
Grace menatap tubuh polosnya di depan kaca yang ada di kamar mandinya. Ia terkejut melihat ada dua kissmark yang dibuat Caleb. Satu di lehernya dan satu di dada kirinya. Grace tak menyadari bagaimana bisa tanda merah itu ada di sana. Tadi siang di ruangan Caleb, seluruh tubuh Grace menginginkan sentuhan Caleb. Ia dibuat gila dengan ciuman itu.
Tangan Grace menepuk kepalanya sendiri. Sadar Grace, kamu ke sana untuk mengatakan tentang sakitnya Zelina. Mengapa justru kamu terbuai dengan ciuman Caleb?
Grace segera mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat mamanya yang baru saja masuk ke kemarnya.
"Grace, di ruang tamu ada Howie."
"Howie? Memangnya latihan militernya sudah selesai? Bukankah masih 3 bulan lagi?"
"Kamu tanyakan saja padanya secara langsung. Mommy tunggu di bawah ya?" Ujar Maura lalu meninggalkan kamar Grace.
Grace merapihkan rambutnya, lalu ia mengambil hp nya dari dalam tasnya. Saat ia mengusap layarnya, ternyata hp nya itu kehabisan daya. Grace langsung menghubungkan dengan pengisi dayanya lalu meninggalkan hpnya itu di atas meja. Langkahnya pelan turun ke bawa.
"Hai..!" Sapa Grace pada Howie.
Maura yang menemani Howie segera meninggalkan putrinya bersama Howie.
Cowok tampan itu segera berdiri dan mendekati Grace. Tangannya langsung menarik tubuh Grace agar gadis itu ada dalam pelukannya.
"I miss you so much!" ujar Howie sambil mengeratkan pelukannya.
Grace tak bicara karena matanya justru menatap pria tampan lain yang berdiri di depan pintu rumahnya yang memang tidak terkunci. Pria yang matanya penuh dengan kilatan marah dan rasa cemburu yang tak bisa disembunyikan.
Tangan Grace secara perlahan mendorong tubuh Howie.
"Kak Caleb!" Panggil Grace dan membuat jaraknya dengan Howie jadi terpisah.
Howie menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum pada Caleb.
"Hallo Caleb!" Sapa Howie sambil melepaskan tangannya dari tubuh Grace.
Caleb melangkah masuk. Ia pun memaksakan sebuah senyum.
"Selamat malam!" Kata Caleb.
Grace terlihat gugup karena 2 lelaki yang kini berdiri didekatnya.
"Duduk kak." Kata Grace pada Caleb. Lalu ia menatap Howie. "kau juga silahkan duduk Howie. Aku mau meminta pelayan membuat minuman." Grace langaung melangkah ke dapur. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Saat ia tiba di dapur, salah satu pelayan baru saja akan membawakan minuman ke depan.
"Minumannya ditambah satu." Ujar Grace.
Maura dan Ben yang sedang duduk di meja makan sambil menikmati kopi hangat menatap Grace.
"Kamu juga mau minun kopi?" Tanya Maura.
"Eh bukan, mom. Di depan juga ada kak Caleb."
"Oh....!" Maura terkejut mendengar perkataan Grace. Ia tak menyangka kalau Caleb datang. Pantas saja ia melihat wajah Grace sedikit gelisah.
__ADS_1
"Ada apa Caleb datang ke sini?" Tanya Ben terlihat kurang suka.
Maura menatap suaminya. "Sayang, Caleb kan memang biasa datang ke sini."
"Tapi dia sudah lama tak ke sini."
Grace tak menanggapi percakapan orang tuanya. Ia segera kembali ke ruang tamu bersama pelayan yang membawakan 2 cangkir kopi.
"Sayang, kamu kenapa bicara seperti itu? Grace kelihatan tak suka." Maura menatap Ben dengan heran.
"Howie itu lelaki yang tepat bagi Grace. Dia datang ke sini tentu saja ingin berduaan dengan Grace. Eh, si Caleb justru datang menganggu." Ben berkata sedikit kesal.
"Jangan seperti itu. Bisa saja ada sesuatu yang harus Caleb bicarakan dengan Grace."
Ben menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil bersedekap. Ia sebenarnya hanya ingin Grace bahagia. Ia sudah terlalu sering melihat Grace menangis karena Caleb.
**********
Suasana canggung jelas terlihat di ruang tamu. Grace, Howie dan Caleb saling diam beberapa saat. Howie tampak tenang menikmati kopinya dan Caleb yang terlihat tenang juga memainkan ponselnya.
"Kak, kenapa tak minum kopinya?" Tanya Grace berusaha mencairkan suasana yang ada.
Caleb langsung mengambil cangkir kopinya dan menyesap kopi itu perlahan.
"Howie, latihan militernya sudah selesai?" Tanya Grace.
"Ya. Karena kondisi politik di sana sedikit memanas, jadi untuk sementara latihannya dihentikan.Semalam aku dan semua pasukan sudah kembali ke London."
"Kak, ada apa ke sini?" Tanya Grace.
"Ponselmu sejak tadi siang tak bisa dihubungi. Aku ingin membicarakan sesuatu."
"Ponselku kehabisan daya. Aku baru saja mengisinya."
Caleb menatap Howie. "Aku permisi sebentar mau bicara tak lama dengan Grace." Caleb berdiri. "Kakak tunggu di depan." Caleb melangkah menuju ke luar rumah.
Grace memandang Howie. Ia jadi tak enak hati. Namun ia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Caleb.
"Howie, aku permisi sebentar ya."
Howie mengangguk dengan sopan sekalipun hatinya cemburu.
Grace melangkah ke luar rumah. Caleb sedang berdiri di teras rumah sambil bersandar di salah satu tiang.
"Ada apa, kak?" Tanya Grace.
"Mengapa tadi siang kamu langsung pergi dan tak memperdulikan panggilanku?" Tanya Caleb. Tatapan matanya yang tajam langsung menusuk ke kedalaman hati Grace.
"Kak, aku malu pada paman Ezekiel karena dia memergoki kita yang sedang..." Grace tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat dan pipinya menjadi merah membayangkan kejadian di kantor Caleb tadi siang.
"Aku akan ke Indonesia besok pagi. Ada masalah yang harus ku selesaikan di Bali. Aku ke sini karena merasa tak enak denganmu. Aku pikir kamu marah dengan apa yang aku lakukan padamu di dalam ruanganku." Kata Caleb sambil mendekati Grace. Ia berdiri tepat di hadapan Grace sambil menatap gadis itu dengan sangat lekat.
__ADS_1
Grace menunduk. Pikirannya menjadi tak fokus jika Caleb sudah berdiri sedekat ini dengannya.
"Grace..." Caleb menyentuh wajah Grace dengan tangannya. Grace memejamkan matanya. Ia merasakan tubuhnya bergetar menerima sentuhan itu. Deru napas Caleb yang terasa hangat di pipinya menandakan bahwa jarak diantara mereka sangat dekat.
"Kak, aku....!" Kalimat Grace terhenti karena Caleb sudah mencium bibirnya dengan lembut. Grace tak bisa menolaknya. Ia membalas ciuman Caleb dengan hasrat yang sama.
Ciuman itu terhenti saat Grace mengingat Zelina. Ia mendorong tubuh Caleb perlahan. "Kak, Zelina. Dia...dia...." Grace menjadi gugup. Apakah aku harus mengatakan tentang sakitnya Zelina? Apakah ini adalah hakku untuk mengatakan pada Caleb?
"Ada apa, Grace?"
"Zelina, apakah kakak tahu keadaannya?"
"Aku sudah hampir satu bulan ini tak bertemu dengannya. Kenapa?"
"Dia..."
Ponsel Caleb berbunyi. Ia agak kesal karena merasa terganggu. Namun saat dilihatnya itu dari bundanya, karena kesalnya langsung hilang. Bunda adalah segalanya. "Hallo, bun. Ada apa?"
"Sayang, tante Dina telepon dari Manado. Seharian ini Zelina tak bisa dihubungi. Dia sangat khawatir karena menurutnya Zelina agak aneh. Ia bahkan sudah meminta kiriman uang yang cukup banyak di bulan ini sampai 2 kali. Kamu tolong cek ke apartemen Zelina ya?"
"Baik, bunda." Caleb menjadi khawatir juga saat mendengar kabar bahwa Zelina tak bisa dihubungi.
"Grace, aku mau ke apartemen Zelina. Mamanya khawatir karena seharian ini ponselnya nggak aktif." Kata Caleb.
Grace pun jadi cemas mengingat Zelina dan sakitnya. Ingin rasanya ia ikut dengan Caleb namun ia tak mungkin meninggalkan Howie sendiri di sini.
"Pergilah, kak. Nanti kabari aku tentang Zelina ya?"
Caleb mengangguk. Ia melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, ia kembali lagi di hadapan Grace.
"Aku menyayangimu, Grace." Kata Caleb lalu mencium bibir Grace dengan lembut dan segera membalikan badannya dan pergi.
Grace menatap kepergian Caleb dengan hati yang berbunga. Caleb memang selalu mengucapkan kata kalau dia menyayangi Grace. Namun kali ini, kata-kata itu terasa berbeda. Grace merasa kalau Caleb sudah menyatakan perasaan cinta padanya.
Saat ia masuk ke dalam, dilihatnya Papa dan mamanya sudah duduk bersama Howie.
"Caleb sudah pulang?" Tanya Maura.
"Ya." Grace duduk di depan Howie.
"Grace, aku ke sini ingin memperjelas hubungan diantara kita. Ibunda ratu meminta supaya kita segera bertunangan." Ujar Howie.
Grace terkejut. Bertunangan? Lalu, bagaimana dengan Caleb? Bukankah ia yang memberi kesempatan pada Howie? Namun sekarang ia sudah tahu perasaan Caleb padanya. Haruskah ia menyakiti Howie?
WHAT NEXT???
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE
BACA JUGA NOVEL TERBARUKU :
MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU
__ADS_1