
Hari ini, hari pertama Sera masuk sekolah.
Reksa memindahkan jadwalnya pagi itu jadi satu jam kemudian meski jadwalnya padat, bagaimana pun, dia tidak bisa melewatkan hari pertama putrinya masuk sekolah.
Joe sedang mengatur ulang dan mengkoordinasi jadwal di kantor, jadi Wana yang biasa sedang antri sarapan untuk bos-nya di jam ini duduk di kursi kemudi, melajukan mobil menuju destinasi.
Nama sekolahnya PAUD Sun And Shine. Nama jenis apa itu? Kenapa tidak disatukan saja jadi SunShine? Wana menggerutu tak jelas dalam hati.
Wana menunggu di mobil sementara bos-nya keluar, menggandeng Sera menuju sekolah.
Sera sudah melihat banyak anak di daerah sekitar kontrakannya yang pergi sekolah setiap pagi. Biasanya mereka pakai baju putih-merah. Ayahnya bilang dia akan mulai sekolah hari ini tapi memakaikannya baju bermain biasa. Sera tidak ragu soal apa yang ayahnya ucapkan. Kebingungannya tidak menutup rasa antusiasnya.
Pra-TK tidak seperti TK pada umumnya yang harus masuk mengikuti putaran tahun pelajaran baru. Pra-TK bisa di masuki bebas dan kapan saja, karena tujuan awalnya adalah untuk memperkenalkan anak dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Sebelum mereka masuk TK.
Kebanyakan kegiatannya bermain, bermain, dan bermain.
Seorang guru menyapa Reksa yang datang beriringan bersama Sera begitu selesai mengobrol dengan salah satu wali anak.
Guru itu seperti baru lulus universitas, matanya bulat cemerlang, bibirnya merah pucat, wajahnya tanpa make-up dan rambutnya di ikat rendah. Guru itu mengenakan apron kuning dengan corak matahari di tengah-tengah.
“Halo, anda pasti Pak Reksa, kan? Senang bertemu dengan Anda.” Guru itu menunduk dan mengulas senyum sebelum beralih ke Sera yang menatap dengan penasaran.
“Hai, Namaku Irna.” Guru Irna setengah berjongkok, seketika gaya bicaranya berubah begitu berhadapan dengan Sera. “Namamu siapa?”
Sera menggenggam erat tangan Reksa, sementara sebelah tangannya lagi mencengkeram kaos depannya. Matanya menunjukkan kegugupan, meski begitu dia tetap menjawab.
“… Aku, Aku Sela.”
“Oh, hai, Sela.”
Sera menggeleng dan mengulang. “Bukan Sela tapi Sella.” ‘Sela’ di akhirnya terdengar seperti sedikit di putar lidahnya.
Guru Irna langsung mengerti. “Halo Sera. Umur Sera berapa?”
Sera menarik tiga jari dengan lancar. Reksa mengajarkannya mengganti jari manis dengan jempol, kini dia tidak kesulitan lagi melipat dan menunjukkan hitungan tiga. Guru Irna langsung membulat matanya dan berseru kagum. “Sera tiga tahun ternyata!”
“Sera hari ini sekolah loh.” memikirkan anak-anak yang menangis di dalam kelas setiap harinya, Guru Irna seperti melihat Sera seabgai cahaya baru.
Sera mengangguk tanpa takut.
“Sera sekolah sendirian, ngga bisa di temani Papa-nya.” kata Guru Irna lagi, perlahan. Memastikan setiap kata-katanya tersampaikan. Tangannya juga bergerak memberi gestur, dengan ekspresi yang berubah-ubah, Reksa yang awalnya khawatir soal Sera seketika memberi evaluasi dalam hati: Tidak buruk.
Sera yang mendengar itu mengerutkan kening. “Papa pulang?”
Reksa yang dituduh langsung menyangkal. “Papa kerja.”
Wajah Sera terlihat sedih namun gadis kecil itu mengerti bahwa pekerjaan bukan hal yang bisa ditinggalkan.
__ADS_1
“Sera sekolah nanti banyak teman, lho..,” Guru Irna terus menghibur dan membuat sekolah jadi tempat yang menarik di mata Sera. “Kita bisa nyanyi bareng, nanti makan, makanannya enak, terus ada cerita dongeng juga. Sera tahu si Kancil?”
Sera mengangguk. Semalam ayahnya menceritakan soal si Kancil.
“Iya, banyak ada cerita si Kancil, si Buaya, si Kelinci, si Kura-Kura….”
Mata Sera langsung berbinar. Dia belum pernah mendengar cerita tentang Kelinci dan Kura-Kura!
Kedua ayah dan anak itu berjalan masuk bergandengan tangan ke dalam gedung. Reksa tidak bisa ikut masuk ke dalam kelas. Dia, berdiri bersama para orangtua yang lain di lorong menatap jendela dengan frustasi.
Sera berjalan gugup, dia tidak ingin melepaskan tasnya; Guru Irna tidak memaksa dan hanya memberikan tempat duduk tak jauh dari posisinya.
Beberapa anak yang menangis di pisahkan dan di tangani oleh guru yang terpisah di sudut lain. Diajak terbang, digendong dan disodorkan mainan. Reksa melirik ke Sera yang memperhatikan dengan serius tanpa rewel sedikit pun.
Yup. Putrinya yang terbaik. Wajah Reksa menunjukkan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.
Salah seorang wanita paruh baya baru saja mengantar cucunya masuk PraTK menatap dari balik jendela dengan jengkel. Melihat cucu lelakinya yang menangis dan tidak bisa dihentikan meski para guru sudah bergantian menghibur, wanita itu mendengus dan hendak masuk ke dalam kelas untuk memarahi guru.
Namun sudut matanya menangkap sosok Reksa yang berdiri di sampingnya. Tangan dilipat, dagu terangkat, mata memicing dan mulut melengkung sinis. Reksa sederhananya minta dipukul dengan wajah itu.
Matanya melirik ke arah anak-anak yang kini duduk melingkar dan bernyanyi di bimbing Guru Irna, kemudian melirik ke sudut lain dimana anak yang masih menangis. Reksa mendengus tanpa di tahan, kemudian menggeleng-geleng sebelum melempar tatapan sekali lagi pada si Nenek dan menggeleng-geleng lagi.
Wanita itu langsung kesal melihatnya. Dia memutuskan untuk menunggu beberapa saat, kalau masih tidak selesai, dia akan membawa pulang cucunya!
Reksa memutar mata dalam hati. Tidak mungkin dia akan membiarkan hari pertama sekolah putrinya kacau balau. Lihat saja kalau ada yang mengacaukannya, dia akan menghalangi, apa pun itu!
Saat itu, Wana yang datang dengan tas gendong berisi selimut, bantal, dan boneka baru, melihat Bos-nya berselisih dalam diam dengan seorang wanita tua.
“....” Wana tidak bisa berkata apa-apa. Dia segera menyerahkan tasnya dan kembali ke mobil.
Reksa menunggu tiga puluh menit, sampai dia melihat Sera berbaur dengan baik bersama teman seusianya. Rata-rata bayi yang masuk PraTK usia 1-3 tahun. Sera di tempatkan di kelas usia 3-3.5 tahun, bersama anak-anak yang hampir mau masuk TK.
Yang paling besar berusia hampir 4 tahun, terlihat berbeda dari anak yang lain. Reksa bisa melihat seberapa bagus PraTK ini dari gerak-gerik balita yang lebih tua dalam menjaga yang lebih muda.
Mungkin karena sebagian anak sudah mengenal konsep saudara dan kakak-adik di rumahnya masing-masing. Hal itu bisa juga jadi salah satu alasan.
Reksa memberikan tas berisi selimut dan lainnya untuk Sera tidur siang nanti pada Guru Irna.
Sebenarnya sekolah sudah menyiapkan selimut, tapi Reksa tidak mau Sera memakainya.
Reksa menunggu lima menit, menunggu Sera untuk melirik jendela supaya dia bisa berpamitan. Kalau Reksa tiba-tiba pergi dan putrinya menangis sedih, bagaimana?
Tapi sepuluh menit berlalu, Sera tidak melirik sama sekali, meninggalkan aura gelap di wajah Reksa. Dia akhirnya menyerah setelah menerima telepon dari Joe yang bertanya untuk kesekian kali kapan sampai di kantor. .
Bahkan sampai dia duduk di mobil dan keluar dari gerbang sekolah, Sera tidak menyadari kepergiannya sama sekali.
Hmph! Apakah sekolah sebegitu bagusnya, sampai lebih bagus dari seorang ayah?!
__ADS_1
Turun di parkiran kantornya, Reksa langsung memberi mandat.
“Saya mau burger tanpa keju dan tanpa bawang, dengan ekstra saus tomat dan double meat, kentang goreng asin ukuran besar, Soes krim rasa matcha dan kopi susu keluaran Kafe C.”
Wana yang mulanya mencatat dengan serius, berhenti saat mendengar itu. Menatap punggung Reksa yang berjalan ke lift, Wana seperti ingin meremukkan tablet di tangannya.
Burger dan kentang bisa di beli di seberang, Soes Krim matcha yang biasa dimakan bos-nya terletak dua blok dari sini, dekat dengan PraTK… kenapa tidak sekalian!! Dan Kopi Susu Kafe C itu.. Wana membuka mesin pencari karena ini pertama kalinya dia dengar nama kafe ini.
Kafe C hanyalah sebuah kafe kecil yang terletak diujung pusat kota. Begitu melihat lokasinya yang berlawanan dengan toko kue Soes, Wana menjambak rambutnya dalam hati. Apakah kopi susu keluaran kafe ini istimewa?! Bahkan ratingnya rata-rata hanya 4!
Wana memejamkan mata, melafalkan dalam-dalam soal gaji dan bonus yang dia terima bulan kemarin, kemudian mengingat bulan yang akan datang, sebelum melajukan mobil dengan mata membara. Dia akan beli kopi di Kafe C juga untuk tahu seberapa enak kopi susu ini!
Kalau tidak enak, Wana 100% yakin bos-nya hanya mencari masalah dengannya!
Saat Wana kembali empat puluh lima menit kemudian, Reksa tengah mengunyah roti dari toko kue seberang kantor yang sudah pasti dibelikan oleh Joe. Mata Reksa menatap lurus ke komputer.
Wana maju dan meletakkan pesanan Reksa yang masih hangat, tapi Reksa tidak melirik dan hanya memberi balasan ‘hmm’ singkat.
Wana ingin menghancurkan sesuatu!
Tapi dia ingat kembali soal cicilan apartemennya yang belum lunas, juga tagihan bulanannya, dan gaun yang dia mau beli bulan depan…
Wana menahan ekspresinya dan menunduk sebelum beranjak keluar ruangan.
“Saya ada pertemuan malam ini, kamu siapin setelan saya dari sekarang.”
“...Pak..” biasanya kan Joe yang melakukannya kalau bersangkutan dengan pertemuan penting. Bagaimana kalau dia malah memasangkan kaos dan bukannya kemeja? (tentu saja ini mustahil).
Reksa melirik dari sudut matanya dengan malas tanpa mengeluarkan suara.
“Saya mengerti.” Wana mengangguk dan sekeluarnya dia dari ruangan Reksa, dia langsung berlari ke Joe untuk menangis di bahunya–er, tidak, dia mengeluarkan buku catatannya dan segera mencatat butik langganan Bos-nya.
Untung saja Joe sudah menyiapkan lebih dulu hadiah dan setelan yang dipakai kali itu. Wana hanya perlu mengeceknya saja.
“Pak, kenapa sih, saya jadi banyak ngikutin Pak Reksa?” tanya Wana tak langsung, menceritakan bedanya pekerjannya dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya dia menyiapkan menu makan siang bos-nya, membantu ini dan itu, jadi suruhan Reksa, kemudian membantu bagian sekretariat.
“Oh, perusahaan kita akan melakukan operasi besar.” kata Joe yang di kelopak matanya sudah terlihat hitam-hitam yang kentara. “Bisa dibilang pekerjaanmu sebagai asisten baru benar-benar dimulai.”
Mendengar kata ‘baru dimulai’, kesedihan dan kesusahannya hari itu lenyap seketika. Wana kemudian sadar bahwa memeriksa hadiah, memilihkan jas, sampai membantu mengurusi putri misterius-nya Reksa sudah jadi tanda-tanda bahwa dia akan naik jabatan dan bukan lagi trainee!! Bagaimanapun ini pekerjaan penting! Kan?!
“Kau sangat tangkas tapi anehnya agak lambat soal begini.” kata Joe setengah menghibur setengah menegur.
Wana tidak menghiraukannya dan langsung bergegas melanjutkan pekerjaannya.
Joe memasang seringai melihat Wana yang nampak bahagia, sebelum bergerak menjawab telepon yang berdering, dia mendesah lelah.
****
__ADS_1