
Sepulang sekolah sore itu, Sera duduk di ruang tengah memainkan tablet. Di layar, game yang rumit tengah berlangsung. Menaikkan level, membangun benteng, menumpuk pasukan. Akmal memperkenalkan game ini ke Sera.
Sambil menyerang kastil lain sampai hangus dengan kejam, Sera mengerutkan kening. Dia gatal ingin menceritakan apa yang terjadi hari ini di sekolah pada Papa-nya.
Tapi Papa-nya sedang kerja.
Sera melirik jam. Masih ada sepuluh menit lagi sampai waktu bermainnya habis hari ini. Dia sepakat dengan ayahnya untuk bermain game maksimal hanya satu jam setiap harinya.
Di layar, pemberitahuan obrolan muncul.
Sera mengklik ikon surat. Seorang pemain bernama DirikuBerkilau mengirim Sera pesan.
Omong-omong, ini bukan kali pertama DirikuBerkilau mengobrol dengan Sera.
DirikiBerkilau: Bos, lu bantu gua nyerang kastil ini dong [lokasi] plis. Si kunyuk ini berani ngescout gua. Udh jelas dia mandang rendah Bos!
DirikuBerkilau merasa bahwa Aliansi-nya begitu kuat. Tapi ada saja orang yang iseng untuk mengintai kastilnya. Tidak takut mati. Biar mereka merasakan kekuatan crazy rich dari aliansi ini!
Hanya satu yang disayangkan DirikuBerkilau: RAARW bermain terlalu sebentar! Karena itu meski pemain ini memiliki Sumber Daya tak terbatas dan pasukan kuat, dia tak menempati posisi penting di Aliansi.
Sera membaca dua kali pesan DirikuBerkilau sebelum mengerti maksudnya. Gadis kecil itu masih belum terbiasa dengan bahasa 'gua-lu' ini. Kebanyakan dia searching mesin pencarian untuk mengetahui istilah dan bahasa yang para pemain gunakan.
RAARW: oke.
Sera menghela napas. Dia tidak bisa berkata banyak karena takut salah bicara. Karenanya, Sera hanya bisa membalas singkat. Kebanyakan anggota di aliansi menganggap bahwa pemain dengan nama RAARW ini seorang yang pendiam dan seorang yang berpengalaman.
Meski levelnya tidak setinggi petinggi di aliansi, RAARW memiliki kualitas pasukan yang kuat dengan jumlah yang tak terbatas. Bahkan setelah di serang sebelumnya… RAARW ini masih bisa balas menyerang padahal sudah banyak Sumber Daya di kastilnya yang di rebut. Beberapa detik berlalu dan kastilnya langsung naik menandingi lawan yang menyerangnya.
Setiap lawan yang menyerang RAARW harus dihadapkan dengan satu kepedihan yang sama: kemiskinan.
Kalau lawan yang menyerang memiliki level tinggi, RAARW akan langsung menaikkan level kastilnya lebih tinggi dari lawannya, lalu menambah pasukannya dalam waktu singkat.
Permainan sejenis ini tidak akan bisa di tingkatkan secepat itu kalau bukan dari uang!
Karena itu lawan yang level kastilnya tinggi, menghindari untuk menyerang RAARW. Jaga-jaga kalau RAARW menaikkan levelnya; mereka yang ribet.
Setelah kejadian yang sama berulang beberapa kali, akhirnya Sera bisa mendapat ketenangan.
Sera memindahkan lokasi kastilnya ke dekat musuh dan tanpa banyak bicara dia langsung menyerang lawan yang di sebut.
Karena mepet, Sera menggerakkan setengah pasukan kavalerinya yang terdiri tank level enam, tank tertinggi yang Sera miliki. Komandannya diambil yang paling kuat; kebetulan Sera baru menaikkan skill komandannya. Dia harus menyelesaikan permainan ini sebelum waktu mainnya habis.
Pemain DirikuBerkilau sudah mengirim pasukan menuju lokasi musuh, siap membantai sumber daya tanpa harus menyerang. Karena 'gulungan pindah kastil' miliknya sudah habis, selama Sera menyerang, DirikuBerkilau masih di jalan.
Dua menit kemudian, kastil lawan sudah hangus terbakar. Sera menyerang dua kali sebelum mengirim pesan pada DirikuBerkilau.
RAARW: udah y.
Memasang perisai pelindung disekitar kastilnya, Sera lalu keluar dari permainan. Dia melompat turun sofa dan berlari ke kamarnya.
Memikirkan kastilnya yang pindah barusan memberikan Sera ide. Dia bisa datang langsung ke kantor ayahnya!
Tasnya dikemasi buku pelajaran dan PR untuk hari itu, sebelum berdiri di depan Shain dengan tangan terlipat di dada dan wajah serius.
"Ayo pergi."
Shain yang sedang menyiram pot di sekitar teras melirik Nona kecilnya yang sudah siap dengan tas ransel dan sepatu.
__ADS_1
"Kemana?" Shain yang sudah menikah tahun lalu kini memancarkan aura kelembutan yang tidak biasa. Tipe wanita yang telah dicintai sepenuhnya.. em.
Sera menatap gembor di tangan Shain dengan hina. Selama dua tahun Sera menyaksikan Shain bekerja, dia tidak pernah melihat langsung aksi dari pengawalnya ini. Belakangan, Shain malah suka menyiram tanaman dan membantu tukang kebun saat senggang.
Sera pikir ada yang salah dengan pekerja di rumahnya. Hanya Pengasuh Sri yang senantiasa jadi favoritnya.
Sudahlah.
"Sera mau ke Papa."
"Oke." Shain mengangguk dan meletakkan gembor di tempatnya sebelum bersiap mengeluarkan mobil.
Sera berangkat menuju kantor Reksa. Di perjalanan, dia mengeluarkan kartu bergambar bahasa Inggris. Dulu mana ada dia memperhatikan gambar-gambar ini dengan seksama. Tapi dia harus menambah kosakata dan mengingat kembali yang sudah dia lupakan, ASAP. Kalau tidak dia akan jadi satu-satunya anak yang tidak mengerti di sekolah.
Dia ingat wajah Akmal yang menyeringai ke arahnya waktu istirahat. Sera sangat terkejut melihat Akmal mengobrol dengan santainya menggunakan Bahasa Inggris dengan anak lain.
Lima menit kemudian, Shain menengok Sera tertidur pulas dari kaca spion. Kartu-kartunya berserakan di kursi mobil. Gadis kecil itu tidur dengan lelapnya sampai mereka tiba di kantor Reksa.
Mungkin karena hatinya tidak tenang, atau instingnya tajam. Begitu mesin dimatikan, Sera langsung bangun.
Matanya yang bulat seperti anggur itu berkedip beberapa kali sebelum mengambil tisu basah dan melap muka serta tangannya. Sebelum meraih tas ranselnya dan keluar dari mobil.
Shain mengulurkan tangan.
Setengah mengantuk, Sera menggenggam tangan itu. Shain mengingatkan dirinya untuk merapikan kartu-kartu yang berceceran di mobil setelah dia mengantar Sera nanti. Nona kecilnya pasti akan sadar tak lama lagi dan mencari kartunya.
Keduanya masuk lewat lift parkiran dan langsung naik ke lantai paling atas dengan kartu yang Shain pegang.
Sera yang masih lemas akhirnya bisa bersandar dan lanjut memejamkan mata setelah digendong Shain. Begitu sampai di lantai yang dituju, sektretaris perempuan yang berjaga menyambut keduanya. Sebelum datang, Shain sudah menginformasikan kedatangan mereka ke kantor hari itu.
"Gak usah." Shain mengangguk singkat saat sekretaris itu–Jehan, hendak mengantar keduanya ke dalam ruangan.
"Aku kopi hitam aja, ya."
"Oke. Nona Sera mau apa?" Awalnya yang lain memanggil Sera seperti biasa. Namun setelah ada Shain yang selalu mengikuti dan memanggil 'Nona', 'Nona', yang lain lama-lama mengikuti.
"Puding." Ditawari seperti itu, otak Sera bergerak otomatis meski matanya masih tertutup. "Puding matcha, Kak Jehan."
Keduanya langsung ke ruangan Reksa dan menunggu di sana.
Beberapa detik setelah Sera duduk diam di sofa. Matanya yang tenang kembali menunjukkan cahaya kecerdikan.
"Kartu aku, Kak Sha!!" Sera berseru.
"Lagi diambil sama Kak Jehan." Kata Shain kalem.
"Oh, oke."
Sera akhirnya tenang. Gadis kecil itu akhirnya mulai sibuk dengan kegiatannya. Dia beralih mengerjakan PRnya yang bertema perkenalan; sambil menunggu kartu dan camilan favoritnya sampai.
Shain yang menatap jendela dengan kosong, tiba-tiba berubah tajam ekor matanya. Dari jauh dia mendengar suara tek-tek-tek. Jenis high heels tinggi yang tidak pas untuk dipakai kerja.
Suaranya semakin mendekat, dari arah datang dan tujuan, sudah jelas wanita itu mengarah kemari.
Shain langsung menebak perempuan yang bisa naik ke lantai ini: Satu, anggota keluarga Pak Reksa. Dua, klien super penting. Tiga, kekasih Pak Reksa.
Untuk nomor satu–sayangnya, Shain tidak pernah bertemu dengan mereka. Sejauh ini dia tidak pernah mendengar Nona kecilnya bercerita tentang hal itu. Pun Reksa mengangkat topik soal keluarganya.
__ADS_1
Dia tidak bisa menebak siapa yang datang. Namun Shain sudah bergerak dan pindah berdiri di belakang Sera untuk bersiaga.
Sera yang duduk di sofa melihat pengawalnya yang biasa tidak ada kegiatan dan setenang air, berjalan ke belakangnya. Wajahnya kelihatan agak garang dari biasanya. Atmosfernya juga agak sedikit berbeda. Seperti ada ketegangan.
"...."
Saat Sera tengah bertanya-tanya dalam hati, pintu ruangan di ayun kuat.
Seorang wanita tinggi, dengan wajah berkilau penuh dengan aura keanggunan masuk.
Matanya langsung mengarah ke meja kerja. Riasan wajahnya lembut dan matanya cantik. Kacamata di tangannya di lipat, dan wanita itu menepikan rambut hitam panjangnya yang tebal sambil menghela napas panjang; karena menemukan orang yang diharapkan tidak ada di tempat.
Perempuan itu memakai blouse merah muda dan rok putih selutut, mantel lembut berwarna milo menggantung di bahunya. Dari anting hingga sepatu yang di pakainya memancarkan nilai 'mahal dan bermerk'. Wanita itu tak hanya muda, cantik dan bergaya, dia juga datang sendirian. Jelas bukan klien.
Dari reaksinya, wanita ini datang tanpa membuat janji lebih dulu.
Shain tidak melihat kemiripan wanita di depannya dengan Pak Reksa. Sepertinya bukan saudara.
Otomatis opsi ketiga langsung condong di hati Shain.
Lift ke lantai Reksa hanya bisa digunakan dengan kartu; hanya beberapa orang tertentu yang memegang kartu untuk akses lift. Pegawai biasa tidak akan bisa naik.
Tapi pegawai khusus di lantai bawah mengizinkan wanita ini naik ke atas. Mungkin wanita ini klien dengan niat tertentu.
Shain melirik Nona kecilnya dengan gelisah. Dia tak bisa mengatur urusan ranjang majikannya, tapi dia yakin Pak Reksa tidak akan mau putri satu-satunya mengetahui hal ini.
Dia segera mengirim pesan ke Reksa saat itu juga, sambil tetap siaga.
Wanita yang berdiri itu akhirnya sadar ada orang ketika matanya menyapu seisi ruangan.
Shain yang berdiri langsung dia abaikan. Perhatiannya tertuju ke Sera yang duduk dan balas menatapnya penasaran.
Wanita itu tersenyum ke arah Sera. Namun matanya yang cantik itu diam-diam menyembunyikan rasa jijik.
Wanita itu berpikir dia menyembunyikannya dengan sempurna. Dia tidak tahu, Sera paling sensitif dengan perasaan negatif seseorang.
***
Reksa menerima denting pesan singkat yang khusus dia setel saat rapat. Hanya dua orang yang memiliki dering ini. Satu, Shain. Dua, Pengasuh Sri. Keduanya tidak akan mengirim pesan kalau tidak berkaitan dengan Sera.
Dia memeriksa ponselnya dan menemukan pesan berisikan informasi darurat.
Pengawal Shain: Pak, ada perempuan langsung masuk k ruangan bapak. Sy sama Nona lg nunggu seperti biasa.
Reksa membaca pesan itu sesaat sebelum bangun dari duduknya dan menerima peringatan yang disampaikan. Pertama 'Perempuan', kemudian 'ruangannya', dan satu lagi 'Sera menunggu'.
Shain tidak akan bilang begitu kalau dia kenal perempuan yang di sebut. Selain sekretarisnya, siapa yang berani masuk ke ruangannya? Manajer di perusahaan hanya ada satu perempuan dan dia sedang duduk di ruangan rapat saat ini.
"Saya ada urusan, silahkan di lanjut." Lalu tanpa basa-basi dia langsung melesat pergi meninggalkan ruang rapat.
Joe yang duduk di kursi sebelah Reksa, tidak berubah ekspresinya sama sekali meski dahinya mulai berkeringat dingin.
"Mari kita lanjutkan–," dalam hati dia sudah tahu jawaban dari kata-kata Reksa. Hal yang penting selain pekerjaan bagi Bosnya tentu saja hanya ada satu: Sera.
Joe juga sudah menebak, Nona kecil itu mungkin sedang berkunjung. Tapi biasanya Reksa selalu membiarkan Sera menunggu di ruangannya selagi Reksa menyelesaikan rapat dan membereskan urusan pekerjaannya.
Kali ini bosnya tiba-tiba melompat pergi, seperti ada api yang menyulut di celananya. Sambil memperhatikan rapat, pikiran Joe merana. Kalau hal buruk terjadi, dia harus bersiap untuk membereskan masalah.
__ADS_1
Semoga Nona kecil-nya baik-baik saja. Juga semoga bos-nya tidak akan memancarkan aura malaikat mautnya. Amin.
***