3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Hati Yang Belum Bisa Memilih


__ADS_3

KISAH LERINA KAN SUDAH TAMAT...


JADI AKU AKAN KOSENTRASI PADA CERITA:


SONG IN MY LIFE


DAN 3 HATI 1 CINTA.


AKU USAHAKAN UP GANTI-GANTIAN YA..


BISA JADI SETIAP HARI, BISA JUGA 2 HARI SEKALI.


HARAP MAKLUM YA..., AKU SUDAH AKTIF MASUK KERJA LAGI SOALNYA.


KALAU MAU TAHU JADWAL UP, BISA MASUK KE GRUP CHAT AKU


Selamat membaca....


**********


Menerima ciuman dari lelaki yang kita cintai tentu merupakan hal yang menyenangkan. Tapi menerima ciuman tanpa status yang jelas, pastilah sesuatu yang menyesakan.


Zelina merasakan detak jantungnya menjadi 2 kali lebih cepat. Namun ia berusaha menahan emosi di dadanya, berusaha tersenyum ketika ciuman itu berhenti.


"Aku haus!" Zelina turun dari atas tempat tidur.


"Aku mau membeli air mineral dulu ya." Ujarnya sebelum keluar dari kamar.


Caleb memandang wajah gadis itu yang terlihat memerah. Ia jadi gemas rasanya. Caleb tahu ini memang tindakan yang gila, mencium Zelina disaat hatinya belum tahu untuk siapa. Namun, saat melihat video Grace bersama Howie, Caleb tahu kalau semua ini adalah salahnya. Ia membuat hati Grace terombang ambing tak ada kepastian. Mungkin sebaiknya Caleb menutup hatinya untuk Grace dan membuka hatinya untuk Zelina.


Zelina menutup pintu di belakangnya, saat ia melangkah, kakinya tanpa sengaja menginjak sebuah kantong plastik.


"Siapa yang membuang ini di sini?" Tanya Zelina bingung. Ia mengambil kantong plastik itu dan membuka isinya. Kue kacang? Inikan kue kesukaan Caleb? Lalu siapa yang meletakannya begitu saja? Apakah Grace? Dia datang ke sini dan melihat kami berciuman?


Perasaan Zelina tiba-tiba menjadi tak enak. Ia mencari keberadaan Grace namun gadis itu tak ada. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar.


"Mana airnya?" Tanya Celeb.


"Eh, aku menemukan kantong plastik di depan pintu masuk. Di dalamnya ada kotak berisi kue kacang."


"Itu kan kue kesukaanku. Siapa yang meletakannya di sana?"


Zelina menggeleng. "Entahlah. Mungkinkah orang yang membawa kue ini tak jadi masuk karena melihat kita berciuman?" Tanya Zelina.


Celeb diam sesaat. Mungkinkah Grace yang datang? Ataukah orang lain? Kalaupun Grace, berarti dia melihat Caleb yang berciuman dengan Zelina kan? Jadi gadis itu marah? Tapi bukankah Grace berciuman dengan Howie tadi malam?


"Cal..., menurutmu siapa?" Tanya Zelina.


"Entahlah. Tak penting juga siapa yang datang. Kamu masih haus?" Caleb mengalihkan topik pembicaraan.


Zelina sebenarnya tidaklah haus. Itu hanya alasannya saja karena merasa malu saat ciuman mereka berakhir. Zelina tak pernah berciuman sedalam itu dengan seorang laki-laki.


"Aku, mau...."


"Hallo....!" Sapaan lembut dari Faith membuat Zelina merasa tertolong dan tak harus menjawab pertanyaan Caleb.


Faith masuk bersama Ezekiel suaminya.


"Terima kasih Zelina sudah menemani Caleb. Memangnya Erland dan Chloe kemana?"


"Erland pamit makan siang namun belum juga kembali. Chloe juga pamit menemui temannya." ujar Caleb.


"Pastilah si Erland sudah ketemu cewek cantik di kantin. Dasar anak itu!" Cicit Ezekiel sambil menggelengkan kepalanya.


"Grace dari sini, ya? Tadi bunda melihat Grace yang masuk ke mobilnya. Mau menyapa tapi tak sempat." Kata Faith.

__ADS_1


Caleb dan Zelina saling berpandangan.


"Grace hanya mengantar kue lalu pergi lagi, bunda." Caleb akhirnya bohong. Ia tak mau Zelina merasa tak enak dan kedua orang tuanya akan bertanya-tanya kenapa Grace tak masuk.


"Paman, bibi, aku pulang dulu ya..." Pamit Zelina.


"Iya. Terima kasih sudah menjaga Caleb ya.." Faith memeluk Zelina dan mencium pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Zel, besok kalau kamu sudah selesai kuliah, datang lagi ya?" Kata Caleb setengah memohon. Zelina mengangguk lalu segera meninggalkan ruang perawatan Caleb.


"Ada sesuatu yang terjadi selama bunda tak ada?" Tanya Faith melihat pipi Zelina yang merona dan mata Caleb yang berbinar meminta gadis itu untuk datang lagi.


"Tidak ada, bunda."


"Kalian pacaran?" Tanya Faith makin penasaran.


"Tidak, bunda."


"Apakah masih bingung memilih Zelina atau Grace? Pagi ini ada berita heboh tentang Grace. Kamu sudah melihatnya."


"Ya. Grace berciuman dengan Howie." Kata Caleb sedikit terdengar tak suka.


"Caleb. Jadi laki-laki itu jangan plin-plan. Daddy dulu pernah mengalaminya. Daddy hampir saja kehilangan bundamu. Segera buat keputusan atau kau akan kehilangan wanita yang kau cintai." Ujar Ezekiel.


Caleb menarik napas panjang. Perkataan papanya ada benarnya. Kalau Grace memang sudah membuka hati untuk Howie, mengapa ia tak mencoba menetapkan hatinya untuk Zelina?


*********


Bayangan Caleb dan Zelina yang sedang berciuman seakan tak mau lepas dari ingatan Grace. Kemesraan mereka sangat membuat Grace merasa sakit.


Sudahlah Grace. Saatnya kau tahu kalau Caleb memang tak mencintaimu. Caleb mencintai Zelina.


Grace memukul stir mobilnya dengan tangan yang gemetar. Hatinya sakit. Ia mencoba untuk merelakan Caleb bersama Zelina. Tapi hatinya tak mampu. Ia tak bisa menghapus semua perhatian, kasih sayang dan kebersamaannya dengan Caleb semenjak mereka kecil. Cinta itu begitu subur tumbuh dalam hatinya. Grace masih berharap kalau Caleb akan memilihnya.


Hp Grace berbunyi. Ia melihat ada panggilan dari mamanya.


"Hallo mommy!"


"Dear, kamu ada di mana?"


"Di jalan. Baru mau pulang ke rumah."


"Baguslah. Di sini ada Howie dan papanya."


"Untuk apa Howie dan papanya ada di rumah?"


"Kau pulanglah. Kita bicara di rumah."


Grace memacu mobilnya dengan cepat. Pikirannya jadi kacau.


Saat Grace tiba di rumah, di ruang tamu sudah ada papa dan mamanya, Howie dan juga papanya pangeran Heibert.


Grace langsung menunduk hormat lalu duduk di samping mamanya.


"Grace, atas nama keluargaku, aku mohon maaf atas tindakan yang tidak bertanggungjawab dari kedua adikku. Videonya sudah dihapus walaupun sudah terlanjur menyebar." Kata Howie dengan tenang.


"Ya. Kami sungguh minta maaf." Imbuh Heibert, papanya Howie.


"Saya memang agak terkejut melihat video itu. Tadi juga di kampus banyak orang yang menanyakan masalah video itu. Terima kasih kalau memang itu sudah di hapus." Kata Grace sambil tersenyum.


"Karena itulah saya dan Howie datang ke sini, pihak kerajaan meminta kami untuk segera melamar Grace."


Grace terpana mendengar perkataan papa Howie. Melamar? Grace memandang papa dan mamanya secara bergantian.


"Ta-tapi...aku belum siap untuk menikah. Usiaku baru 19 tahun. Aku masih ingin kuliah dan mencapai mengejar mimpiku sebagai seorang penari." Kata Grace dengan bingung karena papa dan mamanya hanya menatapnya dia tanpa bicara apapun.

__ADS_1


"Kami akan menunggu sampai nona Grace selesai kuliah. Maksud kami akan melamar adalah supaya Grace dan Howie ada ikatan pertunanganan. Howie juga harus menyelesaikan latihan militernya." Kata Heibert sambil tersenyum.


"Bertunangan? Tapi...." Grace manatap Howie. Pria itu sangat baik padanya. Ia juga saat ini sedang sedih karena melihat Caleb dan Zelina berciuman. Tidak adil rasanya kalau Howie hanya menjadi pelarian dari Grace.


"Paman Heibert, aku dan Howie sudah pernah membicarakan ini. Howie memberikan kami waktu untuk saling mendalami perasaan masing-masing. Iya kan, Howie?" Grace menatap Howie. Meminta agar Howie mendukungnya.


"Aku sudah katakan itu pada ayahku. Namun beliau bersikeras untuk melamar ke sini." Kata Howie sedikit kecewa. Sebenarnya ia berharap kalau Grace akan menerimanya.


"Paman, aku tidak mau main-main dengan pertunanganan ini. Karena itu berikanlah kami waktu." Ujar Grace dengan tenang. Ia memang dapat melihat wajah Howie yang kecewa.


"Kami selaku orang tua, menyerahkan keputusan ini di tangan Grace dan Howie." Ujar Maura. Ia tahu kalau Grace belum siap dan dia tak mau anaknya tertekan.


Akhirnya ayah Gowie setuju kalau acara lamaran dan tunangan di tunda dulu.


"Grace, pihak keluarga kami sangat setuju jika kau bersama Howie. Jadi kami harap kau akan menerima Howie saat ia kembali dari latihan militer." Kata Heibert sebelum permisi pulang dengan Howie.


"Grace, tunangan dulu kan tidak apa-apa." Kata Ben ketika para tamu sudah pulang.


"Dad, aku tahu Howie baik. Namun aku tak mencintainya. Aku tak mau mempertaruhkan perasaanku."


"Lalu siapa yang kau tunggu, Caleb? Sampai kapan, Grace? Daddy tak mau membuatmu terlalu lama menunggu dan pada akhirnya terluka."


Grace menatap papanya dengan mata yang basah. "Dad, aku masih 19 tahun. Biarkanlah aku berpikir. Lagi pula jangan salahkan Kak Caleb. Karena dia tak pernah memintaku untuk menunggunya." Grace langsung berlari menaiki tangga. Ia kesal karena papanya terlalu menekannya. Grace tahu kalau papanya ingin yang terbaik baginya. Namun Grace juga tak mau menyakiti cowok sebaik Howie dengan berpura-pura mencintainya.


"Sayang, kau keterlaluan. Jangan memaksa Grace. Memangnya dia sudah jadi perawan tua sampai kita harus buru-buru mengikatnya dengan Howie? Aku mengerti, tak mudah bagi Grace untuk melupakan Caleb. Dia sudah mengenal Caleb bahkan saat ia baru saja lahir. Aku tahu Grace pasti bisa mengambil keputusan terbaik. " Maura mendekati suaminya. Lalu memeluk suaminya dengan lembut sambil menepuk bahunya. "Berilah Grace kebebasan untuk memilih, sayang."


Ben mengeratkan pelukan istrinya. Ia selalu merasa tenang saat Maura memeluknya. "Baiklah." Katanya tanpa melepaskan pelukannya.


***********


Jam kuliah akhirnya selesai. Zelina melangkah keluar kelas dengan wajah yang gembira. Hari ini ia akan menemani Caleb di rumah sakit. Sebenarnya ia merasa tak enak badan. Saat bangun tadi pagi kepalanya agak sakit.Mungkin karena semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan ciuman Caleb.


"Zelina...!"


Zelina menoleh."Mark?"


"Hai, apa kabarmu."


"Baik."


"Zelina, kamu tak mengambil catatan kesehatanmu saat mengalami kecelakaan waktu lalu?"


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Aku tak tahu. Pihak rumah sakit meneleponku dan memintamu untuk ke sana.Katanya ada sesuatu yang harus mereka jelaskan."


"Pastilah prosedur biasa. Malas aku. Eh, gimana kuliahmu? Sudah hampir selesaikan?"


Mark mengangguk. Ia tersenyum melihat wajah cantik Zelina. Jujur saja, ia sebenarnya sudah menyukai Zelina saat pertama kali menabraknya.


"Oh ya, aku...." Zelina tiba-tiba merasa pusing.


"Zelina, kamu kenapa?"


"Pasti karena aku belum makan sejak pagi."


"Kalau begitu ayo kita makan!"


"Boleh.." Zelina melangkah. Namun baru beberapa langkah, gadis itu langsung jatuh tak sadarkan diri.


What next????


Jangan lupa like, komen dan vote jika suka...


makasi yang selalu dukung aku...

__ADS_1


__ADS_2