3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Chloe&Erhan(part 2)


__ADS_3

"Ezekiel...!"


"Daddy...!"


Semua yang ada di ruang tamu itu terkejut saat Ezekiel menampar Erhan dengan sangat keras.


"Kamu mempermainkan putri kesayanganku? Kamu merayu dan membuatnya hamil sementara kamu sudah menikah? Aku akan menghancurkanmu Erhan Taylor!" Suara Ezekiel terdengar keras penuh emosi dan nada ancaman. Caleb dan Erland langsung menahan tangan daddynya.


Erhan seperti tak memperdulikan perkataan Ezekiel. Matanya menatap Chloe dengan rasa bahagia yang memuncak didadanya.


"Chloe? Kau hamil?" Tanya Erhan tanpa bisa menahan air matanya.


Chloe mengangguk.


"Kau jangan pernah bermimpi untuk menikah dengan putriku!" Seru Ezekiel.


"Aku sudah bercerai tuan Thomson. Aku mendekati Chloe disaat statusku sudah jelas." Kata Erhan.


"Apakah putriku yang menyebabkan perceraian kalian?" Tanya Faith dengan wajah khawatir. Ia tak mau Chloe dicap sebagai perebut suami orang.


Erhan menceritakan semuanya. Tentang kelaian orientasi seksual dari Amora dan juga tentang Amora yang mencoba menjebaknya selepas mereka bercerai dengan kehamilannya yang ternyata bukan anak Erhan.


"Aku dan Chloe saling mencintai sejak pertemuan kami pertama kali ini di rumah ini. Namun baik aku maupun Chloe mencoba menahan diri karena statusku dengan Amora yang belum jelas. Aku sungguh-sungguh mencintai Chloe dan menginginkan dia jadi istriku. Apalagi sekarang Chloe sedang hamil. Ini sungguh menggembirakanku." Kata Erhan dengan mata yang terus memandang Chloe.


"Aku tidak setuju!" Kata Ezekiel lalu segera meninggalkan ruang tamu dan menuju ke ruang kerjanya. Faith langsung menyusul Ezekiel setelah lebih dulu meminta maaf pada orang tua Erhan.


Nolita menatap Chloe. Ia merasa malu beberapa waktu yang lalu menghina gadis itu.


"Chloe, maafkan tante ya?"


"Aku sudah memaafkan tante." Kata Chloe sambil tersenyum. Nolita mendekat lalu memeluk gadis itu sambil memegang perut Chloe dengan tangan yang bergetar. "Cucuku. Aku sungguh bahagia mendengar kalau dia sedang tumbuh di sini."


Erland dan Caleb meninggalkan ruang tamu untuk memberi ruang bagi mereka untuk bicara.


"Aku kaget karena daddy menampar Erhan." Ujar Erland lalu meneguk segelas air putih.


"Daddy marah karena berpikir kalau Erhan sudah menikah. Maklumlah, sejak kecil Chloe selalu menjadi kesayangan daddy. Dan kini dia hamil. Aku bahkan merasa kalau dia masih kecil." Kata Caleb.


"Dia sudah dewasa, kak. Sudah 23 tahun. Kakak saja yang sudah 23 tahun tapi masih perjaka."


Caleb memandang adiknya dengan wajah yang merona. "Sialan kau! Memangnya kamu sudah tak perjaka lagi?"


Erland tertawa. "Mana mungkin cowok yang usianya hampir 20 tahun masih perjaka?."


"Jangan sembarangan, Erland. Nanti kamu dapat penyakit baru tahu rasa."


"Aku tahulah main aman untuk menyelamatkan diriku sendiri. Kak, mengapa tak mencoba?"


"Mencoba apa?"


"Making love lah. Kakak belum tahu bagaimana rasanya kan?"

__ADS_1


"Sudahlah. Aku mau ke kamar dulu!" Caleb langsung meninggalkan adiknya yang masih tertawa melihat wajah merah kakaknya.


Caleb justru jadi ingat dengan apa yang dialami oleh Grace dan dirinya di kamar hotel itu. Mereka hampir saja making love. Caleb bahkan harus menekan hasratnya yang sangat menyiksa itu. Dan Caleb merasa bahwa ia sangat merindukan Grace.


**********


Sementara itu di ruang kerjanya, Ezekiel masih berdiri di depan jendela kaca sambil kedua tangannya dimasukan disaku celananya. Napasnya yang masih turun naik dengan cepat menunjukan bahwa emosinya masih belum stabil.


"Sayang.....!" Faith mendekat dan memeluk Ezekiel dari belakang. Tangannya membelai lembut dada dan turun ke perut suaminya. Ia melakukannya secara berulang-ulang, mencoba menenangkan hati suaminya.


Ezekiel memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan istrinya yang selalu membuat ia merasa tenang dan damai.


Setelah merasa napas Ezekiel mulai teratur, Faith melepaskan pelukannya dan meminta Ezekiel untuk duduk dengannya di sofa.


"Erhan sudah bercerai dengan istrinya. Kau sendiri sudah mendengarkan penjelasannya tadi kan? Aku awalnya juga tak menyetujui hubungan ini. Namun mau bagaimana lagi? Chloe juga mencintainya."


"Aku merasa Chloe masih kecil. Sedangkan Erhan? Usianya sudah 34 tahun."


Faith tersenyum. "Kau lupa dengan usia kita saat menikah? Aku 19 tahun dan kau 29 tahun."


"Hampir 29 tahun."


"Sama saja. Kita beda usia hampir 10 tahun dan Chloe dan Erhan bedanya 11 tahun. Bukankah cinta tak memandang usia? Lihatlah kita berdua baik-baik saja. Aku melahirkan Chloe dan Caleb saat usiaku 20 tahun. Aku tak merasa kalau kamu adalah pria tua walaupun usiamu sekarang sudah 53 tahun. Kau tetap gagah dan tampan. Malahan lebih ganteng di mataku setiap hari."


Ezekiel menatap istrinya. "Sejak kapan kau pintar merayu?"


"Entahlah. Aku hanya belajar darimu saja."


"Mari kita berdua memberikan kepercayaan pada Erhan untuk menjaga Chloe."


Ezekiel menarik napas panjang. Rasanya sangat sulit melepaskan putri kecilnya yang dulu tak bisa tidur tanpa memeluknya, kini akan memeluk orang lain. Ezekiel masih ingin melihat Chloe tumbuh menjadi ibu muda. Makanya Ezekiel pun melapangkan dadanya untuk mencoba mendengarkan nasehat istrinya.


**********


Di ruang tamu...


Erhan mendekati Chloe. "Sayang, aku akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dari orang tuamu. Aku sungguh tak mau dipisahkan dengan dirimu."


"Aku juga, Erhan. Aku senang karena Amora tak hamil anakmu."


Erhan membelai perut Chloe. "Karena Tuhan tahu diperutmu akan tumbuh buah cinta kita."


Papa dan mama Erhan salung berpandangan sambil tersenyum. Mereka tak pernah melihat Erhan sebahagia ini dan mereka berjanji akan membantu Erhan sampai ia berhasil mendapatkan gadis pujaannya.


Setelah satu jam berlalu, Ezekiel Thomson keluar dari ruang kerjanya bersama dengan Faith yang menggandeng tangan suaminya.


"Baiklah. Aku menyetujui lamaran Erhan untuk Chloe dengan catatan, Chloe dan Erhan harus tetap tinggal di London. Chloe akan tetap tinggal di rumah ini sampai ia melahirkan anaknya." Kata Ezekiel.


Chloe langsung berdiri dan berpindah tempat di samping daddynya. "Dad...thank you."


Ezekiel memeluk anaknya dengan erat. Ia menangis saat memeluk putrinya itu. Sebagai papa, sebenarnya ia belum siap melepaskan anaknya. Namun ia tahu kalau Chloe akan bahagia hanya bersama Erhan saja.

__ADS_1


"Terima kasih tuan Thomson. Aku janji akan membahagiakan Chloe dengan seluruh cinta yang kumiliki." Janji Erhan dengan hati yang berbahagia.


"Sebaiknya kau tepati janjimu. Sebab, sedikit saja kau membuatnya sedih, kau akan berurusan denganku." Kata Ezekiel dengan suara yang tajam penuh ancaman.


"Berurusan denganku juga!" Kata Caleb dan Erland hampir bersamaan. Chloe memandang kedua saudaranya. Ia menangis haru merasakan besarnya cinta yang ia dapatkan di rumah ini.


***********


Grace masuki ruang kerja bibinya. Dokter Gracia.


"Hallo, bi!"


"Hai sayang..!" Gracia tersenyum menatap ponakan cantiknya. "Sedang apa di rumah sakit ini?"


"Menjenguk temanku yang sedang sakit. Aku sekalian saja datang menyapa bibi di sini."


Gracia nampak kesal saat menatap layar komputernya.


"Ada apa, bi?"


"Nggak tahu nih. Datanya tak bisa dibuka."


"Boleh aku melihatnya?"


"Kau tahu?"


"Tenanglah, bi. Walaupun aku kuliahnya di jurusan seni namun masalah otak atik komputer sudah menjadi makananku."


Gracia tersenyum dan segera mempersilahkan Grace untuk duduk didepan komputer.


Grace langsung melihat masalah apa yang dialami oleh komputer bibinya itu.


"Panggilan untuk dokter Gracia Mendoza supaya ke ruangan ICCU 4b. Sekali lagi ...."


Gracia menatap Grace. "Sayang, maaf ya kalau bibi tinggalkan. Jika kamu sudah selesai dan bibi belum datang, pergi saja. Bayarannya nanti bibi kirim ke rekeningmu."


Grace hanya mengangguk mendengar perkataan bibinya. "Siap, bos!"


Hampir satu jam Grace mengotak atik komputer bibinya dan ia berhasil menemukan akar masalahnya sehingga semua data tak bisa dibuka. Grace bersyukur karena Caleb mengajarkan banyak hal kepadanya mengenai komputer. Ah, mengingat nama Caleb membuat hati Grace kembali bergetar. Hampir 2 minggu berlalu dan Caleb tak pernah lagi menghubunginya. Grace tak bisa membohongi dirinya kalau GRACE KANGEN MELIHAT CALEB.


Grace buru-buru menepis rindu yang kadang membuatnya tersiksa. Ia baru akan meninggalkan meja komputer bibinya saat mesin print berbunyi. Sepertinya bibinya tadi akan mencetak sesuatu saat komputernya bermasalah. Grace memutuskan untuk membiarkan data itu tercetak lalu ia akan pergi. Saat tangannya membaca kertas yang keluar dari mesin print itu, Grace terpana menatap nama pasien yabg tercetak di sana. ZELINA GITA ALEXANDER.


Dan Grace hampir berteriak saat melihat hasil analisa yang tertulis di sana. "Kanker otak? Tapi mana mungkin? Mungkin Zelina yang lain."


Grace penasaran. "Maafkan aku, bibi" Ujar Grace lalu mencari nama pasien Zelina Gita Alexander. Saat melihat alamat yang tertera di sana, Grace langsung yakin kalau itu ada Zelina. Sahabatnya sekaligus juga gadis yang disukai oleh Caleb selain dirinya.


Zelina sakit? Lalu apakah Caleb tahu? Ataukah Zelina menyembunyikan ini kami semua? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Terima kasih karena sudah baca part ini


Jangan lupa Like, komen dan vote ya?

__ADS_1


__ADS_2