
Selesai makan malam, Erland menggandeng tangan Meloddy untuk menyusuri pantai sambil berjalan kaki. Setelah melangkah cukup jauh meninggalkan hotel, keduanya berhenti dan duduk di atas pasir. Ada beberapa pasang juga yang duduk di tepi pantai sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama.
"Sayang, apa kamu serius dengan yang kamu katakan tadi?" Tanya Meloddy sambil menatap Erland.
"Menikahimu? Tentu saja aku serius, sayang. Minggu yang lalu, aku pergi ke Seoul untuk bertemu dengan daddymu. Ia tetap dengan pendiriannya. Menurutnya, kita nggak cocok. Kita sebaiknya berpisah. Daddymu terlalu takut kalau aku akan menyakitimu."
Meloddy menyentuh wajah Erland dengan tangannya. "Buktikan kalau memang kau tak akan menyakitiku, Er."
Erland mengambil tangan Meloddy dan menggengamnya erat. "Look at me baby. Look in to my eyes. Can you see the love i feel for you?"
" I can see it. I love you!"
Erland mencium bibir Meloddy dengan sangat lembut. Rembulan di atas mereka seakan tersenyum melihat kebahagiaan yang sementara mereka rasakan.
"Ayo kita menikah, Mel." Ujar Erland saat ciuman mereka berakhir.
"Ini gila, Erland."
"Aku tahu. Sebenarnya aku mau menunggu sampai restu dari daddy Ed boleh kita dapatkan. Namun aku tak sabar menunggu. Aku terlalu takut jika kita berpisah lama, kau akan direbut oleh pria lain. Cukup sudah selama 9 tahun aku menunggumu."
Meloddy tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa bahagia yang ada dalam hatinya. "Baiklah. Ayo kita menikah. Kita akan semakin kuat berjuang jika telah resmi menjadi suami dan istri."
"Ok. Bali akan menjadi saksi cinta kita."
Keduanya kembali berciuman. Kali ini lebih mesra dan lebih mendalam. Hati mereka sedang berbunga-bunga.
***********
Grace keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Ia langsung bergabung dengan Caleb di atas tempat tidur. Suaminya itu sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Ia langsung melepaskan ponselnya saat Grace naik ke atas tempat tidur..
Grace mendekat dan bersandar pada dada Caleb .
"Sayang, bagaimana perutnya?"
Grace mengeluh perutnya kurang enak selesai makan malam tadi.
"Sudah agak baikan. Apakah karena aku terlalu banyak makan cabe ya?"
Caleb membelai rambut istrinya. "Mungkin juga. Aku tadi agak kaget melihatmu makan ikan bakar dan cabe yang begitu banyak."
"Ikan bakarnya sangat enak. Sambal terasinya juga mantap. Rasanya besok ingin makan lagi."
Caleb terkekeh. "Kamu jadi suka makan sekarang."
"Iya, nih. Kata Meloddy, aku agak gemuk."
"Bukan gemuk, sayang. Hanya sedikit berisi. Tapi aku suka."
Grace mendongak. Matanya menatap Caleb. "Kalau aku jadi gemuk sekali, apakah kamu masih sayang?"
"Tentu sajalah. Cintaku tak akan hilang dengan bertambahnya berat badanmu."
Grace tertawa. Ia lalu mencium pipi Caleb dengan gemas.
"Sayang, apakah benar Erland akan menikahi Meloddy di sini?" Tanya Grace sambil menautkan jari tangan mereka.
"Iya. Itu yang dia katakan."
__ADS_1
"Tanpa ada paman dan bibiku? Tanpa ada daddy Eze dan bunda Faith?"
"Kata Erland biar adil. Adikku itu sedang jatuh cinta. Boleh dikata sekarang ini, ia hanya ingin bersama Meloddy. Dia sudah ke Seoul, tetap saja paman Ed menolaknya. Erland itu orangnya nekat. Meloddy juga sepertinya tak mau berpisah lagi dengan Erland. Aku pikir biar saja mereka menikah. Aku akan membantu adikku itu mencapai kebahagiaannya."
Grace mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Soal nanti paman Ed akan marah-marah, nanti belakangan aja mikirnya. Yang penting yang mereka lakukan benarkan?"
Caleb mencium puncak kepala Grace dengan lembut. "Tadi aku baru saja selesai chating dengan Keegan."
"Terus?"
"Mereka akan ke Manado. Keegan akan melamar Zelina di sana."
"Benarkah? Duh, aku senang sekali mendengarnya. Sayang, kita ke Manado juga. Aku ingin lihat proses lamaran mereka."
"Baiklah. Mereka masih menunggu proses surat-surat Keegan selesai. Karena menurut Keegan, Zelina ingin menikah di Indonesia. Nantilah pernikahan kerajaan akan dilaksanakan di Negara Flowers."
"Zelina mencintai Indonesia. Aku juga sebenarnya ingin tinggal di sini. Namun aku sadar kalau tugasku sebagai istri adalah mendampingimu."
"Kita akan sering datang ke sini. Jika Erland sudah bisa mengolah perusahaan, aku akan membagi wilayah kerja dengannya. Kita bisa memilih Asia sehingga kita sering datang ke Indonesia."
"Aku suka, sayang."
Caleb mencium istrinya. "Ayo kita tidur, sayang."
Grace membaringkan tubuhnya. Ia membiarkan Caleb menarik tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Entah mengapa, Grace merasa nyaman saat tangan suaminya melingkar di perutnya. Ada perasaan damai yang Grace rasakan.
*******
Hari ini, Caleb membantu Erland mengurus keperluan pernikahannya. Mereka menghubungi pihak WO yang terkenal dari Jakarta. Pihak Wo hanya punya waktu 1 minggu untuk menyelesaikan segalanya.
"Aku takut nanti bunda nggak akan setuju, kak. Aku nggak mau lagi menunda pernikahanku dengan Meloddy. Walaupun setelah menikah kami harus berpisah untuk sementara waktu, namun ikatan antara aku dan Meloddy sudah jelas."
"Cobalah dulu bicara dengan bunda."
Erland diam sejenak. Ia memang paling dekat dengan bundanya dibandingkan dengan Caleb dan Chloe. Bunda adalah segalanya bagi Erland. Haruskah ia menikah tanpa memberitahukan pada bundanya?
Pintu ruangan Caleb diketuk lalu dibuka dengan cepat. Meloddy masuk dengan wajah panik.
"Ada apa, Mel?" Tanya Erland sambil mendekati Meloddy. Namun kekasihnya itu justru mendekati Caleb.
"Cal, Grace pingsan."
"Apa?" Caleb kaget. "Di mana dia?"
"Ada di ruangan kesehatan hotel. Aku sudah meminta mereka untuk memanggil dokter."
"Ayo kita ke sana!" Caleb melangkah lebih dulu meninggalkan Meloddy dan Erland yang menyusul di belakangnya.
Saat mereka sudah tiba di ruangan itu, seorang dokter perempuan sedang memerika Grace. Terlihat kalau Grace sudah mulai sadar.
"Bagaimana istriku, dok?" Tanya Caleb panik.
"Oh...anda suaminya? Tenang saja, istrimu sudah siuman namun dia masih agak pusing." Kata dokter itu yang bernama dokter Nonik. Caleb langsung membelai kepala istrinya.
"Baby, kamu kenapa sampai pingsan?"
"Aku nggak tahu." Jawab Grace pelan. Ia masih memejamkan matanya karena rasa pusing yang menderanya.
__ADS_1
Dokter Nonik langsung memeriksa Grace. Tak lama kemudian dokter tersenyum.
"Nyonya, kapan terakhir anda datang bulan?" Tanya dokter Nonik.
"Datang bulan?" Grace membuka matanya perlahan. Ia mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu.
"Aku datang bulan sepertinya 2 minggu sebelum pernikahanku."
"Sudah berlama lama kalian menikah?" Tanya dokter lagi.
"Sebulan lebih, dok. Kenapa?" Caleb yang menjawab.
"Sepertinya nyonya Thomson hamil."
"Hamil?" Grace dan Caleb sama-sama berkata. Keduanya saling berpandangan. Hati Grace dipenuhi rasa bahagia.
"Benarkah, dok?" Tanya Grace tanpa bisa menahan air matanya.
"Untuk lebih jelasnya, kalian ke rumah sakit saja untuk memeriksakan kandungan nyonya pada dokter ahli kandungan."
Caleb menggengam tangan Grace. "Sayang, ini berita bahagia."
Meloddy dan Erland yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Grace pun tersenyum bahagia.
"Mel, aku juga ingin segera punya anak. Tentu rasanya menyenangkan menjadi hot daddy." Kata Erland membuat Meloddy jadi ikut terharu.
"Sayang, aku masih punya kontrak kerja. Kamu juga akan kembali ke Swiss. Masa aku hamil tanpa ada kamu. Kita tunda saja punya baby, ya?"
Erland cemberut. "Kenapa ditunda?"
"Aku mau hamil ditemani kamu, Er. Hamil itu kan kadang kurang mengenakan karena sering mual dan muntah."
Caleb yang mendengar pertengkaran mereka menoleh ke arah mereka. "Hei, menikah dulu baru bicara tentang anak." Kata Caleb membuat Meloddy dan Caleb tertawa. Dokter Nonik pun tertawa. Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu hanya saling memandang dengan wajah merah menahan malu.
***********
Ezekiel dan Faith sangat bahagia mendengar kalau Grace hamil. Malam ini, setelah pulang dari dokter kandungan, Caleb langsung melakukan panggilan Videocall dengan orang tuanya.
"Grace, jaga kesehatan ya? Jangan dulu pulang ke London jika kandungannya belum kuat. Konsultasi selalu dengan dokter kandungan." Kata Faith dengan penuh kasih.
"Baik, bunda." Ujar Grace dengan wajah bahagia.
Mata Faith menangkap bayangan Erland yang berdiri di belakang Grace dan Caleb.
"Lho, itukan Erland? Kenapa dia ada di sana?" Tanya Faith bingung.
Caleb memandang Erland. Dengan sorot matanya, ia meminta adiknya itu mendekat.
"Hai, bunda."
"Apa yang kau lakukan di sana Erland?" Tanya Ezekiel.
"Aku mau menikah bunda."
"Apa?" Ezekiel dan Faith sama-sama terkejut.
Bagaimana kisah selanjutnya?
__ADS_1