
2 minggu sebelum pernikahan......
Zelina menatap cincin permata biru itu. Air matanya perlahan mengalir. Ia ingat dengan semua mimpinya sejak ia kecil. Mimpi yang selalu ia ceritakan pada maminya.
"Mami, jika aku besar nanti, aku ingin menikah dengan Caleb. Bolehkan?"
Dina menatap putrinya sambil tersenyum."Jika Caleb memang mencintaimu juga maka kalian bisa menikah."
"Tak bolehkah hanya aku saja yang mencintainya?"
Dina menggeleng. "Pernikahan itu harus terjadi jika dua orang saling mencintai. Seperti mami dan papi yang menikah karena saling mencintai."
Zelina kembali menatap cincin yang melingkar di jarinya. Benarkah Caleb mencintainya? Ataukah hanya dia saja yang mencintai pria itu? Mengapa Caleb tiba-tiba melamarnya? Mengapa Grace kembali bersama Howie?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Zelina semakin gelisah. Menikahi Caleb adalah impian terbesar dalam hidupnya. Tak ada mimpi yang paling diinginkannya selain menjadi istri Caleb. Namun ia sudah belajar mengubur mimpinya itu saat ia melihat kalau Caleb sebenarnya lebih mencintai Grace dari pada dirinya. Zelina pun sudah belajar menerima itu. Apalagi dengan sakit yang dideritanya, Zelina semakin mengubur mimpinya itu. Dia hanya ingin menjalani pengobatannya dan melanjutkan studinya di Amerika. Entah bagaimana nanti hasil pengobatannya, Zelina tak ingin memikirkannya dulu.
Kini, disaat ia sudah mantap mengubur mimpinya, Caleb datang melamarnya. Dengan lagu janji Suci yang menjadi lagu faforitnya dan cincin permata biru. Sanggupkah Zelina menolaknya? Tentu saja tidak! Kemarin ia begitu bahagia sampai tak sanggup menolak lamaran Caleb. Ia begitu bahagia, sampai melupakan apa yang dikatakan oleh maminya. Pernikahan itu akan terjadi jika dua orang saling mencintai.
Ponsel Zelina berbunyi, menyadarkan ia dari lamunannya. Ada nama Caleb di sana.
"Hallo, Caleb!"
"Hallo sayang. Kamu belum tidur?"
"Belum. Aku belum mengantuk."
"Kau harus tidur, Zel. Jaga kesehatan. Pernikahan kita kan tak lama lagi."
"Iya." Zelina menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Caleb, kau mencintaiku?"
Terdengar hembusan napas Caleb di sana. "Aku mencintaimu, Zelina."
"Melebihi cintamu pada Grace?"
"Zel, jangan sebut nama orang lain dalam hubungan ini. Kau sudah menerima lamaranku, kan? Aku juga sudah meminta daddy dan bunda untuk pulang. Aku juga sudah menelepon Papi dan mamimu di Manado. Kita akan menikah. Jangan kau ragukan itu." terdengar suara Caleb yang tegas.
"Maafkan aku. Sekarang aku tidur dulu ya? Bye..." Zelina melepaskan ponselnya di atas meja. Tangisnya langsung pecah. Caleb tak berani mengatakan kalau cintanya pada Zelina melebihi cintanya pada Grace.
"Kau mencintai Grace Cal. Melebihi cintamu padaku. Aku yakin itu." Guman Zelina. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa. Berusaha memejamkan matanya. Berusaha meraih mimpinya yang sudah terkubur. Haruskah ia bahagia?
*************
Acara makan siang keluarga dilaksanakan di halaman mansioan keluarga Thomson. Selain untuk merayakan kelulusan Zelina yang telah diwisuda pagi ini, juga sebagai hari persiapan menjelang pernikahan Zelina dan Caleb esok hari.
__ADS_1
Chloe yang menyiapkan semua makanan dibantu oleh maminya Zelina. Keduanya sangat cocok berduet di dapur dan menghasilkan makanan yang merupakan perpaduan antara makanan Indonesia dan Inggris.
"Sayang, jangan terlalu capek, ya?" Ujar Erhan sambil membelai perut Chloe yang memasuki bulan ke-5.
"Aku nggak capek, sayang. Bibi Dina yang banyak mengerjakan makanan ini."Ucap Chloe sambil menatap Dina yang hanya tersenyum melihat pasangan yang sedang berbahagia itu.
Zelina yang memasuki dapur bersama Caleb pun tersenyum pada Erhan dan Chloe yang terlihat semakin mesra saja setelah menikah.
"Zel, kamu istirahat ke kamar aku aja. Makanannya masih lama baru akan siap." Kata Caleb.
"Aku mau bantu mereka."
"Nanti kamu sakit."
Zelina menarik tangannya yang sedang digenggam oleh Caleb. "Membantu di dapur saja apakah harus menyebabkan sakit? Mengapa kamu begitu khawatir kalau aku beraktivitas terlalu banyak?"
"Bukan begitu, Zel. Besok kita kan akan menikah. Jadi sebaiknya banyak istirahat. Setelah menikah, sorenya kita akan langsung berangkat ke Bali kan?"
Zelina menyimpan rasa curiganya pada Caleb. "Baiklah. Maukah kau menemani aku tidur?"
Caleb mengangguk. Ia kembali mengenggam tangan Zelina dan menuju ke lift untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai 3.
Caleb membantu Zelina membaringkan tubuhnya, setelah itu ia tidur di samping Zelina.
Caleb memiringkan tubuhnya. Keduanya kini berhadapan. "Ada apa?"
Zelina memegang pipi Caleb dengan kedua tangannya. "Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena mau menikahi gadis sepertiku."
"Memangnya kamu gadis seperti apa? Kamu istimewa, Zel."
Air mata Zelina mengalir. "Boleh aku menciummu?"
Caleb tersenyum. Ia menunduk dan melabuhkan ciumannya dibibir Zelina. Keduanya berciuman cukup lama, penuh perasaan sampai akhirnya Zelina yang lebih dulu mengahiri ciumannya karena pasokan oksigennya hampir habis.
"Kita tidur seperti ini ya?" Ujar Zelina. Ia meletakan tangannya dileher Caleb. Membiarkan hidung mereka hampir berjatuhan dan deru napas mereka menghangatkan kulit wajah masing-masing. Zelina tahu kalau ini mungkin saat terakhirnya boleh merasakan keintiman seperti ini. Ia akan menikmatinya. Untuk menjadi kenangan manis yang akan selalu dikenangnya.
***********
Dina tak dapat menahan air matanya saat melihat putri bungsunya yang sudah selesai didandani.
__ADS_1
"Sayang, kamu sangat cantik."
Zelina tersenyum."Mengapa mami menangis?"
"Mami hanya terharu melihatmu akhirnya menikah. Walaupun agak aneh juga karena kesannya terburu-buru."
"Caleb yang menentukan tanggalnya."
"Kebayanya juga sangat cantik."
"Mami ingatkan? Aku pernah bilang dulu, kalau nanti menikah, aku tak mau memakai gaun pengantin layaknya seorang princes. Aku mau pakai kebaya. Seperti gambar pahlawan R.A. Kartini yang sangat aku sukai."
"Ya. Mami selalu ingat semua yang kau katakan pada mami."
Zelina memegang tangan maminya. "Mami, maafkan aku jika nanti tak bisa mendampingimu sampai tua."
"Mami mengerti. Pasti setelah menikah Caleb akan menahanmu di sini. Nggak masalah. Begitulah anak perempuan. Pasti ikut suaminya."
Zelina hanya tersenyum. Sebenarnya yang ia maksudkan dengan perkataannya itu adalah jika ia tak bisa sembuh dan ajal akan datang menjemputnya, pasti ia tak akan bisa mendampingi maminya sampai ia tua nanti.
Daniel masuk dengan setelan jas yang sudah rapih. "Sopirnya sudah menunggu di lobi. Ayo kita turun!" Ajak Daniel.
"Ok papi."
Zelina berdiri, mengambil bunga mawar putih yang ada ditangannya. Ia sudah mantap dengan keputusannya.
**********
Di hari pernikahan........
Tangis Zelina pecah. Ia sungguh tak bisa menahannya. Tangannya yang digenggam oleh Caleb ikut terguncang. "No...!" Jawabnya dengan suara parau. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman Caleb.
"Zelina...., why?" Tanya Caleb dengan wajah bingung. Semua yang ada di dalam gedung gereja pun jadi bingung dengan jawaban Zelina.
Caleb kembali meraih tangan Zelina. "Ada apa? Mengapa kau menjawab tidak? Jangan bercanda, Zelina."
Air mata Zelina kembali jatuh dengan sangat deras. "Karena....karena....aku bukanlah mempelai wanita yang kau rindukan."
Oh.....begitu ya...?
Partnya sampai di sini dulu ya...
Jangan lupa like, komen dan vote
__ADS_1