
"Kak, kita mau kemana?" Grace sedikit bingung dengan sikap Caleb.
"Tenang saja, sayang. Kau pasti akan senang dengan hadiah yang akan kuberikan."
"Katanya nanti selesai pernikahan."
"Kita kan sudah resmi menikah. Tinggal pestanya saja. Aku yang sudah tak sabar ingin menunjukannya padamu."
Grace membiarkan saja langkahnya diseret oleh Caleb. Untunglah kebaya yang digunakannya sangat nyaman dipakai sehingga tak membuatnya gerah untuk berjalan.
Mereka menuju ke taman yang ada di lantai atas hotel The Thomson.
"Kak, mengapa aku merasa gemetar ya?" Ujar Grace sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Caleb.
"Aku juga awalnya begitu. Ini akan menjadi hadiah pernikahan terindah bagi kita."
Mereka tiba di dekat kolam. Ada seseorang berpakaian putih dan kerudung berwarna putih juga membelakangi mereka. Lampu di sekitar kolam ditambah dengan beberapa tanaman yang agak tinggi membuat suasananya menjadi seram.
"Siapa itu, kak?" bisik Grace.
Orang itu berbalik. Ia membuka kaca mata hitamnya. Jantung Grace seperti berhenti berdetak. "Zelina?" akhirnya dengan bibir yang bergetar, ia mengucapkan kata itu.
Zelina tersenyum. "Hai Grace, kau terlihat sangat cantik dengan kebaya itu."
Air mata Grace langsung jatuh. Ia mendekat dan langsung memeluk Zelina sambil terus menangis. "Oh my God! Kau hidup. Kau sungguh hidup!" Grace yang badannya lebih tinggi dari Zelina, memegang wajah gadis itu.
"Jangan menangis, Grace. Nanti make up nya rusak." Kata Zelina sambil menghapus air mata Grace.
"I don't care. I really miss you." Grace kembali memeluk Zelina.
Caleb menatap 2 perempuan itu yang saling berpelukan sambil menangis. Dua perempuan yang dulu sangat membuatnya bingung untuk memilih. 2 perempuan yang membuatnya yang sejak kecil sudah ada dalam kehidupannya. Walaupun akhirnya Caleb memilih Grace, namun Caleb tahu kalau hari ini tak akan terjadi jika Zelina tak meninggalkannya di altar pernikahan 3 tahun yang lalu. Kini Caleb masih menyayangi keduanya walaupun dengan arti yang berbeda.
"Zel, ayo temui Keegan. Dia pasti akan senang." Kata Grace ketika pelukan mereka sudah terlepas.
Zelina menggeleng. "Aku tak mau menganggu Keegan. Biarlah dia bersama putri Sofia. Mereka pasangan yang cocok. Seminggu lagi aku akan kembali ke Manado. Aku akan memulai hidupku di sana."
"Zel, Keegan berhak tahu kalau kamu masih hidup." Ujar Grace sedikit memaksa. Ia tahu bagaimana Keegan sangat mengharapkan cinta Zelina.
Zelina menggeleng. "Aku tak pantas untuknya. Aku bukan wanita yang sempurna. Kalian bersiaplah. Nanti kita akan bercerita lagi besok. Aku masih ada di hotel ini. Aku juga ingin melihat pesta pernikahannya."
Grace memeluk Zelina sekali lagi. "Baiklah. Besok pagi datang ke kamar kami ya?"
__ADS_1
Zelina tertawa. "Memangnya kalian bisa bangun pagi?"
Wajah Grace menjadi panas. Untung saja lampu taman tak begitu terang sehingga Zelina tak akan melihatnya yang sedang malu.
Caleb hanya tersenyum. "Aku memang berencana tak akan membuatnya tidur malam ini. Jadi kita ketemu saja saat makan siang."
"Ok. Selamat berbahagia ya..." Zelina memakai kembali kacamata dan kerudungnya. Ia melangkah meninggalkan Caleb dan Zelina.
"Kak, sejak kapan kau tahu kalau Zelina masih hidup?" tanya Grace saat keduanya melangkah kembali ke kamar.
"Sejak kita latihan di gereja."
"Jadi, wajah kakak yang tiba-tiba menjadi pucat dan agak tegang karena Zelina?"
"Ya. Aku ketemu dengannya di toilet."
"Berarti yang dilihat Keegan benar Zelina kan?"
Caleb mengangguk. "Namun Zelina tak mau bertemu Keegan. Ia sepertinya tahu kalau Keegan memang lebih cocok dengan Sofia."
"Apakah dia memang tidak menyukai Keegan? Atau apakah dia masih mencintaimu, kak?"
Caleb menahan tangan Grace sehingga langkah mereka terhenti. Keduanya saling berpandangan.
"Bu-bukan seperti itu, kak. Aku juga tak mau berpisah denganmu. Kita sudah melalui banyak hal untuk bisa sampai di hari ini. Aku hanya sedih saja, karena jika Zelina masih menyimpan rasa untukmu, itu berarti dia tak akan pernah bahagia."
"Di saat kami bertemu waktu itu, aku menatap matanya. Aku tak melihat lagi ada pancaran seperti 3 tahun lalu. Mungkin yang dikatakan Mark ada benarnya, Zelina mencoba membuka hati untuk Keegan."
"Sayangnya saat ia kembali, Keegan audah bertunangan dengan putri Sofia." Grace terlihat sedih.
"Ya. Kita tak bisa membantu mereka seperti kita membantu Meloddy dan Erland. Keegan adalah pangeran. Dia harus menikah dengan bangsawan." Caleb memegang tangan Grace. "Ayo kita benahi lagi dandananmu. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Malam ini, hanya ada kita. Nantilah besok kita pikirkan Keegan dan Zelina." ujar Caleb lalu membawa Grace kembali ke dalam kamar.
********
Di kamar 8001, Meloddy dan Erland sedang asyik memadu kasih. Keduanya berciuman terus. Meloddy duduk menyamping dipangkuan Erland sambil melingkarkan tangannya di bahu kekar cowok itu.
"Er, sudah. Nanti dandananku jadi berantakan." Ujar Meloddy saat ciuman panjang mereka akhirnya selesai.
"Aku belum puas menciummu, sayang."
"Waktu kita tak banyak." Meloddy berdiri. Ia memperbaiki gaunnya yang sedikit berantakan karena tangan nakal Erland.
__ADS_1
Erland ikutan berdiri. "Jadi, kamu besok akan pergi ke Jakarta?"
Meloddy menunduk sedih. "Iya. Aku tak bisa membantah perkataan daddy. Besok aku akan pergi dengan kak Min Jun."
Erland memeluk Meloddy. "Pergilah. Aku pasti akan mencarimu di sana. Akan ku buktikan pada Edward Kim kalau aku serius dengan putrinya ini." Kata Edward sambil membelai rambut panjang Meloddy yang sangat disukainya.
"Kita baru saja jadian, kini harus berpisah lagi. Kesal kan?"
Erland melepaskan pelukannya. Ia memegang pipi Meloddy dengan kedua tangannya. "Lihat aku, sayang! Aku harus kembali ke Swiss 2 hari lagi. Kau tahu kan ada pekerjaan di sana. Mungkin sebulan di Swiss, aku akan kembali ke London. Setelah itu, aku akan ke Korea."
"Ngapain ke Korea? Aku kan ada di Jakarta."
"Melamarmu tentu saja."
"Bagaimana kalau daddy menolakmu?"
"Aku akan datang lagi untuk melamarmu."
"Jika daddy masih menolakmu?"
Erland tersenyum. "Kalau masih ditolak juga, aku akan mengikuti saran Keegan."
"Apa itu?"
"Kita kawin lari saja."
Meloddy tertawa. Ia memeluk Erland. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Erland. "Aku rasa, jika itu kita lakukan, maka Edward Kim akan menyerang Ezekiel Thomson."
Kedua anak muda itu kembali berciuman. Mereka akan berusaha mengikuti alur cerita ini. Kalaupun tetap tak mendapatkan restu, maka Meloddy pun akan berjuang bersama Erland.
************
Acara resepsi pernikahan Caleb Thomson dan Grace Aslon berjalan dengan sangat meriah. Semua orang penting di London hadir untuk melihat pasangan fenomenal itu. Gaun pengantin Grace mendapat banyak pujian. Malam itu Grace terlihat bagaikan putri bidadari yang muncul dari kayangan. Faith dan Maura sangat bangga. Karena sebagai perempuan asal Indonesia, mereka boleh menunjukan salah satu pakaian tradisional Indonesia, yaitu kebaya. Faith dan Maura pun kompak menggunakan kebaya malam ini. Bukan hanya mereka, Lerina yang adalah juga orang Jawa, hadir dengan kebaya berwarna cream.
Ketika semuanya selesai, Caleb dan Grace masuk ke kamar pengantin mereka. Caleb memeluk Grace ala bridal style dan menurunkan Grace di tepi ranjang pengantin mereka.
"Siap untuk malam ini?" Tanya Caleb sambil membuka kancing jas pengantinnya.
Grace tersenyum. Ia mengangguk malu. Walaupun ia bukan yang pertama bagi mereka, namun rasa gugupnya lebih besar. Jauh lebih besar dari yang mereka lakukan hampir 4 tahun lalu.
Mau tahu gimana kelanjutannya???
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikut ya guys....