ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
11. Jadi Papa tidak susah juga, ternyata??


__ADS_3

Seorang gadis remaja bersurai blonde berlari ke pelukan wanita yang Reksa kenal betul siapa setelah melihatnya beberapa kali.


Keduanya menangis sambil berpelukan, suasana terasa sendu dan mengharukan.


Namun Reksa merasa kalau hal ini tidak baik untuknya. Benar saja, detik selanjutnya pandangan berubah ke arah sebaliknya. Dia melihat putrinya, Sera, yang telah remaja, berdiri dengan keadaan menyedihkan di tahan oleh polisi. Mobil polisi di belakang dan sirine yang berbunyi nyaring, serta reporter yang berkumpul di sekitar menjelaskan keadaan dalam sekejap.


Adegan itu tidak berputar lama. Bersama dengan bunyi alarm jam lima pagi, Reksa terbangun dari mimpinya. Dia akhirnya mengerti kenapa ada jarak tak biasa dengan mimpi-mimpi sebelumnya.


Kenapa anaknya yang sudah remaja di serang pria berbahaya? Hubungannya bukan karena Deanita. Tapi karena gadis remaja blonde yang Reksa curigai sebagai anak-nya Deanita di masa depan; atau mungkin seseorang yang dekat.. mungkin keponakan, atau anak angkat? Entahlah.


Yang jelas, Reksa kini sudah bisa membuat garis besar.


Anaknya, Sera, terlibat masalah dengan anaknya, atau siapanya-lah–dari Deanita. Pria berbahaya yang hubungannya tak jelas dengan Deanita kemudian turun tangan dan mengurus Reksa serta Sera bersamaan sebagai balasan.


Lalu soal polisi yang berkumpul di mimpinya barusan, Reksa tidak tahu apa maksudnya. Dia hanya tahu satu hal. Dia harus menjauh dari Deanita dan siapapun yang ada di dekatnya. Dia juga tidak boleh membiarkan Sera mengenal salah satu dari mereka atau sampai interaksi dekat dengan mereka.


Kali ini Reksa sudah bisa mengontrol emosinya dan tidak lagi tenggelam berlama-lama. Meski kelelahan tercetak jelas di bawah matanya, Reksa menjalankan kegiatannya seperti biasa pagi itu.


Bedanya, dia bangun lebih pagi untuk mengurus Sera.


Semalam dia baru tidur setelah jam tiga pagi, di tambah kepanikan tengah malam itu, Reksa mulai merasa kepalanya agak pening. Dia minum obat anti demam sebelum sarapan dan menghubungi Joe untuk menunda rapat ke siang hari.


Joe sudah bersiap hari itu karena tahu bos-nya habis dari rumah sakit semalam.


Setelah menyiapkan sarapan dan menunggu Sera menghabiskan makannya dan kembali tidur, Reksa mulai bersiap untuk wawancara pengasuh hari itu.


Orang yang pertama datang adalah seorang wanita muda, 24 tahun, lulusan Universitas U dan bekerja menjadi pengasuh untuk menambah pengalaman sebagaimana jurusan yang dia ambil di Universitas.


Semuanya baik-baik saja sampai wanita itu bertanya dimana Nyonya–ibu dari anak yang akan dia asuh. Reksa bukannya orang yang tidak pernah berhadapan dengan perempuan semacam ini. Dia mengantar wanita itu pergi dengan ‘silahkan tunggu saya menghubungi nanti’–yang pastinya tidak akan pernah dia lakukan.


Pengasuh yang kedua adalah seorang ibu rumah tangga beranak 5. Reksa menerima wawancaranya karena dia pikir ibu rumah tangga ini berpengalaman dengan anaknya. Namun saat dia bertanya tidak sengaja soal cara mendidik, wanita itu dengan semangat berkata. “Tentu saja, harus di hukum. Memang anak bisa di nasehati, tapi tidak seefektif hukuman.”


“Anak laki-laki tentunya lebih harus di perhatikan karena mereka akan jadi tulang punggung nantinya.”


“Kalau anak rewel tidak mau makan, biarkan saja kelaparan.”


“Oh, saya tidak akan melakukannya pada anak orang, ini hanya untuk anak saya saja sendiri,”


Reksa tidak banyak bicara dan langsung mempersilahkan ibu itu pergi.


Setelah sampai wawancara yang ke 11, barulah dia mendapatkan jawaban yang memuaskan.


“Anak perempuan harus diasuh dengan kemewahan. Anak laki-laki harus diasuh dengan kemiskinan.”


Reksa tidak mengerti maksudnya, tapi kalimat ini terdengar menyenangkan di telinganya. Dari usianya wanita ini juga tidak terlalu muda, cukup berpengalaman. Tatapan matanya cerdas dan kebutuhan yang mendesak membuat wanita itu takut untuk kehilangan kesempatan ini, yang mana akan membuatnya bekerja dengan hati-hati.


Reksa menerimanya untuk bekerja saat itu juga. Sisa peserta yang lain dipersilahkan untuk pulang. Yang belum datang diinfokan untuk tidak perlu datang.


Setelah dinyatakan diterima, Sri, pengasuh yang baru langsung bergerak ke supermarket setelah menerima kartu belanja dari Reksa untuk menyiapkan makan siang. Reksa sebenarnya ingin membawa Sera ke tempat kerjanya. Mereka baru bertemu sehari dan belum dekat sama sekali.


Tapi gadis kecil itu baru kena demam semalam, Reksa tak bisa melakukan apa-apa.


Saat itu pintu kamar terbuka pelan. Sera yang baru bangun nampak lesu. Matanya melihat sekeliling dengan sedikit rasa takut sebelum berhenti di Reksa. Namun dia tidak mendekat dan hanya menatap.

__ADS_1


“Sini, Sera.” Reksa memanggil, membuat anak itu barulah berjalan perlahan menghampirinya.


“Pa?” nadanya seperti memastikan kalau kejadian papa-nya yang menjemputnya bukanlah mimpi.


“Ya?”


“Papa.”


“Iya.” Mungkin karena demam semalam, Sera duduk dengan patuh di pangkuan Reksa tanpa berkata-kata lebih.


Kedatangan Sri di pintu sempat menarik perhatian Sera. Namun melihat orang asing yang masuk, anak itu langsung berpaling. Dia kemudian teringat bahwa mama-nya belum terlihat sama sekali.


Seperti menyadari hal itu, Reksa langsung menepuk pelan punggung Sera. “Nanti sore bertemu Mama?”


“Mama?”


Reksa mengangguk.


“Mama!” Sera hampir melompat dan jatuh dari duduknya, untung saja Reksa menahannya. “Sore, ya?”


Sera memiringkan kepalanya. “Sole.” mengulang, lalu mengangguk meski dia tidak mengerti. Mengingat kejadian kemarin, Reksa langsung menunjuk jam di dinding.


“Lihat garis pendek itu?”


Sera menatap jam dinding agak lama.


“Garis kecil warna hitam, Sera lihat?”


“Bek?” Black?


“Jarum pendek.” Reksa menunjuk jarum pendek di balik kaca jam. Sera mengikuti dengan telunjuk kecilnya. “Lundek.”


Reksa: Whatever.


“Sampai ke angka empat. Tahu angka empat?”


Sera mengangkat lima jarinya dan melipat jempolnya. “Empat.” dia tahu berapa empat itu.


Reksa menunjuk angka empat di jam. “Ini angka empat.”


Kemudian dia meraih mesin jam dan memutar jarum pendek jadi ke angka empat. “Nanti Sera menjenguk Mama di angka empat.”


“Empat.” Sera mengangguk serius dengan alis terpaut, manis sekali.


“Coba di ulang lagi. Apa kata Papa barusan?”


Sera terlihat berpikir dalam namun berusaha keras berucap. “Pempat-ndek ke Mama.” Jarum pendek ke angka empat pergi menjemput Mama.


Reksa: “....” oke. Yang penting dia mengerti. “Sera pintar.” puji Reksa sebelum mengulanginya beberapa kali.


Selesai Sri masak, Reksa membantu Sera mencuci muka dan mencuci tangan. Selama itu dia membiarkan Sri berinteraksi dengan Sera. Ketiganya makan siang bersama dan Reksa pun siap berangkat.


Masalah timbul saat Sera melihat Reksa hendak berangkat.

__ADS_1


“Jam empat.” kali ini Sera sudah mulai mengerti. Tangannya bergelantung di celana Reksa. Kepalanya menengadah dan dia menatap Reksa dengan mata bulat besarnya. Polos dan penuh harap.


“Iya, nanti Papa pulang jam empat.”


Sera menggeleng kuat.


“Jam empat!!” kenapa papa-nya sudah pergi, ini belum jam empat? Apa dia mau meninggalkan Sera?


Reksa mengingatkan soal jam empat, tapi dia lupa memberitahu soal dia yang pergi bekerja.


“Papa mau kerja dulu.”


Sera tahu kerja itu apa. Mamanya juga suka berangkat kerja. Dia akan menghilang di sore hari dan tidak pulang sampai malam sekali. Saat itu Sera selalu sudah tidur, tapi kadang dia terbangun. Namun seringnya dia tertidur sampai pagi.


Kalau dia tertidur sampai pagi bagaimana?


Mamanya akan sendirian lagi?


“Ngga Kelja!” Sera berseru.


Mengingat kegigihan Sera hari sebelumnya, Reksa langsung sakit kepala. Ditambah Sera yang baru reda demamnya, membuat Reksa tidak bisa menolak dengan keras. Dia menghabiskan waktu setengah jam untuk menyakinkan bahwa dia akan pulang sebelum langit gelap.


Joe yang khawatir dengan bos-nya yang mulai bersikap tidak biasa dengan kehadiran putrinya, sengaja datang ke apartemen untuk menjemput.


“Bagus kamu datang. Belikan jam yang seperti ini.” kata Reksa cepat, menyerahkan tablet sebelum kembali beralih ke Sera yang memerah matanya.


Joe tanpa menghabiskan satu menit pun langsung menelpon toko terkait terdekat dan membawa jam pintar dengan segera.


“Nanti Sera tekan ini.” Reksa mengatur hanya untuk satu tombol di layar jam pintar itu. Dia tidak ada waktu untuk mengajarkan, jadi dia menyerahkan sisanya pada Sri.


“Sera baik-baik, ya.” Reksa mengusap puncak kepala Sera sebelum bangun.


Sera sudah pernah melihat fungsi kerja ponsel dan sedikit mengerti bahwa jam di tangannya bisa menyambungkannya dengan ayahnya setelah Reksa mencobanya barusan.


Teringat sesuatu, Sera berlari menarik celana Reksa.


“Kenapa?” meski dia sudah menghabiskan waktu setengah jam untuk memberi pengertian pada Sera, nada suaranya tidak terdengar tak sabar sama sekali.


“Sun.” kata Sera seperti ini adalah fakta dan hal yang wajib.


“Sun..?” ini bahasa Inggris-kah?


Joe yang memiliki keponakan segera berbisik di belakang Reksa. “Sun Pak, minta di cium.”


Mendengar itu Reksa langsung berdiri kaku. Walaupun kini dia orang paling dekat dengan Sera, bukan berarti dia bisa melakukan gestur itu dengan mudah.


“Jangan kurang ajar.” balas Reksa berbisik.


Joe: ??? Salah saya dimana, Pak??


“Sera yang baik, ya.” Reksa sekali lagi mengusap puncak kepala Sera sebelum berbalik meninggalkan apartemen.


Gadis kecil itu menyentuh kepalanya heran. Ayahnya tidak meng-sun- dirinya seperti mama, namun mengusap kepalanya dua kali. Setelah mama-nya datang nanti, dia bisa mendapatkan sun dari mama, dan di usap oleh papa. Sera pikir dia cukup mendapat untung. Tapi akan lebih baik kalau mama bisa mengusap kepalanya juga, dan papa bisa memberikan sun padanya juga.

__ADS_1


Tapi Sera tahu dia tidak boleh serakah. Anak yang serakah bukan anak baik.


__ADS_2