3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Menolong


__ADS_3

"Kau harus menjalani pemeriksaan lengkap untuk mengetahui penyebab kau sering pusing dan pingsan mendadak. Untuk sekarang tekanan darahmu memang normal, tapi kelihatannya kau anemia karena kurang tidur." Kata dokter Rion, dokter keluarga Mark yang ditelepon Mark untuk datang ke apartemen Zelina.


Zelina yang masih tiduran di atas sofa segera bangun. "Aku memang susah tidur belakangan ini. Apakah karena banyaknya tugas akhir-akhir ini?"


"Bisa jadi karena stres. Namun sebaiknya kau datang ke rumah sakit. Istriku adalah dokter ahli saraf, aku bisa mengatur jadwalmu untuk bertemu dengannya."


Zelina mengangguk. "Ok. Aku akan meminta Mark untuk menghubungi dokter jika memang itu diperlukan."


Dokter Rion membereskan peralatannya. Ia lalu segera pamitan setelah memberikan resep vitamin untuk Zelina.


Mark menatap Zelina. "Besok kita pergi ke rumah sakit ya?"


"Jangan besok, Mark. Aku ada kuliah sampai jam 6 sore."


"Kamu pasti akan melupakannya lagi."


Zelina tersenyum. "Aku baik-baik saja, Mark. Hanya sedikit capek saja. Oh ya, ada apa kau datang ke apartemenku?"


"Aku kebetulan lewat. Sekalian saja mampir karena sudah seminggu ini tak melihatmu."


Zelina menatap cowok bermanik grey itu. " Kangen ya sama aku?"


"Ya. Sangat kangen."


Zelina menatap Mark sedikit kaget. Nada bicara Nada bicara Mark seperti seseorang yang sedang merindukan kekasihnya.


"Mark, kau menyukai aku lebih dari seorang teman?" Tanya Zelina.


Mark menatap Zelina tanpa berkedip membuat Zelina mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.


"Memangnya salah jika aku mencintaimu lebih dari seorang teman?"


Zelina kembali menatap Mark. "Aku sudah punya seseorang yang aku sukai. Aku tak mau membuatmu menunggu untuk sesuatu yang tak pasti."


Mark tersenyum. Ia mengelus kepala Zelina dengan lembut. "Aku tahu. Kau mencintai Caleb Thomson. Sangat terlihat jelas saat kau menatapnya. Namun selama dia belum menyatakan cintanya padamu, aku masih boleh berharapkan?"


"Mark, aku senang bersahabat denganmu. Aku tak mau kau nanti kecewa dan persahabatan kita jadi hambar."


"Itu tak akan pernah terjadi. Karena perasaanku padamu tumbuh justru disaat aku sudah tahu perasaanmu pada Caleb. Sekarang, aku ke apotik untuk menebus resep ini." Mark berdiri.


"Eh, sebentar aku ambil uang dulu."


"Aku akan menebusnya dengan uangku."


"Kenapa begitu? Itu kan obatku."


"Anggaplah aku mentraktirnya untukmu." Kata Mark sebelum menghilang dibalik pintu.


Zelina menatap kepergian Mark dengan hati yang haru. Terima kasih Tuhan, Mark teman yang baik untukku.


*********


Caleb menelepon Zelina.


"Hallo Zelina, masih di kampus?" Tanya Caleb


"Iya. Bentar lagi mau pulang. Kenapa? Mau ajak makan malam ya?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


""Aku tahulah. Dari suaramu sepertinya ingin mentraktir aku ha....ha...." terdengar suara tawa Zelina yang renyah. Caleb jadi tersenyum.


"Tebakanmu, benar. Kita akan makan malam di restoran Perancis. Jangan pakai baju yang seksi ya. Ingat ini musim dingin."


"Ok bos. Makan malam di restoran Perancis berarti akan ada yang romantis ya?"


Gantian Caleb yang tertawa. "We will see letter."


"Aow...jadi penasaran, nih. Jam berapa akan menjemputku?"


"Jam 8 malam."


"Ok."

__ADS_1


"Bye.." Caleb meletakan hp nya kembali ke atas meja kerjanya sambil tersenyum. Selama 3 hari ini ia sudah berpikir keras. Saatnya ia menentukan pilihan. Ia akan menyatakan perasaannya pada Zelina dan meminta gadis itu menjadi pacarnya. Caleb yakin, dengan kebersamaan mereka, ia pasti bisa melupakan Grace.


"Ada apa senyum-senyum?" Tanya Joel saat masuk ke ruangan Caleb.


"Aku ada kencan malam ini."


"Waw. Akhirnya setelah bimbang sekian lamanya, kau menentukan pilihan. Grace atau Zelina?"


"Zelina."


"Good. Semoga beruntung. Aneh juga sudah usia 23 tahun dan tak pernah pacaran. Masih perjaka lagi."


Caleb tertawa mengejek. "Memangnya kamu sudah tidak perjaka lagi?"


Joel hanya tersenyum penuh misteri.


"Bagaimana si Meloddy Kim?"


"Aku tak mau bersaing dengan Erland."


"Erland masih anak-anak."


"Tapi dia lebih punya banyak pengalaman dengan perempuan dibandingkan kita berdua."


"Aku tahu kalau adikku itu seorang play boy."


"Tapi sepertinya Meloddy Kim adalah gadis yang paling dia sukai."


"Memangnya kau tidak menyukai Meloddy Kim?"


Joel hanya tersenyum miris. "Hanya pria bodoh yang tidak menyukainya."


"So, tunggu apalagi?"


Joel hanya tersenyum penuh misteri. "Fokuslah pada kencanmu. Namun sebelumnya, tanda tangan dulu!" Joel mengulurkan sebuah file.


Caleb hanya tersenyum. Ia sudah tak sabar menanti jam 8 malam nanti.


***********


Salju turun dengan lebatnya. Grace bahkan sedikit kesulitan melihat jalan. Apalagi ditambah dengan kabut yang lebat. Sungguh, Grace menyesali kenekatannya pulang malam ini.


Untunglah pinggiran kota London tak lama lagi akan dicapainya. Namun tiba-tiba stir mobil Grace oleng dan dia menabrak pembatas jalan.


"Ah....!" teriak Grace kaget. Untung saja mobilnya sudah memakai sistem perlindungan diri terbaru sehingga Grace aman.


Ia membuka sabuk pengaman dan turun dari mobilnya.


"Ya ampun, ban mobilku dua-duanya pecah." Grace jadi panik. Tak mungkinlah ia mengganti ban mobilnya ditengah badai salju yang semakin kencang ini. Grace kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia mengambil hp nya, tak tahu kenapa ia justru memanggil Caleb. Namun saat sadar, Grace langsung memutuskan sambungan telepon. Tak sampai 5 detik, Caleb kembali menghubunginya.


"Hallo kak."


"Ada apa Grace?"


"Eh...aku...aku salah pencet."


"Jangan bohong, Grace...!"


"Aku sedang..ah....!" teriak Grace kencang saat pohon di depannya tumbang dan menghantam bagian depan mobilnya.


"Grace....apa itu?" Caleb terdengar panik.


"Kak, tolong aku. Aku takut....!" tangis Grace panik.


******


Caleb langsung melajukan mobilnya menuju ke lokasi yang disebutkan oleh Grace. Selama ini Grace tak pernah meminta tolong padanya. Makanya ia sangat panik karena takut terjadi sesuatu padanya.


Mobil sport hitam milik Caleb melaju dengan sangat kencang menuju ke arah luar kota. Ia jadi semakin panik saat melihat badai salju yang semakin lebat.


Tak sampai 30 menit, ia sudah sampai di tempat Grace. Namun saat dibukanya, mobil itu tak ada penghuninya. Bagian depan mobil itu sudah hamcur karena tekanan pohon yang tumbang itu.


"Grace....!" teriak Caleb.

__ADS_1


"Kak....!" Grace tiba-tiba berlari ke arah Caleb dan memeluk pria itu dengan sangat erat. Tubuhnya gemetar.


"Ayo masuk ke mobilku." Caleb langsung mendorong tubuh Grace masuk ke dalam mobilnya. Ia kemudian berputar dan duduk di balik kemudi.


Grace mengunci mobilnya melalui remote control setelah itu mereka pergi.


Badai salju semakin besar.


"Kita tak bisa meneruskan perjalanan ini, Grace. Kita cari tempat berteduh dulu ya?"


Grace hanya mengangguk. Tubuhnya semakin mengigil.


Caleb melihat sebuah hotel pinggir kota. Ia segera membelokan mobilnya ke sana.


"Maaf tuan, kamar yang tersisa hanya satu." Kata resepsionis hotel itu.


"Ya sudah aku ambil."


Caleb menatap Grace yang duduk di sofa lobby masih dengan tubuh yang mengigil.


"Grace, kamarnya sisa satu. Kamu tak masalahkan? Kita akan pulang kalau badainya sudah redah."


Grace hanya mengangguk. Caleb langsung melingkarkan tangannya di bahu Grace dan mengajak gadis itu ke lantai 3. Kamar yang sederhana namun bersih dan cukup nyaman. Caleb langsung menyalahkan pemanas ruangan.


"Jaketmu basah, Grace. Ayo buka! Dan pakai jaketku."


"Nanti kakak kedinginan."


"Aku cowok, badanku lebih panas." Caleb membuka jaketnya, menyisahkan kemeja tangan panjang.


Grace pun membuka jaket yang dipakainya. Ternyata kaos lengan panjang yang dikenakannya juga basah.


"Grace, kamu bisa sakit. Ayo buka kaosmu itu dan pakailah jaketku." Caleb membalikan badannya.


Jantung Grace berdebar dengan sangat kencang karena ia akan membuka bajunya disaat Caleb sedang ada di satu ruangan dengannya. Namun karena tubuhnya semakin mengigil, Grace pun membukanya dan ia langsung memakai jaket Caleb.


"Sudah, kak."


"Sepatumu juga di buka Grace!" Caleb langsung membungkuk, lalu membuka sepatu kets yang dipakai Grace, untunglah kaos kakinya tidak basah. Namun saat tangan Caleb tak sengaja menyentuh celana panjang yang dikenakan Grace, cowok itu terkejut.


"Grace, celana jeansmu, basah."


"Jadi aku harus membukanya? Terus aku pakai apa?" Tanya Grace polos.


Caleb jadi bingung. "Eh....kamu langsung saja masuk ke dalam selimut itu." Caleb menunjuk selimut tebal yang ada di atas kasur.


"Baiklah. Kak, berbalik dulu!"


"Maaf." Caleb membalikan tubuhnya.


Grace membuka celana jeansnya dan segera masuk ke dalam selimut. "Sudah, kak."


Caleb membalikan badannya lagi. " Kenapa tadi kamu keluar dari mobilmu?"


"Aku takut, kak. Mobilnya berasap."


Celeb menarik napas panjang. "Tapi kamu bisa mati kedinginan di luar jika aku terlambat datang."


"Maaf. Aku panik."


Caleb duduk di samping Grace. "Masih dingin?"


Grave mengangguk. Caleb mendekat. Lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Memeluknya erat sambil mengusap punggung gadis itu.


"Terima kasih, kak." ucap Grace sambil mendongakkan kepalanya. Tatapan mata keduanya bertemu. Mengalirkan sengatan halus yang langsung membuat jantung keduanya berdesir. Bibir Grace yang sedikit terbuka justru sangat menggoda. Caleb ingin memalingkan wajahnya dari sana tapi ia tak bisa. Sekuat apapun ia berusaha mengontrol dirinya, pesona bibir Grace seakan menarik dirinya untuk menyentuh bibir manis itu.


Saat Caleb menyatukan bibir mereka, Grace sedikit terkejut, namun ia tak kuasa menolaknya. Ada dorongan dalam dirinya yang seolah mendambakan ciuman itu. Grace pun tak bisa mengontrol perasaannya. Ia membalas ciuman Caleb dengan hasrat yang sama. Keduanya saling berbagi rasa lewat penyatuan bibir itu. Ciuman yang sangat lembut namun memabukan. Tak ada yang mau melepaskannya. Sampai akhirnya Grace melingkarkan tangannya di leher Caleb. Tubuh keduanya menjadi semakin dekat. Ada bara api yang mulai menyala saat ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman penuh gairah. Sebuah erangan kecil keluar dari mulut Grace saat tangan Caleb tak sengaja menyentuh kulit dipinggangnya yang polos karena jaket yang dipakainya terangkat ke atas. Erangan tertahan dari Grace itu, justru membangkitkan suatu rasa yang selama ini ditahan Caleb sebagai seorang pria dewasa.


Badai salju di luar semakin besar dan dingin. Namun di kamar tempat Caleb dan Grace berada justru semakin panas dan membutuhkan pelampiasan.


Apa yang akan terjadi kemudian????


Kasih semangat aku untuk up ya...

__ADS_1


dengan cara like, komen dan vote


__ADS_2