3 HATI 1 CINTA

3 HATI 1 CINTA
Ujian Hati (part 2)


__ADS_3

Tawa Grace langsung pecah mendengar pengakuan Damian.


"Bercandamu, keterlaluan. Ayo sekarang kita bicarakan kontraknya." Grace akan beranjak ke tempat duduknya namun Damian justru menghadang langkahnya.


"Aku nggak bercanda, Grace! Kita memang baru ketemu hari ini jam setengah sebelas siang. Namun, sejak melihatmu pertama kali, sejak kepalamu mendongak dan menatap aku, aku jatuh cinta padamu!"


Grace masih tertawa. "Berapa wanita yang sudah kau taklukan dengan rayuan jatuh cinta pada pandangan pertama?" Tanya Grace dengan berani menatap mata Damian.


"Satu. Yaitu kamu!" Kata Damian tegas dan balas menatap Grace dengan mata greennya. Grace melihat kalau ada ketulusan di wajah cowok itu.


Grace memalingkan wajahnya. Di mana kalimat ketus dan pedas yang biasa Grace ucapkan pada pria-pria yang selama ini selalu menggodanya? Mengapa kali ini Grace merasa senang dengan gombalan Damian?


"Kita duduk saja dulu!" Grace langsung melangkah menuju ke sofa. Keduanya duduk aaling berhadapan. "Tim ku menerima tawaran kerja sama. Hanya saja tiap minggu, kami akan bergantian menjadi penarinya. Materi lagunya juga harus ada 4 hari sebelum waktu syuting."


"Baiklah. Aku akan membuat kontrak kerjanya besok. Jadi malam ini aku bisa tidur dengan tenang." Kata Damian dengan wajah senang. Ia mengulurkan tangannya pada Grace. Di genggamnya tangan Grace dengan sangat erat.


"Semoga kerja sama ini akan membawa berkat bagi hatiku."


"Maksudnya?"


"Aku bisa memenangkan hatimu."


Grace menarik tangannya dari genggaman Damian. "Aku sudah punya seseorang yang aku sukai."


"Aku tahu. Caleb Thomson kan? Namun kau belum menikah. Aku masih punya kesempatan untuk mendapatkanmu." Ujar Damian dengan tatapan mata yang berbinar penuh cinta.


"Selamat malam tuan Damian."


Damian mengangguk. "Sampai jumpa besok." Damian meninggalkan ruangan Grace.


Grace menarik napas panjang. Ia tak mengerti mengapa tak merasa kesal dengan semua yang Damian katakan padanya.


"Pria tampan itu sangat menggoda kan?"


Grace menatap Meloddy yang berdiri di depan pintu ruangannya yang terbuka.


"Sejak kapan kau berdiri di situ?"


"Sejak pria itu pergi dan kau duduk sambil tersenyum." Meloddy melangkah masuk dan duduk di depan saudaranya. "Aku mengenal Damian. Dia salah satu pria yang paling diincar para perempuan. Katanya dia tipe pemilih. Tak sembarang cewek bisa dekat dengannya."


"Dia menyatakan cinta padaku tadi sebelum pergi."


"Apa?" Meloddy menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku nggak bohong!"


"Dan kamu pasti mengusirnya dengan kata-kata pedasmu kan?"


Grace menggeleng. "Nggak. Aku hanya bilang padanya kalau aku sudah mempunyai seseorang yang aku sukai. Dia tahu kalau itu Caleb. Katanya dia akan terus mengejarku selama aku belum menikah."


"Waw..., kamu suka dengannya?"


"Tidak. Hanya aku merasa senang saja dengan semua yang dia katakan."


"Hati-hati, Grace. Jangan bermain api. Nanti kamu jadi suka beneran dengannya."


"Aku hanya mencintai kak Caleb."


"Di saat Caleb jauh darimu, disaat dirimu masih merindukan perhatian dan kasih sayang Caleb, datang cowok lain yang mampu membuatmu terkesan. Kadang perasaan yang baru ini akan menjadi lebih kuat dari rasa yang lama."


Grace membereskan mejanya. Ia mengambil tas dukungnya. "Kita pulang? Atau kau diantar pacarmu?"


"Aku tidak diantar pacarku. Kami sudah putus."


Grace melangkah keluar diikuti Meloddy. "Kalian putus? Pada hal baru sebulan kan jadian."


"Dia cuek, terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga kurang romantis. Nggak kayak..."


"Erland!"


Langkah Meloddy terhenti. Jujur saja, ia merasa kehilangan Erland. Cowok itu tak tahu kemana.


"Mungkin." Jawab Meloddy lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Erland ada si Swiss bersama Caleb. Mereka ada urusan pekerjaan di sana. Menurut kak Caleb, Erland akan tinggal di sana sampai proyeknya selesai."

__ADS_1


"Oh...." Meloddy hanya bisa mengucapkan kata itu. Erland tak pernah mengatakan padanya untuk pergi ke sana. Hei Meloddy, mengapa juga Erland harus pamit padamu? Kau kan bukan siapa-siapanya. Bukankah selama ini kau selalu menolak dirinya?


"Kita jadi pergi ke konser midnight kan?" Tanya Grace melihat Meloddy yang kelihatan termenung.


"Eh...ya..."


**********


"Good morning!" Sapa Grace saat sampai di ruang makan. Yang tertinggal hanyalah mamanya.


"Kok kesiangan, sayang?" Tanya Maura.


"Semalam nonton konser midnight bersama Meloddy. Nggak sadar pulangnya sudah jam 3 subuh. Yang lain kemana, mom?"


"Daddy sedang ada pemotretan di luar kota. Jadi perginya agak pagi. Gabrian sudah ke sekolah. Opa sama oma sedang ke rumah sakit untuk cek up rutin. Tinggal mommy sendiri menunggumu."


"Gionino nggak pulang ya?"


"Iya. Diakan ada syuting di luar kota juga."


"Mommy pasti kesepian ya?"


Maura tersenyum. "Tak selalu. Mommy juga kan kadang sibuk di butik. Hanya daddymu yang selalu merengek minta mommy untuk hamil lagi. Pada hal usia mommy kan sudah nggak muda lagi. Makanya kamu cepat menikah dan punya baby, biar nanti daddymu yang jaga."


Grace terkekeh. " Mommy, aku masih sibuk."


Seorang pelayan datang membawakan sebuah buket bunga lili berwarna putih.


"Ini bunga untuk nona Grace."


"Dari Caleb lagi?" Tanya Maura.


"Bukan nyonya. Pengirimnya hanya memberikan inisial D." Kata pelayan perempuan itu. Ia memasuka bunga itu ke dalam vas bunga dan memberikan kartunya pada Grace.


...Semoga hari ini akan lebih baik...


...dari hari kemarin....


...Aku memimpikanmu semalam...


Senyum Grace mengembang.


"Siapa D?" Tanya Maura penasaran.


"Namanya Damian. Dia produser acara musik di salah satu stasiun TV yang ingin mengontrak tim tariku menari di acaranya. Hari ini kami akan menandatangani kontrak."


"Damian Damns?"


"Iya. Bagaimana mommy bisa menebaknya?"


"Mamanya adalah langganan tetap di butik The Aslon. Nyonya Damns pernah melihatmu waktu di butik. Dia bahkan pernah berkelakar supaya kamu dan anaknya Damian dijodohkan."


"Oh ya?"


"Kenapa kau terkejut Grace?"


"Semalam Damian baru saja mengatakan padaku kalau dia mencintaiku dan akan berusaha mendapatkanku."


Maura menggeleng tak percaya. "Kau menerimanya?"


"Tentu saja tidak, mom. Aku mencintai kak Caleb. Walaupun tak dapat aku pungkiri kalau gombalan Damian membuat hatiku senang."


"Hati-hati, Grace. Mommy takut kalau kamu justru akan menyukai kehadiran Damian disaat Caleb jauh darimu."


"Jadi menurut mommy, apa yang harus aku lakukan."


"Jujur pada Caleb dan jaga jarak dengan Damian."


"Baik, mom. Oh...ini ada telepon dari kak Caleb." Grace menerima panggilan itu setelah menjauh dari mommynya.


"Hallo, kak!"


"Apa kabarmu, Grace?"


"Baik. Bagaimana pekerjaan kakak di sana?"

__ADS_1


"Baik juga."


"Kak, aku ketemu dengan seseorang di sini."Kata Grace dengan nada sedikit khawatir. Ia tahu bagaimana posesifnya Caleb.


"Lalu?"


"Wajahnya agak mirip kakak dan aku merasa senang saat bersamanya."


"Aku juga bertemu dengan seseorang yang mirip kamu, Grace. Dia tomboy dan saat dia tertawa, aku justru ingat kamu."


Hening.....


Tak ada suara yang terdengar. Hanya deru napas keduanya yang terdengar. Sampai akhirnya.


"Grace, apakah kau mencintaiku?"


"Ya, kak."


"Kalau aku pulang, aku ingin melamarmu, jika kau masih menolakku atau meminta waktu lagi, aku akan melepaskanmu." Kata Caleb lalu segera mengahiri sambungan teleponnya.


Grace terdiam. Perkataan Caleb sungguh tak pernah ia duga. Inikah ujian cinta baginya? Sungguhkah ia masih mengharapkan cinta Caleb? Ataukah kini Grace sudah menganggap Caleb kakaknya saja?


Apakah kehadiran Damian sungguh mengguncang hatinya?


Grace menggelengkan kepalanya. Tidak! Aku sudah mencintai kak Caleb seumur hidupku. Haruskah ia gantikan Caleb dengan seseorang yang baru dikenalnya selama 1 hari?"


********


Grace melihat kalau Keegan kurang konsentrasi latihan.Ia mendekati Keegan saat mereka sedang istirahat.


"Bad mood?" Tanya Grace sambil mengambil tempat duduk di depan Keegan. Keduanya sedang duduk di lantai sambil berselojor kaki.


Keegan bersandar di dinding dan Grace bersandar di besi tempat latihan.


"Iya. Ratu Anna sakit. Kata dokter karena usianya yang hampir 80 tahun."


"Aku tahu kau sangat menyayanginya."


"Dan aku juga tak dapat membantahnya. Ratu ingin aku segera menikah. Dia ingin melihat aku memiliki pendamping hidup sebelum ia menutup mata."


"Dengan putri Sofia?"


"Ya."


"Dia cantik dan seorang gadis yang pintar. Aktif dalam berbagai organisasi kemanusiaan."


"Aku tahu. Hanya saja, aku masih berharap kalau Zelina akan kembali."


"Bibi Faith pernah cerita, setahun yang lalu saat ia ke Manado, kakak Zelina menikah. Zelina sangat menyayangi kakaknya. Tak mungkinlah kalau ia tak datang. Zack bahkan sudah memuat di semua media sosial tentang rencana pernikahannya namun Zelina tak kunjung pulang atau memberi kabar."


Keegan menarik napas panjang. Ia memejamkan matanya sebentar. "Mungkinkah ini waktuku untuk selesai memikirkannya? Haruskah aku memenuhi janjiku padanya untuk mencari gadis lain?" Ia membuka matanya.


"Mungkin saja, Keegan."


"Aku akan mencobanya."


Grace mengangguk. "Ayo kita latihan lagi!"


"Ok."


Keduanya berdiri.


"Grace, kita makan siang dulu, ya..!" Chika masuk sambil membawa kantong besar berisi kotak makanan.


"Wah, siapa yang ulang tahun nih?" Tanya Grace sambil membuka kotak makanan itu. Ia terkejut melihat isinya. Ini makanan dari restoran yang mewah.


"Tak ada yang ulang tahun. Pelayan restoran yang mengantarnya mengatakan kalau makanan ini dikirim oleh tuan Damian Damns."


Grace terpana. Damian???


Makasi sudah baca sampai part ini


yang menanti hari bahagia Para tokoh di sini mohon sabar ya?


Yang mau tahu kabar Zelina juga sabar....

__ADS_1


__ADS_2