
Mobil Chloe yang yang dikendarai Caleb berhenti di depan gerbang rumah Grace. Caleb sudah berulangkali menelepon Grace namun ponsel gadis itu tak juga aktif. Makanya Caleb memutuskan untuk mendatangi rumah Grace.
Ben sendiri yang membukakan pintu untuk Caleb.
"Caleb?"
"Selamat siang, paman. Bolehkah aku bertemu dengan Grace?"
Ben mempersilahkan Caleb dan duduk di ruang tamu.
"Bukankah hari ini kamu menikah? Lalu kenapa kamu ada di sini?" Tanya Ben tajam. Ia memang kesal pada Caleb mengingat semalam Grace menangis tanpa bicara apapun. Namun Ben tahu kalau putrinya itu sangat terluka.
"Aku dan Zelina tak jadi menikah. Zelina sudah pergi ke Amerika."
"Jadi, karena Zelina meninggalkanmu lalu sekarang kau mau mengejar Grace lagi? Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengganggu anakku lagi. Grace sudah cukup terluka dengan semua yang kau lakukan padanya." Tegas Ben sambil menggeleng.
"Aku tahu, paman. Tapi Grace juga yang meminta aku untuk menikahi Zelina. Gadis itu sakit. Kami hanya mencoba untuk mewujudkan mimpinya Zelina. Aku juga sangat terluka. Aku mencintai Grace!"
"Selama ini aku diam. Tak mau campur dengan masalah antara kau, Grace dan Zelina. Tapi kali ini aku akan bicara! Kau tahu kalau Grace adalah hidupku. Grace adalah putri kesayanganku. Dan aku tak mau anakku terluka lagi. Jadi, biarkan Grace bersama Howie."
Caleb menggeleng frustasi. " Paman, aku mencintai Grace. Aku tahu kalau Grace juga mencintaiku. Perasaan ini sudah tumbuh semenjak kami kecil. Aku tak mau melepaskannya."
Ben tersenyum sinis. " Kalau kau tak mau melepaskannya, maka aku yang akan meminta Grace melepaskanmu. Sadarlah, Caleb, semua kesulitan yang kalian berdua alami sebagai bukti bahwa Grace bukan untukmu. Tak selamanya cinta pertama itu akan menjadi cinta yang terakhir."
"Paman, biarkan aku bertemu dengan Grace!" Mohon Caleb.
"Grace sudah ke bandara, Caleb. Ia sudah menandatangani kontrak dengan sebuah club dance di Amerika selama 3 tahun. Anakku memutuskan untuk pergi dengan semua luka hatinya. Kalau kau memang mencintainya, kejar dia. Buat dia membatalkan semua ide gilanya itu." Maura tiba-tiba muncul dengan deraian air matanya. Ben terkejut karena istrinya membuka rencana Grace untuk pergi.
"Terima kasih bibi!" Kata Caleb lalu segera pergi meninggalkan ruang tamu.
"Mengapa sayang? Mengapa kau katakan pada Caleb? Bukankah Grace meminta kita untuk merahasiakannya?" Tanya Ben kesal.
"Ben, dulu kita pernah terpisah karena keegoisan kita berdua. Aku tak ingin Grace dan Caleb menjadi seperti itu. Mereka saling mencintai. Aku juga tak mau anakku pergi. Kau dengar apa yang dia katakan tadi? Dia tak akan pernah pulang selama 3 tahun. Aku tak sanggup berpisah dengan anakku selama itu. Aku tak mau." Ujar Maura diantara isak tangisnya.
Ben langsung memeluk istrinya. Ia juga sebenarnya tak rela jika anaknya pergi. Namun Ben ingin Grace mengobati luka hatinya karena ditinggalkan oleh Caleb.
"Maafkan aku sayang!" Kata Ben sambil memeluk istrinya. Gionino dan Gabrian saling berpandangan. Mereka juga sedih karena kakak mereka memilih pergi karena patah hati.
"Makanya, kamu jangan dulu jatuh cinta. Lihat ujung-ujungnya pasti patah hati jika cinta tak berbalas." Kata Gionino pada adiknya yang kini berusia 13 tahun.
__ADS_1
"Makanya kalau jatuh cinta jangan dulu diberikan semuanya pada orang itu supaya kalau patah hati, nggak terlalu sakit rasanya."Kata Gabrian sambil tersenyum.
Gionino menatap adiknya tak percaya. "Memangnya kamu sudah pernah pacaran?"
"Ya. Sekarang aku sudah bersama dengan pacarku yang ketiga eh..., keempat kayaknya."
Gionino semakin terpana. "Kamu pacaran sudah sebanyak 4 kali?"
"Gabrian, jangan jadi playboy. Nanti banyak gadis akan tersakiti." Kata Ben yang sudah ada di belakang kedua putranya sambil tersenyum.
"Dad, aku nggak play boy. Setiap pacaran, pacarku hanya satu. Kalau daddy kan dulu kata oma pacarnya banyak. Kalau nggak salah mommy ada pacar daddy ke 301." Ujar Gabrian membuat Maura tertawa.
"Oma kayaknya salah menghitung. Mommy adalah pacar daddy yang ke-302." ujar Maura membuat semua yang ada di sana langsung tertawa.
Walaupun mereka bersedih karena Grace sudah pergi, namun mereka akan selalu saling menguatkan. Maura bahkan berharap kalau Caleb dapat menahan Grace untuk membatalkan rencananya menetap di Amerika.
**********
Caleb berlari memasuki bandara dengan jantung yang berdetak cepat. Ia tak mau sampai Grace terlanjur pergi tanpa bisa dicegahnya.
Caleb mencari ke ruang tunggu keberangkatan. Ia sudah membaca di papan informasi kalau keberangkatan ke Amerika masih 30 menit lagi.
Caleb hampir putus asa. Ponsel Grace belum juga aktif. Sampai akhirnya ia melihat Grace yang sedang menarik kopernya, hendak memasuki ruang khusus penumpang.
Grace menoleh dengan kaget. Ia terkejut melihat Caleb yang menemukannya di tempat ini.
"Jangan pergi, Grace !" Caleb memegang bahu Grace namun gadis itu mundur beberapa langkah.
"Maaf, Caleb. Aku harus pergi!"
"Tapi Grace, bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan hubungan kita? Aku mencintaimu."
Grace tersenyum. "Aku tahu kalau kau mencintaiku. Aku juga mencintaimu, kak. Namun aku tak bisa membatalkan kontrak yang sudah kutandatangani. Aku harus pergi."
"Aku akan menyusulmu ke sana."
"Jangan, kak. Aku pergi untuk menguji perasaanku sendiri. Apakah aku mencintaimu ataukah aku hanya sekedar sayang padamu. Mari kita berpisah baik-baik, kak. Biarkan waktu yang akan menguji cinta kita. Selama 3 tahun aku di Amerika, aku pun membebaskan dirimu untuk mencoba dekat dengan gadis manapun juga. Jika ternyata ada orang lain yang bisa membuatmu nyaman, aku merelakan dia untukmu. Kau juga jangan melarang aku untuk dekat dengan orang lain. Kalau ternyata selepas 3 tahun dan kita tidak bisa dekat dengan siapapun, aku ingin ketika aku pulang, kita akan memulai lagi dari awal. Bagaimana?"
"Tidak, Grace!" Caleb memeluk Grace dengan erat. "Aku mohon padamu, jangan pergi!"
__ADS_1
Untuk sesaat Grace membiarkan Caleb memeluknya erat. Namun tangan Grace sendiri hanya diam tak bergerak. Sampai akhirnya panggilan bagi para penumpang kembali terdengar. Grace pdrlagan mendorong tubuh Caleb. "Kak, sudah panggilan terakhir. Ijinkan aku pergi." Kata Grace.
"Tidak, Grace." Sudut mata Caleb sudah basah dengan air matanya. Ia hancur, merasa sakit dan kecewa.
Grace mengecup bibir Caleb dengan sangat lembut. "Aku akan mengejar mimpiku, kak. Menjadi seorang penari. Kakak tahu mimpiku itu kan? Jadi sekarang biarkan aku pergi."
Air mata Caleb jatuh membasahi pipinya. Ia kembali mendekap Grace dengan sangat erat. "I love you, Grace. I will be waiting for you."
Grace tersenyum. "I love you too." Lalu Grace segera menarik kopernya. Meninggalkan Caleb yang masih memandangnya dengan harapan kalau gadis itu akan kembali. Namun ternyata, Grace tetap melangkah tanpa pernah berbalik lagi.
Caleb memejamkan matanya. Ia tak perduli dengan orang-orang yang menatapnya karena Caleb sungguh tak bisa menahan isak tangisnya. Setelah itu Caleb melangkah keluar bandara. Ia menarik napas panjang. Berusaha membuang sesak yang menghimpit dadanya. Aku akan menunggumu, Grace.
*********
1 tahun kemudian.....
Langkah Caleb terhenti menatap sebuah lukisan yang sementara dikerjakan oleh Keegan. Hari ini ia datang ke mansion keluarga Manola saat mendengar kalau sepupunya itu datang ke London.
"Apakah itu gambar Zelina?" Tanya Caleb.
"Ya. Ini gambar Zelina." Jawab Keegan tanpa menoleh. Ia masih terus menggerakan tangannya untuk menyempurnakan lukisannya.
"Kau masih menunggunya?"
Keegan tersenyum. "Sampai saat ini masih menunggunya."
"Zelina sudah menonaktifkan semua media sosialnya. Ia bahkan mengganti nomor teleponnya. Bagaimana jika sesuatu sudah terjadi padanya?"
Keegan meletakkan kuasnya. Ia memandang Caleb. "Grace juga sudah putus kontak denganmu, kan? Lalu mengapa kau masih menunggunya sementara ada Monica yang begitu mencintaimu? Bagaimana jika di sana Grace sudah ketemu orang lain yang membuatnya nyaman?"
"Karena aku mencintainya. Aku akan menunggu sampai kontraknya selesai. Setidaknya aku masih melihatnya walaupun hanya dibeberapa videoclip. Aku tahu dia masih hidup. Tapi kau? Zelina menghilang tanpa ada jejak sedikitpun."
"Aku sudah berjanji akan menunggunya sampai batas waktu dimana akhirnya aku lelah dan menyerah."
"Kayaknya kita ditakdirkan untuk menunggu sesuatu yang tak pasti."
Keegan mengangguk. "Rasanya memang menyakitkan. Namun inilah cinta."
Keduanya tertawa bersama. Sampai sejauh mana mereka akan tetap menunggu? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.
__ADS_1
Makasi sudah baca part ini....
Baca ceritaku yang lain ya : MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU