3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Ketulusan hati Zelina


__ADS_3

Air mata Zelina kembali jatuh dengan sangat deras. "Karena....karena....aku bukanlah mempelai wanita yang kau rindukan."


"Mengapa kau berkata seperti itu?" Caleb menarik kembali tangan Zelina untuk digenggamnya erat. "Zelina, aku menyayangimu."


"Tapi kau mencintai Grace!" Zelina menatap Grace yang berdiri dengan sangat kaku di samping Zelina. "Grace juga mencintaimu. Kalian adalah 2 orang yang saling mencintai namun membuang perasaan masing-masing karena ingin membahagiakan aku. Kalian takut aku akan mati. Kalian berusaha mewujudkan mimpi terbesar dalam hidupku yaitu menjadi pengantinnya Caleb. Tapi aku tak bisa bahagia dengan terwujudnya mimpi ini karena aku tahu cinta Caleb bukan untukku. Pernikahan itu harus terjadi diantara 2 orang yang saling mencintai." Kata Zelina dengan suara tangis yang sangat dalam. Ia memandang kedua orang tuanya.


"Papi dan mami, maafkan kalau aku selama ini menyembunyikan penyakitku ini. Aku tak mau membuat kalian sedih."


Dina menggelengkan kepalanya. Hati ibu mana yang tak akan hancur saat tahu ada penderitaan yang disembunyikan oleh anaknya. "Zelina, kamu sakit apa? Pantas saja badanmu sudah kurus seperti ini."


"Aku akan baik-baik saja, mami. Aku tidak akan menyerah dengan sakitku ini. Kalau pun ternyata Tuhan berkehendak lain, aku tak akan pernah kecewa dengan hidupku yang singkat ini. Aku bahagia dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang sangat menyayangiku, aku bahagia mendapatkan kakak Zack yang sangat memanjakanku." Zelina mengambil piring tempat cincin pernikahan yang dipegang oleh Grace dan meletakannya di atas meja. Tanggannya yang satu memegang tangan Grace dan tangannya yang satu memegang tangan Caleb. Ia mempertemukan tangan Grace dan Caleb dalam genggamannya.


"Caleb, aku bahagia karena impianku untuk menikah denganmu sudah terwujud. Terima kasih karena mau mengorbankan cintamu pada Grace untuk membuat aku bahagia. Sekarang, aku mengembalikan Caleb padamu, Grace. Karena seharusnya kamulah yang menjadi pengantinnya. Bukan aku. Aku percaya kalau cinta kalian akan abadi. Apakah aku masih bisa melihatnya atau tidak, aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang sangat cocok."


"Zelina...., jangan seperti ini." Grace tak bisa menahan air matanya.


Zelina tersenyum. "Kau sudah terlalu banyak mengalah untukku. Kau gadis yang sangat luar biasa. Aku kagum padamu. Apa yang terjadi hari ini, telah memberikan aku semangat untuk hidup. Mimpi terbesarku telah terwujud."


Zelina melepaskan tangan Grace dan Caleb. Ia mendekati papi dan maminya. Memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat.


"Nak, kamu mau apa sebenarnya?" Tanya Daniel dengan penuh kasih.


"Zelina mau pergi, pap. Zelina tak mau papi dan mami melihat Zelina menderita. Jika ternyata Zelina akan sembuh, maka Zelina akan pulang. Jika Zelina tak juga sembuh, maka kalian tak akan melihat Zelina pergi. Anggaplah aku sedang merantau dan tak bisa pulang." Zelina mencium pipi papi dan maminya. Ia membali menoleh ke arah Caleb dan Zelina.


"Menikalah. Punyalah anak yang banyak. Jika anak kalian perempuan, tolong berikan dia nama Zelina. Kau mau kan Caleb?" Tanya Zelina penuh harap.


Caleb hanya bisa tersenyum dalam tangisnya. "Tidak. Aku tidak akan menamainya Zelina sampai aku tahu kalau kau baik-baik saja."


Zelina berlari dan memeluk Caleb Grace secara bergantian. "Bye.....!"


Zelina berlari meninggalkan ruangan gereja. Ia lega telah mengatakan semuanya. Yang dia inginkan sekarang adalah pergi. Apakah pengobatannya akan berhasil atau tidak, Zelina tak perduli lagi.


Begitu ia tiba di halaman gereja, ia kebingungan bagaimana harus pergi ke bandara. Sebuah mobil mendekatinya. Kaca mobil itu diturunkan. Seraut wajah tampan yang lembut menyapanya.


"Butuh tumpangan?" Tanya Keegan.


Zelina langsung membuka pintu mobil Keegan dan masuk ke dalamnya.


"Kita kemana, Zel?"


"Ke apartemenku dulu. Tak mungkin aku ke bandara dengan kebaya ini."


"Ok." Keegan menjalankan mobilnya. Saat mobil itu keluar dari halaman gereja, tangis Zelina kembali pecah.


"Maaf Keegan, aku memang cengeng." Kata Zelina diantara isak tangisnya.


"Kau bisa menangis sebanyak yang kau mau." Kata Keegan dengan suaranya yang terdengar tenang.


*********


Dina menghapus air matanya setelah ia puas menangis. Ia tahu, Zelina sudah dewasa. Walaupun hatinya sangat sedih karena Zelina memilih pergi, namun ia menghargai keputusan putrinya itu.


"Dina, kita pulang sekarang?" Tanya Faith.

__ADS_1


"Ya." Dina menggengam tangan sahabatnya itu.


"Aku yakin Zelina akan menghubungimu nanti." Hibur Faith.


"Mungkin sebaiknya aku tak tahu apa-apa tentang dia. Supaya kalaupun dia ternyata tak berhasil, aku akan tetap menganggap dia masih menjalani pengobatan." kata Dina walaupun hatinya terluka.


Faith mengangguk. Ia masih memegang tangan Dina sambil berjalan meninggalkan gereja.


Caleb masih duduk di depan altar. Jasnya sudah dia buka, demikian juga dengan dasinya sudah ia longgarkan. Ia sungguh tak menduga kalau Zelina akan berhenti saat mereka hampir resmi menjadi suami istri. Ia tak pernah berpikir kalau Zelina akan memilih pergi.


"Cal...!" Chloe mendekati saudara kembarnya. Ia duduk di samping Caleb.


"Kenapa kau belum pulang?" Tanya Caleb.


"Memangnya kau tidak membutuhkan aku di sini? Aku tahu kalau kau terluka, Cal. Kau mungkin lega karena tak jadi menikahi Zelina, namun aku yakin kalau hatimu juga sedih karena memikirkan Zelina sakit. Iya kan?"


Caleb mengangguk. "Ya. Aku kasihan padanya, Chloe. Dia memutuskan untuk pergi sendiri. Dia tak mau kita semua tahu tentang sakitnya. Namun aku bangga dengan keberaniannya meninggalkan aku di altar pernikahan ini."


"Aku lihat Keegan mengantarnya."


"Keegan?"


"Ya. Apakah kau tak tahu kalau sejak dulu Keegan menyukai Zelina? Aku sering mendapatinya menatap Zelina secara diam-diam sejak kita kecil." Kata Chloe membuat Caleb menatapnya dengan kaget.


"Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku?"


Chloe tersenyum. "Karena kau sangat posesif dengan apa yang kau katakan sebagai milikmu. Keegan tahu itu makanya dia tak mau menunjukannya secara langsung."


"Mungkin. Kau tahu kan Keegan sangat tertutup orangnya." Chloe menepuk pundak saudara kembarnya itu. "Aku pergi dulu ya? Zelina sudah memutuskan ikatan diantara kalian. Jangan kecewakan dia. Segera pergi dan temui Grace."


"Oh iya, kemana Grace?"


"Howie telah membawanya pergi."


Caleb segera berdiri. Ia setengah berlari meninggalkan gereja.


"Caleb!" panggil Chloe.


Caleb menoleh. "Ada apa?"


Chloe melemparkan kunci mobilnya. "Pakailah mobilku agar lebih cepat. Tapi ingat, jangan ngebut."


Caleb menangkap kunci mobil itu sambil tersenyum. "Terima kasih."


Chloe menatap kepergian saudara kembarnya sambil menarik napas panjang.


"So, kita pulang naik apa sayang?" Tanya Erhan sambil melingkarkan tangannya dipinggang istrinya.


"Pesan taxi saja."


"Ok."


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Di halaman gereja nampak Erland masih menunggu mereka.

__ADS_1


"Butuh taxi?" Tanya Erland sambil membuka pintu mobilnya.


"Ah, kau memang adikku yang paling baik." Kata Chloe lalu segera masuk bersama Erhan.


"Kita akan kemana tuan dan nyonya Taylor?" Tanya Erland saat mobilnya sudah berjalan.


"Sepertinya kita butuh makan siang." Kata Chloe diikuti anggukan kepala Erhan.


"Restoran Perancis ya?" Kata Erland disambut tawa Chloe dan Erhan.


"Up to you..!"


"Yes!"


*********


Keegan menurunkan koper Zelina dari bagasi mobilnya.


"Keegan, sampai di sini saja. Aku tak mau kau ikut masuk ke dalam dan melihatku pergi." Kata Zelina lalu mengambil kopernya dari tangan Keegan.


"Mengapa?" Tanya Keegan bingung.


"Supaya kau tak perlu menungguku untuk datang kembali."


"Bagaimana kalau aku mau menunggumu datang lagi?"


"Karena aku belum tentu akan kembali ke London."


Keegan menekan perasaannya yang terasa sakit. Ia memaksakan sebuah senyum.


"Aku akan menunggumu, Zelina. Sampai dimana batas aku bisa menunggumu. Namun bolehkah aku berharap, jika kau memang akan kembali ke sini, kau akan punya sedikit saja cinta untukku?" Tanya Keegan dengan tatapan mata yang yang penuh dengan rasa cinta untuk Zelina.


Zelina tersenyum. "Kalau aku kembali ke sini, aku hanya akan kembali untukmu. Tapi, jika aku sudah terlalu lama pergi, maukah kau berjanji untuk mencari gadis lain?"


"Aku janji."


"Keegan, maukah kau menciumku?"


Keegan mengangguk. Ia menunduk dan segera mencium bibir Zelina dengan sangat lembut. Zelina melingkarkan tangannya dileher Keegan. Kakinya sedikit berjinjit. Ia membalas ciuman Keegan. Keduanya berciuman sangat lama sampai akhirnya ciuman itu harus diakhiri karena keduanya hampir kehabisan napas.


"Aku pergi, Keegan." Zelina segera menarik kopernya. Ia berjalan tanpa pernah berbalik lagi. Ketika tubuh Zelina menghilang dibalik pintu masuk bandara, Keegan buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Keegan tak dapat lagi menahan tangisannya.


Cinta pertama yang tak pernah bisa dimilikinya. Sakit, itulah yang Keegan rasakan. Apakah ia bisa bertemu Zelina lagi? Mungkinkah mereka bisa bersama lagi? Keegan semakin sakit memikirkan semuanya itu. Ia memegang bibirnya sendiri. Ciuman pertamanya sudah diberikannya pada cinta pertamanya.


Keegan menghapus air matanya. Ia menjalankan mobilnya dan berhenti di dekat pagar pembatas bandara. 30 menit kemudian ia melihat sebuah pesawat yang disebut Zelina akan ditumpanginya sampai ke Amerika.


Selamat jalan, Zel. Aku doakan yang terbaik untukmu.


Air mata Keegan jatuh lagi. Ia kembali menjalankan mobilnya dengan hati yang semakin sesak.


😭😭😭😭😭😭


jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2