3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Belum Bisa Menerima


__ADS_3

Semua yang sedang duduk di ruang tamu itu menatap Grace dan menunggu jawaban gadis itu.


Grace menatap mama dan papanya secara bergantian. Ia bingung harus menjawab apa.


"Mommy menyerahkan semuanya ditanganmu, Grace. Ini adalah menyangkut dirimu. Mommy dan daddy tak akan memaksanya." Kata Maura saat dilihatnya kalau Grace bingung.


"Ya. Semua terserah padamu, Grace." Imbuh Ben walaupun sebenarnya dia ingin Grace menerima Howie.


"Aku, aku belum bisa Howie. Aku masih ingin sekolah. Banyak ifen menari yang akan kuikuti tahun ini. Kalau aku sudah menjadi tunanganmu, pasti aku harus membatasi diri untuk mengikuti semua itu." Kata Grace hati-hati. Tak ingin membuat Howie marah atau tersinggung walaupun raut wajah Howie terlihat kecewa.


"Daddy dan mommy meninggalkan kalian untuk bicara berdua." Ben berdiri disusul Maura. Keduanya saling bergandengan tangan meninggalkan ruang tamu.


Sesampai di kamar, Ben duduk di atas ranjang sambil menatap istrinya yang sedang ganti baju.


"Sayang, aku lihat kalau Howie sungguh-sungguh mencintai Grace."


Maura yang sudah berganti gaun tidur menatap suaminya sambil mendekat.


"Tapi apakah Grace mencintai Howie? Aku rasa tidak. Aku tak ingin Grace tak bahagia dalam pernikahannya nanti. Grace mencintai Caleb."


Ben menarik tangan istrinya itu sehingga Maura duduk dipangkuannya." Dulu kita juga menikah tanpa cinta. Aku hanya terobsesi denganmu karena selalu menolakku dan kau mau menerima perjodohan itu karena warisan ibumu. Tapi lama kelamaan kita saling mencintai."


"Mungkin Tuhan mengaturnya demikian. Karena kita memang berjodoh. Tapi aku tak yakin kalau cinta Grace akan berakhir seperti kita. Caleb cinta masa kecilnya. Tak mudah Grace melepaskan perasaannya untuk digantikan dengan orang lain. Lihat saja antingnya. Berulang kali ia mencoba membukanya namun tetap saja ia memakainya kembali."


Ben melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. "Anak-anak jadi cepat besar. Rasanya ingin punya anak bayi lagi."


"Ben, aku sudah terlalu tua untuk melahirkan."


"Memangnya berapa usiamu?"


"Haruskah aku menyebutkannya?"


Ben tertawa. Ditariknya tubuh Maura sehingga istrinya itu terlentang diatas tempat tidur dengan posisi Ben yang ada di atasnya.


"Kau masih kelihatan muda, sayang. Tetap menarik dan menggairahkan. Aku bahkan tak pernah tertarik dengan perempuan manapun juga setelah menikah denganmu."


"Jadi maksudnya apa ini?" Tanya Maura pura-pura bingung.


"Sudah menikah selama 21 tahun masih belum mengerti juga apa kemauan suaminya?" Tanya Ben sedikit kesal membuat Maura tertawa sangat keras. Ia melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"I am yours, Ben." Bisik Maura lalu mencium bibir suaminya dengan mesra.


(Kangen dengan kemesraan Ben dan Maura, jadi sisipkan aja di sini😍😍😍)


***********


Di ruang tamu....


"Jika kita sudah bertunangan, aku tak akan membatasi keinginanmu untuk menari atau melanjutkan sekolahmu. Aku hanya ingin ikatan diantara kita menjadi jelas, Grace." Kata Howie sambil memegang tangan Grace.


"Howie, bukankah waktu itu kau memberikan aku waktu selama 9 bulan? Bukankah ini baru 4 bulan berlalu?"


"Aku tahu, Grace. Namun aku sering dilanda ketakutan kalau Caleb akan merebutmu. Aku dapat melihat matanya yang memandangmu dengan penuh cinta. Pihak kerajaan juga ingin agar aku segera bertunangan."


Grace mununduk. Haruskah ia jujur tentang perasaannya pada Caleb? Haruskah ia menyakiti Howie yang sangat baik padanya?


"Howie, aku tak mau memberikan harapan palsu padamu. Aku belum siap bertunangan saat ini. Maafkan aku."


Howie menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar. "Baiklah. Aku memberikan kamu waktu untuk berpikir. Aku juga tak mau kamu terpaksa menerima semua ini." Howie mencium kedua tangan Grace yang ada digenggamannya. Ia berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit.


"Aku pulang dulu, ya?" Pamitnya lalu berdiri dan segera melangka meninggalkan rumah keluarga Aslon dengan wajah yang sedih.

__ADS_1


Grace pun menuju ke kamarnya. Ia segera ganti baju dan naik ke atas tempat tidur sambil memeriksa hp nya kalau-kalau ada telepon dari Celeb.


*******


Sudah 10 menit Caleb berdiri di depan pintu apartemen Zelina. Namun tak ada jawaban dari dalam walaupun Caleb telah menekan bel nya berulang-ulang. Ponsel Zelina belum juga aktif. Caleb jadi gelisah.


"Zelina...!" Caleb mengedor-ngedor pintu itu dengan sangat keras.


Tiba-tiba Caleb ingat kalau dia yang membuat pasword di pintu masuk ini.


Bodohnya aku! Caleb menepuk jidatnya sendiri. Ia segera memasukan 6 digit angka dan pintu itu langsung terbuka.


Lampu ruang tamu masih menyala dengan keadaan yang sedikit berantakan. Caleb heran melihatnya. Zelina dikenal sebagai gadis yang selalu rapih dan bersih, kini membiarkan ruang tamu berantakan. Ia melangka ke arah kamar. Saat membuka pintu, ia melihat Zelina sudah tertidur sambil membelakangi pintu.


"Zelina...!" Panggil Caleb lalu menyentuh pundak gadis itu. Ia terkejut karena merasakan suhu tubuh Zelina yang panas.


"Zelina....!" Caleb menguncangkan bahu Zelina. Terdengar suara erangan Zelina.


"Ehmm...., Caleb?" Tanyanya sambil membuka matanya perlahan. Tapi ia kemudian menutup matanya kembali karena rasa pusing yang menyerang kepalanya.


"Badanmu panas. Kamu sakit kenapa tak menghubungi aku?" Tanya Caleb dengan sedikit rasa kesal. Ia segera membuka lemari pakaian Zelina, mencari sebuah handuk kecil untuk dipakainya mengompres kepala Zelina.


Ponsel Caleb berbunyi. Ternyata dari bundanya. "Hallo, bun?"


"Nak, kau sudah menemukan Zelina?" Terdengar suara Faith yang khawatir.


"Sudah. Zelina sakit, bunda. Bolehkah bunda meminta bibi Helena untuk datang ke apartemen ini?"


"Iya sayang. Bunda juga akan ke apartemen Zelina. Kamu kan harus pergi ke Indononesia besok pagi."


"Eh, bunda tak perlu datang. Siapkan saja kamar untuk Zelina di rumah kita. Selesai bibi Helena memeriksanya, aku ingin membawa Zelina ke rumah kita."


"Baiklah, sayang. Bunda akan menghubungi bibimu sekarang ini."


"Zel, dimana ponselmu? Mamimu khawatir karena seharian ini kamu tak bisa dihubungi." Tanya Caleb.


"Aku nggak tahu...!" jawab Zelina lemah tanpa membuka matanya.


Caleb mencoba mencari keberadaan handphone nya Zelina. Dan ia menemukan benda itu didalam tas Zelina yang ada di atas meja. Ia mencolokan pada pengisi daya.


"Ponselmu sudah kehabisan daya dan kamu sama sekali tak mencoba mencarinya. Kamu membuat semua khawatir. Memangnya sejak kapan badanmu panas seperti ini?" Tanya Caleb lalu kembali duduk di pinggir ranjang sambil membolak-balikan handuk di dahi Zelina.


"Sejak kemarin"


"Sejak kemarin dan kau hanya membiarkan dirimu sendirian seperti ini? Memangnya di mana pacarmu itu?"


Zelina tak menjawab. Badannya semakin panas. Ia mulai meracau dengan kalimat-kalimat yang tak jelas.


Tak lama kemudian Helena datang. Ia segera memeriksa Zelina dan memberikan obat penurun panas.


Setengah jam setelah minum obat, panas Zelina mulai turun.


"Bibi, sebenarnya Zelina sakit apa?" Tanya Caleb.


"Bibi belum bisa menganalisanya sebelum mendapatkan hasil pemeriksaan labolatorium. Namun Zelina seperti orang yang baru melakukan kemoterapi. Kulit dan bibirnya agak kering. Bibi juga melihat kalau rambutnya banyak yang rontok."


"Kemoterapi?"


"Ini hanya kemungkinan saja. Besok bibi akan mengambil sampel darahnya untuk diperiksa."


Caleb memandang Zelina yang sudah tertidur. Ia baru menyadari kalau gadis itu terlihat kurus.

__ADS_1


"Aku ingin membawanya pulang ke rumah. Soalnya besok aku harus ke Bali dan tak bisa ditunda lagi."


"Ya. Lebih baik seperti itu. Bibi juga akan memasang cairan infus di tangannya. Soalnya Zelina sepertinya belum makan."


Akhirnya Caleb membawa Zelina dengan mobilnya setelah meminta salah satu sopir keluarga datang dengan mobil yang lebih besar. Sementara Helena kembali ke rumah sakit dan menyiapkan segala sesuatu untuk proses penanganan pasien di rumah.


********


Caleb menjaga Zelina sepanjang malam. Gadis itu pun tertidur nyenanyak dengan selang infus yang menancap ditangannya.


Jam 5 pagi Caleb segera bangun dan bersiap untuk pergi. Sebenarnya ia jadi malas untuk pergi. Di samping karena Grace tapi juga penasaran dengan sakit yang diderita oleh Zelina.


Setelah sarapan, Caleb segera pamitan pada bundanya yang menemaninya sarapan


"Bukankah pesawatnya nanti berangkat jam 8 pagi?" Tanya Faith.


"Aku ingin mampir ke suatu tempat dulu, bunda."


"Semoga perjalananmu menyenangkan, sayang." Faith mencium anaknya. Hanya mereka berdua saja yang ada di ruang tamu karena yang lain masih tidur.


Caleb meminta sopir untuk mengantarnya ke kediaman Aslon. Entah mengapa Caleb jadi gelisah jika pergi dan tak bertemu dengan Grace terlebih dulu.


Caleb menelepon ponsel Grace. Baru satu kali berdering, gadis itu langsung mengangkatnya.


"Hallo, kak."


"Sudah bangun?"


"Ya. Bagaimana Zelina?"


"Dia di rumahku sekarang. Semalam ia demam. Tapi untunglah demamnya sudah hilang. Aku ada di depab pagar rumahmu sekarang. Apakah kamu boleh keluar sebentar? Nggak enak harus menekan bel disaat hari masih sepagi ini."


"Baik, kak." Kata Grace. Sebenarnya Grace tak tidur nyenyak karena terus memikirkan Zelina. Gadis itu langsung mencuci mukanya, merapihkan rambutnya sebentar dan segera turun ke bawa.


Orang rumahnya pun belum bangun. Hanya ada beberapa pelayan yang mulai membersihkan rumah.


Grace setengah berlari menuju ke gerbang rumahnya. Penjaga pintu pun sepertinya tertidur. Gadis itu menekan 8 digit angka di layar digital pagar dan pintu pagar terbuka. Ia tersenyum melihat Caleb yang sudah rapih dengan mantel dan sedang bersandar di pintu mobilnya.


"Kakak akan pergi pagi ini?" Tanya Grace berusaha menenangkan hatinya yang bergetar melihat tatapan mata Caleb yang selalu membuatnya gagal fokus.


"Iya. Aku mampir sebentar untuk pamit. Pembicaraan kita semalam belum selesai karena aku harus pergi mencari Zelina." Caleb mendekat. Ia meraih tangan Grace. Menatap gadis itu dengan hati yang sebenarnya berat untuk pergi.


"Kak, pergilah. Nanti kalau kau sudah kembali, kita akan bicara banyak hal." Kata Grace. Ia tak ingin Caleb mengungkapkan sesuatu sebelum tahu tentang penyakit Zelina.


"Baiklah. Boleh aku memelukmu?"


Grace tersenyum. Wajahnya merona saat kepalanya mengangguk. Caleb langsung mendekap gadis itu dengan perasaan sayang. Ia sudah selalu memeluk Grace. Namun baru kali ini ia merasakan pelukannya begitu berbeda. Apakah karena ia mulai bisa menentukan hatinya untuk Grace?


Caleb melonggarkan pelukannya namun tak melepaskan tangannya dari punggung Grace. Mata mereka saling bertemu. Grace merasakan aliran darahnya menjadi panas saat Caleb sedikit menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat yang selalu memabukan bagi Grace.


Ciuman itu begitu lama. Grace membalasnya dengan penuh rasa cinta yang dalam. Keduanya seakan enggan saling melepaskan. Namun pasokan oksigen di paru-paru hampir habis sehingga ciuman itu harus berakhir. Napas keduanya sedikit tersengal-sengal.


"Tunggu aku pulang. Dan kita akan bercerita banyak hal." Ibu jari Caleb membelai bibir Grace yang agak bengkak karena ciuman mereka.


"Baik, kak." Jawab Grace sambil tersenyum sedikit malu.


Caleb memeluk Grace sekali lagi, lalu mencium dahi Grace sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


Grace menatap kepergian Caleb dengan suasana hati yang bahagia. Namun saat ia mengingat Zelina, hati Grace menjadi sedih.


Apakah semua orang akan tahu tentang penyakitnya Zelina? Dan apakah setelah pulang dari Bali, Caleb dan Grace akan jadian? Nantikan di episode berikutnya ya...

__ADS_1


like, komen, vote, kasih bintang 5 dong...☺☺☺


__ADS_2