
Sera kembali memeriksa lantai satu sebelum Joe membujuk naik ke lantai dua. Joe yang berpikir ‘ini urusan mendadak’, merasa bahwa sudah terlambat untuk menunggu Reksa. Urusan mendadak di bilang mendadak kalau bisa disampaikan saat itu juga.
Sudah setengah jam kurang, omong-omong.
Sera masih tidak menemukan Reksa sampai sekarang, padahal masih satu rumah.
Joe curiga bos-nya mungkin sedang keluar rumah sebentar. Jalan-jalan di halaman rumah, misalnya?
“...Mungkin Papa-nya ngga ada.” kata Joe di seberang. Berusaha mengakhiri panggilan. Apahal, yang di teleponnya ini Nona kecil, Joe enggan memutus telepon. Dia berniat mencari posisi yang menguntungkan dari sisi Reksa dan di sisi Sera.
Sera yang masih tenggelam dalam misi mulia-nya membujuk.
“Tunggu, tunggu. Papa ada. Sela tahu.” mustahil untuk Papa-nya pergi meninggalkan Sera sendirian saat di rumah, kecuali kalau Papa-nya kerja. Tapi keperluan kerjanya semua di meja ruang tengah. Sera percaya Papanya sedang sembunyi.
Tapi sungguh, kenapa Papa-nya susah sekali ditemukan? Sera merasa dia sedang dikejar sesuatu. Dia harus segera menemukan Papanya.
"Papa,"
Sera masuk ke setiap kamar, membuka semua lemari, mengintip sudut-sudut tersembunyi.
"Papa!"
Dia memeriksa kamar mandi di lantai dua, namun masih tak ada Papa.
“Bi, lihat Papa?”
“Engga, Nona.”
“Oh.”
Sera berlari ke kamar utama, dia ingat dia belum memeriksa kamar mandi di kamar Papa-nya.
Gadis itu menarik pegangan pintu dengan sedikit berjinjit.
Clak. Pintu tidak di kunci.
“Papa–”
***
Reksa sedang membaca dokumen di ruang tengah seperti biasa. Setelah menuntun Sera mengulang hafalan, Reksa pergi ke ruang makan berniat untuk mengisi gelasnya, sekalian memberitahu teko di ruang tengah yang sudah habis pada Pengasuh Sri.
Saat melewati kamarnya, dia mendengar nada dering ponsel yang samar.
Reksa punya dua ponsel, satu untuk kerja, satunya untuk keperluan pribadi. Ponsel pribadinya, lebih untuk urusan em–yang sangat pribadi.
Dia sengaja tidak membawanya keluar saat bersama Sera; dia merasa seperti sampah kalau menerima panggilan ketika putrinya ada di dekatnya.
Kebetulan, sudah lama sekali sejak dia memanggil dan menerima panggilan. Reksa heran juga siapa yang meneleponnya.
Reksa masuk ke kamar dan mengambil ponsel di atas meja sisi ranjang.
Melihat nama ‘Mayangsari’ di layar, wajah Reksa langsung berubah dingin. Dia masih ingat dengan kejadian terakhir kali; waktu kencan mereka batal, wanita ini melampaui batas dan malah meninggalkan jejak yang tak semestinya.
Dia tidak hanya mengotori mata putrinya, dia juga di buat malu–posisi ketika hanya ada Reksa dan Joe, berbeda keadaannya dengan tambahan kombinasi Sera.
Untung saja wanita ini menelepon sekarang. Hampir saja lupa, Reksa belum menyelesaikan masalah terakhir.
Awalnya dia kira perempuan ini mengerti, ujung-ujungnya hanya perempuan buta sama dengan lainnya.
“Halo.”
“Sayang, udah lupa-kah dengan aku? Ini Mayangsari,”
“Saya ingat.”
__ADS_1
“Sayang kedengaran gagah seperti biasa… Sayang inget gak ini udah berapa lama?”
“...” wanita ini benar-benar ahli, tidak sadar sama sekali dengan tingkah memalukannya.
“Dengar ya, saya mengizinkan kamu untuk menghubungi bukan berarti status kamu itu tinggi.”
“..Pak?”
Akhirnya sadar ada yang salah? Reksa mencibir dalam hati. Hanya perempuan bayaran, dia tidak perlu berpikir panjang.
“Saya–,”
Tiba-tiba Reksa merasa perutnya seperti di lilit.
“..!!”
“Pak Reksa? Apa Mayangsari bikin salah?”
Reksa menggeritkan gigi. “–Kamu,” tapi kata-katanya tidak selesai. Perutnya kembali bergejolak, sementara bagian bawahnya bergetar ingin segera melepas sesuatu.
Reksa memutus sambungan dan bergegas ke kamar mandi.
Dia menurunkan celananya dan duduk di wc duduk. Tapi tiba-tiba sakit perutnya mereda.
Reksa: ???
Dia berusaha untuk fokus, namun tidak terjadi apa-apa. Lima menit kemudian Reksa berdiri dan memakai kembali celananya. Dia bergerak keluar kamar mandi, tapi tiba-tiba perutnya kembali merintih.
“...apa yang salah, sial.” Reksa menggeram dan kembali duduk di kloset.
Sepuluh menit kemudian, tidak ada yang terjadi.
Di saat yang sama, ponsel di tangannya kembali berdering. Barulah dia ingat dengan hal hendak dia lakukan.
Begitu diangkat, suara Mayangsari di seberang sudah terdengar menangis.
“Pak Reksa, saya salah apa?” perempuan itu berhenti menyebut panggilan sayang, bahkan berhenti menyebut namanya sendiri dan mengganti dengan kata ‘saya’ begitu sadar ada yang salah.
“Belum sadar juga? Saya memilih kamu karena saya pikir kamu lebih mengerti soal pertukaran ini.”
“Tapi selama ini saya selalu lakuin yang Pak Reksa minta..”
“Saya kira kamu berbeda dengan yang lain. Mulai sekarang kamu tidak perlu susah-susah menghubungi ke nomor ini.”
“Pak Reksa!”
“Saya paling malas berurusan dengan orang yang tidak mengerti. Meski nomor ini masih bisa dihubungi, jangan sampai saya mendengar suara kamu lagi di sini. Paham?”
“Seenggaknya, Pak Reksa tolong bilang apa yang Mayangsari salah lakukan!” perempuan di seberang telepon itu langsung memelas dengan nada seperti awal mula mereka berbincang.
Reksa pikir, perempuan ini mungkin memang tidak tahu akan kesalahannya dan bukan melakukannya karena sengaja ingin menjebak Reksa.
“Saya datang ke rumah sakit begitu bangun,” mengingatnya, sentimen yang Reksa rasakan sebelumnya langsung lenyap. Hanya jengkel yang tersisa. “Anak saya di sana melihat bekas yang kamu tinggalkan!”
“ –Mayangsari bisa jelasin, Pak Reksa!”
“Jangan sebut nama saya. Saya jadi keingetan kejadian itu.”
Hanya isakan yang terdengar membalas kalimat Reksa.
“Sekretaris saya akan kompensasi kamu setelah ini. Jangan hubungi saya–,”
Saat itu pintu kamar mandi terbuka.
“Papa!” Sera memanggil, berusaha supaya suaranya bisa mencapai ayahnya, dimanapun dia berada.
__ADS_1
Sera hanya tidak menyangka saja Papa-nya ternyata ada di kamar mandi!
Mayangsari yang mendengar suara anak kecil langsung membisu. Berusaha untuk jadi wanita yang pengertian.
Reksa baru saja memarahinya karena putrinya, kalau putrinya marah lagi, Mayangsari tidak akan ada kesempatan kedua!
“Papa, Om Joe telepon. Ada rahasia besal!”
Reksa yang masih duduk di wc dengan celana melorot: ….
Joe di telepon: Akhirnya!
Sera yang selesai melapor kemudian sadar kalau dia sekarang sedang di kamar mandi.
Meski dia masih kecil, dia selalu malu kalau ke kamar mandi bersama temannya. Gurunya juga bilang, di dalam kamar mandi harus sendiri.
Ah, tapi ini kan Papa-nya. Papa bukan orang lain.
Sera berpikir, kalau posisinya bertukar ya tidak masalah.
“Papa, ini Om Joe. Sela cali Papa kemana-mana.”
Tak cukup membuka pintu kamar mandi, gadis kecil itu berniat untuk menghampiri menyerahkan ponsel.
Reksa mengulurkan tangan, tanda berhenti. Dia menunjuk meja wastafel di sisi.
“Om Joe Sela udah selesai, ya, misinya.” gadis kecil itu masih sempat melakukan penutupan dengan Joe sebelum meletakkan ponsel di meja wastafel dengan setengah berjinjit.
“Papa,” dia berniat untuk menjelaskan kesulitan yang baru dia alami. Namun wajah Papa-nya sedikit aneh. Suasananya juga agak berbeda, Sera bergidik seketika.
Dengan pengertian Sera menutup pintu kamar mandi tanpa berani mengangkat kepalanya.
Gadis kecil itu berdiri diam di depan kamar mandi beberapa saat.
Ada yang salah dengan Papa-nya. Wajah Papa itu sudah pasti wajah menahan marah.
Sera bukannya tidak pernah berbuat salah. Ada saatnya Reksa menasehati Sera dengan ekspresi seperti tadi.
Sera akhirnya sadar dia dalam masalah.
Menyembunyikan rasa takutnya dia berlari keluar kamar, berpikir mencari tempat persembunyian terbaik.
Reksa, di dalam kamar mandi, menahan dahinya yang berdenyut tak henti.
Kesabarannya hari ini benar-benar diuji.
Sera masih kecil, ya, tapi ini kamar mandi. Dia ingin tahu apa yang ada di kepala kecil itu, bisa-bisanya anak itu bertingkah demikian.
“--Pak,” suara Mayangsari di seberang hanya menambah kekesalannya. Sambungan langsung ditutup.
Sementara Joe di atas meja wastafel–um, ponsel yang masih tersambung dengan Joe di atas wastafel berbunyi, “Pak,” berulang kali.
Panggilan kali itu langsung di aplikasi yang jenisnya kalau di dekatkan di telinga volume mengecil, dan kalau dijauhkan otomatis speaker menyala.
Suara Joe ‘Pak,’ itu menggema berulang kali di kamar mandi. Reksa merasa darah tingginya naik dan siap meledak.
Bagaimana dia bisa lupa, kalau sekretarisnya tidak bermain ‘game’ dengan Sera dan memberi arahan untuk mencarinya, kejadian tadi bisa dihindari.
Reksa sendiri tahu, Joe mestinya sadar ketika tidak menemukan dia, panggilan tidak semestinya di teruskan.
“Joe. Barnas.” Reksa menggeritkan gigi.
Joe membalas. “Saya disini, Pak.”
You are dead!!
__ADS_1