ABOVE THE CLOUD(ABC)

ABOVE THE CLOUD(ABC)
6. Putar Balik!


__ADS_3

Tiga hari setelah menerima informasi mengenai Lily, Joe menyampaikan berita kematian Lily pada Reksa. Suasana di ruangan saat itu berubah hening.


“...Bagaimana dengan hak asuh anak itu?” tanya Reksa setelah waktu yang lama.


“...Keluarga yang tersisa adalah Kakak dari Lily, jadi hak asuhnya otomatis akan diberikan pada mereka.” Meskipun mempertimbangkan hubungan Lily dan kakaknya, Joe ragu anak itu akan diperlakukan dengan baik. Tapi mungkin mereka akan sedikit bermurah hati pada anak kecil.


“....” Reksa sudah memikirkannya beberapa hari ini. Dia pikir, mungkin kalau mimpi itu tidak menghampirinya, dia tidak akan ambil peduli soal anaknya; dan dia hanya akan tahu saat anaknya mendatanginya setelah tumbuh remaja.


Keberadaan anak ini bukan hanya dari kesalahan Reksa semata. Tapi menghitung bahwa dia sebagai ayah dari anak ini, Reksa pikir dia tetap harus berkontribusi.


“Kirim orang ke rumah kakaknya, dan berikan uang sebagai kompensasi atas kematian Lily setiap bulan. Pastikan uang itu digunakan oleh anaknya.” kata Reksa tanpa berkedip sedikitpun. Ini pertama kalinya Reksa menyebut langsung nama ‘Lily’. Terasa aneh di lidah.


Joe kehabisan kata-kata mendengarnya, untuk sesaat dia terdiam. Saat Reksa melemparkan tatapan dingin ke arahnya, Joe langsung berdiri tegak dan mengontrol dirinya.


“Akan segera saya urus.” dia lalu keluar setelah menyelesaikan laporannya yang lain.


Reksa di kursinya tidak berpikir panjang soal reaksi Joe. Dia juga tidak peduli. Yang jelas, Reksa sudah mengisi kewajibannya sebagai orangtua. Afeksi seharusnya diberikan oleh ibunya. Berhubung ibunya sudah tidak ada, ini bukan salahnya. Anak itu terpaksa harus tumbuh tanpa afeksi orang tua. Paling tidak, dia tidak kekurangan materi.


Malam itu Reksa bermimpi lagi.


Kali ini dia tidak melihat tubuhnya sendiri. Dia melihat kejadian dari balik jendela sebuah kamar di lantai dua. Kamar itu terlihat cantik, jendelanya dipasang gorden merah muda dan boneka-boneka berjajar di atas meja dan ranjang. Meskipun ruangannya tidak besar, tapi setiap sudut di tata penuh perhatian. Karpetnya berbulu lembut dengan warna pastel dan dindingnya dihias dengan corak langit dan kupu-kupu. Lemari yang terbuka di kamar itu menunjukkan jajaran gaun, rok dan blouse anak-anak yang penuh dengan renda.


Seorang anak perempuan masuk ke kamar, usianya delapan atau sembilan tahun, rambutnya di kepang cantik dan gadis itu mengenakan rok rempel selutut dan atasan kuning yang menunjukkan lengan putihnya. Reksa mengenali wajah itu setelah dia berkali-kali melihatnya di dalam mimpi.


Pastilah ini anaknya. Sepertinya waktu sudah berjalan dan dia tumbuh dengan aman. Kalau mimpi ini menceritakan kejadian yang belum terjadi alias masa depan, Reksa pikir pilihannya tepat.


Bukankah dia dirawat dan diperlakukan baik?


Meskipun anak itu terlihat pendiam dan duduk di ranjang tanpa melakukan apa pun, Reksa tidak merasa ada yang salah. Dia tidak pernah memperhatikan bagaimana anak-anak bersikap biasanya.


Dia hanya tahu anak-anak itu nakal dan berisik. Keturunannya jelas berbeda, bahkan di usia muda, gadis itu tampak penurut. Bukan tipe yang merepotkan dan membuat kesal.


Tak lama pintu terbuka lagi, seorang anak perempuan yang hampir sepantaran dengannya masuk dan memukul wajahnya, membuat Reksa tiba-tiba jengkel dan ingin melempar sesuatu.


Perempuan kecil itu berteriak dan berteriak hingga lelah, tapi anak itu tetap diam. Dia duduk di kasur, matanya melihat ke sembarang arah. Tidak ada suara yang keluar sama sekali dari mulutnya.


Kelelahan, perempuan itu lalu berbalik pergi.


Reksa menunggu sampai bosan namun dia melihat anaknya tetap duduk di tempat. Barulah ketika pintu terbuka lagi, anak itu melihat siapa yang datang dan langsung berdiri. Reksa melihat perubahan pada wajah gadis kecil itu. Sangat kentara dengan yang tadinya diam dan membosankan.


Orang yang masuk adalah seorang pria, tingginya sekitar 1,65 cm, perutnya buncit, perawakannya agak bungkuk, namun wajahnya, Reksa mengenali bahwa pria itu adalah kakaknya Lily.


Detik berikutnya Reksa melihat pria itu memeluk anak gadisnya, duduk di ranjang dan bercanda bersama-sama.


Reksa pikir mungkin ini yang terjadi antara putri dan seorang ayah. Hatinya mendadak jadi asam.


Tapi dia kemudian melihat tangan pria itu bergerak ke dalam rok anak gadisnya, dan gadisnya yang masih kecil itu justru menurut, melingkarkan lengannya di leher si pria, seakan sudah terlatih.

__ADS_1


Pria itu bangun sebentar dan mengunci pintu setelah membuka pakaian si gadis kecil. Tak lupa dia menutup jendela gorden. Setelah itu, Reksa tidak bisa melihat apa-apa lagi.


Begitu bangun, Reksa hampir hancur mentalnya.


Keturunannya…. anaknya… putrinya.


Makhluk biadab! Dia tidak memberikan uang untuk menjadikan putrinya sebagai pemuas nafsu psikopat!!


Dia harus membunuhnya! Kalau dia tidak membunuhnya, namanya bukan Reksa!


“...Batalkan dan siapkan pengacara untuk ke pengadilan.” Reksa menggeritkan giginya. Dia berpikir untuk menunggu beberapa waktu untuk mencari kelemahannya dan memberikan sanksi seberat-beratnya. Tapi memikirkan putrinya yang masih tiga tahun menghirup udara yang sama dengan iblis itu, darahnya mendidih seketika.


Joe yang menerima telepon melirik jam di dinding. Pukul 4 pagi. Mungkinkah ini waktunya dia sahur? Tunggu, sekarang bukan bulan puasa. Tidak, dia kan bukan penganut agama.


Joe membetulkan letak topi piyamanya yang miring dan bertanya dengan suara agak kering.


“..Pengacara untuk…” apa mungkin bos-nya terlibat masalah dengan seorang bos besar? Mungkinkah dia harus ikut untuk berlutut kali ini?


“Aku ingin pria sial yang jadi kakaknya Lily itu menderita!”


Oh, bos-nya membicarakan soal hal ini. “Baik, saya akan atur pagi nanti.” dan membatalkan rencana sebelumnya. Meski dia merasa lelah, tapi dia lega akhirnya bos-nya punya kesadaran diri.


“Apa maksudmu nanti? Aku ingin sekarang juga!!” kalimat terakhir diteriakkan hingga Joe tersentak dan hampir menjatuhkan ponselnya. Dia menarik napas panjang.


“Bos–pak, tapi ini jam empat pagi. Kantor hukum masih tutup dan…” dia belum selesai bicara saat Reksa berseru dari seberang.


“Datangi mereka ke rumahnya! Aku mau sekarang!”


Segera setelah Joe mengiyakan, sambungan ditutup.


Joe yang tak bisa tidur lagi: ….


***


Pagi itu, pukul enam. Erik mendengar suara ketukan di pintu. Dia tidak pernah ada tamu di pagi buta. Jadi dia membiarkannya, berpikir orang di depan pintu itu akan pergi sendiri.


Namun ketukannya tidak berhenti dan semakin keras, membuat dia terpaksa bangun dari rangkulan istrinya.


Begitu membuka mata, dia melihat pria berjas rapi dan berkacamata. Auranya elegan dan wajahnya tanpa ekspresi. Di belakangnya berdiri dua orang pria berjas hitam dan berkacamata. Hanya melihatnya berdiri disana, Erik langsung berkeringat.


“Bapak… cari siapa ya?” dia mulai mengingat-ingat apakah dia memberikan ktp-nya waktu meminjam online kala itu? Bukankah yang dia berikan adalah KTP orang lain?


Pria berkacamata di depannya memberikan kartu namanya dan mulai menjelaskan. “Nama saya Joe, saya sekretaris Reksa.”


“Reksa adalah….,”


“Sebaiknya kita bicara di dalam.” kata Joe setengah hati. Menatap Erik dengan tatapan rendah dari balik kacamatanya.

__ADS_1


Erik tidak ingin membawa masuk orang asing, terutama dia melihat bahwa orang ini seperti sulit untuk ditangani. Namun dengan dua orang pengawal yang mendampinginya. Erik hanya bisa menyambut mereka masuk.


Joe langsung menjelaskan inti dari kedatangannya begitu duduk di sofa.


“Menurut informasi yang kami terima, anda adalah kakak dari seorang pelayan klub bernama Lily,”


“Y-yah. Apa perempuan itu membuat masalah? Saya tahu dari awal dia cuma bisa bikin malu. Juga bekerja di klub malam! Saya, saya sudah pernah menasehati dia, tapi dia tidak mendengarkan.” Erik diam sebentar lalu melirik dari ujung matanya, dia menelan ludah. “Saya sudah memutuskan ikatan dengan adik saya. Dan lagi.. saya tidak mendengar kabar soal dia sudah lama.”


Joe diam sesaat. Dari laporan, rumah sakit memberitahu berita kematian Lily ke tempat dia bekerja, karena hanya itu satu-satunya kontak yang mereka temukan. Tempat kerjanya tentu saja memiliki nomor Erik, karena pria itu beberapa kali mencoba meminta uang pada Lily. Membombardir tempat kerjanya supaya Lily pulang ke rumah dan memberikannya uang.


Jadi sudah pasti rumah sakit telah menyampaikan berita kematian Lily.


“....Saya dengar Lily memiliki seorang anak…,” Joe menarik seringai tipis. Erik langsung menggeleng kuat. “Saya tahu dia punya anak tapi dia tidak tinggal dengan saya. Saya.. saya sudah memutuskan hubungan dengan dia, saya tidak tahu menahu soal anaknya.”


“Tapi Bu Lily ini,” Joe berlagak menghela napas panjang. “Anda juga adalah kakaknya. Secara negara anda masih terikat status persaudaraan, jadi saya hanya bisa mencari anda..,” Joe berpura-pura melihat sekeliling rumah, lalu mengangguk-angguk.


“Tidak!” Erik yang ketakutan langsung menyangkal kuat. Orang ini tiba-tiba datang dengan pengawal, lalu bertanya soal adiknya. Kalau dia sudah menemukan info tentangnya, untuk apa sengaja bertanya? Dia melirik rumahnya, mungkinkah Lily punya hutang dan sekarang mereka datang untuk menyita rumahnya?


Tidak, dia harus menyingkirkan mereka dengan segera.


“Saya, saya bisa menghapus status saudara dari kartu keluarga.” kata Erik tergagap.


“Anda belum tahu apa yang mau saya bicarakan.” kata Joe sambil mengambil hiasan kaca di atas meja dan memeriksanya. Erik menarik hiasan kaca itu dari tangan Joe dengan perlahan, senyum menjilat tercetak di wajahnya.


“Saya, saya akan mengurusnya.” Erik merasa dirinya pintar, yakin dengan tujuan kedatangan orang ini.


“Kalau anda mau memutus hubungan, saya hanya bisa berbaik hati dan menunjukkan dokumen ini.”


Joe mengeluarkan kertas berisi perjanjian. Isinya menyatakan bahwa Pihak A tidak akan lagi mengurusi dan tidak ada hubungannya secara legal dengan Pihak B. Pihak A yang merupakan Erik, dan pihak B adalah Lily.


Di bawahnya juga tertulis persyaratan lain, Erik tidak membacanya sampai tuntas dan langsung menandatangani perjanjian begitu dia melihat kalimat ‘tidak ada hubungan persaudaraan’ di setiap ayat.


Di tengah-tengah dia merasa ada yang janggal, namun melihat Joe menatapnya seakan Erik adalah seorang jenius, dia merasa pilihannya benar. Dia berjanji untuk menyerahkan kartu keluarga Lily besok. Dia hanya perlu pergi ke kantor daerah untuk mengurusnya. Dengan sedikit uang semuanya akan selesai dengan cepat.


Di pintu, Joe menurunkan kacamatanya yang menunjukkan kesedihan. “Saya juga ingin menyampaikan bahwa tanggung-jawab anaknya Lily jatuh ke tangan anda karena kini Lily sudah tiada.” Joe menghela nafas panjang.


Wajah Erik langsung berubah 180 derajat, menunjukkan kesedihan yang cukup.


“A-a-saya tidak tahu sama sekali.” dalam hati Erik jantungan, untung saja dia sudah tanda tangan!


“Ya. Sayang sekali.” kata Joe sambil menggeleng dan pergi. Tidak menunggu Erik menyelesaikan performanya. "Anggap saja saya berbaik hati. Saya mungkin akan menyerahkan putrinya ke lembaga Anak."


Di mobil, Joe memberi laporan pada Reksa dan menyampaikan setiap kejadian tanpa kurang satu huruf pun.


“Kutu itu lolos terlalu mudah.” kata Reksa di seberang. “Hubungi The Colony.”


Joe tidak tahu ada dendam apa Reksa pada Erik. Yang jelas, dengan keterlibatan The Colony, pekerjaannya akan lebih ringan. Dan dia tahu bahwa Reksa tidak berniat melepaskan Erik meskipun tujuannya sudah tercapai. Dan lagi, dengan perjanjian di tangan, dia tidak perlu panjang-panjang mengurus urusan ini di pengadilan.

__ADS_1


“Baik.”


****


__ADS_2