
Meloddy keluar dari gedung pertunjukan dengan badan yang sedikit lelah. Ia senang karena hari ini bisa tampil solo dipagelaran musik klasik.
Setelah memasukan tas dan peralatan musiknya di bagasi belakang, Meloddy pun menutup pintu mobilnya dan bergegas untuk pulang.
"Meloddy!" sapa seseorang sambil memegang pundaknya.
Meloddy berbalik dengan kaget. Namun ia langsung bersyukur saat melihat kalau itu adalah Erland.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Meloddy sedikit cuek.
"Menyaksikan permaiananmu yang semakin luar biasa saja."
Meloddy tersenyum tipis. "Terima kasih. Sekarang aku mau pulang!" Meloddy melangkah namun Erland menahan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Meloddy sambil menatap tangannya yang dipegang oleh Erland.
"Kita makan malam, yuk!"
"Aku capek. Ingin pulang dan tidur."
Erland masih menahan tangan Meloddy membuat gadis itu mulai kesal. "Erland, tolong dilepaskan!"
"Kenapa kamu selalu menghindari aku?"
"Bukan menghindari, Erland. Aku merasa kalau kita nggak cocok. Aku ini lebih tua darimu. Carilah gadis yang seumuran denganmu!"
"Kamu hanya 1 tahun 6 bulan lebih dulu lahir dariku. Jangan jadikan usia sebagai alasan."
Meloddy akan bicara namun terdengar sapaan yang memanggilnya bersama Erland.
"Meloddy, Erland?"
Keduanya menoleh. Dan saat Meloddy merasakan pegangan tangan Erland merenggang, ia langsung menariknya.
"Hai Grace, hai Howie. Wah, kalian juga menonton konser ini?" Tanya Meloddy.
"Iya. Kau kan mengirim undangan." Jawab Grace.
Erland melihat tangan Grace yang melingkar dilengan Howie. Keduanya tampak mesra.
"Aku pergi dulu ya?" Pamit Erland lalu segera menuju ke tempat mobilnya di parkir.
"Dia masih mengejarmu juga?" Tanya Grace. Meloddy mengangguk.
"Kita makan malam, yuk! Aku lapar. Howie juga lapar." Ajak Grace.
"Boleh. Aku memang lapar." Kata Meloddy sambil memegang perutnya.
Mereka bertiga pun pergi dengan mobil.Howie sementara mobil Meloddy di bawah oleh sopir Howie.
***********
Mobil Erland berhenti di depan teras rumahnya. Ia langsung menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu pengawal untuk memasukannya di garasi sementara ia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Ruang tamu tampak sepi. Biasanya bundanya akan menunggu anak-anaknya pulang. Namun Ezekiel dan Faith tadi pagi sedang pergi liburan ke Spanyol.
Erland tadi sempat mampir ke club untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Meloddy. Ia hanya minum sedikit dan memutuskan untuk pulang dari pada harus mabuk. Di lihatnya ruang kerja papanya masih terbuka. Ia menengok ke dalam dan melihat Caleb sedang membereskan meja kerja.
"Lembur kak?"
Caleb menatap adiknya. "Ya. Tapi sudah selesai. Besok pagi ada rapat penting dengan investor dari Perancis." Kata Caleb. Ia kemudian merentangkan tangannya, mengerakan sedikit otot-ototnya yang terasa kaku setelah hampir 3 jam berkutat di depan laptopnya.
Erland hanya tersenyum tipis. Ia melangkah ke dapur untuk mengambil air mineral karena tenggorokannya terasa panas.
__ADS_1
Caleb menyusul adiknya ke dapur. Ia mendekati Erland yang sedang duduk di depan pantri sambil meneguk air putih yang diambilnya dari kulkas.
"Kamu minum?" Tanya Caleb saat mencium bau alkohol dari badan Erland.
"Sedikit saja, kak. Aku tidak mabuk. Buktinya masih bisa menyetir dengan selamat sampai ke rumah."
Caleb mengangguk. "Walaupun daddy dan bunda tak ada, tapi kita harus mengingat pesan mereka. Jangan mabuk. Aku ke kamar dulu. Capek.!" Caleb membalikan badannya.
"Aku ketemu Grace dan Howie."
Langkah Caleb terhenti. Ia berbalik dan menatap adiknya dengan dahi yang berkerut. "Grace bersama Howie?"
"Ya. Mereka nampak mesra saling bergandengan tangan. Kami sama-sama menghadiri konser musiknya Meloddy. Maaf kak, aku tak bermaksud mengadu, hanya saja aku pikir kakak kan sudah pacaran dengan Grace, kenapa dia masih jalan bersama Howie?"
Rahang Caleb mengeras. Jantungnya berdetak dengan cepat memberikan rasa sakit atas cemburu yang tiba-tiba menyerangnya. Ia masuk ke dalam lift dan segera menuju ke kamarnya karena ponselnya diletakkannya di sana.
Selama 2 hari ini dia memang tak bertemu Grace. Di samping banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikannya, Grace juga sibuk latihan untuk persiapan festifal yang akan diikutinya bulan depan di Amerika.
Caleb langsung membanting habdphonenya ke atas tempat tidur setelah 3 kali dihubungi dan ponsel Grace tidak aktif.Caleb ingin menghubungi nomor rumah grace tapi merasa tak enak karena waktu sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
Grace, maksud kamu apa sih? Bagaimana bisa jalan bareng Howie lagi?
Sepanjang malam Caleb gelisah dalam tidurnya. Ia sungguh tak bisa membiarkan gadis yang sudah dimilikinya dekat dengan orang lain. Caleb memang sangat posesif terhadap semua yang dimilikinya.
Saat pagi hari, Caleb kembali menghubungi ponsel Grace tapi masih saja tidak aktif. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi nomor rumah kediaman The Aslon.
"Hallo selamat pagi, bisa bicara dengan Grace? Ini dengan Caleb Thomson."
"Sebentar, tuan."
Terdenfar gagang telepon diletakan, dan tak lama kemudian terdengar suara lembut Maura. "Hallo Caleb. Ini dengan bibi Maura."
"Apa kabar, bi?"
"Makasi, bibi. Salam untuk paman." Caleb mengahiri panggilan telepon setelah itu ia menghubungi Meloddy. Agak lama baru Meloddy mengangkatnya.
"Hallo..." terdengar suara Meloddy yang sepertinya baru bangun.
"Meloddy, maaf ya kalau aku menganggumu di pagi ini. Apakah Grace ada bersamamu?"
"Oh...Grace? Dia..dia baru saja pergi kayaknya. Katanya ada kuliah pagi. Aku ketiduran sehingga tak mendengarnya pergi."
"Makasi, Meloddy."
Caleb mendengus kesal. Apakah Grace sengaja menghindarinya? Tapi apa alasannya?
Ingin rasanya Caleb pergi ke kampus Grace namun ia tak bisa karena rapatnya jam 8 pagi ini. Dengan gati yang galau, Caleb akhirnya berangkat ke kantor.
**********
Meloddy menatap Grace yang sedang duduk di meja makan apartemennya.
"Grace, aku tak enak hati harus bohong pada Caleb. Kalian kenapa sih? Ada masalah dengan hubungan kalian? Bukankah kau bilang kalau hubunganmu dengan Caleb sedang manis-manisnya? Kalian bahkan sudah making love." Meloddy duduk di depan Grace sambil menatap sepupunya itu dengan intens.
Grace menyesap kopinya perlahan. Ia menarik napas panjang lalu berkata, "Aku dan Caleb rasanya kurang cocok. Dia begitu posesif sementara aku tak suka terlalu dikekang."
"Kamu mencintai dia. Dia adalah cinta seumur hidupmu. Sejak dulu kamu sudah tahu sifatnya yang posesif. Masa sekarang dipermasalahkan justru disaat kalian sudah sangat intim."
Grace menghabiskan kopinya. Ia kemudian berdiri dan meraih tasnya. "Aku pulang ke kampus dulu. Mau naik taxi saja soalnya mobilku diantar sopir Howie ke rumahku." Pamit Grace lalu segera meninggalkan apartemen Meloddy.
Saat ia tiba di kampus, dilihatnya Zelina yang baru saja turun dari taxi.
"Zelina...!" panggil Grace.
__ADS_1
"Hai Grace!"
Keduanya saling berpelukan. Grace dapat merasakan tubuh Zelina yang kurus. Tak seperti dulu. Sekalipun Zelina tak terlalu tinggi dibandingkan dengan tinggi orang bule pada umumnya, namun Zelina memiliki tubuh yang padat berisi. Sabgat berbeda dengan penampilannya sekarang.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Grace.
"Mau mengurus beberapa dokumen. Aku akan melanjutkan S2 ku di Amerika."
"Memangnya kuliahmu sudah selesai?"
"2 bulan lagi aku akan di wisuda."
"Oh...begitu. Lalu kenapa tak melanjutkan S2 nya di sini?"
Zelina tersenyum. "Aku ingin mencari suasana baru. Lagi pula di Amerika aku sekalian mau kerja. Aku pergi dulu ya?" Zelina langsung melangkah meninggalkan Grace. Hati Grace menjadi sakit melihat tubuh kurus Zelina yang berjalan meninggalkanya. Ia sudah bertanya pada bibi Gracia mengenai perkembangan pengobatan Zelina. Semuanya berjalan sangat lambat. Zelina sering menangis karena terapi yang dijalaninya akan membuat tubuhnya sakit.
Grace menghapus air matanya. Ia segera melangkah menuju ke kelasnya.
***********
Keegan tersenyum melihat hasil lukisannya. Seraut wajah cantik dengan rambut hitam bergelombang. Keegan sangat suka dengan tatapan mata Zelina.
"Keegan?"
Keegan menoleh. "Dad!"
Arnold mendekat. "Lukisannya cantik. Secantik aslinya." Kata Arnold lalu duduk di samping putranya.
"Aslinya lebih cantik, dad."
"Kau mencintainya sejak pertama kali melihat dia di Bali kan? Itu sudah lama sekali, nak. Mengapa kau tak mencoba mendapatkan hatinya?"
Keegan tersenyum kecut. "Dia mencintai orang lain, dad."
"Tapi yang daddy dengar kalau Caleb sudah bersama Grace. Jadi mengapa kau tak mencobanya?"
"Bagaimana kalau dia menolakku?"
"Cobalah lagi. jangan pernah berputus asa. Daddy juga sempat ditolak mommy mu secara berulang-ulang. Namun Daddy tak putus asa. Akhirnya mommy menikah dengan daddy."
Keegan meletakan kuas yang ada di tangannya. Ia menatap lukisan wajah Zelina dengan hati yang bergetar. Ia sungguh mencintai gadis itu. Walaupun selama ini ada beberapa gadis yang sempat dekat dengannya, namun tak ada yang bisa menggantikan Zelina dalam hatinya.
"Aku akan mencoba, dad." Kata Keegan sambil menatap daddynya.
"Itu baru anak daddy!"
********
Langkah Grace terhenti saat melihat Caleb yang sudah menunggunya di depan sanggar.
"Kak...!"
"Kenapa kamu susah sekali dihubungi, Grace? Kamu sengaja ya menghindar dariku?" Caleb langsung menyerang Grace dengan nada kesalnya.
"Aku mau kita putus, kak!"
"What???"
Wah, pasti ada yang marah ya membaca part ini. Maaf ya kalau tak sesuai permintaan kalian. Alurnya memang sudah seperti ini.
Apa maksud Grace dengan minta putus?
Dan bagaimana Keegan menyatakan cintanya pada Zelina? Nantikan di part selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote ya???