siapanya?
"Aku minta maaf. Aku tak bermaksud kurangajar padamu. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja yang sangat senang karena kau tidak menolakku seperti biasanya." Kata Erland sambil menatap Meloddy yang duduk di sampingnya.
Meloddy pun mencoba menatap Erland. Pria yang selama ini selalu dianggapnya sebagai anak kecil. Pria yang sejak dulu memang selalu mengejarnya dan memberikan perhatian lebih padanya. Namun pria ini juga yang sudah mengabaikannya selama beberapa bulan ini.
"Memangnya kau mencintaiku?" Meloddy akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Erland terkejut. "Apakah perhatian dan selama ini tidak menunjukan bahwa aku mencintaimu?"
"Kau masih saja bersama dengan gadis lain."
"Itu karena kau selalu menolakku. Selalu mengatakan kalau aku anak kecil. Aku melampiaskannya kepada gadis-gadis itu. Aku menjadi pria yang dijuluki play boy karena aku tak bisa memenangkan hatimu." Kata Erland dengan nada yang berat. Ia tahu kalau caranya salah. Namun ia tak tahu bagaimana harus membuang segala rasa kesalnya karena selalu ditolak oleh Meloddy.
"Tapi, mengapa selama beberapa bulan ini kau sama sekali tak memperdulikan aku?"
Erland menggeser duduknya sehingga sangat berdekatan dengan Meloddy.
"Kau merasa kehilangan?"
"Sepertinya."
"Mengapa sepertinya? Seharusnya kau bilang iya. Aku juga sebenarnya merasa sangat tersiksa sehari saja tak menggodamu." Erland meraih tangan Meloddy. Digenggamnya erat. "Mel, maukan menjadi calon istriku?"
"Calon istri?" Meloddy terkejut.
"Iyalah. Aku sudah lama menunggu kamu. Masa harus pacaran lagi. Nggak seru!"
Meloddy memandang Erland. Mata grey itu menatapnya juga tanpa berkedip. Ia tahu kalau Erland tidak bohong.
"Kamu tahu arti permintaanmu itu?" Tanya Meloddy.
"Ya. Aku mau kalau kita cepat menikah."
"Erland, usiamu baru 23 tahun." Meloddy menghempaskan tangan Erland lalu segera berdiri dan membelakangi Erland.
"2 bulan lagi aku akan genap berusia 24 tahun. Apanya yang salah?" Erland tiba-tiba membalikan tubuh Meloddy agar gadis itu kembali menatapnya.
"Tapi itu masih terlalu muda bagi seorang laki-laki untuk menikah, Er. Aku takut nanti kamu akan bosan dan akhirnya meninggalkan aku." Meloddy tertunduk.
"Hei, kamu meragukan aku?" Erland memegang dagu Meloddy dan memaksa kembali gadis itu untuk menatapnya. "Aku mencintai kamu Meloddy Kim. Haruskah aku sekarang ke Korea untuk memintanya secara langsung kepada paman Edward dan bibi Lerina? Lagi pula dalam keluarga Thomson tidak ada istilah perceraian"
"Tapi Er, aku belum berencana akan menikah dalam waktu dekat ini."
"Kalau begitu kita tinggal bersama saja."
"Itu tidak ada dalam kamusku!" Meloddy menggeleng. "Ibuku akan marah jika aku tinggal bersama dengan seorang laki-laki tanpa ada ikatan."
"Ya kalau begitu menikah saja."
"Er.....!" Meloddy kehilangan kata-kata.
"Menikalah denganku, sayang. Aku tak mau kita terpisah lagi. Kita sudah sejak kecil saling mengenal. Kalau pacaran hanya buang waktu saja."
Meloddy tersenyum. "Jadi aku dilamar?"
"Iyalah. Aku langsung melamarmu sekarang!"
__ADS_1
"Terus mana cincinnya?"
Erland menggaruk kepalanya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Tunggu sebentar sayang!" Erland mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
***********
Caleb dan Grace yang sedang berciuman terpaksa harus melepaskan ciuman mereka saat ponsel Caleb dan Grace secara bergantian berbunyi terus.
"Siapa sih?" Caleb bangun dari ranjang dan meraih ponselnya. Ternyata Erland yang meneleponnya.
"Siapa, kak?" Tanya Grace dan ikutan bangun sambil mengaitkan kembali kancing kemejanya yang sudah terbuka karena ulah Caleb. Sebenarnya Grace bersyukur karena ponsel mereka berbunyi. Jika tidak, pasti ia sudah berada dibawah Caleb sambil saling menuntaskan hasrat yang sudah terpendam selama 3 tahun ini.
"Erland!" Caleb menggeser tombol hijau di ponselnya. "Ada apa, Erland?"
"Kalian sengaja mempertemukan aku dan Meloddy kan?"
Caleb tertawa. "Kau seharusnya berterima kasih padaku dan Grace. Sudah selesai bermesraannya? Atau kalian sudah buka-bukaan baju?"
"Meloddy nggak mau."
"Wah, harga dirimu sebagai play boy jatuh dong."
"Meloddy ingin aku mengsahkan hubungan kami dulu. Makanya aku minta agar kakak dan Grace mencarikan aku cincin terbaik saat ini juga. Karena aku ingin melamarnya malam ini juga."
"Kamu serius akan menikah di usia semuda ini?"
"Aku serius, kak."
"Baiklah."
Caleb memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. "Sayang, kita cari cincin, yuk."
"Cincin untuk apa?"
Grace terpana. Ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Erland gerak cepat juga, ya?"
"Ayo!" Caleb mengulurkan tangannya. Grace menyambutnya dengan penuh rasa sayang.
***********
Erland meminta Daddy, bunda, Chloe dan Erhan untuk menonton siaran langsung yang akan dilaksanakannya melalui akun instagramnya. Ia juga menghubungi Edward Kim dan Lerina yang ternyata sedang berada di London dalam rangka mengunjungi anak mereka dan akan menghadiri pernikahan Grace dan Caleb.
"Ada apa, Erland?" Tanya Edward.
"Paman dan bibi boleh nggak setengah jam lagi menonton siaran langsung yang akan saya buat? Soalnya ada Meloddy di dalamnya."
"Iya. Meloddy tadi pamit mau pergi ke rumah pantai bersama Grace dan Caleb."
"Pokoknya paman dan bibi lihat ya?"
"Jadi penasaran. Baiklah Erland."
Erland segera keluar dari kamar. Ia mengenakan celana kain berwarna hitam dan kemeja berwarna biru, lengan panjang. Ia melihat kakaknya sudah ada di ruang tamu sambil menikmati bir kaleng.
"Kak, nih ponsel aku."
"Yakin mau direkam?"
"Iya. Supaya para pria yang naksir dan mengangumi pianis cantik itu harus segera mundur."
"Keluarga Thomson memang sangat posesif dengan apa yang dimilikinya." Ucap Caleb sambil menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Grace dan Meloddy keluar dari kamar. Meloddy sangat cantik dengan gaun berwarna biru muda. Kemeja dan gaun yang dipakai Meloddy dan Erland memang disiapkan oleh Grace.
__ADS_1
"Waw, kau sangat cantik sayang!" Erland langsung mendekat dan memeluk Meloddy.
"Malu sama Grace dan Caleb." bisik Meloddy saat Erland akan menciumnya.
"Mereka juga biasa berciuman di depan aku?" ujar Erland sambil menatap Grace dan Caleb yang sedang menatap mereka berdua.
Wajah Meloddy jadi merona.
Erland segera memberi kode pada Caleb dengan matanya. Setelah itu ia menarik tangan Meloddy untuk ada ditengah-tengah ruangan.
"Ada apa?" Tanya Meloddy heran karena Erland memberikannya setengkai bunga mawar.
"Meloddy, aku sudah jatuh cinta padamu sejak usiaku 14 tahun. Itu berarti hampir 10 tahun aku mengejar cintamu. Kamu selalu menolakku, menghindariku bahkan menganggap aku sebagai anak kecil. Kini, aku sudah berusia hampir 24 tahun. Aku nggak mau main-main lagi. Aku ingin serius dengan kamu." Erland tiba-tiba berlutut. Ia mengambil kotak kecil berwarna merah dari dalam kantong kemejanya dan membukanya. "Maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi tua bersamaku? Maukah kamu menjadi ibu bagi anak-anakku?"
Air mata Meloddy jatuh tanpa bisa ditahannya. "Erland, aku memang pernah menganggapmu sebagai anak kecil. Namun cintamu, perhatianmu dan kasih sayangmu yang tulus padaku membuat aku sebenarnya sudah lama jatuh hati padamu. Aku hanya gengsi saja untuk mengakuinya."
"Jadi?"
"Aku mau, Erland. Aku mau menikah denganmu, menjadi tua bersamamu dan melahirkan anak-anakmu."
Erland memasukan cincin itu di jari manis Meloddy. Lalu ia berdiri dan mencium gadis yang sudah resmi menjadi tunangannya.
Setelah ciuman itu berakhir, Edward menatap ke arah kamera handphone yang masih dipegang Caleb. "Bunda....Erland boleh menikah muda kan?"
Di kediaman kekuarga Thomson, Fairy terkejut melihat lamaran Erland terhadap Meloddy. "Ya Tuhan, Eze. Anak itu sungguh gila. Dia melamar Meloddy dan melaksanakan siaran langsung di dunia maya? Seharusnya kita yang ke Korea untuk bertemu dengan Edward Kim dan Lerina Kim."
Ezekiel tersenyum. "Erland hanya ingin menunjukan pada banyak orang, kalau Meloddy adalah miliknya sekarang ini."
"Dasar posesif." Ujar Faith. Ia menatap Chloe yang terlihat menahan rasa sakit.
"Chloe, kamu kenapa?" Tanya Erhan yang duduk di sampingnya.
"Perbuatan Erland membuatku terkejut. Dan sepertinya aku mengalami kontraksi, bunda. Perutku sakit" kata Chloe yang membuat semua langsung panik.
"Erhan, siapkan mobil, kita harus membawa Chloe ke rumah sakit." teriak Ezekiel lalu segera mengambil mantel dan memakaikannya pada Chloe. Faith meminta pelayan untuk menjaga Filistia, anak pertama Chloe yang sedang ada di kamarnya. Ia segera memegang tangan Chloe dan menuntunnya keluar.
*******
Di sebuah apartemen, Edward Kim nampak berdiri di depan jendela kaca sambil memandang hujan yang masih turun.
Lerina mendekat lalu memeluk lengan suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan, Ed?"
Edward menarik napas panjang. Ia lalu berkata dengan perasan yang sangat berat. "Aku tidak akan mengijinkan Meloddy menikah dengan Erland."
"Kenapa?"
"Sayang, kau tahu sifat manja, cengeng dan kekanakannya Meloddy. Erland masih muda. Apakah mungkin mereka bisa menjadi pasangan yang bertahan sampai maut memisahkan?"
"Tapi sayang, Meloddy menyukak Erland."
Edward menggeleng. "Aku tak mau Meloddy gagal dalam pernikahannya."
"Jadi?"
"Aku akan mengirim Meloddy ke Indonesia."
Lerina terkejut. Ia tahu Meloddy adalah kesayangannya Edward. Bisakah Meloddy mengikuti keinginan Edward?
So...bagaimana ya????
Jangan lu
jangan lupa like, komen dan vote ya
__ADS_1