
Jam kerja di perusahaan The Thomson Company sudah 1 jam selesai. Caleb masih ada di ruangannya. Jari tangan kanannya sedang mengetuk meja kerjanya sedangkan tangan kirinya memegang ponsel. Haruskah ia bertanya pada Gionino? Ataukah pada Monica? Nomor lama Grace belum juga aktif. Sedangkan nomor yang baru tak juga di ketahuinya.
Pintu ruang kerjanya terbuka. Ternyata Keegan yang masuk. "Penjaga kantor mengatakan kalau kamu masih di sini. Jadi aku langsung masuk saja. Lembur ya?" Tanya Keegan.
"Nggak. Malas saja mau pulang rumah. Capek mendengar pertanyaan yang sama. Kapan menikah? Ayo cari pacar."
Keegan tertawa. Ia duduk di depan Caleb. "Masalah kita sama ya? Kapan punya pacar? Kapan menikah?"
"Gosip yang beredar di luar sana sangat kejam untukmu. Keegan Manola adalah seorang gay."
"Itu gila. Aku 100% normal sebagai seorang laki-laki. Mungkin karena belum punya pacar saja ya?"
"Lalu putri Sofia kau tolak?"
"Dia baik, cantik dan mempesona. Namun aku tak bisa bersamanya. Kepalaku pusing. Nenek Anna memberikan ultimatum. Kalau sampai tahun depan aku tak juga mendapatkan gadis pilihanku, aku harus menikahi Sofia."
Caleb menarik napas panjang. "Wajarlah. Usiamu kan sudah 28 tahun. Putra Mahkota. Jadi harus segera mendapatkan pasangan."
Keegan menunduk sedih. "Aku merindukan Zelina. Aku sudah berusaha membuang semua bayangannya, namun aku tak bisa."
"Aku juga sering bertanya tentang keberadaan gadis itu. Bagaimana kalau Zelina sudah meninggal?"
Keegan merasakan sesak di dadanya. Itu juga yang sering ia pikirkan. "Aku masih berharap kalau keajaiban itu ada. Seperti kisah papa dan mamaku."
"Kau sudah janji akan mencari gadis lain kan?"
"Ya. Aku akan menunggu satu tahun lagi. Jika tak ada kepastian tentang Zelina, aku akan mencari gadis lain. Dan kau? Bukankah Grace sudah kembali?"
"Aku juga baru tahu tadi."
"Oh ya? Aku malah sudah tahu sejak seminggu yang lalu. Tim nya Grace akan menjadi penari dalam videoclip terbaruku."
"Hatiku resah. Kenapa Grace tak menghubungiku?"
"Mungkin dia menunggu kau yang datang mencarinya."
"Menurutmu begitu?"
Keegan mengangguk. "Grace menunggumu untuk menaklukan dia lagi."
"Akan kulakukan!"
"Semangat!"
Caleb tersenyum. Ia berjanji akan memperjuangkan Grace.
********
Maura menemui Caleb di ruang tamu.
"Hallo, bibi!" sapa Caleb
"Hallo Caleb. Rasanya sudah lama sekali tak bertemu." Maura memeluk Caleb dengan penuh kasih lalu mempersilahkan Caleb duduk.
"Grace nya ada?" Tanya Caleb langsung pada tujuan kedatangannya.
"Grace masih mandi. Sebentar lagi akan turun." Ujar Maura sambil tersenyum.
"Grace sudah berapa lama ada di London?"
"Kurang lebih satu bulan."
__ADS_1
"Kok aku baru tahu ya?"
"Waktu kembali dari Amerika, Grace hanya 2 hari ada di rumah. Setelah itu ia pergi ke Scotlandia selama 2 minggu untuk kegiatan festival menari."
"Oh....begitu ya..." Caleb mengangguk.
Seorang pelayan datang membawakan minuman dan kue untuk Caleb.
"Bibi lihat Grace dulu ya." Pamit Maura lalu segera meninggalkan ruang tamu. Agak lama Caleb menunggu, sampai akhirnya sosok yang dia rindukan , datang menemuinya.
Grace terlihat semakin cantik. Dengan rambut hitam bergelombangnya yang diikat satu. Grace memakai celana jeans selutut dan kaos ketat berwarna hitam. Grace terlihat makin dewasa. Alisnya kini sudah dibentuk dengan pensil alis warna coklat. Ia bahkan menggunakan lipstick berwarna pink. Sesuatu yang jarang sekali Grace lakukan sejak 3 tahun lalu.
"Hallo, kak!" Sapa Grace. Datar, bahkan terkesan sangat biasa seolah mereka setiap hari ketemu.
Caleb terlihat sangat kecewa. Ia berharap Grace akan langsung memeluknya namun Grace hanya mengulurkan tangannya.
"Hallo, Grace!" Caleb menjabat tangan Grace. Hanya sebentar lalu melepaskannya. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Ternyata kamu sudah sebulan ada di sini..Alu pikir masih 3 bulan lagi."
"Kontrakku memang belum selesai. Namun aku melanjutkannya di London. Kebetulan ada beberapa kerjaan di sini. Jadi sekalian saja pulang."
"Oh....!"Caleb mengangguk. Ia sendiri bingung harus bicara apa lagi. Grace terlihat berbeda.
"Selamat ya, kak. Sudah diangkat sebagai presiden direktur. Pasti pekerjaannya tambah banyak."
"Lumayan!" Jawab Caleb pelan. Ia menatap Grace dengan tatapan yang sedikit terluka. "Kenapa kau tidak menghubungiku?"
"Untuk?"
"Bukankah kamu mengatakan kalau setelah kamu kembali, akan ada kejelasan mengenai hubungan kita?"
"Menurut kakak, bagaimana kejelasan hubungan kita?"
Grace menunduk. "Kak, aku sudah merasa nyaman dengan hidupku yang sekarang. Aku belum ingin punya hubungan yang serius dengan siapapun juga."
"Apakah ada orang lain?"
Grace diam. Ia tak menjawab. Ia hanya menunduk.
"Apakah ada orang lain?" Caleb mengulangi pertanyaannya.
Grace mengangkat wajahnya. Menatap Caleb yang memang masih menatapnya dengan intens. "Tidak ada orang lain, kak."
"Lalu?"
"Aku, aku...." Grace terlihat gugup.
"Apa?" Caleb mulai tak sabar.
"Aku hanya merasa nyaman saja dengan situasi seperti ini."
"Dan cinta yang pernah kau rasakan untukku? Hubungan yang pernah kita jalani bersama? Apakah semuanya itu tak berarti untukmu?"
Grace menggeleng. "Aku tak tahu, kak.Selama hampir 3 tahun kita berpisah, Aku memang pernah dekat dengan seseorang. Namun aku sama sekali tak menerima cintanya. Kami hanya berjalan sebagai sahabat baik. Anthoni Adams sebenarnya hanya meminta dukunganku karena dia ingin keluar dari ketergantungannya sebagai pemakai narkoba. Makanya aku dan dia menjadi sangat dekat."
Caleb mengacak rambutnya kasar. Ia sungguh tak mengerti dengan semua perkataan Grace.
"Dan kita?"
Grace menarik napas panjang. "Kak, mari kita mulai dari awal. Aku ingin memulai tanpa ada Zelina diantara kita. Kakak mau kan bersabar sedikit saja?"
__ADS_1
Caleb menggeleng. "Aku tak mau menunggu lagi. Aku akan mengejarmu dengan semua kemampuanku. Aku akan mendapatkanmu. Aku pastikan itu." Caleb berdiri lalu mendekati Grace. Ia meraih tangan Grace dan menciumnya dengan sangat lembut. "Sejak kecil aku sudah mencintaimu. Maafkan aku yang sedikit bingung ketika ada Zelina disampingku. Aku akan memperlakukanmu sebagai wanita yang harus kudapatkan secara benar. Aku akan memperjuangkanmu." Caleb mencium bibir Grace lalu segera pergi meninggalkan gadis itu.
Grace tersenyum. Ia memegang bibirnya dengan tangan yang bergetar. Ia akan memulai petualangan baru dengan cinta lamanya. Selama ini ia mencintai sendiri, berjuang agar Caleb memilihnya. Kini ia akan membiarkan Caleb mendapatkannya.
"Mana Caleb?" Tanya Maura.
"Sudah pulang, mom"
"Terus, keputusanmu gimana?"
"Aku akan membiarkan kak Caleb mendapatkan aZelina lagi. Aku ingin menjadi seperti gadis-gadis yang lain. Merasa dikejar-kejar oleh seorang pria."
Maura tersenyum. "Kau sama seperti daddymu. Sedikit keras kepala walaupun batin sudah tersiksa karena rindu."
"Apa katamu?" Ben tiba-tiba berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, aku kan hanya bilang kalau Grace sedikit mirip denganmu. Bukankah kau dulu begitu? Kau membiarkan aku percaya kalau kau memang selingkuh. Kau mau agar aku yang mengejarmu."
Ben mencium pipi istrinya. "Namun pada dasarnya aku memang mencintaimu. Aku sebenarnya takut kalau kau meninggalkan aku."
"Daddy, sudah tua gayanya kayak ABG." Celutuk Gabrian yang baru saja masuk.
"Siapa bilang daddy sudah tua? Daddy ini masih ganteng. Malahan daddy mau mommy kalian punya anak lagi."
"Hei bule, sembarangan kalau bicara!" Maura mencubit pinggang suaminya membuat pelukan Ben di pinggangnya terlepas.
Grace dan Gabrian hanya langsung pergi dari ruang tamu, membiarkan daddy dan mommy mereka yang saling berdebat.
"Sayang, rumah ini sudah sepi tanpa ada tawa anak bayi. Jadi kepingin gendong bayi lagi." Kata Ben dengan wajah serius.
Maura menatap suaminya dengan mata yang melotot. "Hei bule tua, kita berdua ini pantasnya jadi opa dan oma."
"Memangnya wajahku sudah terlihat tua sekali ya?" Ben memegang wajahnya.
"Sudah ada sedikit keriput, sayang."
Ben terlihat sedih.
"Namun tetap ganteng dan mempesona. Aku yakin masih banyak perempuan yang antri untuk bisa mendapatkan bule tampan ini." Kata Maura sambil menangkup pipi Ben dengan kedua tangannya. "Dan aku masih sering merasa cemburu karena para model muda itu masih sering menatapmu dengan penuh hasrat."
Ben tersenyum. "Sayangnya bule tua ini tak mungkin akan melirik wanita lain lagi."
Keduanya tertawa bersama.
"Sayang, kamu setuju kan kalau Grace dan Caleb akhirnya bersama?"
Ben mengangguk. "Aku yakin kali ini Caleb tak akan menyakiti Grace lagi."
"Aku sering sedih memikirkan Zelina. Entah bagaimana keadaan gadis itu."
Ben melingkarkan tangannya di bahu Maura."Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi gadis sebaik dia."
********
Grace naik ke atas tempat tidur sambil memegang hp nya. Sebuah pesan masuk dari Caleb.
Selamat malam, selamat tidur.
Aku akan selalu memimpikanmu.
Grace tersenyum membaca pesan itu. Ia membaringkan tubuhnya. Mencoba menemukan Caleb dalam mimpinya malam ini.
__ADS_1
Makasih sudah baca sampai part ini
jangan lupa like, komen, vote