3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Rasa Kehilangan


__ADS_3

Erhan membuka pintu apartemen Chloe.


"Baby...!" panggilnya sambil mencari Chloe ke kamar. Namun gadis itu tak ada. Erhan menelepon ponsel Chloe. Tetapi tidak aktif.


"Chloe kamu di mana?" Erhan akan keluar lagi saat ia melihat koper miliknya ada di depan lemari dan ada kertas serta cincin yang dia berikan pada Chloe saat ia melamar gadis itu.


Jangan cari aku , paman


Aku sudah kembali ke London


Hubungan kita sampai di sini.


Segera tinggalkan apartemen ini karena


pihak agensi akan memberikan pada model


mereka yang baru.


Erhan meramas kertas itu dengan dada yang sakit. "Kau memang licik Amora. Aku membencimu! Aku membencimu!" teriak Erhan dengan emosi yang sudah tak bisa ditahannya lagi.


Chloe, akan kubuktikan padamu kalau anak yang dikandung oleh Amora bukanlah anakku. Jangan tinggalkan aku, baby. Aku sungguh mencintaimu.


**********


Mobil Caleb berhenti di depan kediaman Aslon. Ia turun dan segera membukakan pintu bagi Grace.


"Kak, terima kasih ya."


Caleb hanya mengangguk.


"Aku masuk dulu. Nggak mau masuk?"


Caleb kembali menggeleng. " Terima kasih. Aku mau langsung ke kantor. Masuklah!"


Grace melangkah. Namun sebelum ia membuka pintu, ia menatap Caleb. "Kak, lupakan apa yang terjadi di kamar itu ya?"


"Iya." ujar Caleb walaupun dadanya terasa sesak.


"Kak....."


"Ya?"


Grace tersenyum. "Nggak jadi. Bye..." Grace langsung membuka pintu rumahnya dan masuk.


Caleb menatap punggung Grace yang menghilang dari balik pintu. Hatinya semakin galau.


Saat ia masuk ke mobil, hp nya berbunyi. Ia kaget melihat nomor Chloe.


"Caleb, maukah kau menjemput aku di bandara?"


"Baiklah."


Caleb menelepon Joel untuk mengabarkan kalau ia akan datang siang ke kantor karena harus menjemput saudara kembarnya. Caleb heran. Seharusnya kontrak Chloe selesai nanti bulan janiari. Kenapa dia pulang sekarang?


Sesampai di bandara, Chloe sudah menunggunya sambil duduk di salah satu bangku.


Saat melihat Caleb, Chloe langsung berlari dan memeluk saudara kembarnya itu sambil menangis.


"Hei, ada apa?" Tanya Caleb bingung.


Chloe tak menjawab. Ia masih saja terus menangis.

__ADS_1


"Ayo kita ke apartemenku dan bicara di sana." ajak Caleb sambil meraih koper Chloe dari tangan saudara kembarnya itu.


Apartemen Caleb adalah milik papanya dulu yang sudah di renovasi sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Tak sembarangan orang bisa masuk ke dalamnya kecuali melalui pengenalan sidik jari dan retina mata.


Setelah memesan makanan dari salah restoran langganannya,kedua saudara kembar itu pun makan. Namun Chloe kelihatan kurang bersemangat menikmati makanannya.


"Kau sakit?" Tanya Caleb sambil memegang dahi Chloe.


"Tidak. Badanku sehat. Namun hatiku sakit. Aku benci dikatakan sebagai perebut suami orang. Pada hal aku dekat dengannya justru setelah status mereka sudah resmi bercerai."


"Hei...siapa yang kau maksud?"


"Erhan Taylor."


"Apa?" Caleb terkejut. "Kau punya hubungan dengannya? Ya, aku akui kalau dia pria yang tampan. kharismatik dan mampu membuat siapa saja jatuh hati melihatnya. Namun aku tak berpikir kalau itu adalah kamu, Chloe."


"Aku memang jatuh cinta padanya di hari pertama aku melihatnya. Aku bahkan sangat tergila-gila padanya. Baru kali ini aku dekat dengan seorang pria. Hanya mencium minyak wanginya saja, aku justru sudah bergairah."


"Jangan katakan kalau kau...."


Chloe mengangguk. "Aku sudah tidur dengannya." Jawab Chloe sedikit malu.


Caleb menarik napas panjang. "Lalu, apa masalahnya?"


Chloe pun menceritakan semuanya tentang masalah rumah tangga Erhan dan mengapa sampai ia bercerai. Termasuk juga dengan kedatangan mama Erhan ke Paris.


"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Caleb.


"Aku sudah mengembalikan cincin lamarannya. Aku lebih baik sendiri. Kasihan juga dengan Amora yang hamil. Caleb, please jangan sampai bunda tahu ya?"


Caleb hanya mengangguk. Setelah itu gantian dia yang curhat kepada Chloe.


"Kasihan Zelina. Pasti dia sedih karena gagal makan malam. Tapi untung juga kau dan Grace tak sampai ke situ."


"Ya sudah. Sama Zelina saja."


"Sebenarnya itu yang akan kulakukan dengan mengajak Zelina makan malam."


"Aku mendukungmu dengan siapa saja."


"Terima kasih."


Kedua saudara kembar itu saling berpandangan sambil tersenyum. Rasanya lega karena mereka sudah saling curhat. Sesuatu yang sudah lama tak mereka lakukan.


*******


Setelah 2 jam menunggu, hasil pemeriksaan Zelina akhirnya keluar.


"Apakah nona Zelina pernah mengalami kecelakaan di maa lalu dan kepalanya terbentur?" Tanya dokter Gracia.


Zelina mencoba mengingat-ingat. "Sepertinya waktu SMP, aku pernah jatuh dari sepeda motor saat dibonceng sama temanku.."


"Dan baru-baru ini, apakah pernah kepalanya terbentur juga?"


Zelina diam. Ia sungguh tak ingat namun Mark tiba-tiba mengingatkannya.


"Aku menabrakmu beberapa bulan yang lalu, Zel. Kamu jatuh dengan kepala yang terbentur di aspal."


Kata Mark dengan rasa bersalah.


"Hasil fotonya menunjukan bahwa ada gumpalan darah membeku di bagian belakang sebelah kiri kepalamu. Karena darah itu tak dikeluarkan sehingga merusak jaringan sistem syaraf yang ada di kepalamu. Di tambah dengan benturan yang kau alami lewat kecelakaan beberapa waktu lalu menyebabkan reaksinya semakin cepat merusak jaringan yang ada di otakmu dan....."

__ADS_1


"Jadi sebenarnya saya sakit apa, dok?" tanya Zelina memotong ucapan dokter Gracia.


Dokter cantik itu menatap Zelina dengan penuh keperihatinan. "Sepertinya anda mengidap kanker otak."


Zelina menahan sakit yang tiba-tiba menusuk hatinya. "Seberapa parah?"


"Kalau dilihat dari seringnya kau mengalami sakit dan pingsan mendadak sepertinya memasuki stadium 3. Tapi, itu harus dibuktikan dengan beberapa tes."


Zelina mengigit bibirnya. Berusaha menahan air matanya. "Kemungkinan untuk sembuh?"


"Sekarang dunia medis semakin canggih jadi kemungkinan untuk sembuh itu selalu ada. Salah satu yang menyebabkan pasien pengidap kanker akan sembuh yaitu memiliki semangat hidup yang besar. Kamu juga masih muda dan kuat. Aku yakin kalau kamu akan sembuh." Kata dokter Gracia memberikan semangat bagi Zelina. Ia tahu kebanyakan pasien yang divonis mengidap kanker akan sok dan mengalami rasa depresi. Karena itu ia harus memberikan semangat agar mereka bisa punya harapan untuk sembuh.


"Terima kasih, dok."


"Minggu depan, setelah libur natal dan tahun baru selesai, aku akan melakukan beberapa tes kepadamu. Aku harap kau akan datang dengan semangat yang baru untuk sembuh. Ok?"


Zelina mengangguk. Ia dan Mark kemudian keluar dari ruangan dokter Gracia.


"Zel..., kamu baik-baik saja?" Tanya Mark saat keduanya sudah berjalan di koridor rumah sakit.


Langkah Zelina terhenti. Ia merapatkan jaketnya dan memperbaiki letak topinya.


"Ya." Jawabnya pelan karena ada nada penuh keraguan di sana.


"Boleh aku memelukmu?"


Zelina mengangguk. Ia membiarkan Mark memeluknya. "Aku yakin kau akan sembuh, Zel."


"Aku takut, Mark." akhirnya tangis Zelina pecah. Ia sungguh tak pernah menduga kalau akan divonis mengidap penyakit ini. Saat ia masih di SMA pun sebenarnya ia sudah sering merasa sakit kepala dan pusing. Namun ia mengabaikannya. Ia pikir karena terlalu sering main hp atau kelamaan di depan laptop sampai ia sering sakit kepala.


Mark mengusap punggung Zelina dengan penuh kasih. Ia sungguh tak mampu melihat Zelina menderita seperti ini. Ia juga menyesal karena kecelakaan yang dialami Zelina beberapa waktu lalu menjadi salah satu pemicu semakin aktifnya sel kangker yang ada di kepala Zelina.


"Mark, aku mohon jangan katakan ini pada siapapun juga."


"As you wish, baby." bisik Mark lalu membiarkan Zelina menggandeng tangannya dan melangka ke tempat parkir.


***********


Mobil Caleb sudah terparkir di halaman apartemen Zelina. Di tangan kananya ada sekotak coklat yang menjadi faforit Zelina sementara di tangan kirinya ada makanan yang dipesannya dari restoran Asia. Caleb yakin kalau Zelina akan menyukainya.


Saat ia sudah berdiri di loby apartemen, dilihatnya Mark baru turun dari mobilnya. Lalu cowok itu berputar dan membukakan pintu di sisi yang lain. Caleb terkejut melihat kalau itu adalah Zelina. Namun yang membuat Caleb terkesiap tak percaya saat tangan Zelina tiba-tiba melingkar di leher Mark dan mencium bibir pria itu dengan mesra. Keduanya bahkan berciuman sangat lama seakan tak peduli dengan salju yang kembali turun.


Caleb memalingkan wajahnya dengan hati yang panas. Ia datang ke tempat ini untuk meminta maaf pada Zelina dan ingin meminta agar hubungan mereka jelas sebagai pasangan kekasih namun yang dilihatnya justru sesuatu yang tak pernah dipikirkannya mampu dilakukan oleh Zelina.


Apakah mereka pacaran? Apakah Zelina dan Mark diam-diam sudah jadian? Secepat itukah Zelina memalingkan hatinya pada cowok lain?


Caleb menatap pasangan yang masih berciuman itu. Ada rasa kecewa dalam hatinya. Ia pun dengan gerakan cepat meninggalkan lobby itu setelah sebelumnya melemparkan coklat dan makanan yang dibawahnya ke tempat sampah.


********


Faith menatap kedua anak kembarnya yang memasuki rumah dengan gaya yang sempoyongan.


"Chloe? Caleb? Kalian mabuk?" teriak Faith terkejut.


Erland yang sedang menonton siaran bola dengan papanya segera menuju ke ruang tamu.


Kedua saudara kembar itu yang berjalan saling berangkulan tersenyum sambil berkata, " Selamat malam dad, selamat malam bunda."


Erland menepuk jidatnya sendiri. Ia sudah bisa membayangkan betapa murkanya bunda Faith besok pagi.


MAKASI SUDAH BACA

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA???


__ADS_2