3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Prasangka


__ADS_3

"Kakak jadi pulang besok?" Tanya Erland saat melihat Caleb yang sedang membereskan baju-bajunya. Keduanya kini tinggal di salah satu kawasan apartemen elit yang disiapkan oleh pihak perusahaan Briliant.


"Iya. Sudah satu bulan aku ada di sini. Ku pikir, sudah saatnya membiarkan kamu sendiri. Jika kamu kangen untuk pulang ke rumah, telepon saja. Biar nanti Joel yang akan menggantikanmu."


Erland tersenyum. "Aku akan lama di sini!"


"Tidak kangen dengan para wanitamu?" Caleb menatap adiknya dengan senyum menggoda.


"Sebenarnya aku kangen dengan Meloddy. Tapi sudahlah. Dia selalu menganggap aku hanya anak kecil. Mungkin di swiss aku akan bertemu dengan gadis lain yang akan membuatku jatuh cinta. Jika memang ada, aku ingin segera menikah."


"Kau baru 23 tahun dan sudah ingin menikah?"


"Supaya kalau anak-anakku sudah besar, aku masih kelihatan tampan dan gagah."


Caleb hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Erland memang sangat berbeda diantara mereka. Ia selalu punya prinsip hidup yang seakan sangat bertentangan dengan kebiasaan keluarga Thomson. Dan jika bunda mereka marah, Erland paling tahu bagaimana membuat bundanya tersenyum lagi.


"Kakak sudah kasih tahu Grace bahwa kakak akan pulang besok?"


"Belum. Aku ingin membuat kejutan padanya. Besok malam Grace ada jadwal menari di salah satu stasiun TV. Aku akan menemuinya di sana." Kata Caleb sambil menahan senyum.


"Dan Dania? Kakak sudah pamitan dengannya?"


Caleb menggeleng.


"Pamit, kak. Nggak baik pergi begitu saja. Dania memang terlihat sangat menyukaimu. Dia selalu menunjukan rasa sukanya tanpa malu-malu."


Caleb yang sudah selesai membereskan pakaiannya, segera menutup kopernya dan meletakannya di dekat lemari pakaian.


"Aku tak sanggup melihat wajah sedihnya jika aku pergi."


"Kakak justru akan membuatnya tambah sedih jika pergi tanpa pamit. Aku akan keluar. Ajaklah dia ketemu di sini dan makan malam bersama. Jangan pergi ke apartemennya karena bisa jadi kakak batal pergi." Kata Erland sok menasehati. Namun sekalipun ia seorang adik tapi pengalaman mendekati perempuan, Erland lah yang paling banyak pengalaman. Ia tahu kalau perempuan suka bertindak nekat jika berda di posisi yang sulit.


Setelah Erland pergi, Caleb memesan makanan dari salah satu restoran. Ia kemudian mengirim pesan pada Dania.


Datanglah ke apartemenku


Aku ingin makan malam denganmu


********


Dania datang ke apartemen Caleb sambil membawa sebotol anggur yang sangat mahal.


"Anggurnya enak." Kata Jeronimo saat menikmati anggurnya di sela-sela makan mereka.


"Ini anggur yang diproduksi oleh sepupuku. Dia bahkan sudah menang kontes anggur selama 3 tahun berturut-turut."


"Aku akan mencari anggur ini jika sudah kembali ke London."


"Kau akan kembali ke London? Kapan?"


"Besok."


"Secepat ini?"Dania kelihatan sangat kaget.


"Ya. Pekerjaanku di sana sangat banyak. Adikku akan melanjutkannya di sini."

__ADS_1


Wajah Dania terlihat sedih. "Begitu ya?"


"Kenapa?"


Dania menghabiskan anggur yang ada di gelasnya. Ia membersihkan mulutnya dengan tisue setelah itu berdiri meninggakkan meja makan. Ia melangkah menuju ke balkon. Gadis itu sungguh tak bisa menahan air matanya.


"Nia....!" Panggil Caleb lalu menyentuh pundak gadis itu.


"Apakah kau tak akan kembali ke sini lagi?"


Caleb berdiri di samping Dania sambil ikut berpegang di pagar pembatas balkon.


"Aku mungkin akan kembali jika ada sesuatu yang sangat penting."


"Apakah aku tak penting untukmu?" tanya Dania sambil memegang tangan Caleb.


"Aku mencintai gadis lain, Nia."


"Grace Aslon?"


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Caleb heran.


"Aku bertanya pada Erland. Dan dia menjawab setelah aku memaksanya."


Caleb mengangguk. "Aku mencintainya semenjak kami kecil."


"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita pertama kali bertemu. Aku pikir kalau kamu juga punya rasa yang sama. Caramu menatapku, bahkan tertawa bersamaku, membuat aku semakin yakin dengan perasaanku ini."


"Aku akui kalau aku terpesona padamu sejak pertama kita bertemu. Aku jadi nyaman dan senang berada disampingmu. Namun semua itu terjadi karena kau agak mirip dengan Grace. Kau tomboy seperti Grace."


"Maafkan aku, Nia. Aku tak bisa membalasnya."


Dania semakin mengeratkan pelukannya.


Hati Caleb merasa sedih. Ia tak bermaksud menyakiti Dania. Namun ia tak ingin rasa kagumnya pada Dania menggantikan rasa cintanya pada Grace.


"Caleb, maukah kau bercinta denganku? Aku ingin memiliki kenangan bersamamu sebelum kau pergi."


Caleb menatap Dania dengan wajah terkejut. Apa?


**********


Di sofa putih, ruang tamu sebuah apartemen mewah, Grace sudah terbaring dengan Damian yang berada di atasnya. Damian baru saja melepaskan ciumannya dari bibir Grace dan kini turun ke leher jenjang gadis itu. Desahan pertana lolos dari mulut Grace. Ciuman Damian bagaikan membakar aliran darahnya.


Tangan Damian perlahan menyusup dibalik punggung Grace lalu menurunkan reslating gaun tipis yang Grace kenakan. Perlahan gaun itu dilepaskan dari tubuh Grace dan menampakan tubuh indahnya.


Grace memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawanya merasakan sensasi yang sementara diberikan Damian melalui ciumannya di sekujur tubuh gadis itu.


"Kau akan menjadi milikku, Grace. Hanya milikku." bisik Damian lalu menyatuhkan dirinya dengan Grace.


"Ah......!" Grace berteriak kaget lalu membuka matanya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Grace langsung bangun dan turun dari tempat tidurnya.


Mimpi yang aneh. Grace menggelengkan kepalanya. Tak mungkin aku bersama dengan orang lain. Tidak! Aku hanya ingin bersama kak Caleb.


Grace turun ke bawa dan membuka kulkas. Ia mengambil air minum dari kulkas untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas. Ia duduk di meja makan sambil menyeka keringatnya.

__ADS_1


"Mimpi buruk?"


Grace menoleh dengan kaget. "Gio?"


Gionino mendekat lalu duduk di depan kakaknya. "Kakak kelihatan berantakan."


Grace tersenyum. "Tumben pulang ke rumah."


"Kangen dengan orang rumah." Gionino menatap kakaknya dengan intens. "Mimpi apa?"


"Bercinta dengan Damian."


"Apa?" Gionino tak dapat menahan tawanya. "Memangnya kakak dan Damian ada sesuatu?"


Grace menggeleng. "Tidak. Kemarin kami pergi nonton bareng film terbarumu. Selama di dalam bioskop, ia selalu memegang tanganku. Saat Damian mengantarku pulang, dia hanya mencium dahiku. Itu saja."


"Kakak menyukainya?"


"Ya. Namun bukan cinta. Wajah Damian yang akan mirip Caleb membuat aku selalu suka menatapnya."


"Segera resmikan hubungan kakak dengan kak Caleb. Sebab kalau tidak, Damian bisa merebut tempat Caleb di hati kakak." Gionino berdiri. "Aku ke kamar dulu ya?"


Grace pun ikut berdiri. Ia menuju ke kamarnya. Apapun yang terjadi, ia tak mungkin melepaskan Caleb.


Grace meraih ponselnya. Ia menatap jam dinding. Sudah jam 1 dini hari. Berarti di Swiss sudah jam 2.


Grace segera menghubungi ponsel Caleb. Ia ingin mendengar suara cowok itu.


Panggilan pertama, Caleb tak mengangkatnya. Panggilan kedua, Celeb akhirnya menerima panggilan Grace.


"Hallo?" terdengar suara Caleb yang berat, sepertinya ia memang sudah tertidur.


"Kak, maaf aku menganggumu."


"Tidak apa-apa. Apakah kamu baik-baik saja? Mengapa menelepon tengah malam seperti ini?"


"Aku merin....."


"Siapa itu, Caleb?"


Kalimat Grace seperti terhenti ditenggorokannya mendengar ada suara perempuan di sebelah Caleb. Hati Grace bagaikan ditusuk ribuan pisau. Air mata gadis itu langsung jatuh tanpa bisa ditahannya.


"Apakah itu dia gadis yang kakak katakan mirip denganku?" Tanya Grace berusaha menahan sakit di hatinya. Berusaha menahan tangisnya agar tak didengar oleh Caleb.


"Iya."


"Kalian bersama?"


"Tak seperti yang kau bayangkan, Grace!"


"Tak seperti yang aku bayangkan? Ini tengah malam, kak. Kalian......" Tangis Grace langsung pecah. "Maaf kalau aku menganggu." Grace memutuskan sambungan telepon. Ia bahkan menonaktifkan ponselnya.


Grace mengepalkan tangannya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Aku benci kamu, kak.


So...what next???

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Vote ya?


__ADS_2