3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Rahasia Hati


__ADS_3

"Kau sudah bangun?"


Zelina menoleh ke arah suara itu. Mark berdiri tepatdi sampingnya.


"Aku dimana, Mark?"


"Rumah sakit kampus. Kamu pingsan tadi. Ingatkan?"


Zelina menarik napas panjang. "Mengapa aku bisa pingsan, ya?"


"Tekanan darahmu sangat rendah, dan perutmu benar-benar kosong. Sakit maagmu kambuh."


Zelina menatap selang infus yang ada di tangan kirinya.


"Kenapa harus dipasang infus segala? Aku jadi terlambatkan harus ke rumah sakit?"


Mark menyentil dahi gadis di depannya. "Kamu sakit dan masih memikirkan orang lain?"


"Aow...sakit tahu!" Zelina meringis. Lalu ia perlahan bangun dan bersandar di kepala tempat tidur.


"Mark, aku bisa pulang kan?"


"Ya. Kalau tekanan darahmu sudah normal dan kau sudah menghabiskan makananmu." Kata Mark sambil menunjukan makanan yang sudah tersedia di atas nakas.


"Aku akan makan semuanya. Ambilkan!" Kata Zelina. Mark pun meletakan makanan itu di atas meja yamg dapat diputar. Lalu meja itu berhenti di dapan Zelina. Gadis itu langsung memakannya dengan lahap.


"Pelan-pelan. Nanti kamu tersedak."


"Maaf...!" Zelina tersenyum malu. Ia memang ingin menyelesaikan makannya dan segera ke rumah sakit untuk menemui Caleb. Ia tahu kalau cowok itu pasti sudah menunggunya.


***********


"Kau kelihatan gelisah? Ada apa, nak?" Tanya Faith lembut.


Caleb menggeleng. "Tidak ada apa-apa, bunda."


"Apakah karena Zelina yang belum datang, atau karena Grace yang sudah tidak pernah mengunjungimu lagi?"


"Bukan seperti itu, bunda. Aku justru memikirkan pekerjaanku di kantor."


Faith tersenyum.Ia lalu mendekati anaknya, duduk di kursi yang letaknya di dekat tempat tidur.


"Caleb, bunda tak mau mencampuri urusanmu. Hanya saja bunda ingin agar kau menjadi pria yang berani mengambil keputusan. Bunda menyukai Zelina dan juga Grace. Keduanya adalah gadis yang cantik dan baik. Kalau memang Grace sudah bersama Howie, mengapa kamu tak bersama Zelina? Bunda dapat melihat kalau Zelina sangat menyukaimu."


Caleb menarik napas panjang. Mungkin apa yang dikatakan bundanya benar. Dia harus segera menentukan pilihan.


Saat Faith keluar untuk membeli kopi, Caleb meraih ponselnya. Ia menelepon Zelina. Namun sampai 2 kali ia memanggilnya, gadis itu tak mengangkat teleponnya.


Apakah dia masih kuliah? Bukankah kemarin dia bilang kalau jadwal kuliahnya selesai jam 1 siang? Atau adakah sesuatu yang terjadi padanya?

__ADS_1


Caleb jadi gelisah. Tak biasanya Zelina mengabaikan panggilannya.


Pintu ruangannya terbuka. Caleb yang hampir tertidur membuka matanya.


"Grace?"


Grace melangkah masuk. Ia datang bersama Gionino adiknya dan Howie. Hati Caleb sesak melihat Howie datang bersama mereka.


"Hallo kak!" Sapa Gionino.


"Hai...!" Caleb menatap kedua kakak beradik itu. Ia tersenyum ke arah Howie. Hatinya bergetar saat melihat Grace. Kalau bisa dikata, dia memang rindu. Namun ia berusaha menepis perasaannya itu. Grace sudah bersama Howie. Caleb sakit saat mengetahui itu. Namun ia tak mau menganggu hubungan itu.


"Bagaimana keadaanmu, tuan Thomson?" Tanya Howie ramah.


"Panggil saja Caleb. Keadaanku sudah lebih baik." Caleb pun menjawab tak kalah ramah dan sopan.


"Kakak sendiri?" Tanya Grace.


Sungguh, Caleb rindu mendengarkan suara Grace.


"Bunda bersamaku. Namun bunda pergi membeli kopi."


Grace hanya mengangguk. "Ini ada kue kacang untuk kakak. Dokter tak melarang makan kue kan?"


"Tentu saja tidak. Terima kasih, ya." Ujar Caleb sambil memperhatikan kantong plastik yang dipakai untuk membungkus kotak kue itu sama dengan yang ditemukan Zelina kemarin.


Pintu kembali terbuka. Zelina masuk dan langsung melangkah cepat tanpa memperhatikan siapa yang ada di ruangan itu.


Caleb memperhatikan tangan Zelina yang memakai plester kecil.


"Kenapa tanganmu?" Tanya Caleb sambil memegang tangan Zelina.


"Eh, aku....diinfus."


"Di infus? Memangnya kamu sakit? Ada apa denganmu?" Caleb jadi panik sambil memegang wajah Zelina.


Grace menekan perasaannya. Gionino dapat melihat ekspresi kakaknya yang terluka.


"Hallo Zelina!" Sapa Gionino.


Zelina menoleh dengan kaget. Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Caleb. "Aku sampai tak memperhatikan ada tamu di sini. Hallo Gio, Grace dan pangeran Howie." Zelina membungkukkan tubuhnya sedikit pada Howie.


"Hallo Zelina. Kamu kelihatan agak pucat." Ujar Gionino.


"Eh, aku..." Zelina jadi gugup. Ia tak tahu bagaimana harus mengatakannya.


"Zelina tadi pingsan di kampus. Kata dokter tekanan darahnya rendah dan penyakit maagnya kambuh lagi." Mark yang sebenarnya datang bersama Zelina masuk sambil menjelaskan keadaan Zelina. Saat tiba di halaman parkir tadi Zelina memang langsung berlari meninggalkan Mark. Ia begitu ingin bertemu Caleb karena sudah 4 jam berlalu dari waktu yang seharusnya.


"Kenapa sampai sakit maagnya kambuh? Pasti jam makanmu tidak teraturkan? Pasti tidurmu tidak cukup kan? Kamu ada masalah?"

__ADS_1


Pertanyaan beruntun dari Caleb membuat Zelina jadi salah tingkah. Ia tak enak karena melihat Grace yang tidak nyaman. Suasana di kamar itu jadi kaku.


"Wah, banyak tamu rupanya." Faith masuk mencairkan suasana yang ada. Di tangannya ada gelas kopi.


"Bibi....!" Sapa Gionino dan Grace secara bersama.


"Terima kasih sudah berkunjung ke sini. Oh, ada juga pangeran Howie. Suatu kehormatan pangeran mau mengunjungi anakku." Faith merasa tersanjung melihat Howie. Namun ia dapat melihat wajah Caleb yang sepertinya menahan rasa cemburu.


Setelah berbincang sejenak, Howie, Grace dan Gionino berpamitan pulang.


"Saya juga mau permisi pulang. Ingat Zel, dokter memintamu untuk memeriksakan kesehatanmu lagi." Kata Mark sebelum pergi.


Faith dan Caleb memandang Zelina. "Zelina, kalau kamu sakit, pulang saja. Jangan menunggui Caleb di sini." Kata Faith.


"Tidak, bi. Aku hanya terlambat makan saja."


"Jaga kesehatan ya." Kata Faith sambil menepuk bahu Zelina. "Cal, bunda ke kantor daddy sebentar ya. Erland akan datang untuk menjagamu di sini."


"Baik, bunda."


Setelah Faith pergi, Caleb meminta Zelina untuk duduk di sampingnya. Caleb menyenderkan kepalanya di bahu Zelina.


"Biarkan aku tidur begini ya." pinta Caleb sambil memejamkan matanya. Ia lelah dengan hatinya sendiri yang mencintai 2 gadis ini. Caleb ingin menentukan pilihannya. Ia ingin menjalaninya dengan Zelina. Tapi keraguannya kembali datang, saat melihat Grace yang cemburu saat ia memberikan perhatiannya pada Zelina. Caleb sedih melihat Grace terluka. Lalu, bagaimana hubungan Grace dan Howie?


********


Gionino langsung pergi dengan mobilnya setelah mereka keluar dari rumah sakit. Sedangkan Grace diantar oleh Howie.


"Grace, apakah kita langsung pulang?" Tanya Howie.


Grace diam. Pikirannya masih melayang di ruangan rumah sakit tadi. Bagaimana Caleb panik saat mendengar Zelina sakit. Sebenarnya, saat Grace sakit pun Caleb akan panik seperti itu.


"Grace....!" Howie menyentuh tangan Grace dan membuat gadis itu sadar dari lamunannya.


"Ada apa Howie?"


"Tadi aku bertanya, apakah kita langsung pulang Ke rumahmu?"


"Oh...." Grace tak ingin pulang ke rumahnya. Dia ingin menenangkan hatinya.


"Howie, ayo kita jalan-jalan."


"Boleh. Tapi aku tak ingin sekedar jalan-jalan saja. Aku ingin ini menjadi kencan pertama kita."


Grace mengangguk. Ia menarik napas panjang. Saatnya bagi Grace untuk bangkit. Dia ingin melupakan Caleb. Dia ingin pergi dari cinta masa kecilnya.


"Baiklah, Howie. Ayo kita berkencan." Kata Grace membuat Howie menggengam tangan Grace dan mengecup punggung tangan itu dengan sangat mesra.


Selanjutnya, apakah Grace benar-benar akan kencan dengan Howie? Dan apakah Caleb akan menyatakan cintanya pada Zelina?

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA???


__ADS_2