3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Isi Hati Zelina


__ADS_3

Selesai makan malam bersama, kedua sejoli yang sedang dimabuk asrama itu memutuskan untuk pergi ke apartemen Caleb.


Keduanya duduk si ruang tamu. Caleb melingkarkan tangannya di bahu Grace dan gadis itu bersandar di dada Caleb.


"Apakah besok masih ada syuting video clip lagi?" Tanya Caleb.


"Sebenarnya besok masih ada. Namun entah kenapa Keegan tiba-tiba saja membatalkannya. Jadi syutingnya akan dilanjutkan lusa. Mungkin dia punya janji dengan pacarnya."


"Keegan tak punya pacar, sayang. Dulu memang ia pernah dekat dengan beberapa model. Namun sepertinya hanya teman dekat saja."


"Oh, begitu ya"


Caleb menurunkan tangannya. Ia kini memeluk pinggang Grace.


"Masih sakit?" Tanyanya parau.


"Apanya yang sakit?" Grace mendongak. Tatapan mata mereka bertemu. Caleb tak tahan akhirnya mengecup bibir manis Grace. "Yang ini, apakah masih sakit?" Tangan Caleb menyentuh inti Grace membuat gadis itu bergetar dan langsung menarik tangan Caleb dari sana.


"Kak..., malu ah..!" rengek Grace manja.


"Malu pada siapa? Kan kita hanya berdua."


Grace semakin menenggelamkan wajahnya di dada Caleb. "Malu sama kakak."


"Kenapa malu sama aku?"


"Ya, malu saja."


"Aku kan hanya bertanya apakah masih sakit? Soalnya semalam saat aku mengantarmu, kamu bilang jalannya agak susah."


"Iya. Daddy saja bertanya kenapa jalanku kayak gitu."


Caleb terkekeh. "Jadi, daddy sudah tahu?"


"Nggaklah." Grace memukul dada caleb perlahan.


"Kita menikah saja."


Grace menjauh dari pelukan Caleb. "Menikah? Usiaku baru 20 tahun, kak. Kuliah saja belum selesai. Aku mau mengikuti beberapa ajang festival menari. Aku justru ingin menikah saat usiaku 26 atau 27 tahun."


"Kelamaan sayang. Nanti aku keburu tua. Aku tak mau menunggu 6 tahun lagi." Keluh Caleb sambil mengkerucutkan bibirnya.


"Usia kita kan hanya beda 4 tahun, kak. Pas lah saat menikah usia kakak sudah 30 tahun. Rata-rata pria di London kan menikahnya di usia seperti itu."


Caleb membelai wajah Grace. "Grace, aku ingin punya anak saat usiaku 25 atau 26 tahun. Supaya aku masih kelihatan gagah saat ia dewasa nanti."


Grace tersenyum. Ia mengalungkan tangannya di leher Caleb. "Aku pikir kakak akan seperti daddyku atau paman Ezekiel. Walaupun sudah tua tetap terlihat ganteng dan gagah. Rajin olahraga saja kuncinya."

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kita olahraga, yuk!"


Grace mengerutkan dahinya. "Olahraga apa, kak?"


"Olahraga di kamarku."


"Kakak!" Wajah Grace memerah. Caleb hanya tersenyum. Ia menarik tangan Grace agar gadis itu duduk dipangkuannya. Perlahan ia menunduk dan langsung menyesap bibir Grace dengan ciuman yang manis namun penuh tuntutan untuk dipuaskan. Grace memejamkan matanya. Ia membalas ciuman Caleb dengan gairah yang sama.


Perlahan Caleb mengangkat tubuh Grace. Tanpa melepaskan ciumannya, Caleb memeluk Grace. Kaki gadis itu secara alami melingkar dipinggang Caleb. Saat keduanya sudah berada di kamar, Caleb langsung menurunkan tubuh Grace di atas ranjang.


"Kak, aku lupa ada janji dengan bibi Gracia di rumah sakit."


"Kalau terlambat sedikit, aku yakin bibimu akan mengerti." bisik Caleb lalu kembali mencumbu Grace dan membawa keduanya kembali pada penyatuan raga.


***********


Wajah cantik Zelina terlihat pucat saat ia di dorong dengan kursi roda dari ruangan terapi khusus untuk menghambat sel kankernya berkembang lebih cepat. Ini adalah jenis pengobatan terbaru selain kemoterapi.


"Keegan? Kau masih di sini?" Tanya Zelina heran melihat cowok tampan yang memiliki tatapan mata yang sangat lembut itu masih menunggunya di depan ruang terapi.


"Sudah selesai?" Tanya Keegan tanpa menjawab pertanyaan Zelina.


"Ya. Tapi harus menunggu lagi selama 3 jam untuk menetralisir obat yang masuk ke dalam tubuhku." Kata Zelina.


"Bolehkah aku mendorongnya?" Tanya Keegan pada perawat yang memegang kursi roda Zelina.


"Ya. Silahkan!"


Sesampai di kamar, Keegan yang bertubuh tinggi dan tegap, langsung mengangkat tubuh mungil Zelina dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Perawat menyuntikan obat untuk menetralisir racun yang dipakai untuk melawan sel kanker Zelina.


"Aku akan kembali 2 jam lag." Kata Perawat itu.


"Kalau kau mau tidur, tidurlah. Aku akan menjagamu di sini."


"Terima kasih, Keegan."


"Sama-sama, cantik."


"Keegan tasku ketinggalan di mobilmu. Aku membutuhkan ponselku untuk menelepon teman kuliahku. Ada tugas yang seharusnya kami kerjakan bersama sore ini namun sepertinya aku tak bisa."


"Baiklah. Aku tinggalkan sebentar ya?" Keegan segera berdiri dan meninggalkan ruangan Zelina. Ia menelepon pengawalnya untuk mengambilkan tas Zelina sementara Keegan membuat kopi di mesin kopi otomatis yang dapat menyajikan berbagai macam jenis kopi sesuai dengan pesanan.


Tak sampai 5 menit kopi itu pun keluar.


"Tuan, ini tasnya!" Kata salah satu pengawalnya. Keegan mengambil tas Zelina dan segera melangkah kembali ke kamar Zelina.

__ADS_1


********


Caleb dan Grace tiba di rumah sakit 1 jam lebih lambat dari janji yang sudah Grace buat dengan bibinya.


"Ada urusan dengan bibi Gracia?" Tanya Caleb saat keduanya sudah memasuki lobby rumah sakit.


"Mau mengambil hasil pemeriksaan lab semua anggota club yang akan berangkat ke sidney minggu depan. Kami akan mengikuti festival menari seluruh dunia."


Caleb menahan tangan Grace. "Kamu akan ke Sidney?"


"Iya, kak. Hanya 1 minggu."


"Nggak boleh."


"Kak...!"


"Tak boleh kalau tak bersamaku."


Grace tersenyum. Ia menggandeng tangan Caleb. "Baik tuan posesif."


Caleb mencium puncak kepala Grace lalu keduanya kembali melangkah.


Saat tiba depan ruangan dokter Gracia, Caleb pamit untuk ke toilet. Ketika ia keluar dari toilet, dilihatnya Keegan sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi otomatis. Walaupun dandanan Keegan tak seperti biasanya. Keegan mengenakan kaos hitam oblong dan celana kain selutut. Ia hanya mengenakan sandal dan bukan sepatu. Cowok itu bahkan mengenakan kacamata minusnya untuk menutupi penampilannya, namun Caleb mengenal sepupunya itu. Ada beberapa pengawal Keegan yang berdiri agak jauh darinya, dan Caleb mengenal beberapa diantara mereka karena sudah selalu menemani Keegan.


Caleb akan memanggilnya namun Keegan segera pergi setelah menerima sebuah tas yang dibawa oleh salah satu pengawalnya. Caleb mengenal tas itu. Tas yang diberikannya pada Zelina saat ia kembali dari Amerika.


Itukan tas Zelina? Lalu ada hubungan apa antara Keegan dan Zelina?


Rasa penasaran membuat Keegan mengikuti Keegan secara diam-diam. Dan ia melihat Keegan masuk ke sebuah ruangan. Beruntung Keegan tak menutup pintu. Caleb jadi bebas melihat apa yang terjadi di dalam.


Keegan kaget menemukan Zelina yang menangis di atas tempat tidur. Gadis itu sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.


"Zelina, ada apa?" Tanya Keegan sambil mendekat.


"Cara obatnya bekerja memang seperti ini. Untuk menetralisir racun yang tadi dimasukan, maka tubuhku akan merasakan sakit selama kurang lebih 1 jam. Ini sudah 3 kali kurasakan. Tetap saja sakit."


"Memangnya tak bisa meminum obat anti nyeri? Kamu kelihatan sangat kesakitan." Keegan menyentuh tangan Zelina. Ia sangat khawatir.


"Obat anti nyeri justru akan membuat terapinya tak berjalan maksimal." Zelina menghapus air matanya. "Ini tak apa-apa dibandingkan dengan sakitnya hatiku melihat Caleb dan Grace berciuman. Aku akan baik-baik saja."


Keegan tak bisa menahan dirinya. Ia menyentuh pipi Zelina dengan sangat lembut. " Caleb harus tahu kalau kamu sakit, Zel. Bukankah dia menyayangimu semenjak kalian masih kecil? Mungkin bersamanya, kamu akan menemukan semangat untuk menghadapi penyakitmu ini."


"Ya. Dia menyayangiku sebagai adik sedangkan aku menginginkan dia menyayangi sebagai kekasih. Aku tak ingin dia mengasihaniku. Mungkin sebaiknya seperti ini. Sehingga jika matipun, aku tak akan meninggalkan luka dihatinya."


Di depan pintu, Caleb berdiri seakan kakinya mati rasa. Hatinya hancur saat melihat keadaan Zelina seperti itu. Ya, dia menyayangi Zelina. Walaupun tak seperti rasa sayang yang dimilikinya untuk Grace. Inikah rahasia yang Zelina sembunyikan?


Caleb menangis. Tanpa di sadari Caleb, ada Grace yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Grace yang juga mendengar semua tangis kesedihan Zelina.

__ADS_1


So....what next


jangan lupa like, koment dan vote ya?


__ADS_2