
Tatapan mata Edward menunjukan kalau ia kurang suka dengan kedatangan Meloddy bersama Erland.
"Duduk!"
Meloddy terkejut mendengar suara papanya yang kurang bersahabat. Namun ia duduk juga. Bersebelahan dengan Erland.
Mata Meloddy menatap ibunya. Lerina hanya menggeleng dan meminta Meloddy agar patuh.
"Ada apa, dad?" Tanya Meloddy.
"Daddy tak akan merestui hubunganmu dengan Erland." Kata Edward tegas.
Bagaikan disambar kilat disiang bolong, wajah Meloddy langsung pucat mendengar suara perkataan papanya.
"Dad!" protes Meloddy. Ia dapat melihat wajah Erland yang sama terkejutnya dengan dirinya.
"Meloddy, memangnya kamu sudah siap untuk menikah? Usia Erland juga masih sangat muda. Apakah kau yang manja dan kekanakan ini bisa menjalani hari-harimu bersama Erland? Kau butuh lelaki yang lebih dewasa." Edward kembali berkata tegas.
"Aku mencintai Meloddy, paman Ed. Aku mencintainya sejak usiaku masih remaja. Paman jangan ragukan perasaanku pada Meloddy." Kata Erland lalu memegang tangan Meloddy.
"Membangun sebuah hubungan bukan hanya sekedar memiliki perasaan cinta saja. Butuh kedewasaan dalam berpikir dan rasa memiliki yang kuat." Kata Edward lagi. Ia tentu mengingat bagaimana dirinya dan Jesica dulu begitu naif bilang saling menyayangi namun saat masalah datang, Jesica justru meninggalkannya. Ia juga ingat bagaimana Lerina memilih menyembunyikan kehamilannya walaupun ia sangat mencintai Edward.
"Dad, berilah kesempatan pada kami untuk membuktikan kalau kami saling menyayangi. Selama bertahun-tahun aku selalu menolak Erland karena menganggap bahwa dia masih kecil. Namun ternyata hanya Erland yang bisa memahamiku." Meloddy berusaha meyakinkan papanya. Bagaimanapun ia sudah menerima Erland.
"Dia mengaku mencintaimu namun masih bersama dengan gadis-gadis lain." Edward mencibir membuat Lerina terkejut. Tak biasanya Esward bersikap merendahkan orang lain seperti itu.
"Dad....!" Meloddy tak suka dengan sikap papanya yang dinilainya terlalu kekanak-kanakan.
"Aku memang menyesali tindakanku itu. Karena kesal Meloddy tak kunjung menerima cintaku, aku melampiaskannya pada gadis-gadis yang memang mengejarku. Aku telah mengakuinya di depan Meloddy. Aku janji paman, tak ada lagi gadis lain selain Meloddy!" Kata Erland dengan penuh kesungguhan.
"Memangnya kau bisa memenuhi janjimu itu? Ingat ya, kau baru berusia 23 tahun. Jangan mengumbar janji pada anakku. Aku sangat menyayangi Meloddy. Aku tak ingin anakku tersakiti." Kata Edward tegas. "Sebelum hubungan kalian menjadi semakin dalam, sebaiknya akhiri saja."
"Dad!" Air mata Meloddy langsung membasahi pipinya.
"Tenanglah sayang. Aku akan membuktikan pada daddymu kalau perasaanku padamu bukanlah main-main." Erland mengecup dahi Meloddy. Tak perduli tatapan protes Edward. "Paman, bibi, aku permisi dulu ya. Selamat siang." Erland langsung meninggalkan apartemen Meloddy. Hatinya memang sedih karena orang tua Meloddy menentang hubungan mereka. Erland begitu bahagia karena stelah hampir 10 tahun, gadis yang sudah disukainya sejak ia remaja, akhirnya bisa ia dapatkan. Erland berjanji akan memperjuangkan Meloddy.
**********
"Sayang, kamu kenapa bersikap seperti itu pada Erland?" Tanya Lerina. Ia sedikit kesal karena sikap suaminya. Belum lagi Meloddy yang memilih diam di kamarnya dan tak mau keluar untuk makan malam.
"Semua aku lakukan untuk kebaikan mereka." Jawab Edward sambil terus memainkan ponselnya.
"Meloddy sudah dewasa, Ed. Dia sudah berusia 25 tahun. Memangnya kamu tak ingin melihatnya menikah?"
"Min Jun saja belum menikah. Mengapa juga dia harus mendahului kakaknya."
"Tapi Min Jun laki-laki. Sementara Meloddy seorang perempuan."
__ADS_1
Edward melepaskan ponselnya. Ia menatap istrinya yang masih terlihat cantik walaupun sudah berusia hampir 50 tahun. "Kali ini saja, sayang. Tolong jangan ikut campur caraku mendidik Meloddy. Aku bukannya tak suka pada Erland. Hanya saja dia seorang play boy. Gadis mana di London ini yang tidak mengenal Erland Thomson? Usianya juga masih muda."
Lerina duduk di samping suaminya. "Sayang, berikan kesempatan pada Erland dan Meloddy untuk bersama."
"Tidak!"
"Kamu egois, ya? Hanya memikirkan perasaanmu sendiri dan tidak memikirkan perasaan anakmu sendiri. Kamu sendiri pernah mengalaminya kan? Bagaimana pusingnya dulu saat papamu menentang hubunganmu dengan Jesica?"
"Kok bawah-bawah masa laluku?"
Wajah Lerina yang sudah terlihat emosi terlihat sedikit menyesal. Sebenarnya ia tak mau mengungkit masa lalu Edward. Namun ia kesal karena Edward membuat putrinya itu sedih.
"Aku bukan mengungkitnya. Hanya mengingatkan saja. Supaya kau tahu kalau cinta dihalangi, itu sangat menyakitkan. Kau makanlah. Aku malas untuk makan malam ini." Kata Lerina lalu segera meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar tidur. Apartemen Meloddy ini memang berlantai 2 dengan 3 kamar tidur. Satu di lantai bawah yang biasa ditempati Lerina dan Edward, sedangkan dua ada di lantai atas. Satu merupakan kamar Meloddy dan satunya lagi khusus Min Jun atau Jisoo ketika mereka datang ke London.
Meloddy memilih tak keluar kamar. Ia begitu heran, papanya yang selama ini begitu menyayanginya dan selalu mengikuti kemauannya justru sekarang tak peduli dengan perasaannya.
Ting....
Bunyi pesan dari ponsel Meloddy membuat ia meraih benda berwarna putih itu dari atas nakas. Wajah sedihnya langsung berubah jadi senyum saat ia melihat siapa pengirim pesan itu.
Sayang, masih mengurung diri di kamar?
ayo makan. Nanti kalau kamu sakit, aku jadi sedih. Percaya saja tunanganmu yang tampan dan terkenal ini akan memperjuangkan cinta kita sehingga Edward Kim dan Lerina Kim akan menerima aku menjadi menantu keluarga Kim.
Air mata Meloddy menetes kembali. Pesan itu membuat hatinya terhibur. Ia pun segera membalas pesan Erland.
I love you
Tak lama kemudian Erland pun membalasnya
Love you too
***********
Caleb memandang Grace yang berdiri di sampingnya. 3 hari lagi, mereka akan resmi menjadi pasangan suami istri. Rasanya Caleb tak sabar menunggu hari bahagia itu.
"Kenapa menatap aku seperti itu, kak?" Tanya Grace.
"Kamu cantik!"
"Gombal!"
"Aku berkata yang benar, sayang. Setiap hari melihatmu semakin bertambah cantik saja."
Wajah Grace menjadi merah. Ia masih saja tersipu jika Caleb menggodanya.
"Tak sabar menunggu hari sabtu nanti." Kata Caleb. Ia menggenggam tangan Grace. "Apalagi mulai malam ini kamu akan dipingit dan tidak boleh ketemu dengan aku."
__ADS_1
"Kita kan menikah seperti pengantin Indonesia. Sebenarnya kalau mau ikut adat Indonesia, seminggu sebelum pernikahan, kita tak boleh bertemu."
"Jangan sayang. Aku bisa mati jika sehari saja tak melihatmu."
"Kok mati, sih?"
"Mati dalam kerinduan."
"Ih kakak, kok jadi lebay sekarang."
Caleb tersenyum. "Itu semua karena dirimu, sayang." Caleb mencium pipi Grace.
"Kakak, nanti pendetanya lihat."
Keduanya memang berada di ruang konseling untuk mengikuti konseling pernikahan yang akan dibawakan oleh pendeta yang ada di gereja ini.
Tak lama kemudian, pendeta Alberth datang. Ia juga adalah pendeta keturunan Indonesia-London yqng lancar berbahasa Indonesia. Caleb dan Grace sepakat kalau janji pernikahan mereka akan diucapkan dalam bahasa Indonesia.
Selama hampir 3 jam mereka mengikuti konseling pernikahan. Grace dan Caleb senang karena mereka mendapatkan banyak petuah tentang kehidupan pernikahan yang akan mereka jalani.
Selesai konseling, mereka langsung menuju ke dalam gereja untuk mengikuti gladi menjelang pemberkatan pernikahan.
"Keegan mau kemana?" Tanya Caleb melihat sepupunya itu menaiki tangga menuju ke balkon gereja.
"Nggak tahu!" Ujar Meloddy.
Tak lama kemudian, Keegan turun. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit tegang.
"Wajahmu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Caleb.
"Aku melihat Zelina. Ada di atas balkon. Ia berdiri dan menatapku tadi." Kata Keegan membuat Grace, Caleb dan Meloddy terkejut.
"Apa?" Seru mereka bertiga secara bersamaan.
"Tapi dia tak ada. Tangga menuju ke balkon hanya satu. Tak mungkinkan dia menghilang begitu saja. Apakah mungkin itu arwahnya Zelina?" Tanya Keegan.
"Nggak mungkin. Orang yang sudah mati kan nggak akan datang lagi ke dunia. Bisa saja itu hantu yang menampakan diri seperti wajah Zelina.
"Ya sudah. Ayo latihan!" Ajak Grace. Walaupun dalam hati ia sangat panasaran. Mungkinkah itu Zelina?
Selesai latihan, Caleb pamit sebentar ke toilet untuk buang air kecil. Begitu ia selesai, ia pun mencuci tangannya di wastafel. Saat ia berjalan di lorong pembatas antara toilet perempuan dan toilet laki-laki, ia melihat seorang gadis berambut pendek yang berjalan keluar dari toliet perempuan. Caleb tak melihat wajah gadis itu. Namun cara berjalannya mengingatkan Caleb pada seseorang.
"Zelina!" Panggil Caleb sambil mengejar gadis itu. Namun saat ia keluar dari toilet, gadis itu tak ada. Ia seperti hilang di telan bumi. Dan hidung mancung Caleb mencium bau minyak wangi yang sangat dikenalnya karena minyak wangi ini diberikan Caleb pertama kali saat gadis itu berusia 17 tahun.
"Zelina, keluarlah! Aku tahu itu kamu!" Seru Caleb dengan detak jantung yang berdebar.
What next????
__ADS_1
dukung aku terus ya...?