3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Keegan menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Seminggu yang lalu, Keegan baru saja mengadakan acara pertunangannya dengan putri Sofia. Beritanya saja masih trending di media sosial.


"Kee, apa benar kamu mau ikut?" Tanya Caleb saat keduanya tinggal berdua saja di ruangan Caleb. Meloddy sudah pergi.


"Aku ingin tahu kabarnya Zelina. Aku ingin pastikan kalau dia masih hidup atau tidak."


"Bagaimana kalau dia memang masih hidup?"


Keegan menarik napas panjang. Ada yang terasa sesak di hatinya.


"Aku akan merelakannya lepas dari hidupku. Zelina pernah mengatakan kalau dia kembali ke London saat sembuh, dia akan kembali untukku. Kalau ternyata sekarang ia sudah sembuh dan tak kembali ke sini, itu artinya dia memang tak ingin bersamaku." Kalimat yang diucapkan Keegan begitu sedih sehingga matanya sedikit berkaca-kaca.


Caleb juga merasakan sesak di dadanya. Seandainya ia tahu lebih awal kalau Keegan begitu mencintai Zelina, ia pasti akan melepaskan Zelina untuk Keegan. Karena semenjak Zelina pergi, semua lagu Keegan hanya tercipta untuk Zelina. Semua lukisan yang Keegan lukis, selalu tentang Zelina.


"Kau jadi melaksanakan pameran lukisanmu?" Tanya Caleb.


"Ya. Rencananya 3 minggu lagi. Pamerannya akan di buka selama 1 minggu. Jadi seminggu sebelum pernikahanmu, pamerannya sudah selesai."


Ponsel Caleb berbunyi. Raut wajahnya yang sedih langsung tersenyum melihat Grace yang meneleponnya.


"Hallo sayang, bagaimana?" Tanya Caleb.


"Awalnya Mark tak mau bertemu, namun karena aku terus mendesaknya, ia akhirnya mau. Jam 8 malam ini kita akan bertemu dengan Mark."


"Di mana?"


"Di apartemenmu, kak. Boleh?"


"Tentu saja, sayang."


"Baiklah. Sampai jumpa jam 8 ya."


"Kak, aku boleh pergi lebih dulu ke apartemenmu? Aku ingin masak."


"Ok. Kamu tahu kode untuk membukanya. Jam 6 aku sudah ada di apartemen."


"Ok. Bye."


Caleb menatap Keegan. "Jam 8 malam di apartemenku."


"Aku akan ada di sana tepat waktu." Keegan berdiri dan menatap arlojinya. "Masih ada 4 jam lagi sebelum jam 8 malam. Aku pergi dulu ya?"


Caleb mengangguk. Ia menatap sepupunya itu sampai menghilang dari balik pintu.


Tangan Caleb membuka laci mejanya. Di sana ada foto mereka saat liburan ke Bali 17 tahun lalu. Mereka masih bocah saat itu. Ada Caleb, Chloe, Erland, Keegan, Grace, Gionino, Meloddy dan kedua saudaranya Min Jun dan Jisoo, Joel dan Jonathan. Keegan berdiri tepat dibelakang Zelina. Dan ternyata tatapan mata Keegan bukan fokus pada kameranya, namun ia tersenyum sambil menatap ke arah Zelina. Sudah lama foto ini ada di laci kerjanya, namun baru kali ini Caleb perhatikan pandangan mata Keegan yang tertuju pada Zelina.

__ADS_1


Zel, semoga ada kabar baik tentang dirimu. Aku ingin kau hadir dipernikahan kami. Dan aku ingin Keegan menemukan kebahagiaan juga bersamamu.


*********


Senyum di wajah Grace langsung mengembang saat tahu kalau tangan kekar yang memeluknya dari belakang adalah Caleb.


"Kak...!" desis Grace manahan rasa geli saat bibir Caleb mencium lehernya yang terekspos karena rambutnya yang diikat satu.


"Baumu memabukan. Jangan tunggu malam pengantin kita, ya? Sekarang aja." Bisik Caleb lalu membalikan tubuh Grace dan langsung mencium bibir Grace saat keduanya sudah berhadapan.


Spatula yang ada di tangan Grace langsung jatuh ketika Caleb sudah mengangkat tubuh Grace dan mendudukannya di atas pantry tanpa melepaskan ciuman mereka.


"Kak, masakanku bisa gosong." Grace melepaskan ciumannya. Ia mendorong tubuh Caleb dan melompat turun. Ia memungut spatula yang jatuh ke lantai lalu segera mencucinya dan kembali ke depan kompor.


Caleb tersenyum melihat tingkah kekasihnya.


"Kak, mandi dulu." Kata Grace saat Caleb kembali memeluknya.


"Memangnya aku bau?"


"Iya."


"Enak saja. Memangnya kamu tahu berapa harga minyak wangi yang aku pakai ini?"


Caleb hanya terkekeh. Ia mencium pundak Grace sebelum menuju ke kamarnya.


***********


Kehadiran Mark di apartemen Caleb membuat Grace, Caleb dan Keegan sangat penasaran untuk mengetahui kabar Zelina. Mereka makan malam bersama. Saat makan malam, Grace meminta Caleb dan Keegan untuk jangan dulu menanyakan kabar tentang Zelina sampai mereka selesai makan malam.


Selesai makan malam, mereka berempat duduk di ruang tamu sambil menikmati anggur yang khusus di bawa oleh Mark.


"Aku menjemput Zelina di bandara 3 tahun yang lalu. Matanya bengkak dan suaranya agak serak. Sepertinya selama dalam perjalanan ia menangis terus." Mark memulai ceritanya.


Grace merasakan ada sesuatu yang menusuk hatinya. Waktu itu juga Grace ke Amerika. Sepanjang perjalanan pun Grace menangis terus.


"Aku pikir, Zelina masih akan menangis ketika aku mengantarnya ke apartemennya. Ternyata ia sudah bisa tersenyum. Katanya, impian masa kecilnya untuk bisa bersanding dengan Caleb sudah bisa diwujudkannya. Ia nampak bersemangat menjalani hari-harinya di Amerika. Ia rajin ke kampus dan juga kontrol kesehatannya. Zelina bahkan diterima bekerja di salah satu anak perusahaan milik sepupuku, Damian. Ia sama sekali tak pernah membicarakan tentang Caleb lagi. Sesekali Zelina bercerita tentang Keegan. Tentang lagu-lagu Keegan, yang semuanya dihafal oleh Zelina. Mungkin karena terlalu serius bekerja sambil kuliah, Zelina kurang memperhatikan kesehatannya. Ia semakin kurus dan cepat lelah. Bahkan hasil pemeriksaan terakhir, kankernya justru naik ke level stadium 3. Aku memintanya untuk berhenti bekerja. Namun Zelina tak mau. Barulah belakangan aku tahu, uang tabungan Zelina sudah habis untuk dipakai berobat. Ia pindah ke apartemen yang lebih kecil." Mark berhenti sejenak. Ia menyesap anggurnya. Keegan, Caleb dan Grace yang mendengarnya tak dapat menahan rasa harunya.


"Dasar gadis bodoh! Dia punya segalanya namun memilih hidup menderita." Ucap Caleb menahan rasa marah, sedih, sekaligus rasa iba mendengar cerita Mark.


"Zelina menyelesaikan studi S2 nya hanya 1 tahun 4 bulan. Sehari sesudah wisudanya, Keegan melaksanakan konser di New York. Aku tak bisa menemaninya saat itu karena kondisi papaku sedwng drop. Dia pinjam uang padaku untuk ke sana dan menonton konser Keegan. Uang yang dia pinjam lumayan banyak. Aku juga sempat heran namun tak bisa bertanya lebih. Aku takut Zelina tersinggung. Ia begitu bersemangat berangkat ke New York. Aku tak menyangka kalau itu adalah pertemuan terakhirku dengan Zelina. Ia tak pernah kembali lagi ke LA. Saat aku mendatangi apartemennya, tak ada satu barangpun yang tertinggal. Hanya sebuah surat yang berisi permohonan maafnya karena pergi dengan cara seperti itu. Aku melacak keberadaan Zelina melalui salah satu temanku yang bekerja sebagai FBI. Berdasarkan data imigrasi yang ada, Zelina berangkat ke Cina. Itulah kabar terakhir yang aku tahu. Aku juga kehilangan Zelina. Sudah setahun lebih, dan aku tak mendapatkan kabarnya sama sekali." Mark mengahiri ceritanya.


"Aku ingat, Zelina pernah bilang kalau ia sangat ingin pergi ke Cina. Kalian tahu kan kalau dia sangat suka dengan film kungfu. Dia juga mengatakan kalau ia akan mati dengan tenang, jika sudah melihat tembok raksasa." Ujar Caleb sambil menghapus air matanya yang terlanjur keluar dari matanya.


Tangis Grace langsung pecah. "Apakah itu berarti kalau Zelina sudah meninggalkan kita semua?"

__ADS_1


"Sepertinya dia memang memilih untuk tidur dalam keabadian di tempat yang selalu ingin didatanginya. Aku sudah berusaha mencari keberadaannya di Cina. Aku bahkan pernah ke Cina 6 bulan yang lalu. Namun tak ada petunjuk sama sekali." Mark meneguk habis anggur yang ada di gelasnya sampai habis. "Kalian tahu kalau aku sangat menyukai Zelina. Namun Zelina hanya selalu menganggapku sebagai teman saja. Dia mungkin sudah tak menyukaimu, Caleb. Karena ia tak pernah menyebut namamu lagi. Aku pikir, dia mulai menyukai Keegan. Karena kemanapun dia pergi, dia selalu menyanyikan lagu-lagu Keegan."


Keegan tersenyum. Ia pun meminum sampai habis anggur yang ada dalam gelasnya. "Mungkin keputusanku untuk bertunangan dengan Sofia adalah keputusan yang tepat."


*********


Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Namun baik Grace maupun Caleb tak ada yang bisa memejamkan matanya. Sementara Keegan, sudah tertidur di sofa ruang tamu dalam keadaan mabuk berat. Mark sendiri ada di kamar tamu. Ia juga mabuk. Kedua cowok tampan itu menghabiskan semua anggur yang dibawa oleh Mark.


Grace sendiri sudah menelepon mamanya, meminta ijin untuk tidur di apartemen Caleb. Maura awalnya kurang setuju. Namun saat Grace meceritakan tentang keadaan Mark dan Keegan yang mabuk berat setelah berbagi cerita tentang Zelina, Maura pun mengijinkan.


Caleb duduk di atas ranjang sementara Grace duduk di depannya. Tangan Caleb memeluk kekasihnya itu secara posesif.


"Kak, kau sudah lega mendengar berita tentang Zelina?"


"Ya. Walaupun sebenarnya aku ingin kabar baik yang bisa ku dengar. Namun saat tahu kalau Zelina pergi ke Cina, negara yang sangat ingin dikunjunginya, aku merasa lega.Jika memang Zelina sudah meninggal, maka ia meninggal dalam damai."


Grace berbalik dan menatap Caleb. "Ya. Aku pun berpikir demikian."


"Sekarang kita akan fokus pada pernikahan kita saja. Kamu ingin kita bulan madu dimana?" Caleb membelai wajah Grace dengan penuh sayang."


"Aku ingin ke Indonesia. Aku ingin pergi ke Medan, ke Manado, ke Yogyakarta, Bali dan Lombok. Boleh?"


Caleb mengangguk. "Keliling satu Indonesiapun aku akan menemanimu."


"Makasi, kak." Grace mencium bibir Caleb. Keduanya berciuman sangat dalam. Ciuman yang awalnya hanya biasa saja, kini sudah membakar raga.


"Kak...!" Grace mengingatkan.


Caleb tersenyum walaupun ia sedikit tersiksa. "Baiklah."


Grace membetulkan lagi gaunnya yang sedikit berantakan. "Oh ya, kak. Kita punya satu misi sebelum pernikahan ini berlangsung."


Caleb yang sudah turun dari tempat tidur menahan langkahnya. "Misi apa?"


"Menyatukan Erland dan Meloddy."


"Memangnya Meloddy suka pada adikku?"


"Dia bahkan sedang merindukan Erland saat ini."


Caleb mengangguk. "Ok."


Berhasilkah Meloddy dan Erland menjadi sepasang kekasih?


Jangan lupa like, komen dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2