3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Wedding Day


__ADS_3

Caleb menatap sekelilingnya. Halaman samping gereja itu terlihat sepi.


Namun bau minyak wangi itu tak mungkin Caleb lupakan. Zelina tak pernah mengganti minyak wanginya sejak usianya 17 tahun.


"Zelina, keluarlah! Aku tahu itu kamu!" Seru Caleb dengan detak jantung yang berdebar kuat.


Sepi, hanya hembusan angin yang terlihat menggerakan beberapa tanaman yang ada di halaman itu.


"Zelina! Aku tahu itu kamu! Apakah kamu masih berwujud manusia, ataukah kamu sudah berwujud hantu, aku tahu kalau itu adalah kamu. Keluarlah!" Teriak Caleb.


Sesosok bayangan keluar dari antara lorong kecil yang ada di dekat toliet itu. Semakin mendekat kepadanya, sambil membuka kerudung putih yang dipakainya.


Caleb sungguh tak bisa menahan air matanya. Wajah yang tak mungkin ia lupakan. Walaupun rambutnya sudah pendek dan dandanan yang berbeda, Caleb tak mungkin melupakan gadis yang pernah mengisi hatinya itu.


"Zelina!" Gumannya pelan.


Air mata Zelina mengalir. Ia semakin mendekati Caleb lalu memeluk tubuh kekar itu. Tangisnya langsung pecah saat tangan Caleb memeluknya erat. Membenamkan kepalanya di dada bidang pria yang dulu sangat dicintainya itu.


"Caleb!" Zelina menyebutkan nama Caleb diantara isak tangisnya.


"Kamu masih hidup. Terima kasih Tuhan." Caleb mencium puncak kepala Zelina secara berulang-ulang. Hatinya benar-benar sangat bahagia. Ia memang sudah memantapkan hatinya pada Grace. Namun Zelina tetap menjadi gadis yang ia sayangi sebagai saudaranya. Seperti ia peduli dan sayang pada Chloe dan Erland.


"Ayo masuk ke dalam. Grace dan Keegan pasti akan senang melihat kau sudah kembali dalam keadaan selamat." Caleb menarik tangan Zelina namun gadis itu menahan tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku akan ketemu dengan Grace namun setelah kalian resmi menjadi suami istri. Kau tahu sifat Grace kan? Dia bisa menggagalkan pernikahan kalian karena selalu mengalah untukku. Aku juga tak bisa bertemu dengan Keegan karena dia sudah bersama dengan putri Sofia."


"Tapi, Zel, Keegan berhak tahu kalau kamu masih hidup."


Zelina menunduk. "Aku pernah berjanji padanya, jika aku bisa kembali ke London, itu berarti aku kembali untuknya. Namun dia sudah bertunangan dengan putri Sofia. Gadis itu lebih cocok berdampingan dengannya. Sebenarnya aku ingin tinggal di Manado namun hatiku begitu ingin melihat pernikahanmu dengan Grace, makanya aku datang ke sini."


Caleb mengerti isi hati Zelina. Namun dia begitu ingin Grace tahu kalau Zelina masih hidup. Caleb tahu kalau Grace menyayangi Zelina seperti saudaranya sendiri.


"Please...., setelah resepsi pernikahan kalian selesai, temui aku di kamar 7013. Aku menginap di The Thomson hotel. Di tempat itu kan kalian akan menggelar pesta pernikahan?" Mohon Zelina melihat Caleb masih berharap dia masuk.


"Ya."


"Aku akan melihat semuanya. Pemberkatan nikah, resepsi pernikahan kalian. Setelah itu aku akan kembali ke Manado."


Caleb memeluk Zelina sekali lagi. "Terima kasih sudah mau datang ke pernikahanku dan Grace." Lalu ia melangkah.


"Caleb!" Panggil Zelina.


Caleb membalikan badannya. "Ada apa?"


"Aku sudah membuang semua rasa cinta yang pernah kumiliki untukmu. Tiga tahun ini, aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku. Tidak lebih. Aku percaya takdir Tuhan tak pernah salah. Grace adalah wanita terbaik untukmu."


Caleb mengangguk. Ia kemudian kembali membalikan badannya. Melangkah ke dalam gereja. Namun, saat melihat Grace dan Keegan, Caleb merasa gugup. Bibirnya ingin sekali menceritakan tentang Zelina. Namun ia sudah berjanji untuk menyimpannya dari mereka semua.


Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Grace kembali bertanya.


"Kak, ada apa? Wajahmu terlihat berbeda."


"Aku baik-baik saja, sayang. Hanya saja aku sudah tak sabar untuk menunjukan kejutan bagimu di hari pernikahan kita."


"Kejutan apa?"


"Ada aja. Kalau dibilang sekarang, itu namanya bukan kejutan."


Grace hanya tersenyum.

__ADS_1


Mobil Caleb berhenti di depan kediaman keluarga Aslon.


"Kakak tak masuk?" tanya Grace sebelum turun.


"Nggak. Aku harus pulang ke mansion. Bunda memintaku langsung pulang begitu selesai dari gereja. Katanya calon pengantin tak boleh terlalu banyak jalan-jalan."


"Itu juga yang dikatakan mommyku."


Keduanya tertawa bersama. Maklumlah, mama mereka orang Indonesia jadi larangan menjelang pernikahan juga hampir sama.


"Sampai jumpa di gereja 3 hari lagi. Aku akan merindukanmu." Kata Caleb lalu mencium bibir Grace dengan sangat lembut.


"Aku juga akan sangat merindukanmu." Kata Grace saat ciuman mereka berakhir.


Setelah Grace turun, Caleb menjalankan mobilnya kembali. Ia langsung menelepon manager hotel.


"Berikan service terbaik bagi tamu yang ada di kamar 7013. Jangan minta bayaran apapun. Dia tamu istimewa keluarga Thomson." Kata Caleb lalu kembali menyimpan ponselnya. Hatinya bahagia. Zelina masih hidup.


*********


Ben mengetuk pintu kamar putrinya. Setelah mendengar suara Grace yang menyuruhnya masuk, Ben pun membuka pintu itu. Nampak Grace sedang duduk di kursi meja riasnya. Ia sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Hiasannya sangat sederhana, namun tetap menampilkan kesan gaun pengantin yang mewah dan berkelas.


"Dad!"


"Bolehkan daddy melihat pengantinnya lebih dulu?"


"Kau tetap menjadi cinta pertamaku, dad."


Ben mengambil sebuah kursi dan meletakannya tepat di depan Grace. Keduanya kini duduk saling berhadapan.


"Daddy tak percaya kalau hari ini akhirnya datang juga. Kau akan menikah. Daddy pikir masih beberapa tahun lagi baru kau akan meninggalkan daddy."


Ben memegang tangan putrinya. "Kau akan menanggalkan nama Aslon lalu akan memakai nama Thomson di nama belakangmu."


"Daddy masih saja cemburu pada Caleb?" Grace tertawa.


"Mungkin."


"Kalau begitu aku akan tetap memakai namamu, dad. Aku akan menjadi Grace Paramitha Aslon Thomson."


Ben tertawa. "Daddy egois ya?"


"Nggak. Aku tahu kalau daddy sangat mencintaiku."


"Kau harus bahagia, Grace. Bilang ke daddy kalau Caleb membuatmu menangis. Daddy nggak akan pernah rela melihat putri daddy menderita."


"Kau justru yang membuat aku menangis, dad." Kata Grace berusaha menahan air matanya.


Tangan Ben meraih tisue dan memberikannya pada Grace. "Maaf kalau daddy membuatmu menangis."


"Seharusnya semalam daddy datang ke sini. Kita bisa curhat-curhatan sambil menangis bersama. Bukannya sekarang di saat aku sudah selesai beradandan." Grace jadi cemberut.


Ben tertawa. Ia menyentuh pipi Grace. "Rasanya baru kemarin daddy memelukmu, menemani tidur dan membacakan cerita untukmu. Sekarang kamu justru akan menjadi pengantin. Berarti daddy sudah tua ya?"


"Kamu tetap ganteng, dad. Pesona Ben Aslon belum pernah hilang. Aku masih melihat tatapan mata tajam momny saat para perempuan menatap daddy dengan penuh kekaguman."


"Oh ya?" Ben tertawa.


"Berbicara buruk dibelakang orangnya, itu tidak baik." Maura tiba-tiba masuk.

__ADS_1


"Waw, kau cantik sekali sayang." Ben langsung berdiri dan mendekati istrinya.


"Nggak usah merayu!" Maura mencibir.


Grace tertawa melihat tingkah papa dan mamanya. Mereka sering bersikap seperti ABG yang baru saja mengenal cinta.


"Ayo kita ke gereja. Waktunya hampir tiba." Kata Maura.


"Ok." Grace berdiri. Maura menurunkan kain penutup wajah Giani.Sebuah cadar transparan.


Lalu ketiganya berjalan bersama meninggalkan kamar Grace.


************


Saat pintu gereja terbuka, Grace merasa jantungnya berdetak sangat kuat. Di depan altar, Caleb sudah menunggunya. Wajah tampan Caleb tersenyum sangat bahagia.


Grace pun menatap kekasihnya dengan hati yang bahagia.


Air mata Caleb mengalir tanpa bisa ditahannya. Hatinya yang bahagia. Ia ingat bagaimana perjuangan yang harus dilaluinya bersama Grace sampai akhirnya mereka bisa sampai di hari ini. Gadis kecil yang dulu diciumnya ketika masih berusia 3 hari, kini akan menjadi miliknya.


Erland memberikan sapu tangannya pada kakaknya. Caleb menghapus air matanya. Mata Erland menatap Meloddy yang sedang bermain piano. Lagu yang dinyanyikan Keegan sangat romantis.


Tuhan sangat baik, memberikan aku cinta


Cinta yang akan menyatukan kita saat ini.


Aku menunggumu di sini, di depan altar suci


Saatnya kita akan saling mengucapkan janji


Janji yang akan mengikat kita selamanya


Ikatan yang hanya bisa dipisahkan oleh maut


Tak ada lagi yang akan menghalangi kita


Di hadapan Tuhan aku berjanji akan menyayangimu seumur hidupku


Mari kita nikmati kebahagiaan yang hanya


Akan menjadi milik kita selamanya


Langkah Grace dan Ben berhenti di depan Caleb.


"Aku memberikan putri kesayanganku padamu, Caleb. Jangan sakiti dia." Kata Ben lalu memberikan tangan Grace yang dipegangnya pada Caleb.


"Aku akan menjaganya dengan nyawaku." Kata Caleb lalu menerima tangan Grace. Keduanya kini saling berhadapan. Grace tak bisa menahan air matanya. Akhirnya impian terbesar dalam hidupnya terwujud sudah. Ia akan menjadi pendamping Caleb selamanya.


**********


Pemberkatan nikah sudah selesai. Di jari manis keduanya, sudah terpasang cincin pernikahan. Wajah Caleb dan Grace terpancar rona kebahagiaan. Mereka pun segera menuju ke hotel untuk melangsungkan acara resepsi.


Grace sudah berganti baju. Ia mengenakan kebaya pengantinnya. Terlihat sangat cantik dengan bunga melati yang menghiasi sanggulnya.


Caleb kembali masuk ke kamar saat Grace sudah selesai didandani. Ia sendiri sudah mengganti tuxedonya dengan baju adat pria batak.


"Sayang, saatnya aku tunjukan kejutanku untukmu!" kata Caleb lalu menarik tangan Grace keluar dari kamar.


Bagaimana reaksi Grace saat tahu yang sebenarnya?????

__ADS_1


__ADS_2