
Sentuhan di pipi Zelina membuat gadis itu terbangun. Ia terkejut menemukan dirinya yang justru tertidur nyenanyak di samping Caleb.
"Aduh, kenapa justru aku yang ketiduran ya?" Zelina zedikit malu. Caleb hanya tersenyum melihat pipi Zelina yang merona apalagi saat dilihatnya Fairy ada di sana.
"Bangunlah, nak. Ini sudah hampir jam 9 malam. Kau harus makan supaya penyakit maagmu tidak kambuh lagi." Ujar Faith.
"Maaf ya, bi. Aku kan seharusnya menjaga Caleb. Kenapa justru aku yang ketiduran ya?" Zelina terkekeh. Lalu perlahan turun dari tempat tidur Caleb.
"Mungkin karena obat yang kau minun. Tadi temanmu Mark kembali untuk membawa obatmu yang ketinggalan di mobilnya." Fairy menunjukan kantong plastik berwarna putih yang ada di atas nakas.
"Astaga, aku sampai tak tahu kalau obatku ketinggalan. Aku ke kamar mandi dulu ya?" Imbuh Zelina lalu segera melangkah ke kamar mandi.
"Caleb, apa kamu juga akan makan sekarang?" Tanya Faith.
"Bersama Zelina saja."
Faith tersenyum. "Bunda senang melihatmu semakin dekat dengan Zelina."
"Zelina gadis baik, bun. Aku menyayanginya."
"Dan Grace?"
"Aku menghargai keputusannya untuk bersama Howie. Bunda benar, sebaiknya aku segera mengambil keputusan." Ujar Caleb walaupun agak sesak di dadanya. Sungguh, melepaskan Grace bagaikan melepas sebagian kenangan dalam hidupnya.
"Yakinkan hatimu secara benar sebelum kau menyatakan perasaanmu pada salah satunya." Faith tahu anaknya menyayangi kedua gadis itu.
Pintu kamar mandi terbuka. Zelina keluar dengan wajah segar setelah ia membasunya dengan air. Rambutnya pun kembali rapih.
"Ayolah makan, nak!" Ujar Faith sambil menunjukan makanan yang sudah disiapkannya di atas meja.
"Dan Caleb?" Zelina menatap Caleb.
"Aku juga akan makan." Imbuh Caleb.
"Aku akan menyuapimu." Kata Zelina lalu mengambil nampan yang berisi makanan Caleb.
"Tidak perlu, Zel. Aku bisa makan sendiri." tolak Caleb.
"Aku akan makan, kalau kamu sudah makan. Kan yang sakit adalah kamu." Zelina tak peduli dengan penolakan Caleb. Ia segera mendekati ranjang Caleb dan duduk di tepi ranjang. "Ayo buka mulut!"
Caleb terharu melihat perhatian Zelina. Ia yang duduk sambil bersandar di kepala ranjang segera membuka mulutnya. Mungkin pilihanku sudah benar. Aku harus bersama, Zelina.
Faith diam-diam meninggalkan kamar perawatan anaknya. Ia berpapasan dengan Ezekiel yang baru saja datang.
"Sayang, mau kemana?"
Faith tersenyum menatap suaminya. "Memberi ruang bagi Caleb dan Zelina untuk bersua. Ayo duduk sini!"
Keduanya duduk di sofa yang tersedia di depan ruang tunggu kamar Caleb.
"Kamu capek?" Tanya Faith sambil melingkarkan tangannya dilengan suaminya.
"Ya. seharian di tempat lokasi pembangunan hotel. menyelesaikan masalah dengan pihak pekerja menyangkut bahan yang digunakan. Pokoknya pusing." Ezekiel menatap istrinya. "Namun melihat dirimu aku jadi senang. Rasa lelahku hilang."
"Kau masih seperti dulu. Selalu merayuku jika ada maunya."
Ezekiel terkekeh. "Ah, kau tahu kalau sekarang aku lagi butuh sentuhanmu."
Faith memukul pundak suaminya dengan wajah merona. "Dasar kamu!"
"Kita sudah bertahun-tahun menikah dan kau masih selalu tersipu saat aku menggodamu?" Ezekiel mengecup bibir istrinya dengan gemas.
"Ehm...!"
__ADS_1
Ezekiel dan Faith menoleh ke sumber suara itu. Terlihat Erland sedang bersandar di dinding sambil bersedekap.
"Erland? Sejak kapan kamu di situ?" Tanya Ezekiel.
"Sejak daddy bilang ke bunda kalau daddy butuh sentuhan. Astaga, dad. Ini kan di rumah sakit?" Erland menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum menggoda lalu melangkah duduk di samping bundanya.
"Dasar tukang nguping!" Faith menarik hidung mancung putranya.
Erland hanya terkekeh. "Bunda sama daddy pulang saja. Biar aku yang menjaga kakak. Kan besok jadwal kuliahku nanti siang. Bunda pasti capek seharian ada di sini dan daddy pasti lelah karena seharian bekerja. Kalian butuh untuk saling bersentuhan."
Ezekiel dan Faith tertawa mendengar perkataan putra bungsu mereka. Erland memang berbeda dengan kedua kakaknya. Ia selalu menggoda mereka setiap kali menemukan Ezekiel dan Faith saling bermesraan.
"Aku masuk dulu ya." Kata Erland sambil berdiri.
"Eh..., jangan dulu masuk!" Kata Faith sambil menarik tangan Erland supaya duduk kembali.
"Kenapa bunda?"
"Kakakmu sedang makan bersama Zelina. Biarkan mereka bersama dulu. Sekarang kamu duduk di sini dan ceritakan pada bunda mengenai pacar-pacarmu yang banyak itu."
Ezekiel mengerutkan dahinya. "Memangnya kamu sudah berhenti mengejar Meloddy Kim?"
Erland menggaruk kepalanya. "Sepertinya dia lebih tertarik pada sepupuku Joel. Dia selalu bilang kalau aku hanya anak kecil."
Faith mengangguk. "Ya sudah. Lupakan Meloddy. Lalu si Laura, Abel, Salsabila? Mana yang kau pilih?"
Erland hanya tertawa. " Mereka semua yang mendekatiku, bunda."
"Jangan mempermainkan wanita, nak. Kau akan merasakan akibatnya nanti." Kata Faith sambil membelai kepala anaknya. Erland hanya cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
**********
Mobil Howie berhenti di depan lobby mansion rumah keluarga Aslon. Cowok itu langsung turun lebih dulu dan membukakan pintu bagi Grace. Hari ini sepulang dari menjenguk Caleb, keduanya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan makan malam bersama. Howie sangat bahagia karena Grace tak lagi bersikap kaku malahan semakin terbuka padanya.
"Terima kasih untuk jalan-jalannya dan makan malamnya. Aku senang karena kau mau makan di restoran kecil pilihanku." Kata Grace.
"Aku juga senang hari ini, Grace. Apakah besok kita bisa keluar bersama lagi? Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kembali ke tempat latihanku." Tanya Howie penuh harap sambil menatap manik hitam itu dengan rasa cinta yang dimilikinya.
"Besok aku ada kuliah sampai jam 2 siang."
"Kalau begitu aku akan menjemputmu jam 2 siang di kampusmu."
Grace tak ingin mengecewakan Howie. "Baiklah. Aku akan menunggumu besok."
Howie tersenyum senang. "Wah, aku senang. Tak sabar menunggu besok."
"Aku masuk dulu ya?"
"Eh..." Howie menahan tangan Grace. "Bolehkah aku menciummu?" Tanya Howie pelan.
Grace menekan salivanya. Ia bingung apakah akan mengijinkan atau menolaknya. Ia justru ingat dengan ciuman Caleb yang membuat seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.
"Maaf jika aku meminta sesuatu yang tak kau sukai. Selamat malam." Howie melepaskan tangan Grace. Ia melangkah ke mobilnya.
"Aku mau."
Langkah Howie terhenti. Ia segera membalikan badannya dan menatap Grace.
"Sungguh?" Tanyanya untuk meyakinkan dirinya. Ia tak mau Grace menganggapnya pria mesum.
Grace mengangguk.
Howie mendekati Grace. Ia menangkup pipi Grace dengan kedua tangannya, perlahan Howie menunduk dan mencium bibir Grace. Walaupun ia merasa kalau Grace agak kaku menerima ciumannya, namun Howie senang karena Grace mengijinkannya menciumnya.
__ADS_1
"Selamat malam, Grace."
"Selamat malam, Howie." Grace melambaikan tangannya sebelum Howie berlalu dengan mobilnya. Gadis itu melangkah masuk ke dalam mansion. la segera menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar, Grace menatap wajahnya ke cermin. Ia meraba bibirnya yang dicium oleh Howie. Mengapa ia merasa kalau ciuman Howie hambar saja? Mengapa sangat berbeda saat Caleb menciumnya?
Tangan Grace memegang anting-anting yang masih dipakainya. Haruskah ia melepaskannya? Bukankah Howie adalah lelaki yang baik. Bukankah lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita?
Grace menggeleng. Sungguh berat rasanya membuang semua kenangan manisnya bersama Caleb.
"Kak, apakah kau sudah memilih Zelina? Mengapa hatiku seakan tak rela melepaskanmu bersamanya?" guman Grace perih.
*********
Caleb sudah diijinkan pulang ke rumah walaupun ia belum diijinkan untuk menggunakan kaki kirinya untuk berjalan. Caleb masih dibantu dengan tongkat. Ia tak mau menggunakan kursi roda.
Grace seperti hilang dari peredaran. Gadis itu sama sekali tak pernah datang lagi ke rumah sakit, tak menelepon ataupun sekedar mengirim pesan. Berita tentang kedekatannya dengan Howie ramai diperbincangkan. Tentang kencan mereka, saat makan malam, jalan-jalan ataupun saat Howie menjemputnya di kampus.
Hati Caleb sakit saat melihat foto-foto kebersamaan mereka. Namun Caleb berusaha memadamkan rasa cemburunya. Ia yang begitu posesif dulu pada Grace, kini harus menekan semua rasa yang dimilikinya. Caleb akan menjalani harinya bersama Zelina, walaupun ia sendiri belum berani meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya.
Hari ini Caleb berulang tahun yang ke-23. Semua saudara dan teman datang merayakannya, kecuali Grace. Ia hanya memberikan ucapan selamat lewat pesan singkat. Itu bahkan pesannya yang pertama setelah hampir satu bulan Caleb keluar dari rumah sakit. Caleb rindu pada Chloe. Ia rindu berbincang dengan saudara kembarnya itu.
*********
PARIS...
Di apartemennya, Chloe termenung sendiri. Ia sedih karena momen ulang tahunnya dilewatinya sendiri. Erhan bahkan tak menghubunginya satu hari ini. Kemarin Erhan hanya mengirim pesan bahwa ia tak bisa datang ke Paris karena ada badai salju di London.
Beberapa jam yang lalu, ia menerima videocall dari keluarganya. Mereka sangat ramai di sana dalam perayaan ulang tahun dirinya dan Caleb. Ia bahkan melihat bundanya sempat menangis karena Chloe tak ada dalam perayaan ulang tahun mereka.
Pintu apartemennya di buka dari luar. Chloe yang sedang duduk di depan meja makan menoleh dengan kaget. Bukankah yang tahu kode masuk ke apartemennya hanya Erhan.
"Hallo sayang.....!" sebuah suara yang sangat Chloe rindukan terdengar.
Chloe langsung berlari dan memeluk pria yang sangat dirindukannya itu.
"Kamu jahat! Katanya tak bisa datang karena ada badai salju. Ponselmu juga sama sekali tak bisa dihubungi sepanjang hari ini." Chloe menangis dalam pelukan Erhan.
Pria tampan itu tersenyum. Ia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Chloe dengan ibu jarinya.
"Kejutan!" ucapnya lembut lalu mencium dahi gadis yang sangat dicintainya itu.
"Aku masih kesal!" Wajah Chloe tetap cemberut.
Erhan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak berwarna merah. Erhan membuka kotak itu. Ia berlutut di hadapan Chloe dengan satu kaki yang ditekuk.
"Selamat ulang tahun, sayang. Maukah kau menikah denganku?"
Air mata Chloe langsung jatuh tanpa bisa di tahannya. Ia mengangguk. "Aku mau, sayang." Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Erhan memasukan cincin itu ke jari manis Chloe. Lalu ia berdiri dan langsung mencium bibir manis kekasihnya dengan rasa bahagia di hatinya. Ia senang Chloe menerima lamarannya. Ia berjanji akan meyakinkan Ezekiel dan Faith untuk menerimanya sebagai menantu. Karena ia sangat mencintai gadis dari keluarga Thomson ini.
"Aku sangat merindukanmu, sayang" bisik Erhan dengan nada sensual. Chloe tersenyum dengan dada yang berdebar. Ia mengerti dengan ucapan kekasihnya itu.
************
Grace berdiri di depan gerbang mansion keluarga Thomson. Di tangannya ada sebuah hadiah yang disiapkannya untuk Caleb. Haruskah ia masuk dan memberikannya pada Caleb? Ataukah ia titipkan saja pada penjaga pintu?
Gadis itu masih berdiri di samping mobilnya. Salju yang turun seakan tak membuatnya bergeming.
Sementara itu di dalam mansion, Caleb melanglah ke ruang kontrol CCTV untuk memanggil penjaganya makan malam. Namun penjaga tak ada di sana. Caleb hampir saja membalikan badannya saat matanya menatap salah satu layar TV. Itukan Grace? Apa yang dilakukannya dengan berdiri di luar saja?
Terima kasih sudah membaca part ini.
__ADS_1
Maaf ya jika alurnya dianggap lambat dan bertele-tele. Aku hanya ingin mengajak pembaca untuk mengerti situasi diantara Zelina, Caleb dan Grace. Tidak mudah menentuntukan pilihan hati dan tidak gampang menghilangkan cinta yang sudah tumbuh sejak kecil.
Jangan lupa like, komen dan vote ya