3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Memperjuangkan


__ADS_3

Buat pembaca yang masih mengikuti cerita ini, makasi ya....


Dan buat yg nggak suka seperti mba SYARIFA yg selalu katain aku oon, mending nggak usah dibaca mba. Bacaan ini kan gratis saya berikan pada para pembaca. Saya juga tahu kalau saya bukan penulis hebat yang sudah disukai ribuan pembaca. Saya hanya membagikan apa inspirasi yg ada di kepala saya. Kalau memang inspirasi saya jelek menurut pembaca, koreksinya yg sopan, bahasanya dijaga.


Namun semua hinaan ini saya jadikan penyemangat untuk berkarya lebih baik ke depan. Mungkin tinggal beberapa episode lagi, cerita ini akan saya tamatkan. Kisah Keegan nanti saya bagikan di SONG IN MY LIFE 2. Kisah Meloddy dan Erland mungkin juga nggak akan saya bagikan di sini.


**************************************


Caleb menatap Dania yang sudah tertidur di atas sofa. Gadis itu kelihatannya kelelahan setelah puas menangis.


Dania gadis yang baik dan pintar. Caleb suka dengan kepribadiannya. Namun Caleb tak mungkin membagikan hatinya untuk Dania.


"Maaf Dania. Bukannya kamu kurang menarik di mataku. Namun aku sudah berjanji dalam hatiku, bahwa hanya Grace gadis yang akan kusentuh dan yang akan menyentuhku. Aku bukan tipe lelaki yang bercinta hanya karena napsu. Mungkin kedengarannya kuno tapi aku ingin bercinta dengan perasaan cinta."


Jawaban Caleb atas permintaan Dania yang memintanya untuk bercinta dengan Caleb memang membuat Dania menangis. Namun gadis itu memang tak memaksakan kehendaknya. Ia hanya memeluk Caleb sambil menumpahkan semua rasa sedihnya. Keduanya duduk berdampingan di sofa, sampai akhirnya Dania tertidur sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Caleb memilih duduk di atas karpet sambil bersandar pada sofa yang dipakai oleh Dania untuk tidur. Sampai akhirnya, Caleb pun ikut tertidur sambil membaringkan tubuhnya di atas karpet.


Bunyi ponselnya yang diletakannya di atas meja, sayup-sayup terdengar oleh Caleb. Awalnya Caleb ingin mengabaikannya. Namun karena tak ingin tidur Dania terganggu, Caleb pun meraih ponselnya. Ia terkejut melihat Grace yang menghubunginya.


"Hallo.....!" Sapa Caleb sambil berusaha bangun dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kak, maaf aku menganggumu."


"Tidak apa-apa. Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa menelepon tengah malam seperti ini?"


"Aku merin....."


"Siapa itu, Caleb?" Tanya Dania yang terbangun dari tidurnya


"Apakah itu dia gadis yang kakak katakan mirip denganku?" Tanya Grace. Suaranya terdengar seperti menahan tangis


"Iya." Jawab Caleb sambil menatap Dania yang sudah duduk di belakangnya.


"Kalian bersama?" suara Grace terdengar emosi.


"Tak seperti yang kau bayangkan, Grace!"


"Tak seperti yang aku bayangkan? Ini tengah malam, kak. Kalian......" Tangis Grace langsung pecah. "Maaf kalau aku menganggu." Grace memutuskan sambungan telepon.


"Grace....baby, ..Grace...!" Caleb menelepon Grace namun ponsel gadis itu sudah tidak aktif.


"Seharusnya aku tidak bersuara ya?" Dania jadi menyesal.


"Grace hanya salah mengerti. Aku akan jelaskan padanya saat tiba di London." Kata Caleb sambil menepuk pundak Dania.


"Jam berapa kau akan ke bandara?"


"Jam 5 subuh."


"Aku antar ya?"


"Selama tak merepotkanmu."


"Aku tidak merasa repot."


***********


Jam 5.30 pagi mereka sudah tiba di bandara. Erland yang sudah mendengar cerita tentang Grace dapat melihat wajah Caleb yang sedikit terlihat sedih.


"Kabari aku jika ada kesulitan dalam pekerjaan ya?" Kata Caleb.


"Iya, kak. Jelaskan segalanya pada Grace. Kalau dia belum percaya juga, maka kakak harus kabari aku."


"Mengapa?"


"Pokoknya kabari aku saja jika Grace tetap ngambek."


Caleb melambai ke arah Dania dan adiknya sebelum masuk ke pintu keberangkatan.


"Kita kembali ke apartemen?" Tanya Erland.


"Baiklah. Tapi mampir minum kopi dulu ya?"


Erland mengangguk. "Dania, lupakan kakakku."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ia sudah jatuh cinta pada Grace semenjak Grace berusia 3 hari. Kau tak akan bisa mendapatkan cintanya."


"Aku tahu!" Kata Dania berusaha tersenyum walaupun hatinya sedih.


************


Hari ini aku ulang tahun.


Mau makan siang bersamaku?


Grace yang sedang sarapan, tersenyum. Tangannya langsung bergerak di atas ponselnya.


ok. Jemput aku disanggar.


"Damian?" Tebak Maura.


"Yes, mom. Damian ulang tahun dan dia ingin mengajak aku makan siang."


"Dan Caleb?"


Grace menyelesaikan sarapannya. "Aku nggak mau membicarakan dia. Aku pergi dulu ya..." Grace segera meninggalkan ruang makan dan menuju ke garasi samping tempat motornya berada. Pagi ini Grace ingin naik motor. Suasana hatinya yang sedang tidak enak sejak semalam hanya bisa diredahkan saat ia melaju di atas yamaha sportnya.


Motor sport itu melaju di atas jalan utama London sampai akhirnya memasuki halaman parkir sanggar tari.


Begitu memasuki ruangannya, Grace mengerjakan beberapa tugas. Mereka akan latihan sore ini karena beberapa penari sedang ada ujian di kampus mereka.


"Grace, ada temanmu!" Kata Katrin sambil berdiri di depan pintu ruangan Grace yang memang jarang sekali ditutup.


"Oh...ajak masuk aja." Kata Grace sambil tersenyum. Jam baru saja merangkak ke arah 11, tapi Damian sudah datang menemuinya. Terlalu awal untuk makan siang.


"Grace....!"


Grace yang masih menunduk membaca laptopnya menoleh dengan kaget.


"Kak Caleb?"


Caleb melangkah masuk. Ia langsung mengambil tempat duduk di depan meja Grace.


Grace langsung memasang wajah datar. Percakapannya semalam dengan Caleb, dan suara perempuan yang bertanya di sebelahnya terngiang kembali di kepala Grace.


"Mau mendengar penjelasanku?" Tanya Caleb.


"Aku dan Dania tidak tidur bersama, Grace. Malam itu, kami makan malam bersama. Dania memang mengungkapkan perasaannya padaku namun aku tak bisa membalasnya. Aku katakan padanya kalau aku mencintaimu."


"Lalu mengapa suara kalian berdua seperti orang yang baru bangun tidur? Kalian bersama di jam yang sangat larut!"


"Tapi itu bukan berarti aku tidur dengannya."


"Ah, sudahlah kak. Aku pusing!"


Caleb menarik napas panjang. "Kau tidak percaya denganku?"


"Haruskah aku percaya?"


"Kau sungguh telah banyak berubah, Grace!"


"Mungkin kehadiran Dania dan Damian hendak membuka mata kita kalau kita nggak jodoh, kak. Dulu, ada Zelina yang menjadi penghalangnya. Kini, ada dua orang itu. Tidakkah kakak melihat bahwa semua ini terlalu sulit bagi kita?"


Caleb menggeleng. "Tak ada yang sulit, Grace." Caleb merogoh kotak berwarna merah dari saku celananya. Ia membuka kota berisi cincin itu dan meletakannya di atas meja.


"Membangun sebuah hubungan itu harus ada dasar saling mempercayai, Grace. Aku tinggalkan cincin ini. Aku beri kesempatan padamu sampai besok. Jika kau memang menolakku, maka hubungan kita selesai. Kita menjadi seperti kakak adik lagi. Kamu tahu kan Grace, aku bukan tipe pemaksa." Kata Caleb lalu berdiri dan meninggalkan Grace yang masih diam tak bicara.


Caleb tiba di mobilnya dengan perasaan sedih. Grace tak percaya padanya.


Ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Erland.


"Hallo kak, sudah ketemu Grace?"


"Ya."


"Berhasil?"


"Entahlah. Dia diam tak bicara."


"Sekarang kakak mau kemana?"


"Kembali ke kantor. Ada rapat jam 2 nanti. Ada apa?"

__ADS_1


"Tak ada apa-apa. Sebaiknya memang kakak berdiam diri di kantor saja. Selebihnya biar aku yang selesaikan. Bye..."


Caleb tak mengerti dengan perkataan adiknya. Ia pun segera menjalankan mobilnya menuju ke kantornya yang letaknya memang tak jauh dari sanggar tari Grace.


**********


"Apakah makanannya kurang enak?" Tanya Damian saat melihat kalau Grace hanya memainkan garpunya tanpa memasukan makanannya ke mulutnya.


"Eh....!" Grace menatap Damian dengan wajah bersalah. "Maafkan aku!"


"Ada masalah?" Tanya Damian sambil menyentuh tangan Grace.


"Tidak!"


"Sungguh?"


"Maaf, ya. Ini ulang tahunmu namun aku membuat suasananya jadi tak baik."


Damian tersenyum. "Nggak masalah, Grace."


Ponsel Grace berbunyi. Ia melihat ada pesan WA yang masuk dari nomor Erland.


Mereka tak bersama, Grace. Aku ada di sana


Kemarin malam. Kakakku tak menghianatimu. Dia sangat mencintaimu. Kehadiran Dania adalah ujian untuk cinta kalian.


Sebuah foto dikirimkan Erland padanya. Foto Seorang gadis yang sedang tidur di atas sofa dan foto Caleb yang tertidur di atas karpet.


Mata Grace berair melihat foto itu. Ya Tuhan, aku sudah salah pada kak Caleb. Ah, Grace ternyata kau sangat bodoh saat cemburu.


"Ada apa, Grace?"


Grace menghapus air matanya.


"Maafkan aku, Damian. Aku harus pergi!"


"Tapi kenapa Grace?"


"Aku baru sadar, kalau aku sangat mencintai, Caleb." Grace meraih tasnya.Setengah berlari ia pergi meninggalkan restoran. Kepalanya langsung berputar mencari taxi. Ia sungguh ingin bertemu Caleb saat ini.


***********


Erland tersenyum memandang ponselnya. Entah kenapa semalam saat pulang dan menemukan Caleb dan Dania yang tidur dengan cara seperti itu membuat Erland iseng untuk mengambil gambar. Ia merasa lucu dengan sifat kakaknya. Kalau Erland, ia tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa tidur bersama Dania yang seksi itu.


Semoga kau dan Grace bahagia, kak.


Tangan Erland mengusap layar hp nya. Foto Meloddy dengan senyum manisnya membiat Erland menekan rasa rindunya pada gadis itu. Mungkin dengan tinggal di Swiss, Erland akan melupakan rasa sukanya pada Meloddy. Karena sampai kapanpun, Meloddy hanya akan menganggapnya sebagai bocah.


"Hai ganteng, sendiri saja? Boleh aku gabung di sini?"


Senyum Erland langsung mengembang melihat sosok cantik yang berdiri di depan mejanya.


"Boleh!" Jawab Erland sambil mengerlingkan matanya.


********


Grace turun dari taxi dengan sangat tergesa-gesa. Ia bahkan hampir lupa membayar ongkos taxinya.


Seorang resepsionis menyapanya.


"Selamat siang, mau ketemu dengan siapa ya?"


"Caleb ada?"


"Tuan Caleb Thomson? Anda siapa ya?"


"Grace....!" Panggil Jonathan, adiknya Joel yang juga bekerja di perusahaan ini.


Grace langsung meninggalkan resepsionis itu lalu mendekati Jonathan.


"Kak Caleb ada?"


"Ya. Sedang rapat di lantai 2. Tuh ruangannya" Tunjuk Jonatan pada sebuah pintu yang memang menghadap ke arah mereka.


Grace langsung menaiki tangga. Ia tak peduli dengan suara Jonathan yang mencegahnya agar jangan menganggu. Tangan Grace membuka pintu itu dengan jantung yang berdebar.Semua yang ada di ruangan itu menoleh dengan kaget. Apalagi Caleb. Ia langsung berdiri.


"Grace?"

__ADS_1


Grace tersenyum. "Aku menerima lamaranmu, kak." Katanya dengan suara lantang.


B e r s a m b u n g


__ADS_2